Seorang isteri
bukanlah semata-mata orang kedua. Dia adalah satu pribadi. Satu pribadi
yang memiliki level kepentingannya sendiri di dalam apa yang kita sebut
keluarga. Sama halnya dengan anak, adik, kakak, ayah, dan suami. Itu
makanya, tulisan ini tidak diberi judul “Isteri-isteri Nabi”, misalnya.
Sebab mereka bukanlah sekadar “serombongan wanita” yang menjadi isteri
seorang Nabi. Maksudnya, sebagai individu, masing-masing wanita ini
memang punya mutu. Soal kemudian mereka diperisteri oleh Nabi Nabi
Muhammad SAW SAW, tokoh paling bermutu sepanjang sejarah manusia, itu
soal kedua. Nah, soal kedua inilah yang lantas memahatkan nama mereka di
hati ummat Islam hingga jaman yang akan datang. Selamat menikmati
profil-profil ringkas wanita-wanita bermutu ini.
SITI KHADIJAH (Ummul Mukminin pertama).
Lahir
di Mekkah tahun 556, Khadijah adalah wanita pertama pemeluk Islam.
Ketika disunting RasuluLlah SAW, ia seorang janda berusia 40 tahun.
Berasal dari keluarga terpandang dan ia sendiri menjadi orang terkaya di
kotanya. Sedangkan RasuluLlah SAW masih muda, berusia sekitar 25 tahun
dan dari keluarga miskin. Keinginan perkawinan itu datang dari pihak
Khadijah.
Setelah menikah, semua kekayaan Khadijah dipergunakan
sepenuhnya untuk mendukung dakwah RasuluLlah SAW. Juga, karena
kewibawaannya di hadapan suku Quraisy, ia pun menjadi pelindung
RasuluLlah SAW dari ancaman orang-orang Quraisy.
Rasulullah SAW
sangat mencintai Khadijah. Meskipun Khadijah sudah meninggal beberapa
tahun, RasuluLlah SAW masih tetap mengenang. Sehingga pernah isterinya
yang lain –Aisyah– memprotes cemburu. “Demi Allah, tidak ada ganti yang
lebih baik dari dia, yang beriman padaku saat semua orang ingkar, yang
percaya padaku ketika semua mendustakan, yang mengorbankan hartanya saat
semua berusaha mempertahankannya;… dan darinyalah aku mendapatkan
keturunan,” kata RasuluLlah SAW di hadapan Aisyah.
Dari Khadijah,
Nabi mendapat kurnia 7 anak: 3 putra dan 4 putri. Yang putra bernama
al-Qasim, Abdullah, dan (Thaher, meninggal ketika masih bayi). Sedangkan
yang putri: Zainab, Ruqayyah, Ummu Kalsum dan Fatimah. Sebelum dengan
Nabi, Khadijah pernah menikah dengan Abu Halal an-Nabbasy bin Zurarah.
Dari Abu Halal, Khadijah mendapat seorang anak.
Setelah Abu Halal
meninggal, Khadijah menikah lagi dengan Atiq bin Abid al-Makhzumi.
Sampai Atiq meninggal, mereka tidak dikurnia anak. Ummul mukminin
al-Kubra (Ibu Kaum Mukminin yang Agung) ini sendiri meninggal pada 619
H.
SAUDAH BINTI ZUM’AH (Ummul Mukminin kedua).
Setelah
Khadijah meninggal, Nabi baru bersedia menikah lagi. Saudah juga
seorang janda. Suaminya, as-Sakran bin Amru al-Amiri, meninggal ketika
hijrah ke Habsyi (Ethiopia).
Saudah sangat berduka ditinggal suaminya
itu. Untuk mengobati duka itu, atas saran seorang wanita Khaulah binti
Hakim As, RasuluLlah SAW lantas meminang Saudah. Meskipun RasuluLlah SAW
juga menyayangi Saudah, tetapi ternyata hatinya tidak mampu mencintai
wanita ini. Karena merasa berdosa, RasuluLlah SAW lantas ingin
menceraikan Saudah. Tapi apa kata Saudah, “Biarlah RasuluLlah SAW aku
begini. Aku rela malamku untuk Aisyah (Ummul Mukminin ke tiga Nabi). Aku
sudah tidak membutuhkan lagi.”
Saudah wafat dimasa kekhalifahan Umar bin Khaththab hampir berakhir.
‘AISYAH BINTI ABU BAKAR (Ummul Mukminin ketiga).
Satu-satunya
isteri Nabi yang masih gadis, ketika dinikahi Nabi. Putri sahabat Nabi,
Abu Bakar ash-Shiddiq ini dilahirkan 8 atau 9 tahun sebelum Hijrah.
Menikah berumur 6 tahun, namun baru 3 kemudian hidup serumah dengan
Nabi. Budaya Arab, seorang laki-laki berumur menikahi seorang gadis
belia, hal yang biasa. Salah satu sebabnya, wanita Arab fisiknya
cenderung bongsor dibanding usianya.
Setelah Khadijah, Aisyahlah
isteri yang paling dekat dengan Nabi. Cantik dan cerdas, begitu
penampilannya. Karena kedekatan dan kecerdasannya itu, setelah Nabi
wafat, banyak hadith yang ia riwayatkan. Terutama soal wanita dan
keluarga. Ada 1.210 hadith yang diriwayatkan Aisyah, di antaranya 228
terdapat dalam hadith shahih Bukhari.
Selama mendampingi Nabi,
Aisyah pernah dilanda fitnah hebat. Ceritanya, pada peperangan melawan
Bani Mustaliq, berdasarkan undian di antara isteri-isteri Nabi, Aisyah
terpilih mendampingi Nabi. Dalam perjalanan pulang, rombongan istirahat
pada suatu tempat Aisyah turun dari sekedupnya (sejenis pelana yang
beratap di atas punuk unta), karena ada keperluan. Kemudian kembali.
Tetapi ada yang ketinggalan, ia kembali lagi untuk mencarinya. Sementara
itu, rombongan berangkat dengan perkiraan bahwa Aisyah sudah ada di
sekedupnya. Aisyah tertinggal.
Ketika sahabat Nabi, Safwan bin
Buattal menemuinya, Aisyah sudah tertidur. Akhirnya, ia pergi diantar
Safwan. Peristiwa ini kemudian dimanfaatkan orang-orang kafir untuk
menghantam Nabi. Disebarkan fitnah, Aisyah telah serong. Fitnah ini
benar-benar meresahkan ummat. Bahkan Nabi sendiri sempat goyah
kepercayaannya pada Aisyah. Sehingga turunlah wahyu surat An Nuur ayat
11. Inti wahyu itu, menegur Nabi dan membenarkan Aisyah.
Aisyah
wafat pada malam Selasa, 17 Ramadhan 57 H, dalam usia 66 tahun. Shalat
jenazahnya diimami oleh Abu Hurairah dan dimakamkan di Ummahat
al-Mukminin di Baqi (sebelah Masjid Madinah) bersama Ummul Mukminin
lainnya.
HAFSAH BINTI UMAR (Ummul Mukminin keempat).
Hafsah adalah janda Khunais bin Huzafah, sahabat RasuluLlah SAW yang meninggal ketika perang Uhud.
RasuluLlah
SAW menikahi Hafsah, kerena kasihan kepada Umar bin Khattab –ayah
Hafsah. Hafsah sedih ditinggal suaminya, apalagi usianya baru 18 tahun.
Melihat kesedihan itu, Umar berniat mencarikan suami lagi.
Pilihannya
jatuh kepada sahabatnya yang juga orang kepercayaan RasuluLlah SAW,
yakni Abu Bakar. Tapi ternyata Abu Bakar hanya diam saja. Dengan
perasaan kecewa atas sikap Abu Bakar itu, Umar menemui Usman bin Affan,
dengan maksud yang sama. Ternyata Usman juga menolak, karena dukanya
atas kematian isterinya, belum hilang. Isteri Usman adalah putri
RasuluLlah SAW sendiri, Ruqayyah.
Lalu Umar mengadu kepada
RasuluLlah SAW. Melihat sahabatnya yang marah dan sedih itu, RasuluLlah
SAW ingin menyenangkannya, lantas berkata “Hafsah akan menikah dengan
orang yang lebih baik daripada Usman, dan Usman akan menikah dengan
orang yang lebih baik dari Hafsah.” Tak lama kemudian, Hafsah dinikahi
RasuluLlah SAW, sedang Usman dengan Ummu Kalsum, putri RasuluLlah SAW
juga.
Suatu malam di kamar Hafsah, RasuluLlah SAW sedang berdua
dengan isterinya yang lain, Maria. Hafsah cemburu berat, lantas
menceritakan kepada Aisyah. Aisyah kemudian memimpin isteri-isteri yang
lain, protes kepada RasuluLlah SAW.
RasuluLlah SAW sangat marah
dengan ulah isteri-isterinya itu. Saking marahnya, beliau tinggalkan
mereka selama satu bulan. Terhadap kasus ini, kemudian Allah menurunkan
wahyu surat at-Tahrim ayat 1-5.
Sejarah mencatat, Hafsahlah yang
dipilih di antara isteri-isteri RasuluLlah SAW untuk menyimpan naskah
pertama al-Qur’an. Hafsah wafat pada awal pemerintahan Mu’awiyah bin Abu
Sufyan, dimakamkan di Ummahat al-Mu’minin di Baqi.
ZAINAB BINTI KHUZAIMAH (Ummul Mukminin kelima).
Di
antara isteri-isteri RasuluLlah SAW, Zainablah yang wafat lebih dulu,
setelah Khadijah. Para sejarawan tidak banyak tahu tentang Zainab,
termasuk latar belakangnya. Tapi yang jelas ia juga seorang janda saat
dinikahi RasuluLlah SAW.
Hidupnya bersama RasuluLlah SAW, hanya
singkat. Antara 4 sampai 8 bulan. Zainab terkenal dengan julukan Ummul
Masaakiin, karena kedermawanannya terhadap kaum miskin. Zainab
meninggal, ketika RasuluLlah SAW masih hidup. Dan RasuluLlah SAW sendiri
menshalati jenazahnya. Zainablah yang pertama kali dimakamkan di Baqi.
UMMU SALAMAH (Ummul Mukminin keenam).
Nama
aslinya, Hindun binti Abu Umayah bin Mughirah. Suaminya bernama
Abdullah bin Abdul Asad. Abdullah atau dipanggil Abu Salamah, meninggal
ketika perang melawan Bani As’ad yang akan menyerang Madinah. Sebelum
meninggal Abu Salamah berwasiat, agar isterinya ada yang menikahi dan
orang itu harus lebih baik dari dirinya.
Abu Bakar ingin
melaksanakan wasiat itu, dengan meminang Ummu Salamah tapi ditolak.
Demikian pula Umar bin Khattab, juga ditolak. Tiada lain, RasuluLlah SAW
sendiri akhirnya yang maju. Dan diterima. Ketika itu umur Ummu Salamah
hanya beberapa tahun dibawah RasuluLlah SAW dan sudah beranak empat.
Sejarah
mencatat, surat at-Taubah 102 turun tatkala RasuluLlah SAW sedang
berbaring di kamarnya Ummu Salamah. Dalam perjanjian Hudaibiyah, Umum
Salamah punya peranan penting.
Banyak sahabat RasuluLlah SAW yang
protes terhadap perjanjian itu, termasuk Umar. Usai perjanjian
ditandatangani, RasuluLlah SAW memerintahkan para sahabat agar
menyembelih ternak dan memotong rambut. Namun tidak ada yang melakukan
seruan itu. RasuluLlah SAW mengulangnya sampai tiga kali, tapi tetap
tidak ada yang menyahut. Dengan kesal dan marah kembali ke kemahnya.
Ummu
Salamah lantas usul, agar RasuluLlah SAW jangan hanya bicara, langsung
saja contoh. Benar juga, RasuluLlah SAW lantas keluar menyembelih ternak
dan menyuruh pembantu memotong rambut beliau. Kaum muslimin kemudian
banyak yang mengikuti rindakan RasuluLlah SAW ini, karena takut
dikatakan tidak mengikuti sunnah RasuluLlah SAW. Ummu Salamah banyak
mengikuti peperangan. Ia hidup sampai usia lanjut. Ia wafat setelah
peristiwa Karbala, yakni terbunuhnya Husein, cucu RasuluLlah SAW. Ummu
Salamah adalah Ummahatul Mukminin yang paling akhir wafatnya.
ZAINAB BINTI JAHSY (Ummul Mukminin ketujuh).
Zainab
adalah bekas isteri Zaid bin Haritsah yang telah bercerai. Sedang Zaid
adalah anak angkat RasuluLlah SAW. Zainab sendiri dengan RasuluLlah SAW
juga masih bersaudara. Karena wanita ini adalah cucu Abdul Muthalib,
kakek RasuluLlah SAW (baca Sejarah, Sahid, April l997).
Meski
perkawinan Zainab dengan Nabi jelas-jelas perintah Allah, tapi gosip
menyelimuti perkawinan mereka. Wahyu yang memerintah Nabi agar menikahi
Zainab itu ada pada al-Ahzab 37. Dari perkawinan inilah kemudian turun
hukum-hukum pernikahan, termasuk perintah hijab (al-Ahzab 53).
JUWAIRIAH BINTI HARITS (Ummul Mukminin kelapan).
Nama
sebenarnya adalah Barrah binti Harits bin Abi Dhirar, putri pimpinan
pemberontak dari suku Bani Musthalaq, Harits bin Dhirar. Setelah menikah
dengan Nabi berganti nama Juwairiah. Sebelumnya, Juwairiah adalah
tawanan perang.
Riwayat selanjutnya tak banyak diketahui oleh
para sejarawan. Hanya ia meninggal dalam usia 65 tahun, di Madinah, pada
masa Muawiyah. Dishalatkan dengan Imam Amir Madinah yaitu Marwan bin
Hakam.
SOFIYAH BINTI HUYAI (Ummul Mukminin kesembilan).
Satu-satunya
isteri Nabi dari golongan Yahudi ya Sofiyah ini. Sofiyah masih
keturunan Nabi Harun dan ibunya Barrah binti Samual. Meski usianya baru
17 tahun, tapi ia sudah dua kali menikah. Pertama dengan Salam bin
Masyham, dan kedua dengan Kinanah bin Rabi bin Abil Haqiq, pemimpin
benteng Qumus, benteng terkuat di Khaibar, markasnya kaum Yahudi.
Dikawininya
Sofiyah itu, Nabi sebenarnya berharap agar kebencian kaum Yahudi kepada
kaum muslimin dapat diredam. Sofiyah wafat tahun 50 Hijriah, pada zaman
Mua’wiyah. Dimakamkan di Baqi.
UMMU HABIBAH BINTI SOFYAN (Ummul Mukminin kesepuluh).
Nama
sebenarnya Ramlah binti Abi Sofyan. Ia memang putri pemimpin Quraisy,
Abu Sofyan, musuh bebuyutan Islam itu. Habibah adalah nama putri Ramlah
hasil perkawinan dengan Ubaidillah, saudara Ummul Mukminin Zainab ra.
Tentu saja Ramlah telah masuk Islam.
Berdua dengan suaminya, ia
kemudian hijrah ke Habsyi (Afrika). Celakanya, sesampai di Habsyi
suaminya murtad, masuk Nasrani. Selanjutnya, Ramlah dinikahi RasuluLlah
SAW. Mendengar ini, betapa marahnya Abu Sofyan, putrinya sendiri masuk
Islam dan sekarang kawin dengan musuh besarnya, Nabi Muhammad SAW.
Sampai akhir hayatnya, Ramlah tetap membela Islam dan suaminya. Ia wafat pada usia 60 tahun. Juga dimakamkan di Baqi.
MARIAH AL QIBTIYAH (Ummul Mukminin kesebelas).
Mariah
sebelumnya adalah budak kiriman dari raja Mesir. Kemudian diangkat
derajatnya dengan dijadikan isteri Nabi. Setelah Khadijah, Mariah
satu-satunya isteri Nabi yang melahirkan anak. Namanya Ibrahim bin Nabi
Muhammad SAW. Cuma, sayangnya Ibrahim meninggal. RasuluLlah SAW sangat
sedih dengan kematian putranya itu.
Mariah wafat pada tahun 16 hijriah. Dishalatkan oleh Amir Mukminin Umar bin Khattab.
MAIMUNAH BINTI AL HARITS (Ummul Mukminin kedua belas).
Nama
aslinya adalah Barrah binti Harits. Setelah menikah dengan Nabi,
diganti dengan Maimunah. Perkawinan ini –Barrah ketika itu janda berumur
26 tahun– sesungguhnya atas permintaan paman Nabi, yakni Abbas bin
Abdul Muthalib. Barrah sendiri adalah adik dari isteri Abbas. Tidak
banyak yang diketahui sejarah Barrah. Yang jelas ia wafat pada tahun 51
hijriah..