<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1674769897518819067</id><updated>2012-02-16T13:59:52.074+07:00</updated><category term='Salam Pembuka'/><category term='Shadaqah'/><category term='Zakat'/><category term='Info Al Aqsho'/><category term='Aqidah'/><category term='Koperasi'/><category term='Munakahat'/><category term='Jihad'/><category term='Tarbiyyah wa at Ta&apos;lim'/><category term='इन्फो अल Aqsho'/><category term='Infaq'/><category term='Ijtimaiyyah'/><category term='Tarikh'/><category term='Muslimah Sholihah'/><title type='text'>Abu Azi Al Jayakarta</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://abuazi.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1674769897518819067/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuazi.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>TABUNGAN 'AMAL SHALIH (T'AS)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05674433416570835606</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>33</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1674769897518819067.post-2703990533824575774</id><published>2010-09-16T16:51:00.001+07:00</published><updated>2010-09-16T16:57:19.545+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Koperasi'/><title type='text'>Koperasi</title><content type='html'>Koperasi&lt;br /&gt;Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas&lt;br /&gt; Belum Diperiksa&lt;br /&gt;Langsung ke: navigasi, cari &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Artikel ini perlu dirapikan agar memenuhi standar Wikipedia&lt;br /&gt;Merapikan artikel bisa berupa membagi artikel ke dalam paragraf atau wikifikasi artikel. Setelah dirapikan, tolong hapus pesan ini.&lt;br /&gt;Koperasi adalah jenis badan usaha yang beranggotakan orang-orang atau badan hukum.[rujukan?]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koperasi melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip gerakan ekonomi rakyat yang berdasarkan asas kekeluargaan.[1]&lt;br /&gt;Koperasi menurut UUD 1945 pasal 33 ayat 1 merupakan usaha kekeluargaan dengan tujuan mensejahterakan anggotanya.[rujukan?]&lt;br /&gt;  Anggota koperasi &lt;br /&gt;Anggota koperasi:&lt;br /&gt;• Perorangan, yaitu orang yang secara sukarela menjadi anggota koperasi;&lt;br /&gt;• Badan hukum koperasi, yaitu suatu koperasi yang menjadi anggota koperasi yang memiliki lingkup lebih luas.&lt;br /&gt;Pada Pernyataan Standard Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 27 (Revisi 1998), disebutkan bahwa karateristik utama koperasi yang membedakan dengan badan usaha lain, yaitu anggota koperasi memiliki identitas ganda.fact Identitas ganda maksudnya anggota koperasi merupakan pemilik sekaligus pengguna jasa koperasi.[rujukan?]&lt;br /&gt;Umumnya koperasi dikendalikan secara bersama oleh seluruh anggotanya, di mana setiap anggota memiliki hak suara yang sama dalam setiap keputusan yang diambil koperasi.fact Pembagian keuntungan koperasi (biasa disebut Sisa Hasil Usaha atau SHU biasanya dihitung berdasarkan andil anggota tersebut dalam koperasi, misalnya dengan melakukan pembagian dividen berdasarkan besar pembelian atau penjualan yang dilakukan oleh anggota.&lt;br /&gt;Koperasi bertujuan memajukan kesejahteraan anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya, serta ikut membangun tatanan perekonomian nasional, dalam rangka mewujudkan masyarakat yang maju, adil dan makmur berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.ref Sito, Arifin. Tamba, Halomoan Koprasi teori dan peraktek.&lt;br /&gt;Daftar isi&lt;br /&gt;[sembunyikan]&lt;br /&gt;• 1 Koperasi berlandaskan hukum&lt;br /&gt;• 2 Sumber modal koperasi&lt;br /&gt;• 3 Mekanisme pendirian koperasi&lt;br /&gt;• 4 Pengurus koperasi&lt;br /&gt;• 5 Sejarah berdirinya koperasi dunia&lt;br /&gt;• 6 Gerakan koperasi di Indonesia&lt;br /&gt;• 7 Perangkat organisasi koperasi&lt;br /&gt;• 8 Lambang koperasi Indonesia&lt;br /&gt;• 9 Referensi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; [sunting] Koperasi berlandaskan hukum&lt;br /&gt;Koperasi berbentuk Badan Hukum sesuai dengan Undang-Undang No.12 tahun 1967 ialah: “Organisasi Ekonomi Rakyat yang berwatak sosial, beranggotakan orang-orang atau badan hukum koperasi yang merupakan tata susunan ekonomi sebagai usaha bersama, berdasarkan asas kekeluargaan.[2]&lt;br /&gt;Kinerja koprasi khusus mengenai perhimpunan, koperasi harus bekerja berdasarkan ketentuan undang-undang umum mengenai organisasi usaha (perseorangan, persekutuan, dsb.) serta hukum dagang dan hukum pajak.[rujukan?] Organisasi koperasi yang khas dari suatu organisasi harus diketahui dengan menetapkan anggaran dasar yang khusus.[3]&lt;br /&gt;Secara umum, Variabel kinerja koperasi yang di ukur untuk melihat perkembangan atau pertumbuhan (growth) koperasi di Indonesia terdiri dari kelembagaan (jumlah koperasi per provinsi, jumlah koperasi per jenis/kelompok koperasi, jumlah koperasi aktif dan nonaktif).[rujukan?] Keanggotaan, volume usaha, permodalan, asset, dan sisa hasil usaha.[rujukan?] Variabel-variabel tersebut pada dasarnya belumlah dapat mencerminkan secara tepat untuk dipakai melihat peranan pangsa (share) koperasi terhadap pembangunan ekonomi nasional.[rujukan?] Demikian pula dampak dari koperasi (cooperative effect) terhadap peningkatan kesejahteraan anggota atau masyarakat belum tercermin dari variabel-variabel yang di sajikan.[rujukan?] Dengan demikian variabel kinerja koperasi cenderung hanya dijadikan sebagai salah satu alat untuk melihat perkembangan koperasi sebagai badan usaha.[4]&lt;br /&gt;  Fungsi dan peran koperasi &lt;br /&gt;Menurut Undang-undang No. 25 tahun 1992 Pasal 4 dijelaskan bahwa fungsi dan peran koperasi sebagai berikut:&lt;br /&gt;• Membangun dan mengembangkan potensi dan kemampuan ekonomi anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosialnya.&lt;br /&gt;• Berperan serta secara aktif dalam upaya mempertinggi kualitas kehidupan manusia dan masyarakat.&lt;br /&gt;• Memperkokoh perekonomian rakyat sebagai dasar kekuatan dan ketahanan perekonomian nasional dengan koperasi sebagai soko-gurunya.&lt;br /&gt;• Berusaha untuk mewujudkan dan mengembangkan perekonomian nasional, yang merupakan usaha bersama berdasarkan atas asas kekeluargaan dan demokrasi ekonomi.&lt;br /&gt;• Mengembangkan kreativitas dan membangun jiwa berorganisasi bagi para pelajar bangsa.&lt;br /&gt;  Prinsip koperasi &lt;br /&gt;Menurut UU No. 25 tahun 1992 Pasal 5 disebutkan prinsip koperasi, yaitu:&lt;br /&gt;• Keanggotaan bersifat sukarela dan terbuka.&lt;br /&gt;• Pengelolaan dilakukan secara demokratis.&lt;br /&gt;• Pembagian Sisa Hasil Usaha (SHU) dilakukan secara adil sebanding dengan besarnya jasa usaha masing-masing anggota (andil anggota tersebut dalam koperasi).&lt;br /&gt;• Pemberian balas jasa yang terbatas terhadap modal.&lt;br /&gt;• Kemandirian.&lt;br /&gt;• Pendidikan perkoprasian.&lt;br /&gt;• kerjasama antar koperasi.&lt;br /&gt; Jenis-jenis koperasi&lt;br /&gt;Koperasi secara umum dapat dikelompokkan menjadi koperasi konsumen, koperasi produsen dan koperasi kredit (jasa keuangan). Koperasi dapat pula dikelompokkan berdasarkan sektor usahanya.&lt;br /&gt;• Koperasi Simpan Pinjam&lt;br /&gt;• Koperasi Konsumen&lt;br /&gt;• Koperasi Produsen&lt;br /&gt;• Koperasi Pemasaran&lt;br /&gt;• Koperasi Jasa&lt;br /&gt;Koperasi Simpan Pinjam adalah koperasi yang bergerak di bidang simpanan dan pinjaman.&lt;br /&gt;Koperasi Konsumen adalah koperasi beranggotakan para konsumen dengan menjalankan kegiatannya jual beli menjual barang konsumsi.&lt;br /&gt;Koperasi Produsen adalah koperasi beranggotakan para pengusaha kecil menengah(UKM) dengan menjalankan kegiatan pengadaan bahan baku dan penolong untuk anggotanya.&lt;br /&gt;Koperasi Pemasaran adalah koperasi yang menjalankan kegiatan penjualan produk/jasa koperasinya atau anggotanya.&lt;br /&gt;Koperasi Jasa adalah koperasi yang bergerak di bidang usaha jasa lainnya.&lt;br /&gt;[sunting] Sumber modal koperasi&lt;br /&gt;Seperti halnya bentuk badan usaha yang lain, untuk menjalankan kegiatan usahanya koperasi memerlukan modal.[rujukan?] Adapun modal koperasi terdiri atas modal sendiri dan modal pinjaman.[rujukan?]&lt;br /&gt;Modal sendiri meliputi sumber modal sebagai berikut:&lt;br /&gt;• Simpanan Pokok&lt;br /&gt;Simpanan pokok adalah sejumlah uang yang wajib dibayarkan oleh anggota kepada koperasi pada saat masuk menjadi anggota.[rujukan?] Simpanan pokok tidak dapat diambil kembali selama yang bersangkutan masih menjadi anggota koperasi. Simpanan pokok jumlahnya sama untuk setiap anggota.[rujukan?]&lt;br /&gt;• Simpanan Wajib&lt;br /&gt;Simpanan wajib adalah jumlah simpanan tertentu yang harus dibayarkan oleh anggota kepada koperasi dalam waktu dan kesempatan tertentu, misalnya tiap bulan dengan jumlah simpanan yang sama untuk setiap bulannya.[rujukan?] Simpanan wajib tidak dapat diambil kembali selama yang bersangkutan masih menjadi anggota koperasi.[rujukan?]&lt;br /&gt;• Simpanan khusus/lain-lain misalnya:Simpanan sukarela (simpanan yang dapat diambil kapan saja), Simpanan Qurba, dan Deposito Berjangka.[rujukan?]&lt;br /&gt;• Dana Cadangan&lt;br /&gt;Dana cadangan adalah sejumlah uang yang diperoleh dari penyisihan Sisa Hasil usaha, yang dimaksudkan untuk pemupukan modal sendiri, pembagian kepada anggota yang keluar dari keanggotaan koperasi, dan untuk menutup kerugian koperasi bila diperlukan.[rujukan?]&lt;br /&gt;• Hibah&lt;br /&gt;Hibah adalah sejumlah uang atau barang modal yang dapat dinilai dengan uang yang diterima dari pihak lain yang bersifat hibah/pemberian dan tidak mengikat.[rujukan?]&lt;br /&gt;adapun modal pinjaman koperasi berasal dari pihak-pihak sebagai berikut:&lt;br /&gt;• Anggota dan calon anggota[rujukan?]&lt;br /&gt;• Koperasi lainnya dan/atau anggotanya yang didasari dengan perjanjian kerjasama antarkoperasi[rujukan?]&lt;br /&gt;• Bank dan Lembaga keuangan bukan banklembaga keuangan lainnya yang dilakukan berdasarkan ketentuan peraturan perudang-undangan yang berlaku[rujukan?]&lt;br /&gt;• Penerbitan obligasi dan surat utang lainnya yang dilakukan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku[rujukan?]&lt;br /&gt;• Sumber lain yang sah[rujukan?]&lt;br /&gt;[sunting] Mekanisme pendirian koperasi&lt;br /&gt;Mekanisme pendirian koperasi terdiri dari beberapa tahap.[rujukan?] Pertama-tama adalah pengumpulan anggota, karena untuk menjalankan koperasi membutuhkan minimal 20 anggota.[rujukan?] Kedua, Para anggota tersebut akan mengadakan rapat anggota, untuk melakukan pemilihan pengurus koperasi ( ketua, sekertaris, dan bendahara ).[rujukan?] Setelah itu, koperasi tersebut harus merencanakan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga koperasi itu.[rujukan?] Lalu meminta perizinan dari negara.[rujukan?] Barulah bisa menjalankan koperasi dengan baik dan benar.[rujukan?]&lt;br /&gt;[sunting] Pengurus koperasi&lt;br /&gt;Pengurus koperasi dipilih dari kalangan dan oleh anggota dalam suatu rapat anggota.[rujukan?] Ada kalanya rapat anggota tersebut tidak berhasil memilih seluruh anggota Pengurus dari kalangan anggota sendiri.[rujukan?] Hal demikian umpamanya terjadi jika calon-calon yang berasal dari kalangan-kalangan anggota sendiri tidak memiliki kesanggupan yang diperlukan untuk memimpin koperasi yang bersangkupan, sedangkan ternyata bahwa yang dapat memenuhi syarat-syarat ialahmereka yang bukan anggota atau belum anggota koperasi (mungkin sudah turut dilayani oleh koperasi akan tetapi resminya belum meminta menjadi anggota).[rujukan?] Dalam hal dapatlah diterima pengecualian itu dimana yang bukan anggota dapat dipilih menjadi anggota pengurus koperasi.[5]&lt;br /&gt;[sunting] Sejarah berdirinya koperasi dunia&lt;br /&gt;Gerakan koperasi digagas oleh Robert Owen (1771-1858), yang menerapkannya pertama kali pada usaha pemintalan kapas di New Lanark, Skotlandia.[rujukan?]&lt;br /&gt;Gerakan koperasi ini dikembangkan lebih lanjut oleh William King (1786–1865) – dengan mendirikan toko koperasi di Brighton, Inggris.[rujukan?] Pada 1 Mei 1828, King menerbitkan publikasi bulanan yang bernama The Cooperator, yang berisi berbagai gagasan dan saran-saran praktis tentang mengelola toko dengan menggunakan prinsip koperasi.[rujukan?]&lt;br /&gt;Koperasi akhirnya berkembang di negara-negara lainnya.[rujukan?] Di Jerman, juga berdiri koperasi yang menggunakan prinsip-prinsip yang sama dengan koperasi buatan Inggris.[rujukan?] Koperasi-koperasi di Inggris didirikan oleh Charles Foirer, Raffeinsen, dan Schulze Delitch.[rujukan?] Di Perancis, Louis Blanc mendirikan koperasi produksi yang mengutamakan kualitas barang.[rujukan?] Di Denmark Pastor Christiansone mendirikan koperasi pertanian.[rujukan?]&lt;br /&gt;[sunting] Gerakan koperasi di Indonesia&lt;br /&gt;Sejarah singkat gerakan koperasi bermula pada abad ke-20 yang pada umumnya merupakan hasil dari usaha yang tidak sepontan dan tidak dilakukan oleh orang-orang yang sangat kaya.[rujukan?] Meraka mempersatukan diri untuk memperkaya dirinya sendiri, seraya ikut mengembangkan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya.[rujukan?] Koperasi tumbuh dari kalangan rakyat, ketika penderitaan dalam lapangan ekonomi dan sosial yang di timbulkan oleh sistem kapitalisme demikian memuncaknya.[rujukan?] Beberapa orang yang penghidupannya sederhana dengan kemampuan ekonomi terbatas, terdorong oleh penderitaan dan beban ekonomi yang sama, secara sepontan mempersatukan diri untuk menolong dirinya sendiri dan manusia sesamanya.[6]&lt;br /&gt;Pada tahun 1896 seorang Pamong Praja Patih R.Aria Wiria Atmaja di Purwokerto mendirikan sebuah Bank untuk para pegawai negri (priyayi).[rujukan?] Ia terdorong oleh keinginanmya untuk menolong para pegawai yang makin menderita karena terjerat oleh lintah darat yang memberikan pinjaman dengan bunga yang tinggi.[rujukan?] Maksud Patih tersebut untuk mendirikan koperasi kredit model seperti di Jerman.[rujukan?] Ia dibantu oleh seorang asisten Residen Belanda (Pamong Praja Belanda) Assisten-Residen itu sewaktu cuti berhasil mengunjungi Jerman dan menganjurkan akan mengubah Bank Pertolongan Tabungan yang sudah ada menjadi Bak Pertolongan, Tabungan dan Pertanian.[rujukan?] Selain pegawai negeri juga para petani perlu dibantu karena mereka makin menderita karena tekana para pengijon (pelepan uang). Ia juga menganjurkan merubah Bank tersebut menjadi koperasi.[rujukan?] Di samping itu ia pun mendirikan lumbung-lumbung desa yang menganjurkan para petani menyimpan pada pada musim panen dan memberikan pertolongan pinjaman padi pada musim paceklik.[rujukan?] Ia pun berusaha menjadikan lumbung-lumbung itu menjadi Koperasi Kredit Padi.[rujukan?] Tetapi Pemerintah Belanda pada waktu itu berpendirian lain. Bank Pertolongan, Tabungan dan Pertanian dan Lumbung Desa tidak dijadikan Koperasi tetapi Pemerintah Belanda membentuk lumbung-lumbung desa baru, bank –bank Desa , rumah gadai dan Centrale Kas yang kemudian menjadi Bank Rakyak Indonesia (BRI).[rujukan?] Semua itu adalah badan usaha Pemerntah dan dipimpin oleh orang-orang Pemerintah.[rujukan?]&lt;br /&gt;Pada zaman Belanda pembentuk koperasai belum dapat terlaksana, karena: 1. Belum ada instansi pemerintah ataupun badan non pemerintah yang memberikan penerangan dan penyuluhan tentang koperasi.[rujukan?] 2. Belum ada Undang-Undang yang mengatur kehidupan kopeasi.[rujukan?] 3. Pemerintah jajahan sendiri masih ragu-ragu menganjurkan koperasi karena pertimbangan politik, khawatir koperasi itu akan digunakan oleh kaum politik untuk tujuan yang membahayakan pemerintah jajahan itu.[7]&lt;br /&gt;Koperasi menjamur kembali, tetapi pada tahun 1933 keluar UU yang mirip UU no. 431 sehingga mematikan usaha koperasi untuk yang kedua kalinya.[rujukan?] Pada tahun 1942 Jepang menduduki Indonesia.[rujukan?] Jepang lalu mendirikan koperasi kumiyai.[rujukan?] Awalnya koperasi ini berjalan mulus.[rujukan?] Namun fungsinya berubah drastis dan menjadi alat jepang untuk mengeruk keuntungan, dan menyengsarakan rakyat.[rujukan?]&lt;br /&gt;Setelah Indonesia merdeka, pada tanggal 12 Juli 1947, pergerakan koperasi di Indonesia mengadakan Kongres Koperasi yang pertama di Tasikmalaya.[rujukan?] Hari ini kemudian ditetapkan sebagai Hari Koperasi Indonesia.[rujukan?]&lt;br /&gt;[sunting] Perangkat organisasi koperasi&lt;br /&gt;Rapat Anggota&lt;br /&gt;Rapat anggota adalah wadah aspirasi anggota dan pemegang kekuasaan tertinggi dalam koperasi.[rujukan?] Sebagai pemegang kekuasaan tertinggi, maka segala kebijakan yang berlaku dalam koperasi harus melewati persetujuan rapat anggota terlebih dahulu, termasuk pemilihan, pengangkatan dan pemberhentian personalia pengurus dan pengawas.[rujukan?]&lt;br /&gt;Pengurus&lt;br /&gt;Pengurus adalah badan yang dibentuk oleh rapat anggota dan disertai dan diserahi mandat untuk melaksanakan kepemimpinan koperasi, baik dibidang organisasi maupun usaha.[rujukan?] Anggota pengurus dipilih dari dan oleh anggota koperasi dalam rapat anggota.[rujukan?] Dalam menjalankan tugasnya, pengurus bertanggung jawab terhadap rapat anggota.[rujukan?] Atas persetujuan rapat anggota pengurus dapat mengangkat manajer untuk mengelola koperasi.[rujukan?] Namun pengurus tetap bertanggung jawab pada rapat anggota.[rujukan?]&lt;br /&gt;Pengawas&lt;br /&gt;Pengawas adalah suatu badan yang dibentuk untuk melaksanakan pengawasan terhadap kinerja pengurus.[rujukan?] Anggota pengawas dipilih oleh anggota koperasi di rapat anggota.[rujukan?] Dalam pelaksanaannya, pengawas berhak mendapatkan setiap laporan pengurus, tetapi merahasiakannya kepada pihak ketiga.[rujukan?] Pengawas bertanggung jawab kepada rapat anggota.[rujukan?]&lt;br /&gt;Tugas dan wewenang perangkat organisasi koperasi diatur oleh AD/ART koperasi yang disesuaikan dengan idiologi koperasi. Dalam manajemen koperasi perangkat organisasi koperasi juga disebut sebagai tim manajemen[8]&lt;br /&gt;Logo gerakan koperasi Indonesia&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;[sunting] Lambang koperasi Indonesia&lt;br /&gt;Lambang gerakan koperasi Indonesia memiliki arti sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Rantai melambangkan persatuan dan persahabatan yang kokoh.[rujukan?]&lt;br /&gt;2. Roda bergigi menggambarkan upaya keras yang ditempuh secara terus menerus.[rujukan?]&lt;br /&gt;3. Kapas dan padi berarti menggambarkan kemakmuran rakyat yang diusahakan oleh koperasi.[rujukan?]&lt;br /&gt;4. Timbangan berarti keadilan sosial sebagai salah satu dasar koperasi.[rujukan?]&lt;br /&gt;5. Bintang dalam perisai artinya Pancasila, merupakan landasan ideal koperasi.[rujukan?]&lt;br /&gt;6. Pohon beringin menggambarkan sifat kemasyarakatan dan kepribadian Indonesia yang kokoh berakar.[rujukan?]&lt;br /&gt;7. Koperasi Indonesia menandakan lambang kepribadian koperasi rakyat Indonesia.[rujukan?]&lt;br /&gt;8. Warna merah dan putih menggambarkan sifat nasional Indonesia.[rujukan?]&lt;br /&gt;[sunting] Referensi&lt;br /&gt;1. ^ Ningsih, Murni Iran Koperasi (Bandung, Pringgadani 2002). Hal. 1&lt;br /&gt;2. ^ Nunkener, Hans M Hukum Koperasi (Bandung: Alumni, 1981) hlm.12&lt;br /&gt;3. ^ Chaniago, Arifinal Ekonomi dan Koperasi(Bandung : CV Rosda Bandung 1983) hlm. 29&lt;br /&gt;4. ^ Sito, Arifin. Tamba, Halomoan Koprasi teori dan peraktek (Jakarta: Erlangga 2001) hlm. 137&lt;br /&gt;5. ^ Djazh, Dahlan Pengtahuan Koprasi (Jakarta: PN Balai Pustaka, 1980) hlm. 162,163&lt;br /&gt;6. ^ Djazh, Dahlan Pengtahuan Koperasi (Jakarta: PN Balai Pustaka, 1980) hlm. 16&lt;br /&gt;7. ^ Djazh, Dahlan Pengtahuan Perkoprasian (Jakarta: PN Balai Pustaka, 1977) hlm. 26,27&lt;br /&gt;8. ^ koperasi indonesia&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1674769897518819067-2703990533824575774?l=abuazi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='enclosure' type='' href='http://www.koperasisyariah.com/download/' length='0'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuazi.blogspot.com/feeds/2703990533824575774/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1674769897518819067&amp;postID=2703990533824575774' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1674769897518819067/posts/default/2703990533824575774'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1674769897518819067/posts/default/2703990533824575774'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuazi.blogspot.com/2010/09/koperasi.html' title='Koperasi'/><author><name>TABUNGAN 'AMAL SHALIH (T'AS)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05674433416570835606</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1674769897518819067.post-2698387792900277897</id><published>2009-06-04T09:56:00.003+07:00</published><updated>2009-06-04T10:34:51.996+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ijtimaiyyah'/><title type='text'>"Kisah Rasullullah Berbicara Tentang Manusia Akhir Zaman".</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;"Kisah Rasullullah Berbicara Tentang Manusia Akhir Zaman".&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ibnu Abbas&lt;/span&gt; memberitahu, bahawa &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Rasullullah s.a.w. bersabda;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; "Pada akhir zaman nanti akan muncullah golongan-golongan manusia yang berwajah manusia berhati syaitan, mereka adalah diibaratkan seperti serigala buas, hati mereka tidak mempunyai sedikit pun belas kasihan".&lt;br /&gt; Mereka tidak suka menjauhi segala yang buruk dan mereka Iebih suka melakukan pertumpahan darah, kalau engkau ikut mereka, mereka akan mendekati kamu, kalau engkau jauhi dan mereka maka mereka akan mengumpat kamu. Kalau engkau memberi amanat kepada mereka, maka mereka akan memberi khianat padamu.&lt;br /&gt; Kalau meminta sesuatu dan mereka adalah kemiskinan, hukum dikalangan mereka adalah bid'ah, dan bid'ah dikalangan mereka adalah sunnah, dan dikala itu orang menganggap sunnahku sudah usang dan memperbaharui bid'ah, maka barangsiapa mengikut sunnahku pada waktu itu ia akan menjadi asing dan tinggal seorang diri, dan barangsiapa mengikut bid'ah ia akan mendapat lima puluh orang teman atau lebih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Para sahabat&lt;/span&gt; bertanya;&lt;br /&gt;"Apakah mereka melihatmu?" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Jawab Nabi;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;"Tidak"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Para sahabat bertanya lagi;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;"Apakah turun wahyu kepada mereka?" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Nabi menjawab;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;"Tidak"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Para sahabat bertanya lagi;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;"Bagaimana keadaan mereka?" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Jawab Nabi;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; "Seperi garam di dalam air, hati mereka menitik seperti garam dalam air" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Para sahabat bertanya lagi;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;"Bagaimana mereka hidup di zaman itu?" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Jawab Nabi;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;"Seperti ulat dalam cuka"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Para sahabat bertanya lagi;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;"Ya Rasullullah, bagaimana mereka menjaga agama?" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Jawab Nabi;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;"Seperti bara api di tangan, kalau diletak ia akan padam dan kalau diambil dengan tangan ia akan terbakar.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1674769897518819067-2698387792900277897?l=abuazi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuazi.blogspot.com/feeds/2698387792900277897/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1674769897518819067&amp;postID=2698387792900277897' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1674769897518819067/posts/default/2698387792900277897'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1674769897518819067/posts/default/2698387792900277897'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuazi.blogspot.com/2009/06/kisah-rasullullah-berbicara-tentang.html' title='&quot;Kisah Rasullullah Berbicara Tentang Manusia Akhir Zaman&quot;.'/><author><name>TABUNGAN 'AMAL SHALIH (T'AS)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05674433416570835606</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1674769897518819067.post-4133212345369859497</id><published>2008-04-15T08:54:00.005+07:00</published><updated>2008-04-15T09:09:49.575+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Munakahat'/><title type='text'>Anjuran Untuk Menikah : Menikah Dapat Mengembalikan Semangat Kepemudaan</title><content type='html'>&lt;div id="layout"&gt;&lt;div id="tengah"&gt;&lt;div class="content"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Anjuran Untuk Menikah : Menikah Dapat Mengembalikan Semangat Kepemudaan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;    &lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;    ANJURAN UNTUK MENIKAH&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Oleh&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; : Abu Hafsh Usamah bin Kamal bin Abdir Razzaq&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; [6]. Menikah Dapat Mengembalikan Semangat "Kepemudaan".&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Nikah dapat mengembalikan kekuatan dan kepemudaan badan. Karena ketika jiwa merasa tenteram, tubuh menjadi giat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Inilah seorang Sahabat yang menjelaskan hal itu kepada kita, sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dari ‘Alqamah Radhiyallahu ‘anhu, ia menuturkan: “Aku bersama ‘Abdullah (bin Mas’ud), lalu ‘Utsman bertemu dengannya di Mina, maka ia mengatakan: ‘Wahai Abu ‘Abdirrahman, sesungguhnya aku mempunyai hajat kepadamu.’ Kemudian keduanya bercakap-cakap (jauh dari ‘Alqamah). ‘Utsman bertanya kepadanya: ‘Wahai Abu ‘Abdirrahman, maukah aku nikahkan engkau dengan seorang gadis yang akan mengingatkanmu pada apa yang dahulu pernah engkau alami?’ Ketika ‘Abdullah merasa dirinya tidak membutuhkannya, maka dia mengisyaratkan kepadaku seraya mengatakan: ‘Wahai ‘Alqamah!’ Ketika aku menolaknya, dia mengatakan: ‘Jika memang engkau mengatakan demikian, maka sesungguhnya Nabi &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Shallallahu 'alaihi wa sallam&lt;/span&gt; bersabda kepada kami: ‘Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian mampu untuk menikah, maka menikahlah. Dan barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah; karena puasa dapat mengendalikan syahwatnya.’” [9]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;[7]. Nabi &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Shallallahu Alaihi Wa Sallam&lt;/span&gt; Menganjurkan Suami Isteri Agar Melakukan Aktivitas Seksual Guna Memperolah Keturunan, Dan Menikah Dengan Gadis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Radhiyalllahu ‘anhu&lt;/span&gt;, ia mengatakan: "Nabi Sulaiman bin Dawud berkata: 'Aku benar-benar akan menggilir 70 isteri pada malam ini, yang masing-masing isteri akan melahirkan seorang mujahid yang berjihad di jalan Allah.' Seorang sahabatnya berkata kepadanya: 'Insya Allah.' Tetapi Nabi Sulaiman tidak mengucapkannya, dan tidak ada seorang pun dari mereka yang hamil kecuali satu orang. Nabi &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt; bersabda: 'Seandainya dia mengucapkan insya Allah, niscaya mereka menjadi para mujahid di jalan Allah.'" [10]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Dalam riwayat Muslim (disebutkan): "Aku bersumpah kepada Rabb yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya! 'Seandainya dia mengucapkan ‘insya Allah’, niscaya mereka berjihad di jalan Allah sebagai prajurit semuanya.'" [11]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Al-Bukhari meriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdillah , ia mengatakan: "Aku bersama Nabi &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt; dalam suatu peperangan, ternyata untaku berjalan lambat dan kelelahan. Kemudian Nabi &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt; datang kepadaku lalu menegur: 'Jabir!' Aku menjawab: 'Ya.' Beliau bertanya: 'Ada apa denganmu?' Aku menjawab: 'Untaku berjalan lambat dan kelelahan sehingga aku tertinggal.' Lalu beliau turun untuk mengikatnya dengan tali, kemudian bersabda: 'Naiklah!' Aku pun naik. Sungguh aku ingin menahannya dari Rasulullah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt;. Beliau bertanya: 'Apakah engkau sudah menikah?' Aku menjawab: 'Sudah.' Beliau bertanya: 'Gadis atau janda?' Aku menjawab: 'Janda.' Beliau bersabda: 'Mengapa tidak menikahi gadis saja sehingga engkau dapat bermain-main dengannya dan ia pun bermain-main dengan-mu?' Aku menjawab: 'Sesungguhnya aku mempunyai saudara-saudara perempuan, maka aku ingin menikahi seorang wanita yang bisa mengumpulkan mereka, menyisir mereka, dan membimbing mereka.' Beliau bersabda: 'Engkau akan datang; jika engkau datang, maka demikian, demikian.' [12] Beliau bertanya: 'Apakah engkau akan menjual untamu?' Aku menjawab: 'Ya.' Lalu beliau membelinya dariku dengan satu uqiyah (ons perak). Kemudian Rasulullah n sampai sebelumku, sedangkan aku sampai pada pagi hari. Ketika kami datang ke masjid, aku menjumpai beliau di depan pintu masjid. Beliau bertanya: 'Apakah sekarang engkau telah tiba?' Aku menjawab: 'Ya.' Beliau bersabda: 'Tinggalkan untamu lalu masuklah ke masjid, kemudian kerjakan shalat dua rakaat.' Kemudian aku masuk, lalu melaksanakan shalat. Setelah itu beliau memerintahkan Bilal agar membawakan satu uqiyah kepada beliau, lalu Bilal menimbangnya dengan mantap dalam timbangan. Ketika aku pergi, beliau mengatakan: 'Panggillah Jabir kepadaku.' Aku mengatakan: 'Sekarang unta dikembalikan kepadaku, padahal tidak ada sesuatu pun yang lebih aku benci daripada unta ini.' Beliau bersabda: 'Ambillah untamu, dan harganya untukmu.'" [13]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Ibnu Majah meriwayatkan dari Rasulullah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt;, bahwa beliau bersabda&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;"Nikahlah dengan gadis perawan; sebab mereka itu lebih manis bibirnya, lebih subur rahimnya, dan lebih ridha dengan yang sedikit." [14]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;[8]. Anak Dapat Memasukkan Bapak Dan Ibunya Ke Dalam Surga.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Bagaimana anak memasukkan ayah dan ibunya ke dalam Surga? Mari kita dengarkan jawabannya dari Rasulullah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt; dalam hadits qudsi. Imam Ahmad meriwayatkan dari sebagian Sahabat Nabi &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt;, bahwa beliau bersabda.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;"Di perintahkan kepada anak-anak di Surga: 'Masuklah ke dalam Surga.' Mereka menjawab: 'Wahai Rabb-ku, (kami tidak masuk) hingga bapak dan ibu kami masuk (terlebih dahulu).' Ketika mereka (bapak dan ibu) datang, maka Allah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Azza wa Jalla&lt;/span&gt; berfirman kepada mereka: 'Aku tidak melihat mereka terhalang. Masuklah kalian ke dalam Surga.' Mereka mengatakan: 'Wahai Rabb-ku, bapak dan ibu kami?' Allah berfirman: 'Masuklah ke dalam Surga bersama orang tua kalian.'" [15]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Sebagian manusia memutuskan untuk beribadah dan menjadi "pendeta" serta tidak menikah, dengan alasan bahwa semua ini adalah taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah. Kita sebutkan kepada mereka dua hadits berikut ini, agar mereka mengetahui ajaran-ajaran Nabi &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Shallallahu 'alaihi wa sallam&lt;/span&gt; dan keharusan mengikuti Sunnahnya pada apa yang disabdakannya. Inilah point yang kesembilan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;[9]. Tidak Menikah Karena Memanfaatkan Seluruh Waktunya Untuk Beribadah Adalah Menyelisihi Sunnah Nabi &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Shallallahu Alaihi Wa Sallam&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Wahai saudaraku yang budiman. Engkau memutuskan untuk tidak menikah agar dapat mempergunakan seluruh waktumu untuk beribadah adalah menyelisihi Sunnah Nabi &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt;. Sebab, agama kita bukan agama "kependetaan" dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak merekomendasi-kan hal itu kepada kita.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dari Anas bin Malik, ia menuturkan: Ada tiga orang yang datang ke rumah isteri-isteri Nabi &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt; untuk bertanya tentang ibadah Nabi &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt;. Ketika mereka diberi kabar, mereka seakan-akan merasa tidak berarti. Mereka mengatakan: "Apa artinya kita dibandingkan Nabi &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt;, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan terkemudian?" Salah seorang dari mereka berkata: "Aku akan shalat malam selamanya." Orang kedua mengatakan: "Aku akan berpuasa sepanjang masa dan tidak akan pernah berbuka." Orang ketiga mengatakan: "Aku akan menjauhi wanita dan tidak akan menikah selamanya." Kemudian Rasulullah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Shallallahu ‘alaihi wa sallam &lt;/span&gt;datang lalu bertanya: "Apakah kalian yang mengatakan demikian dan demikian? Demi Allah, sesungguhnya aku lebih takut kepada Allah dan lebih bertakwa daripada kalian, tetapi aku berpuasa dan berbuka, shalat dan tidur, serta menikahi wanita. Barangsiapa yang membenci Sunnahku, maka ia bukan termasuk golonganku.'" [16]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Nabi &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt; menyetujui Salman &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Radhiyallahu ‘anhu&lt;/span&gt; atas apa yang dikatakannya kepada saudaranya, Abud Darda' &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Radhiyallahu ‘anhuma&lt;/span&gt; yang telah beristeri, agar tidak menghabiskan waktunya untuk beribadah dan menjauhi isterinya, yaitu Ummud Darda’ &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Radhiyallahu ‘anha&lt;/span&gt;. Dia menceritakan kepada kita peristiwa yang telah terjadi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Al-Bukhari meriwayatkan dari Wahb bin ‘Abdillah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Radhiyallahu ‘anhu&lt;/span&gt;, ia menuturkan: Nabi &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt; mempersaudarakan antara Salman dan Abud Darda'. Ketika Salman mengunjungi Abud Darda', dia melihat Ummud Darda' mubtadzilah (memakai baju apa adanya dan tidak memakai pakaian yang bagus). [17] Dia bertanya: "Bagaimana keadaanmu?" Ia menjawab: "Saudaramu, Abud Darda', tidak membutuhkan dunia ini, (yakni wanita. Dalam riwayat Ibnu Khuzaimah terdapat tambahan: ‘Ia berpuasa di siang hari dan shalat di malam hari’).”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Kemudian Abud Darda' datang lalu Salman dibuatkan makanan. "Makanlah, karena aku sedang berpuasa," kata Abud Darda'. Ia menjawab: "Aku tidak akan makan hingga engkau makan." Abud Darda' pun makan. Ketika malam datang, Abud Darda' pergi untuk mengerjakan shalat. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Salman berkata kepadanya: "Tidurlah!" Ia pun tidur. Kemudian ia pergi untuk shalat, maka Salman berkata kepadanya: "Tidurlah!" Ketika pada akhir malam, Salman berkata: "Bangunlah sekarang." Lantas keduanya melakukan shalat bersama.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Kemudian Salman berkata kepadanya: "Rabb-mu mempunyai hak atasmu, dirimu mempunyai hak atasmu, dan keluargamu mempunyai hak atasmu. Oleh karenanya, berikanlah haknya kepada masing-masing pemiliknya." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Kemudian Abud Darda' datang kepada Nabi n untuk menceritakan hal itu kepada beliau, maka beliau menjawab: "Salman benar." [18]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Al-Bukhari meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Radhiyallahu ‘anhu&lt;/span&gt;, ia menuturkan: Rasulullah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt; bersabda: "Wahai ‘Abdullah, aku diberi kabar, bukankah engkau selalu berpuasa di siang hari dan shalat pada malam hari?" Aku menjawab: "Benar, wahai Rasulullah." Beliau bersabda: "Jangan engkau lakukan! Berpuasa dan berbukalah, bangun dan tidurlah. Sebab jasadmu mempunyai hak atasmu, matamu mempunyai hak atasmu, dan isterimu mempunyai hak atasmu.'" [19]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;[Disalin dari kitab Isyratun Nisaa Minal Alif Ilal Yaa, Edisi Indonesia Panduan Lengkap Nikah Dari A Sampai Z, Penulis Abu Hafsh Usamah bin Kamal bin Abdir Razzaq, Penterjemah Ahmad Saikhu, Penerbit Pustaka Ibnu Katsair]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; __________&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Foote Note&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; [9]. HR. Al-Bukhari (no. 5065) kitab an-Nikaah, Muslim (no. 1400) kitab an-Nikaah, Abu Dawud (no. 2045) kitab an-Nikaah. Pensyarah kitab ‘Aunul Ma’buud Syarh Sunan Abi Dawud (VI/28-29) berkata: "Wahai Abu ‘Abdirrahman -kunyah Ibnu Mas’ud-, akan kembali kepadamu apa yang pernah engkau alami, akan kembali kepadamu apa yang telah berlalu dari semangatmu dan kekuatan muda-mu. Sebab, itu dapat membangkitkan kekuatan badan."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; [10]. HR. Al-Bukhari (no. 3424), kitab Ahaadiitsul Anbiyaa'.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; [11]. HR. Muslim (no. 1659), kitab al-Aimaan wan-Nudzuur.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; [12]. Sebagian ahli ilmu menafsirkan al-kais al-kais dengan jima'. Sebagian lainnya menafsirkannya dengan memperoleh anak dan keturunan. Sebagian lain lagi menafsirkannya sebagai anjuran untuk berjima'.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; [13]. HR. Al-Bukhari (no. 5079) kitab an-Nikaah, Muslim (no. 715) kitab al-Aimaan, Ibnu Majah (no. 1860) kitab an-Nikaah, Ahmad (no. 13710).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; [14]. HR. Ibnu Majah (no. 1861) kitab an-Nikaah, dan di dalamnya terdapat ‘Abdur-rahman bin Salim, yang dinilai oleh al-Bukhari bahwa haditsnya tidak shahih.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; [15]. HR. Ahmad (no. 16523), dan para perawinya tsiqat kecuali Abul Mughirah, ia adalah shaduq.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; [16]. HR. Al-Bukhari (no. 5063) kitab an-Nikaah, Muslim (no. 1401) kitab an-Nikaah, an-Nasa-i (no. 3217) kitab an-Nikaah, Ahmad (no. 13122).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; [17]. Peristiwa ini sebelum turunnya ayat hijab, wallaahu a’lam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; [18]. HR. Al-Bukhari (no. 1968) kitab ash-Shiyaam, at-Tirmidzi (no. 2413).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; [19]. HR. Al-Bukhari (no. 5199) kitab an-Nikaah, dan Muslim (no. 1159).           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;   &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1674769897518819067-4133212345369859497?l=abuazi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuazi.blogspot.com/feeds/4133212345369859497/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1674769897518819067&amp;postID=4133212345369859497' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1674769897518819067/posts/default/4133212345369859497'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1674769897518819067/posts/default/4133212345369859497'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuazi.blogspot.com/2008/04/anjuran-untuk-menikah-menikah-dapat.html' title='Anjuran Untuk Menikah : Menikah Dapat Mengembalikan Semangat Kepemudaan'/><author><name>TABUNGAN 'AMAL SHALIH (T'AS)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05674433416570835606</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1674769897518819067.post-3387512468946923287</id><published>2008-04-15T08:21:00.002+07:00</published><updated>2008-04-15T08:34:49.762+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Munakahat'/><title type='text'>Anjuran Untuk Menikah : Nikah Adalah Sunnah Para Rasul, Persetubuhan Dari Kalian Adalah Shadaqah</title><content type='html'>&lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/" title="ke halaman awal"&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms;" id="layout"&gt;&lt;div id="tengah"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="content"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Anjuran Untuk Menikah : Nikah Adalah Sunnah Para Rasul, Persetubuhan Dari Kalian Adalah Shadaqah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;   ANJURAN UNTUK MENIKAH&lt;br /&gt;Oleh&lt;br /&gt;Abu Hafsh Usamah bin Kamal bin Abdir Razzaq&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang telah diketahui bahwa agama kita banyak memberikan anjuran untuk menikah.&lt;br /&gt;Allah menyebutkannya dalam banyak ayat di Kitab-Nya dan menganjurkan kepada kita untuk melaksanakannya. Di antaranya, firman Allah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Ta’ala&lt;/span&gt; dalam surat Ali ‘Imran tentang ucapan Zakariya Alaihissalam&lt;br /&gt;“Ya Rabb-ku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar do'a.” [&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Ali ‘Imran: 38&lt;/span&gt;]&lt;br /&gt;Allah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Subhanahu wa Ta’ala&lt;/span&gt; berfirman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan (ingatlah kisah) Zakariya, tatkala ia menyeru Rabb-nya: ‘Ya Rabb-ku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkau-lah Waris Yang Paling Baik.’” [&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Al-Anbiyaa’: 89&lt;/span&gt;]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Subahanhu wa Ta’ala&lt;/span&gt; berfirman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum-mu dan Kami memberikan kepada mereka isteri-isteri dan ke-turunan…” [&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Ar-Ra’d: 38&lt;/span&gt;]&lt;br /&gt;Allah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Subhanahu wa Ta’ala&lt;/span&gt; berfirman&lt;br /&gt;“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan menjadikan mereka mampu dengan karunia-Nya...” [&lt;span style="font-size:78%;"&gt;An-Nuur: 32&lt;/span&gt;]&lt;br /&gt;Dan hadits-hadits mengenai hal itu sangatlah banyak.&lt;br /&gt;Dari Anas bin Malik &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Radhiyallahu ‘anhu&lt;/span&gt;, bahwasanya Rasulullah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt; bersabda.&lt;br /&gt;"Jika seorang hamba menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya; oleh karena itu hendaklah ia bertakwa kepada Allah untuk separuh yang tersisa." [1]&lt;br /&gt;Beliau &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt; bersabda&lt;br /&gt;"Barangsiapa yang dipelihara oleh Allah dari keburukan dua perkara, niscaya ia masuk Surga: Apa yang terdapat di antara kedua tulang dagunya (mulutnya) dan apa yang berada di antara kedua kakinya (kemaluannya)." [2]&lt;br /&gt;Jadi, masuk ke dalam Surga itu -wahai saudaraku- karena engkau memelihara dirimu dari keburukan apa yang ada di antara kedua kakimu, dan ini dengan cara menikah atau berpuasa.&lt;br /&gt;Saudaraku yang budiman! Pernikahan adalah sarana terbesar untuk memelihara manusia agar tidak terjatuh ke dalam perkara yang diharamkan Allah, seperti zina, liwath (homoseksual) dan selainnya. Penjelasan mengenai hal ini akan disampaikan.&lt;br /&gt;Nabi &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt; menganjurkan kita -dengan sabdanya- untuk menikah dan mencari keturunan, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Umamah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Radhiyallahu ‘anhu&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;"Menikahlah, karena sesungguhnya aku akan membangga-banggakan jumlah kalian kepada umat-umat lain pada hari Kiamat, dan janganlah kalian seperti para pendeta Nasrani." [3]&lt;br /&gt;Nabi &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt; menganjurkan kita dalam banyak hadits agar menikah dan melahirkan anak. Beliau menganjurkan kita mengenai hal itu dan melarang kita hidup membujang, karena perbuatan ini menyelisihi Sunnahnya.&lt;br /&gt;Saya kemukakan kepadamu, saudaraku yang budiman, sejumlah hadits yang menunjukkan hal itu.&lt;br /&gt;[1]. Nikah Adalah Sunnah Para Rasul.&lt;br /&gt;Nikah adalah salah satu Sunnah para Rasul, lantas apakah engkau akan menjauhinya, wahai saudaraku yang budiman?&lt;br /&gt;At-Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Ayyub &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Radhiyallahu ‘anhu&lt;/span&gt;, ia menuturkan bahwa Rasulullah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt; bersabda.&lt;br /&gt;"Ada empat perkara yang termasuk Sunnah para Rasul: rasa malu, memakai wewangian, bersiwak, dan menikah." [4]&lt;br /&gt;[2]. Siapa Yang Mampu Di Antara Kalian Untuk Menikah, Maka Menikahlah.&lt;br /&gt;Nabi &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt; memerintahkan kita demikian, sebagaimana diriwayatkan oleh al-Bukhari dari ‘Abdullah bin Mas’ud &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Radhiyallahu ‘anhu&lt;/span&gt;. Ia menuturkan: "Kami bersama Nabi &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt; sebagai pemuda yang tidak mempunyai sesuatu, lalu beliau bersabda kepada kami:&lt;br /&gt;"Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu menikah, maka menikahlah. Karena menikah lebih dapat menahan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa; karena puasa dapat menekan syahwatnya (sebagai tameng).'" [5]&lt;br /&gt;[3]. Orang Yang Menikah Dengan Niat Menjaga Kesucian Dirinya, Maka Allah Pasti Menolongnya.&lt;br /&gt;Saudaraku yang budiman, jika engkau ingin menikah, maka ketahuilah bahwa Allah akan menolongmu atas perkara itu.&lt;br /&gt;At-Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Hurairah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Radhiyallahu ‘anhu&lt;/span&gt;, bahwa Rasulullah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt; bersabda.&lt;br /&gt;"Ada tiga golongan yang pasti akan ditolong oleh Allah; seorang budak yang ingin menebus dirinya dengan mencicil kepada tuannya, orang yang menikah karena ingin memelihara kesucian, dan pejuang di jalan Allah." [6]&lt;br /&gt;[4]. Menikahi Wanita Yang Berbelas Kasih Dan Subur (Banyak Anak) Adalah Kebanggaan Bagimu Pada Hari Kiamat.&lt;br /&gt;Saudaraku yang budiman, jika kamu hendak menikah, carilah dari keluarga yang wanita-wanitanya dikenal subur (banyak anak) dan berbelas kasih kepada suaminya, karena Nabi &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Shalallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt; membanggakanmu mengenai hal itu pada hari Kiamat.&lt;br /&gt;Berdasarkan apa yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Ma’qil bin Yasar &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Radhiyallahu ‘anhu&lt;/span&gt;, ia menuturkan: “Seseorang datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mengatakan: ‘Aku mendapatkan seorang wanita (dalam satu riwayat lain (disebutkan), ‘memiliki kedudukan dan kecantikan’), tetapi ia tidak dapat melahirkan anak (mandul); apakah aku boleh menikahinya?’ Beliau menjawab: ‘Tidak.’ Kemudian dia datang kepada beliau untuk kedua kalinya, tapi beliau melarangnya. Kemudian dia datang kepada beliau untuk ketiga kalinya, maka beliau bersabda: ‘Nikahilah wanita yang berbelas kasih lagi banyak anak, karena aku akan membangga-banggakan jumlah kalian kepada umat-umat yang lain.’” [7]&lt;br /&gt;[5]. Persetubuhan Salah Seorang Dari Kalian Adalah Shadaqah.&lt;br /&gt;Saudaraku semuslim, aktivitas seksualmu dengan isterimu guna mendapatkan keturunan, atau untuk memelihara dirimu atau dirinya, maka engkau mendapatkan pahala; berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Dzarr &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Radhiyallahu ‘anhu&lt;/span&gt;, bahwa sejumlah Sahabat Nabi &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt; berkata kepada beliau: "Wahai Rasulullah, orang-orang kaya telah mendapatkan banyak pahala. Mereka melaksanakan shalat sebagaimana kami shalat, mereka berpuasa sebagaimana kami puasa, dan mereka dapat bershadaqah dengan kelebihan harta mereka."&lt;br /&gt;Beliau bersabda: "Bukankah Allah telah menjadikan untuk kalian apa yang dapat kalian shadaqahkan. Setiap tasbih adalah shadaqah, setiap takbir adalah shadaqah, setiap tahmid adalah shadaqah, setiap tahlil adalah shadaqah, menyuruh kepada yang ma'ruf adalah shadaqah, mencegah dari yang munkar adalah shadaqah, dan persetubuhan salah seorang dari kalian (dengan isterinya) adalah shadaqah."&lt;br /&gt;Mereka bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah salah seorang dari kami yang melampiaskan syahwatnya akan mendapatkan pahala?"&lt;br /&gt;Beliau bersabda: "Bagaimana pendapat kalian seandainya dia melampiaskan syahwatnya kepada hal yang haram, apakah dia mendapatkan dosa? Maka demikian pula jika ia melampiaskannya kepada hal yang halal, maka dia mendapatkan pahala." [8]&lt;br /&gt;[Disalin dari kitab Isyratun Nisaa Minal Alif Ilal Yaa, Edisi Indonesia Panduan Lengkap Nikah Dari A Sampai Z, Penulis Abu Hafsh Usamah bin Kamal bin Abdir Razzaq, Penterjemah Ahmad Saikhu, Penerbit Pustaka Ibnu Katsair]&lt;br /&gt;__________&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Foote Note&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; [1]. Dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam kitab ash-Shahiihah (no. 625).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; [2]. HR. At-Tirmidzi (no. 2411) dan ia mengatakan: “Hadits hasan gharib,” al-Hakim (IV/357) dan ia mengatakan: “Sanadnya shahih” dan disetujui oleh adz-Dzahabi, serta dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam kitab ash-Shahiihah (no. 150).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; [3]. HR. Al-Baihaqi (VII/78) dan dikuatkan oleh Syaikh al-Albani dalam kitab ash-Shahiihah dengan hadits-hadits pendukungnya (no. 1782).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; [4]. HR. At-Tirmidzi (no. 1086) kitab an-Nikaah, dan ia mengatakan: “Hadits hasan shahih.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; [5]. HR. Al-Bukhari (no. 5066) kitab an-Nikaah, Muslim (no. 1402) kitab an-Nikaah, dan at-Tirmidzi (no. 1087) kitab an-Nikaah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Pensyarah kitab Tuhfatul Ahwadzi berkata: “Al-baa-u asalnya dalam bahasa Arab, berarti jima’ yang diambil dari kata al-mabaa-ah yang berarti tempat tinggal. Mampu dalam hadits ini memiliki dua makna, mampu berjima’ dan mampu memikul beban nikah.” Demikianlah maksud dalam hadits tersebut, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Taimiyyah rahimahullah, hal. 12 dari kitab Tuhfatul Ahwadzi. Kemudian para ulama berkata: “Adapun orang yang tidak mampu berjima’, maka ia tidaklah butuh berpuasa. Jika demikian, maka makna kedua lebih shahih.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; [6]. HR. At-Tirmidzi (no. 1352) kitab an-Nikaah, Ibnu Majah (no. 1512) dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam al-Misykaah (no. 3089), Shahiih an-Nasa-i (no. 3017), dan Shahiihul Jaami’ (no. 3050).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; [7]. HR. Abu Dawud (no. 2050) kitab an-Nikaah, dan para perawinya tsiqah (terpercaya) kecuali Mustaslim bin Sa’id, ia adalah shaduq, an-Nasa-i (no. 3227), kitab an-Nikaah, dan para perawinya terpercaya selain ‘Abdurrahman bin Khalid, ia adalah shaduq.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; [8]. HR. Muslim (no. 1006). Imam an-Nawawi &lt;span style="font-size:78%;"&gt;rahimahullah&lt;/span&gt; berkata: "Sabda Nabi &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt;: ‘Persetubuhan salah seorang dari kalian adalah shadaqah,’ dimutlakkan atas jima. Ini sebagai dalil bahwa perkara-perkara mubah akan menjadi ketaatan dengan niat yang benar. Jima’ menjadi ibadah jika diniatkan untuk memenuhi hak isteri dan mempergaulinya dengan baik sebagaimana Allah memerintahkan kepadanya, atau diniatkan untuk mendapatkan anak yang shalih, atau memelihara dirinya.” Dari Abu Hurairah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Radhiyallahu 'anhu&lt;/span&gt; bahwasanya Rasulullah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Shallalahu 'alaihi wa sallam&lt;/span&gt; bersabda: “Jika manusia mati, maka amalnya terputus kecuali dari tiga perkara: Shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang senantiasa mendo’akan-nya.” (HR. Muslim).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/div&gt;  &lt;script language="Javascript"&gt; formsearch.keyword.value = "" &lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1674769897518819067-3387512468946923287?l=abuazi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuazi.blogspot.com/feeds/3387512468946923287/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1674769897518819067&amp;postID=3387512468946923287' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1674769897518819067/posts/default/3387512468946923287'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1674769897518819067/posts/default/3387512468946923287'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuazi.blogspot.com/2008/04/anjuran-untuk-menikah-nikah-adalah.html' title='Anjuran Untuk Menikah : Nikah Adalah Sunnah Para Rasul, Persetubuhan Dari Kalian Adalah Shadaqah'/><author><name>TABUNGAN 'AMAL SHALIH (T'AS)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05674433416570835606</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1674769897518819067.post-7548911175886942866</id><published>2008-04-09T06:14:00.004+07:00</published><updated>2008-04-09T06:29:14.646+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Infaq'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Zakat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Shadaqah'/><title type='text'>DEFINISI ZAKAT</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: center;" class="hurufjudul"&gt;DEFINISI ZAKAT&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;" class="paragraph"&gt;&lt;strong&gt;Zakat menurut etimologi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Zakat menurut etimologi berarti, berkah, bersih, berkembang dan baik. Dinamakan zakat karena, dapat mengembangkan dan menjauhkan harta yang telah diambil zakatnya dari bahaya. Menurut Ibnu Taimiah hati dan harta orang yang membayar zakat tersebut menjadi suci dan bersih serta berkembang secara maknawi.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;" class="paragraph"&gt;&lt;strong&gt;Zakat menurut terminologi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Zakat menurut terminologi berarti, sejumlah harta tertentu yang diwajibkan oleh Allah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;subhanahu wata'ala&lt;/span&gt;. untuk diberikan kepada para mustahik yang disebutkan dalam Al-quran. Atau bisa juga berarti sejumlah tertentu dari harta tertentu yang diberikan untuk orang tertentu. Lafal zakat dapat juga berarti sejumlah harta yang diambil dari harta orang yang berzakat.&lt;br /&gt;Zakat dalam Alquran dan hadis kadang-kadang disebut dengan sedekah, seperti firman Allah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;subhanahu wata'ala&lt;/span&gt;. yang berarti, "Ambillah zakat (sedekah) dari harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka dan berdoalah buat mereka, karena doamu itu akan menjadi ketenteraman buat mereka." (&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Q.S. At Taubah, 103&lt;/span&gt;). Dalam sebuah hadis sahih, Rasulullah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/span&gt;. ketika memberangkatkan Muaz bin Jabal ke Yaman, beliau bersabda, "Beritahulah mereka, bahwa Allah mewajibkan membayar zakat (sedekah) dari harta orang kaya yang akan diberikan kepada fakir miskin di kalangan mereka." (Hadis ini diketengahkan oleh banyak perawi.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;" class="paragraph"&gt;&lt;strong&gt;Rukun Zakat&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Zakat adalah rukun ketiga dari rukun Islam yang lima yang merupakan pilar agama yang tidak dapat berdiri tanpa pilar ini, orang yang enggan membayarnya boleh diperangi, orang yang menolak kewajibannya dianggap kafir. Zakat ini diwajibkan pada tahun kedua hijrah.&lt;br /&gt;Legitimasinya diperoleh lewat beberapa ayat dalam Alquran, antara lain firman Allah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;subhanahu wata'ala&lt;/span&gt;. yang berarti, "Dirikanlah salat, bayarlah zakat dan rukuklah bersama orang yang rukuk." (&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Q.S. Al-Baqarah, 43&lt;/span&gt;) Juga dalam firman Allah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;subhanahu wata'ala&lt;/span&gt;. yang berarti, "dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia hak tertentu buat orang yang meminta-minta dan orang yang tidak bernasib baik." (&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Q.S. Al Ma'arij, 24-25&lt;/span&gt;)&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;" class="paragraph"&gt;&lt;strong&gt;Waktu Pembayaran Zakat&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Zakat harus segera dibayar bila telah memenuhi semua syarat wajibnya, tidak boleh ditunda apalagi telah memiliki kemampuan melaksanakannya. Jika hartanya masih berada di pihak lain (gaib) maka pembayarannya dapat ditunda sampai harta itu sampai di tangan pemiliknya. Para amil yang mengurus pemungutan dan penyaluran zakat juga dilarang menundanya. Jika amil telah mengetahui orang-orang yang mustahik zakat dan dapat membagikan secara merata kepada mereka namun tidak juga dibayar hingga harta zakat itu rusak, maka amil tersebut bertanggung jawab menggantinya.&lt;br /&gt;Kewajiban zakat tidak gugur dengan kematian pemilik harta, tetapi tetap menjadi utang yang harus dilunasi dari harta peninggalan baik diwasiatkan ataupun tidak.&lt;br /&gt;Kewajiban zakat juga tidak gugur dengan lewat masa waktunya (kedaluarsa). Jika seorang pembayar zakat terlambat membayar zakat hartanya di akhir haul dan telah memasuki tahun baru (haul baru), maka ketika menghitung zakat tahun kedua harus dikurangi sebesar kewajiban zakat yang harus dibayar untuk tahun pertama dan sisanyalah yang harus dizakati pada tahun berikutnya. Orang itu tetap berkewajiban membayar zakat tahun pertama karena dianggap utang yang harus dilunasi.&lt;br /&gt;Bila harta yang akan dizakati itu rusak setelah mencukupi haul, maka kewajiban zakat akan gugur dengan dua syarat:&lt;br /&gt;a. Harta itu rusak sebelum mampu membayar zakatnya.&lt;br /&gt;b. Tidak karena kelalaian pemilik harta.&lt;br /&gt;Apabila hasil pertanian atau buah-buahan rusak sebelum dipetik karena suatu sebab (hama, musibah), maka kewajiban zakatnya gugur, kecuali jika masih tersisa kuantitas yang mencapai nisab, dari sisa itulah harus dibayar zakat.&lt;br /&gt;Wajib bagi seorang amil yang bertugas memungut dan mendistribusikan zakat untuk menjaga harta zakat itu sebaik-baiknya, tetapi bila rusak tidak karena kelalaiannya maka ia tidak berkewajiban menjamin (mengganti)&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;" class="paragraph"&gt;&lt;strong&gt;Cara Membayar Zakat &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kewajiban muzakki dalam membayar zakat adalah:&lt;br /&gt;1. Berniat untuk membayar zakat.&lt;br /&gt;2. Menghitung semua kekayaan yang wajib dizakati&lt;br /&gt;3. Membayarkan zakat kepada Badan Amil Zakat&lt;br /&gt;4. Meminta doa dari petugas penerima zakat di Badan Amil Zakat&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;" class="paragraph"&gt;&lt;strong&gt;Mentransfer Zakat Keluar Daerah Pemungutan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Walaupun zakat merupakan salah satu dasar terciptanya solidaritas sosial di seluruh wilayah negara Islam dan juga sebagai sumber dana untuk dakwah dan usaha mempekenalkan hakikat ajaran Islam selain untuk membantu para tentara yang berjuang merebut kemerdekaan negeri Islam namun telah menjadi ketentuan pokok berdasarkan hadis dan sunah para khulafaurrasyidin untuk memulai menyalurkan harta zakat itu kepada orang-orang mustahik yang ada di dalam wilayah pemungutannya. Kemudian sisanya baru dialihkan ke wilayah lain kecuali bila terjadi musibah kelaparan, bencana alam atau kebutuhan yang sangat mendesak, maka ketika itu zakat boleh dialihkan kepada yang lebih membutuhkan. Prinsip ini dapat diterapkan pada tingkat perorangan maupun kelompok masyarakat.&lt;br /&gt;Pengalihan zakat dari suatu wilayah ke wilayah lain itu berdasarkan ketentuan-ketentuan berikut ini:&lt;br /&gt;Pada dasarnya zakat disalurkan di tempat harta yang dizakati, bukan di tempat si pembayar zakat sehingga harta itu boleh dialihkan dari tempatnya untuk kemaslahatan yang lebih besar .&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;" class="paragraph"&gt;Di antara maslahat pengalihan zakat itu adalah:&lt;br /&gt;a. Dialihkan ke wilayah-wilayah tempat terjadinya perang fisabilillah.&lt;br /&gt;b. Dialihkan ke lembaga-lembaga dakwah dan pendidikan maupun pusat kesehatan yang termasuk delapan golongan yang berhak menerima zakat&lt;br /&gt;c. Dialihkan ke negara-negara Islam manapun yang mengalami musibah kelaparan dan bencana alam&lt;br /&gt;d. Dialihkan ke kaum kerabat si pembayar zakat yang berhak menerima zakat (mustahik)&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;" class="paragraph"&gt;Mengalihkan zakat keluar wilayah pemungutan selain dalam kondisi yang disebutkan di atas tidak menghalangi sahnya pembayaran zakat tetapi makruh dengan syarat harta itu tetap disalurkan kepada orang-orang di antara delapan kelompok masyarakat yang mustahik.&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan daerah pemungutan zakat ialah daerah tempat zakat itu dipungut dan negeri-negeri lain yang ada di sekitarnya yang jauhnya kurang dari jarak salat kasar (kurang lebih 82 kilometer) karena hal itu dianggap termasuk wilayah satu negeri. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;" class="paragraph"&gt;Tindakan-tindakan yang boleh dilakukan dalam pengalihan harta zakat:&lt;br /&gt;a. Mempercepat pembayaran zakat sebelum akhir haul, selama masa waktu yang dibutuhkan untuk pendistribusian zakat tersebut kepada mustahik, terhitung mulai dari haul itu sempurna jika harta itu telah memenuhi syarat wajib&lt;br /&gt;b. Menunda pembayaran selama masa waktu yang dibutuhkan untuk mengalihkan zakat tersebut&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;" class="paragraph"&gt;&lt;strong&gt;Zakat Dan Pajak&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pembayaran pajak yang diwajibkan oleh pemerintah tidak bisa dijadikan sebagai pembayaran zakat karena perbedaan yang terdapat antara keduanya. Seperti perbedaan pihak yang mewajibkan, tujuan, jenis harta, volume yang wajib dibayar serta penyalurannya.&lt;br /&gt;Pajak tidak boleh dipotong dari volume zakat yang wajib dibayar tetapi dari total jumlah harta yang terkena kewajiban zakat. Pajak yang harus dibayar kepada pemerintah selama haul dan belum dibayar sebelum haul, dipotong dari harta yang harus dizakati tersebut karena termasuk kewajiban yang harus dilunasi.&lt;br /&gt;Peraturan pajak seharusnya disesuaikan sehingga memungkinkan pengambilan volume zakat yang wajib dikeluarkan dari volume pajak untuk memudahkan mereka yang membayar zakat tanpa batas selama yang bersangkutan dapat mengajukan bukti yang kuat bahwa ia telah membayar zakat.&lt;br /&gt;Mewajibkan pajak solidaritas sosial atas penduduk non muslim di negara Islam sebesar volume zakat sebagai sumber dana untuk menciptakan solidaritas sosial secara umum yang mencakup seluruh rakyat yang hidup di negara Islam.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;" class="paragraph"&gt;&lt;strong&gt;KATEGORI MUSTAHIK ZAKAT&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;" class="paragraph"&gt;&lt;strong&gt;Fakir&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Fakir adalah orang yang penghasilannya tidak dapat memenuhi kebutuhan pokok (primer) sesuai dengan kebiasaan masyarakat tertentu. Fakir adalah orang yang tidak memiliki harta dan penghasilan yang halal dalam pandangan jumhur ulama fikih, atau yang mempunyai harta yang kurang dari nisab zakat menurut pendapat mazhab Hanafi. Kondisinya lebih buruk dari pada orang miskin. Ada pula pendapat yang mengatakan sebaliknya.&lt;br /&gt;Perbedaan pendapat ini tidak mempengaruhi karena kedua-duanya, baik yang fakir dan yang miskin sama-sama berhak menerima zakat.&lt;br /&gt;Orang fakir berhak mendapat zakat sesuai kebutuhan pokoknya selama setahun, karena zakat berulang setiap tahun. Patokan kebutuhan pokok yang akan dipenuhi adalah berupa makanan, pakaian, tempat tinggal dan kebutuhan pokok lainnya dalam batas-batas kewajaran, tanpa berlebih-lebihan atau terlalu irit.&lt;br /&gt;Di antara pihak yang dapat menerima zakat dari kuota fakir, (bila telah memenuhi syarat membutuhkan, yaitu tidak mempunyai pemasukan atau harta, tidak mempunyai keluarga yang menanggung kebutuhannya) adalah; anak yatim, anak pungut, janda, orang tua renta, jompo, orang sakit, orang cacat jasmani, orang yang berpemasukan rendah, pelajar, para penganguran, tahanan, orang-orang yang kehilangan keluarga dan tawanan&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;" class="paragraph"&gt;&lt;strong&gt;Miskin&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Miskin adalah orang-orang yang memerlukan, yang tidak dapat menutupi kebutuhan pokoknya sesuai dengan kebiasaan yang berlaku. Miskin menurut mayoritas ulama adalah orang yang tidak memiliki harta dan tidak mempunyai pencarian yang layak untuk memenuhi kebutuhannya. Menurut Imam Abu Hanifah, miskin adalah orang yang tidak memiliki sesuatu. Menurut mazhab Hanafi dan Maliki, keadaan mereka lebih buruk dari orang fakir, sedangkan menurut mazhab Syafii dan Hambali, keadaan mereka lebih baik dari orang fakir.&lt;br /&gt;Bagi mereka berlaku hukum yang berkenaan dengan mereka yang berhak menerima zakat.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;" class="paragraph"&gt;&lt;strong&gt;Amil Zakat&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan amil zakat adalah semua pihak yang bertindak mengerjakan yang berkaitan dengan pengumpulan, penyimpanan, penjagaan, pencatatan dan penyaluran harta zakat. Mereka diangkat oleh pemerintah dan memperoleh izin darinya atau dipilih oleh instansi pemerintah yang berwenang atau oleh masyarakat Islam untuk memungut dan membagikan serta tugas lain yang berhubungan dengan zakat, seperti penyadaran masyarakat tentang hukum zakat, menerangkan sifat-sifat pemilik harta yang terkena kewajiban membayar zakat dan mereka yang mustahik, mengalihkan, menyimpan dan menjaga serta menginvestasikan harta zakat .&lt;br /&gt;Lembaga-lembaga dan panitia-panitia pengurus zakat yang ada pada zaman sekarang ini adalah bentuk kontemporer bagi lembaga yang berwenang mengurus zakat yang ditetapkan dalam syariat Islam. Oleh karena itu petugas (amil) yang bekerja di lembaga tersebut harus memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan.&lt;br /&gt;Tugas-tugas yang dipercayakan kepada amil zakat ada yang bersifat pemberian kuasa (karena berhubungan dengan tugas pokok dan kepemimpinan) yang harus memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan oleh para ulama fikih, antara lain muslim, laki-laki, jujur, mengetahui hukum zakat. Ada tugas-tugas sekunder lain yang boleh diserahkan kepada orang yang hanya memenuhi sebagian syarat-syarat di atas, seperti akuntansi, penyimpanan dan perawatan aset yang dimiliki lembaga pengelola zakat dan lain-lain.&lt;br /&gt;Para pengurus zakat berhak mendapat bagian zakat dari kuota amil yang diberikan oleh pihak yang mengangkat mereka dengan catatan bagian tersebut tidak melebihi dari upah yang pantas walaupun mereka tidak bukan orang fakir dengan penekanan supaya total gaji para amil dan biaya administrasi itu tidak lebih dari seperdelapan zakat (12,5%).&lt;br /&gt;Perlu diperhatikan, tidak diperkenankan mengangkat pegawai lebih dari keperluan. Sebaiknya gaji para petugas ditetapkan dan diambil dari anggaran pemerintah, sehingga uang zakat dapat disalurkan kepada mustahik lain.&lt;br /&gt;Para amil zakat tidak diperkenankan menerima sogokan, hadiah atau hibah baik dalam bentuk uang atau pun barang. Memperlengkapi gedung dan administrasi suatu badan zakat dengan segala peralatan yang diperlukan bila tidak dapat diperoleh dari kas pemerintah, hibah atau sumbangan lain, maka dapat diambil dari kuota amil sekedarnya dengan catatan bahwa sarana tersebut harus berhubungan langsung dengan pengumpulan, penyimpanan dan penyaluran zakat atau berhubungan dengan peningkatan jumlah zakat.&lt;br /&gt;Instansi yang mengangkat dan mengeluarkan izin beroperasi suatu badan zakat berkewajiban melaksanakan pengawasan untuk meneladani sunah Nabi saw. dalam melakukan tugas kontrol terhadap para amil zakat. Seorang amil zakat harus jujur dan bertanggung jawab terhadap harta zakat yang ada di tangannya dan bertanggung jawab mengganti kerusakan yang terjadi akibat kecerobohan dan kelalaiannya.&lt;br /&gt;Para petugas zakat seharusnya mempunyai etika keislaman secara umum, seperti penyantun dan ramah kepada para wajib zakat dan selalu mendoakan mereka begitu juga terhadap para mustahik, dapat menjelaskan kepentingan zakat dalam menciptakan solidaritas sosial serta menyalurkan zakat sesegera mungkin kepada para mustahik.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;" class="paragraph"&gt;&lt;strong&gt;Muallaf&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pihak ini merupakan salah satu mustahik yang delapan yang legalitasnya masih tetap berlaku sampai sekarang, belum dinasakh. Pendapat ini adalah pendapat yang diadopsi mayoritas ulama fikih (jumhur). Sehingga kekayaan kaum mualaf tidak menghalangi keberhakan mereka menerima zakat.&lt;br /&gt;Di antara kelompok masyarakat yang berhak menerima zakat dari kuota ini adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;Orang-orang yang dirayu untuk memeluk Islam: sebagai persuasi terhadap hati orang yang diharapkan akan masuk Islam atau keislaman orang yang berpengaruh untuk kepentingan Islam dan umat Islam.&lt;br /&gt;Orang-orang yang dirayu untuk membela umat Islam: Dengan mempersuasikan hati para pemimpin dan kepala negara yang berpengaruh baik personal atau lembaga dengan tujuan ikut bersedia memperbaiki kondisi imigran warga minoritas muslim dan membela kepentingan mereka. Atau untuk menarik hati para pemikir dan ilmuan demi memperoleh dukungan dan pembelaan mereka dalam permasalahan kaum muslimin. Seperti membantu orang-orang non-muslim korban bencana alam, jika bantuan dari harta zakat itu dapat meluruskan pandangan mereka terhadap Islam dan kaum muslimin.&lt;br /&gt;Orang-orang yang baru masuk Islam kurang dari satu tahun yang masih memerlukan bantuan dalam beradaptasi dengan kondisi baru mereka meskipun tidak berupa pemberian nafkah, atau dengan mendirikan lembaga keilmuan dan sosial yang akan melindungi dan memantapkan hati mereka dalam memeluk Islam serta yang akan menciptakan lingkungan yang serasi dengan kehidupan baru mereka baik moril dan materil.&lt;br /&gt;Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menyalurkan zakat kepada pihak ini adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;Terealisasikannya maksud dan kebijaksanaan hukum Islam hingga tercapai tujuan yang didambakan syariat Islam.&lt;br /&gt;Menyalurkan harta zakat kepada pihak ini sesuai dengan ketentuan yang berlaku sehingga tidak menimbulkan mudarat terhadap para mustahik yang lain dan tidak berlebihan kecuali kalau memang dibutuhkan.&lt;br /&gt;Ditekankan agar dalam menyalurkan kuota ini dilakukan dengan penuh kehati-hatian untuk menghindari dampak negatif yang tidak dapat diterima dalam pandangan syariat atau menghindari reaksi yang kurang baik dalam diri kaum mualaf dan menjauhkan perkara lain yang dapat menimbulkan mudarat terhadap Islam dan kaum muslimin.&lt;br /&gt;Disarankan agar menggunakan sarana-sarana dan fasilitas modern agar lebih efektif dan dapat tercapai tujuan dari penyaluran harta zakat ini&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;" class="paragraph"&gt;&lt;strong&gt;Orang Yang Berutang (Gharim)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Orang berutang yang berhak menerima kuota zakat golongan ini ialah:&lt;br /&gt;Orang yang berutang untuk kepentingan pribadi yang tidak bisa dihindarkan dengan syarat-syarat sebagai berikut:&lt;br /&gt;a. Utang itu tidak timbul karena kemaksiatan&lt;br /&gt;b. Utang itu melilit pelakunya&lt;br /&gt;c. Si pengutang sudah tidak sanggup lagi melunasi utangnya&lt;br /&gt;d. Utang itu sudah jatuh tempo, atau sudah harus dilunasi ketika zakat itu diberikan kepada si pengutang&lt;br /&gt;Orang-orang yang berutang untuk kepentingan sosial, seperti yang berutang untuk mendamaikan antara pihak yang bertikai dengan memikul biaya diat (denda kriminal) atau biaya barang-barang yang dirusak. Orang seperti ini berhak menerima zakat walaupun mereka orang kaya yang mampu melunasi utangnya.&lt;br /&gt;Orang-orang yang berutang karena menjamin utang orang lain di mana yang menjamin dan yang dijamin keduanya berada dalam kondisi kesulitan keuangan.&lt;br /&gt;Orang yang berutang untuk pembayaran diat (denda) karena pembunuhan tidak sengaja, bila keluarganya (aqilah) benar-benar tidak mampu membayar denda tersebut, begitu pula kas negara.&lt;br /&gt;Pembayaran diat itu dapat diserahkan langsung kepada wali si terbunuh. Adapun diat pembunuhan yang disengaja tidak boleh dibayar dari dana zakat. Namun demikian tidak boleh mempermudah pembayaran diat dari dana zakat karena banyaknya kasus pembunuhan tidak sengaja karena para mustahik zakat yang lain juga sangat membutuhkannya. Untuk itu dianjurkan membuat kotak-kotak dana sosial untuk meringankan beban orang yang menanggung diat seperti karena kecelakaan lalu lintas dan sebagainya. Juga sugesti membuat kotak-kotak dana sosial keluarga atau profesi untuk menyerasikan sistem aqilah (sanak keluarga yang ikut menanggung diat pembunuhan tidak sengaja) sesuai dengan tuntutan zaman&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;" class="paragraph"&gt;&lt;strong&gt;Mustahik Fisabilillah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan mustahik fi sabilillah adalah orang berjuang di jalan Allah dalam pengertian luas sesuai dengan yang ditetapkan oleh para ulama fikih. Intinya adalah melindungi dan memelihara agama serta meninggikan kalimat tauhid, seperti berperang, berdakwah, berusaha menerapkan hukum Islam, menolak fitnah-fitnah yang ditimbulkan oleh musuh-musuh Islam, membendung arus pemikiran-pemikiran yang bertentangan dengan Islam. Dengan demikian pengertian jihad tidak terbatas pada aktifitas kemiliteran saja.&lt;br /&gt;Kuota zakat untuk golongan ini disalurkan kepada para mujahidin, dai sukarelawan serta pihak-pihak lain yang mengurusi aktifitas jihad dan dakwah, seperti berupa berbagai macam peralatan perang dan perangkat dakwah berikut seluruh nafkah yang diperlukan para mujahid dan dai.&lt;br /&gt;Termasuk dalam pengertian fisabilillah adalah hal-hal sebagai berikut:&lt;br /&gt;Membiayai gerakan kemiliteran yang bertujuan mengangkat panji Islam dan melawan serangan yang dilancarkan terhadap negara-negara Islam.&lt;br /&gt;Membantu berbagai kegiatan dan usaha baik yang dilakukan oleh individu maupun jemaah yang bertujuan mengaplikasikan hukum Islam di berbagai negara, menghadapi rencana-rencana jahat musuh yang berusaha menyingkirkan syariat Islam dari pemerintahan.&lt;br /&gt;Membiayai pusat-pusat dakwah Islam yang dikelola oleh tokoh Islam yang ikhlas dan jujur di berbagai negara non-muslim yang bertujuan menyebarkan Islam dengan berbagai cara yang legal yang sesuai dengan tuntutan zaman. Seperti mesjid-mesjid yang didirikan di negeri non-muslim yang berfungsi sebagai basis dakwah Islam.&lt;br /&gt;Membiayai usaha-usaha serius untuk memperkuat posisi minoritas muslim di negeri yang dikua dikuasai oleh non-muslim yang sedang menghadapi rencana-rencana jahat pengikisan akidah mereka&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;" class="paragraph"&gt;&lt;strong&gt;Ibnu Sabil&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Orang yang dalam perjalanan (Ibnu Sabil) adalah orang asing yang tidak memiliki biaya untuk kembali ke tanah airnya. Golongan ini diberi zakat dengan syarat-syarat sebagai berikut:&lt;br /&gt;Sedang dalam perjalanan di luar lingkungan negeri tempat tinggalnya. Jika masih di lingkungan negeri tempat tinggalnya lalu ia dalam keadaan membutuhkan, maka ia dianggap sebagai fakir atau miskin.&lt;br /&gt;Perjalanan tersebut tidak bertentangan dengan syariat sehingga pemberian zakat itu tidak menjadi bantuan untuk berbuat maksiat.&lt;br /&gt;Pada saat itu ia tidak memiliki biaya untuk kembali ke negerinya, meskipun di negerinya sebagai orang kaya. Jika ia mempunyai piutang yang belum jatuh tempo, atau pada orang lain yang tidak diketahui keberadaannya, atau pada seseorang yang dalam kesulitan keuangan, atau pada orang yang mengingkari utangnya, maka semua itu tidak menghalanginya berhak menerima&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;" class="paragraph"&gt;&lt;strong&gt;SYARAT WAJIB ZAKAT&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;" class="paragraph"&gt;&lt;strong&gt;Merdeka&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Maka tidak diwajibkan zakat kepada hamba sahaya, karena hamba itu tidak memiliki harta secara sempurna ( almilikuttam), majikannyalah yang memiliki harta yang dimiliki hambanya&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;" class="paragraph"&gt;&lt;strong&gt;Islam&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Bagi non muslim tidak wajib berzakat, karena zakat itu adalah suatu ibadah yang mensucikan atau membersihkan harta. Menurut Imam Syafie seorang murtad wajib mengeluarkan zakatnya seperti dia Islam, sepanjang harta tersebut diperoleh sebelum dia murtad/ kafir. Sedangkan menurut Imam Hanafi kewajiban zakat bagi murtad gugur&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;" class="paragraph"&gt;&lt;strong&gt;Aqil baligh&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Menurut pendapat jumhur ulama ( kebanyakan ulama ), diwajibkan membayar zakat atas harta anak-anak dan orang gila, karena zakat itu tidak melihat kepada keadaan orangnya, tetapi melihat kepada hartanya. Pihak yang wajib mengeluarkan zakat adalah walinya. Menurut pendapat Abu Hanifah anak-anak dan orang gila tidak wajib berzakat karena mereka keluar dari katagori kewajiban seperti kewajiban ibadah sholat dan puasa&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;" class="paragraph"&gt;&lt;strong&gt;Milik Sempurna&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan milik sempurna (milik 100 %) adalah kemampuan pemilik harta mentransaksikan barang miliknya tanpa campur tangan orang lain. Hal ini disyaratkan karena pada dasarnya zakat berarti pemilikan dan pemberian untuk orang yang berhak, ini tidak akan terealisir kecuali bila pemilik harta betul-betul memiliki harta tersebut secara sempurna. Dari sinilah, maka harta yang telah berada di luar kekuasaan pemilik (harta dhimar) atau cicilan mas kawin yang belum dibayar tidak wajib zakat.&lt;br /&gt;Hal ini sesuai dengan hadis yang diriiwayatkan oleh sekelompok sahabat yang berarti: "Tidak ada zakat pada harta dhimar, tidak ada zakat pada cicilan maskawin yang tertunda, karena wanita tidak dapat menggunakannya, tidak ada zakat pada piutang atas orang yang kesulitan. Bila sudah berada di tangan, baru wajib dizakati untuk satu tahun berjalan saja, meskipun piutang itu, atau maskawin tersebut telah berada di tangan orang lain/ suaminya bertahun-tahun, demikian juga piutang atas orang yang susah dari sejak beberapa tahun."&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;" class="paragraph"&gt;&lt;strong&gt;Berkembang Secara Real Atau Estimasi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dengan artian bahwa harta tersebut harus dapat berkembang secara real atau secara estimasi. Yang dimaksud dengan pertumbuhan real adalah pertambahan akibat kelahiran, perkembang biakan atau niaga.&lt;br /&gt;Sedangkan yang dimaksud dengan pertumbuhan estimasi adalah harta yang nilainya mempunyai kemungkinan bertambah seperti emas, perak dan mata uang yang semuanya mempunyai kemungkinan pertambahan nilai dengan memperjualbelikannya, sebab itu, semua jenis harta di atas mutlak harus dizakati, berbeda dengan lahan tidur yang tidak dapat berkembang baik secara real maupun secara estimasi, maka tidak wajib dizakati&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;" class="paragraph"&gt;&lt;strong&gt;Sampai Nisab&lt;/strong&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;Nisab adalah jumlah harta yang ditentukan secara hukum, di mana harta tidak wajib dizakati jika kurang dari ukuran tersebut. Syarat ini berlaku pada uang, emas, perak, barang dagangan dan hewan ternak.&lt;br /&gt;Dalam sebuah hadis Nabi saw. bersabda, "Tidak ada kewajiban zakat atas harta emas yang belum sampai 20 dinar (1 dinar= 4,25 gram, jadi 20 dinar=85 gram). Apabila telah sampai 20 dinar, maka zakatnya adalah setengah dinar. Demikian juga perak tidak diambil zakatnya sebelum sampai 200 dirham (1 dirham=2,975 gram, jadi 200 dirham=595 gram) yang dalam hal ini zakatnya adalah 5 dirham."&lt;br /&gt;Nisab emas adalah 20 mitsqal=85 gram emas murni. Nisab perak adalah 200 dirham=595 gram perak murni. Nisab zakat barang dagangan adalah senilai 85 gram emas murni. Barang-barang zakat lainnya sudah ditetapkan juga nisabnya masing-masing. Termasuk dalam barang zakat adalah barang yang telah lengkap satu nisab berikut kelebihannya.&lt;br /&gt;Adapun barang yang kurang dari satu nisab, tidak termasuk barang yang wajib dizakati. Kesempurnaan nisab dilihat pada awal dan akhir haul, kekurangan dan kelebihan di antara awal dan akhir haul tidak mempengaruhi nisab. Harta zakat beserta penghasilannya digabungkan di akhir haul. Pendapat ini dianut mazhab Hanafi, Maliki dan mayoritas ulama dan cara ini nampaknya lebih mudah diterapkan.&lt;br /&gt;Pengaruh Penggabungan Harta Terhadap Kadar Yang Wajib Dibayar&lt;br /&gt;Harta campuran adalah harta milik beberapa orang yang diperlakukan sebagai harta seorang, dengan alasan kesamaan sifat dan kondisi, seperti kesamaan tempat penggembalaan, tempat minum dan kandang hewan ternak, kesamaan jaminan, urusan dan pembiayaan pada harta perusahaan. Prinsip percampuran ini pada dasarnya diterapkan pada zakat hewan ternak, namun sebagian mazhab menggeneralisasikannya pada selain hewan ternak seperti pertanian, buah-buahan dan mata uang.&lt;br /&gt;Bila kaidah ini diaplikasikan pada harta perusahaan, Anda akan memperlakukan seolah-olah harta itu harta satu orang, baik dalam perhitungan nisab dan kalkulasi kadar yang wajib dibayar. Bila diaplikasikan pada nisab kekayaan ternak, Anda akan mengatakan bahwa nisab hewan ternak yang dimiliki oleh tiga orang, masing-masing memiliki 15 ekor domba telah memenuhi satu nisab, karena jumlah kekayaan ternak 45 ekor, telah melebihi nisab, yaitu 40 ekor kambing. Dalam hal ini, wajib dibayar satu ekor kambing sebagai zakat, di mana jika diaplikasikan secara perorangan, maka nisabnya tidak mencukupi dan tidak wajib dibayar zakatnya&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;" class="paragraph"&gt;&lt;strong&gt;Melebihi Kebutuhan Pokok&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Barang-barang yang dimiliki untuk kebutuhan pokok, seperti rumah pemukinan, alat-alat kerajinan, alat-alat industri, sarana transportasi dan angkutan, seperti mobil dan perabot rumah tangga, tidak dikenakan zakat. Demikian juga uang simpanan yang dicadangkan untuk melunasi utang (akan dijelaskan kemudian), tidak diwajibkan zakat, karena seorang kreditor sangat memerlukan uang yang ada di tangannya untuk melepaskan dirinya dari cengkeraman utang.&lt;br /&gt;Oleh sebab itu, maka harta yang dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan pokok tidak wajib dizakati &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;" class="paragraph"&gt;&lt;strong&gt;Cukup Haul&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Haul adalah perputaran harta satu nisab dalam 12 bulan kamariah. Jika terdapat kesulitan akuntasi karena biasanya anggaran dibuat berdasarkan tahun syamsiah, maka boleh dikalkulasikan berdasarkan tahun syamsiah dengan penambahan volume (rate) zakat yang wajib dibayar, dari 2,5 % menjadi 2,575 % sebagai akibat kelebihan hari bulan syamsiah dari bulan qamariah&lt;br /&gt;Khusus hasil pertanian, tidak disyaratkan haul, sesuai dengan firman Allah swt. yang artinya, "Bayarlah zakatnya pada waktu panen." (Q.S. Al An`am,141). Demikian juga kekayaan tambang dan barang galian juga tidak disyaratkan haul, sesuai konsensus para ulama&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;" class="paragraph"&gt;&lt;strong&gt;Tidak Terjadi Zakat Ganda&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Apabila suatu harta telah dibayar zakatnya kemudian harta tersebut berubah bentuk, seperti hasil pertanian yang telah dizakati kemudian hasil panen tersebut dijual dengan harga tertentu, atau kekayaan ternak yang telah dizakati kemudian dijual dengan harga tertentu. Dalam hal ini, harga penjualan barang yang telah dizakati di akhir haul tidak wajib dizakati lagi agar tidak terjadi zakat ganda pada satu jenis harta. Hal ini sesuai dengan hadis Rasulullah saw. yang berarti, "Tidak ada ganda dalam zakat". (H.R. Bukhari dan Muslim)&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;" class="paragraph"&gt;&lt;strong&gt;Harta Umum, Wakaf Dan Kebajikan Sosial&lt;/strong&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;Harta umum tidak wajib dibayar zakatnya, karena harta itu dimiliki oleh orang banyak, mungkin di antara mereka terdapat fakir miskin. Dalam hal ini tidak terdapat pemilik khusus, sehingga tidak ada urgensinya pemerintah mengambil zakat dari hartanya sendiri untuk disalurkan kepada pihaknya juga.&lt;br /&gt;Hal yang sama berlaku pula untuk harta wakaf yang diperuntukkan buat kepentingan umum, seperti untuk para fakir miskin, mesjid-mesjid, yatim-piatu dan lain sebagainya, mengingat karena pemilik harta tersebut telah mewakafkannya untuk kepentingan umum. Demikian juga tidak wajib dizakati harta yayasan bakti sosial, karena harta tersebut adalah milik sekelompok orang-orang fakir yang hanya disalurkan kepada orang-orang yang memerlukan di samping harta tersebut tidak dimiliki oleh satu orang tertentu&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;" class="paragraph"&gt;&lt;strong&gt;Bebas dari hutang&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Orang yang mempunyai hutang mengurangi nishab yang harus dibayar pada waktu yang sama&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;" class="hurufjudul"&gt;Zakat Maal&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;" class="paragraph"&gt;&lt;strong&gt;Pengertian Maal (Harta) &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;1. Menurut bahasa (&lt;em&gt;lughat&lt;/em&gt;), harta adalah segala sesuatu yang diinginkan sekali sekali oleh manusia untuk memiliki, memanfaatkan dan menyimpannya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;" class="paragraph"&gt;Menurut &lt;em&gt;syar'a&lt;/em&gt;, harta adalah segala sesuatu yang dapat dimiliki (dikuasai) dan dapat digunakan (dimanfaatkan) menurut &lt;em&gt;ghalibnya&lt;/em&gt; (lazim).&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;" class="paragraph"&gt;a. Dapat dimiliki, disimpan, dihimpun, dikuasai&lt;br /&gt;b. Dapat diambil manfaatnya sesuai dengan &lt;em&gt;ghalibnya&lt;/em&gt;. Misalnya rumah, mobil, ternak, hasil pertanian, uang, emas, perak, dll&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;" class="hurufjudul"&gt;Syarat-syarat Kekayaan yang Wajib di Zakati&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;" class="paragraph"&gt;1. Milik Penuh (&lt;em&gt;Almilkuttam&lt;/em&gt;)&lt;br /&gt;Yaitu : harta tersebut berada dalam kontrol dan kekuasaanya secara penuh, dan dapat diambil manfaatnya secara penuh. Harta tersebut didapatkan melalui proses pemilikan yang dibenarkan menurut syariat islam, seperti : usaha, warisan, pemberian negara atau orang lain dan cara-cara yang sah. Sedangkan apabila harta tersebut diperoleh dengan cara yang haram, maka zakat atas harta tersebut tidaklah wajib, sebab harta tersebut harus dibebaskan dari tugasnya dengan cara dikembalikan kepada yang berhak atau ahli warisnya&lt;br /&gt;2. Berkembang&lt;br /&gt;Yaitu : harta tersebut dapat bertambah atau berkembang bila diusahakan atau mempunyai potensi untuk berkembang&lt;br /&gt;3. Cukup &lt;em&gt;Nishab&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Artinya harta tersebut telah mencapai jumlah tertentu sesuai dengan ketetapan &lt;em&gt;syara'&lt;/em&gt;. sedangkan harta yang tidak sampai nishabnya terbebas dari Zakat&lt;br /&gt;4. Lebih Dari Kebutuhan Pokok (&lt;em&gt;Alhajatul Ashliyah&lt;/em&gt;)&lt;br /&gt;Kebutuhan pokok adalah kebutuhan minimal yang diperlukan seseorang dan keluarga yang menjadi tanggungannya, untuk kelangsungan hidupnya. Artinya apabila kebutuhan tersebut tidak terpenuhi yang bersangkutan tidak dapat hidup layak. Kebutuhan tersebut seperti kebutuhan primer atau kebutuhan hidup minimum (KHM), misal, belanja sehari-hari, pakaian, rumah, kesehatan, pendidikan, dsb&lt;br /&gt;5. Bebas Dari hutang&lt;br /&gt;Orang yang mempunyai hutang sebesar atau mengurangi senishab yang harus dibayar pada waktu yang sama (dengan waktu mengeluarkan zakat), maka harta tersebut terbebas dari zakat&lt;br /&gt;6. Berlalu Satu Tahun (&lt;em&gt;Al-Haul&lt;/em&gt;)&lt;br /&gt;Maksudnya adalah bahwa pemilikan harta tersebut sudah belalu satu tahun. Persyaratan ini hanya berlaku bagi ternak, harta simpanan dan perniagaan. Sedang hasil pertanian, buah-buahan dan &lt;em&gt;rikaz&lt;/em&gt; (barang temuan) tidak ada syarat &lt;em&gt;haul&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;" class="hurufjudul"&gt;Harta (&lt;em&gt;maal&lt;/em&gt;) yang wajib di Zakati&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;" class="paragraph"&gt;1. Binatang Ternak&lt;br /&gt;Hewan ternak meliputi hewan besar (unta, sapi, kerbau), hewan kecil (kambing, domba) dan unggas (ayam, itik, burung)&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;" class="paragraph"&gt;2. Emas Dan Perak&lt;br /&gt;Termasuk dalam kategori emas dan perak, adalah mata uang yang berlaku pada waktu itu di masing-masing negara. Oleh karena segala bentuk penyimpanan uang seperti tabungan, deposito, cek, saham atau surat berharga lainnya, termasuk kedalam kategori emas dan perak. sehingga penentuan nishab dan besarnya zakat disetarakan dengan emas dan perak.&lt;br /&gt;Demikian juga pada harta kekayaan lainnya, seperti rumah, villa, kendaraan, tanah, dll. Yang melebihi keperluan menurut &lt;em&gt;syara'&lt;/em&gt; atau dibeli/dibangun dengan tujuan menyimpan uang dan sewaktu-waktu dapat di uangkan. Pada emas dan perak atau lainnya yang berbentuk perhiasan, asal tidak berlebihan, maka tidak diwajibkan zakat atas barang-barang tersebut.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;" class="paragraph"&gt;3. Harta Perniagaan&lt;br /&gt;Harta perniagaan adalah semua yang diperuntukkan untuk diperjual-belikan dalam berbagai jenisnya, baik berupa barang seperti alat-alat, pakaian, makanan, perhiasan, dll. Perniagaan tersebut di usahakan secara perorangan atau perserikatan seperti CV, PT, Koperasi, dsb&lt;br /&gt;4. Hasil Pertanian&lt;br /&gt;Hasil pertanian adalah hasil tumbuh-tumbuhan atau tanaman yang bernilai ekonomis seperti biji-bijian, umbi-umbian, sayur-mayur, buah-buahan, tanaman hias, rumput-rumputan, dedaunan, dll&lt;br /&gt;5. Kekayaan Laut ( Ma din )&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ma'din&lt;/em&gt; (hasil tambang) adalah benda-benda yang terdapat di dalam perut bumi dan memiliki nilai ekonomis seperti emas, perak, timah, tembaga, marmer, giok, minyak bumi, batu-bara, dll. Kekayaan laut adalah segala sesuatu yang dieksploitasi dari laut seperti mutiara, ambar, marjan, dll&lt;br /&gt;6. Rikaz&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Rikaz&lt;/em&gt; adalah harta terpendam dari zaman dahulu atau biasa disebut dengan harta karun. Termasuk didalamnya harta yang ditemukan dan tidak ada yang mengaku sebagai pemiliknya&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;" class="paragraph"&gt;&lt;strong&gt;Hikmah Zakat&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Zakat merupakan ibadah yang memiliki dimensi ganda, trasendental dan horizontal. Oleh sebab itu zakat memiliki banyak arti dalam kehidupan ummat manusia, terutama Islam. Zakat memiliki banyak hikmah, baik yng berkaitan dengan Sang Khaliq maupun hubungan sosial kemasyarakatan di antara manusia, antara lain:&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;" class="paragraph"&gt;1. Menolong, membantu, membina dan membangun kaum dhuafa yang lemah papa dengan materi sekedar untuk memenuhi kebutuhan pokok hidupnya.Dengan kondisi tersebut mereka akan mampu melaksanakan kewajibannya terhadap Allah SWT&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;" class="paragraph"&gt;2. Memberantas penyakit iri hati, rasa benci dan dengki dari diri orang-orang di sekitarnya berkehidupan cukup, apalagi mewah. Sedang ia sendiri tak memiliki apa-apa dan tidak ada uluran tangan dari mereka (orang kaya) kepadanya&lt;br /&gt;3. Dapat mensucikan diri (pribadi) dari kotoran dosa, emurnikan jiwa (menumbuhkan akhlaq mulia menjadi murah hati, peka terhadap rasa kemanusiaan) dan mengikis sifat bakhil (kikir) serta serakah. Dengan begitu akhirnya suasana ketenangan bathin karena terbebas dari tuntutan Allah SWT dan kewajiban kemasyarakatan, akan selalu melingkupi hati&lt;br /&gt;4. Dapat menunjang terwujudnya sistem kemasyarakatan Islam yang berdiri atas prinsip-prinsip: Ummatn Wahidan (umat yang satu), Musawah (persamaan derajat, dan dan kewajiban), Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan Islam) dan Takaful Ijti'ma (tanggung jawab bersama)&lt;br /&gt;5. Menjadi unsur penting dalam mewujudakan keseimbanagn dalam distribusi harta (sosial distribution), dan keseimbangan tanggungjawab individu dalam masyarakat&lt;br /&gt;6. Zakat adalah ibadah maaliyah yang mempunyai dimensi dan fungsi sosial ekonomi atau pemerataan karunia Allah SWT dan juga merupakan perwujudan solidaritas sosial, pernyataan rasa kemanusian dan keadilan, pembuktian persaudaraan Islam, pengikat persatuan ummat dan bangsa, sebagai pengikat bathin antara golongan kaya dengan yang miskin dan sebagai penimbun jurang yang menjadi pemisah antara golongan yang kuat dengan yang lemah&lt;br /&gt;7. Mewujudkan tatanan masyarakat yang sejahtera dimana hubungan seseorang dengan yang lainnya menjadi rukun, damai dan harmonis yang akhirnya dapat menciptakan situasi yang tentram, aman lahir bathin. Dalam masyarakat seperti itu takkan ada lagi kekhawatiran akan hidupnya kembali bahaya komunisme 9atheis) dan paham atau ajaran yang sesat dan menyesatkan. Sebab dengan dimensi dan fungsi ganda zakat, persoalan yang dihadapi kapitalisme dan sosialisme dengan sendirinya sudah terjawab. Akhirnya sesuai dengan janji Allah SWT, akan terciptalah sebuah masyarakat yang baldatun thoyibun wa Rabbun Ghafur.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1674769897518819067-7548911175886942866?l=abuazi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuazi.blogspot.com/feeds/7548911175886942866/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1674769897518819067&amp;postID=7548911175886942866' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1674769897518819067/posts/default/7548911175886942866'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1674769897518819067/posts/default/7548911175886942866'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuazi.blogspot.com/2008/04/definisi-zakat.html' title='DEFINISI ZAKAT'/><author><name>TABUNGAN 'AMAL SHALIH (T'AS)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05674433416570835606</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1674769897518819067.post-3854487085742167725</id><published>2008-03-28T11:10:00.001+07:00</published><updated>2008-03-28T11:18:41.990+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='इन्फो अल Aqsho'/><title type='text'>Al-Quds akan Tetap Milik Ummat Islam Walau Dinodai dan Dikhianati</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;Al-Quds akan Tetap Milik Ummat Islam Walau Dinodai dan Dikhianati&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;  &lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Oleh : Nasher al-Fadlolah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Harian Akhbar al-Kholij Bahrain24/7/2005&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Utusan pemerintah Amerika bergerak cepat menuju &lt;st1:country-region st="on"&gt;Israel&lt;/st1:country-region&gt; dalam rangka proyeksi legalisasi perampokan tanah Palestina oleh &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Israel&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. Lebih khusus al-Quds yang merupakan gambaran nyata dari bentuk penganiayaan terhadap agama dan sejarah rakyat Palestina khususnya dan bangsa Arab pada umumnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Apa yang terjadi di al-Quds merupakan penodaan terhadap Masjid al-Aqsha sebagai kiblat pertama bagi kaum muslimin dan merupakan tindakan profokatif terhadap simbol agama Islam. Amerika maupun yang lainnya sama sekali tidak berhak mengambil sebagian wilayah kaum muslimin untuk diberikannya kepada para penjajah dan pencaplok permukiman. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Palestina adalah tanahnya para Nabi, Ibrahim, Dawud, Sulaiman, Musa, zakaria, Yahya dan Isa &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 6pt;"&gt;Alaihim Salam&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;. (Ibrahim bukanlah yahudi, bukan juga Nashrani, akan tetapi dia itu adalah seorang yang lurus dan Islam, bukan juga ia termasuk orang-orang musyrik.(al-Imran 67)).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Tanah Palestina yang di tengah-tengahnya ada Masjid al-Aqsha merupakan waqaf bagi semua generasi kaum muslimin. Allah telah mewaritskan tanah ini berikut apa yang ada diatasnya. Keadaanya tidak boleh dirubah, apakah itu oleh kongres Amerika, keputusan pemerintah Amerika yang zionis ataupun oleh pemerintah penjajah &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Israel&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. Sesuatu yang pasti tanah itu adalah tanah yang diberkahi, tanah Palestina.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Sikap pemerintah Amerika melalui utusannya menunjukan keberpihakan mereka terhadap entitas zionis dan melambangkan koailisi yang abadi antara zionis dan Amerika. Sikap seperti ini satu bentuk dari perang dan permusuhan terhadap Islam dan kaum muslimin, tempat-tempat sucinya. Inilah siyarat yang jelas bagi setiap orang yang menggadaikan hidupnya kepada politik Amerika, apakah itu dari bangsa Palestina, Arab atau yang lainya. Tidak ada penggadaian pada Amerika karena mereka telah menampatkan posisinya untuk memerangi Arab dan kaum muslimin, yang telah mengangkat anak kesayaangan, menyokong dan melindungi musuh yang paling berbahaya yaitu Yahudi laknatullah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Setiap hari bangsa Palestina dibunuhi dengan senjata Amerika. Akan tetapi senantiasa Amerika menutupi aksi teroris ini secara politis, apakah itu ditingkat PBB atau ditingkat kongres Amerika sendiri. Pada saat dimana mereka menyatakan keseriusannya terhadap keputusan-keputusan PBB secara bohong dan dusta.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Apakah ini tidak cukup untuk membangunkan dunia Arab dan Islam dari mati surinya? &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="SV"&gt;Agar mereka bangkit dan menyadari tentang pertempuran hakiki yang sedang berlangsung?.dan agar mereka bersatu padu di bawah bendera Islam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="SV"&gt;Apakah belum tiba masanya bagi pemerintahan Arab dan Islam untuk mengambil sikap yang jelas dan mengemban tanggung jawabnya menghadapi penghinaan terhadap tempat-tempat suci Islam, tempat isra nya Rasulallah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 6pt;" lang="SV"&gt;Shallallahu ’alaihi wa sallam&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="SV"&gt;. Apakah tidak layak bagi Liga Arab dan OKI untuk berbuat sesuatu dan mengambil peran yang nyata sebagai ganti dari sikapnya yang diam dan membisu?? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="SV"&gt;Seharusnya dunia Arab dan Islam bersama rakyat mengambil langkah-langkah berikut ini. Kembali kepada Allah. Beriman bahwa Islam adalah pijakan pokok dalam menghadapi masalah Palestina dan dengan Islamlah kita menghadapi semua perkembangan terbaru ini. Mendidik ummat dan generasi penerusnya agar mempersiapkan secara ilmiah, pendidikan mereka dan ekonomi mereka, untuk menghadapi tantangan masa kini serta bahaya di sekeliling. Mendirikan sekolah-sekolah yang bebas dari intervensi Amerika dengan segala bentuknya. Dengan demikian akan terciptalah para pemimpin yang jujur yang dan berakhlak Rabbany yang sangat dibutuhkan oleh ummat sekarang ini, untuk mengembalikan kemuliannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="SV"&gt;Hal-hal diatas harus harus didukung pula dengan SDM, pendanaan dan penyebaran informasi kepada seluruh rakyat Palestina. Pada saat yang sama kekuatan perlawanan nasional dan Islam muncul dan bangkit menghadapi semua kecongkakan dan kebiadaban Israel hingga di berikan kemanangan oleh Allah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="SV"&gt;Pada saat ini tidak layak bagi bangsa Palestina untuk memunculkan aliansi permusuhan atau serangan-serangan opini yang menampakan keputus asaan dan menyerah terhadap keadaan. Kemengan itu dijanjikan bagi kaum muslimin, insya Allah. Hal itu sudah diberitakan oleh hadits-hadits Nabi. Berita kemenangan bagi kaum muslimin tidak terbatas waktu, agar para mujahid terus berjuang sampai kemenangan diraihnya. Jika tidak hari ini mungkin besok.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="SV"&gt;Agar bisa diketahui bersama, bahwa musibah itu adalah cobaan dari Allah untuk menguji kaum muslimin: (Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini , sehingga Dia menyisihkan yang buruk dari yang baik . Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang ghaib, akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara rasul-rasul-Nya . Karena itu berimanlah kepada Allah dan rasul-rasulNya; dan jika kamu beriman dan bertakwa, maka bagimu pahala yang besar).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="SV"&gt;Bersabarlah wahai ummat ini, beramallah, bersiaplah dan bertakwalah kepada Allah, insya Allah kemenangan akan datang.&lt;em&gt;(asy)&lt;/em&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1674769897518819067-3854487085742167725?l=abuazi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuazi.blogspot.com/feeds/3854487085742167725/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1674769897518819067&amp;postID=3854487085742167725' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1674769897518819067/posts/default/3854487085742167725'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1674769897518819067/posts/default/3854487085742167725'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuazi.blogspot.com/2008/03/al-quds-akan-tetap-milik-ummat-islam.html' title='Al-Quds akan Tetap Milik Ummat Islam Walau Dinodai dan Dikhianati'/><author><name>TABUNGAN 'AMAL SHALIH (T'AS)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05674433416570835606</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1674769897518819067.post-6724130206215664358</id><published>2008-03-28T10:53:00.002+07:00</published><updated>2008-03-28T11:04:57.667+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Info Al Aqsho'/><title type='text'>Kedudukan al-Aqsha Dalam Islam</title><content type='html'>&lt;table align="center" width="100%"&gt;&lt;tbody&gt;              &lt;tr style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;         &lt;td class="artDetailContent"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kedudukan al-Aqsha Dalam Islam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;                      &lt;p style="font-size: 10pt;"&gt;             &lt;!--Start Article Content--&gt; Semenjak lama aku menyibukkan diri dalam pembahasan reorintasi yaitu mengembalikan segala sesuatu atau segala pekerjaan kepada awalnya.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-size: 10pt;"&gt;Sepanjang pengamatanku, kesalahan prilaku sebagian kaum muslimin dalam pekerjaanya atau ketidak tekunan mereka dalam pekerjaan, dikarenakan niat awal ketika mereka bekerja adalah ingin mendapatkan gaji yang sesuai dengan jenis pekarjaannya.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-size: 10pt;"&gt;Kita sering mendengar, ketika seseorang dikritik karena lalai atau tidak teliti dalam pekerjaanya, ia selalu mengaitkan alasannya itu dengan gaji yang ia terima setiap bulan. Ia berkata, “Aku bekerja sesuai dengan jumlah gajiku”. Perkataan ini sering kita dengar bahkan sudah menjadi hal yang biasa di antara sebagian pekerja kita.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-size: 10pt;"&gt;Kalaulah kita setuju dengan alasan mereka, kemudian kita teliti dan menghitung-hitung waktu yang digunakan oleh mereka dalam pekerjaanya, pasti kita akan menemukan bahwa, mayoritas mereka menghabiskan waktunya dengan ngobrol-ngobrol di telepon tidak karuan atau hanya sekedar minum teh. Bahkan banyak diantara mereka keluar dari kantor hanya untuk menghisap rokok karena mungkin ia seorang pecandu rokok. Ia tidak sabar untuk keluar menunggu hingga waktu pekerjaanya selesai.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-size: 10pt;"&gt;Kalau kita teliti waktu yang dipakai untuk bekerja oleh sebagian pegawai kebanyakannya dipakai sia-sia atau dipakai sesuatu yang tidak ada manfaatnya. Dari sini akan terungkap urgensinya reorientasi dalam prilaku akhlaq atau pekerjaan, supaya kita bisa terhindar dari kesalahan atau bisa tekun dalam pekerjaan. Sehingga kalaupun seandainya gaji kita ini pas-pasan, sebagaimana diungkapkan oleh sebagian pegawai kita, maka ketahuilah disana ada balasan yang akan diberikan oleh Allah, yaitu keberkahan dalam kesedikitan, kecukupan pada keluarga dan anak, ketentraman jiwa dan ketenangan hati.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-size: 10pt;"&gt;Itulah mukaddimah yang panjang yang mesti saya utarakan sebagai pengantar bagi masalah yang menjadi sentral pembicaraan ini, yaitu masalah Palestina dan Masjid al-Aqsha serta usaha-usaha yang dilakukan secara terus menerus oleh kelompok Yahudi radikal untuk menghancurkan al-Aqhsa dan membangun diatasnya Haikal.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-size: 10pt;"&gt;Dari awal saya katakan, masalah ini kalau kita mau mengurut ke pokok pangkalnya (reorientasi) adalah apa yang diucapkan oleh Yasir Arafat ketika ia menang dalam pemilu dan mau mendirikan negara Palestina. Ia mengatakan, dirinya sangat berkeinginan untuk menjadikan negara Palestina itu sebagai negara sekuler.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-size: 10pt;"&gt;Tapi coba lihat, katika Yahudi mau mendirikan negaranya, reorientasinya atas dasar agama. Oleh karena itu mereka menamakan negaranya dengan nama salah satu Nabi yang mulia, Ya’qub (Israil) alaihi salam. Inilah perbedaan cara pandang masalah Palestina menurut Yahudi dan Arab. &lt;/p&gt;&lt;p style="font-size: 10pt;"&gt;Kalau seandainya masalah ini dikembalikan pada asalnya (awal pembebasan Palestina oleh Uamr bin Khottob atau pembebasan kembali oleh Shalahuddin al-Ayubi), maka bangsa arab tidak akan kehilangan sejengkal pun dari tanah Palestina yang penuh berkah ini.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-size: 10pt;"&gt;Dibawah ini ada beberapa hal yang akan mengembalikan masalah al-Aqsha ini kepada asalnya :&lt;/p&gt;&lt;p style="font-size: 10pt;"&gt;1.      Dari awal al-Qur’an telah memuat dokumen khusus tentang kepemilikan Palestina. Allah berfirman : “ Maha suci (Allah) yang telah mengisrakan hambanya pada waktu malam dari Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsha yang diberekahi sekelilingnya untuk kami lihatkan ayat-ayat kami, bahwasanya Dia itu Maha Mendengar dan Maha Melihat” (al-Isra ayat 1). Ayat yang mulia ini dibaca ketika shalat dan ketika kita membaca al-Qur’an. Hal ini menegaskan tidak sedikitpun keraguan bahwa Allah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Ta’ala&lt;/span&gt; memberikan amanat kepada kaum muslimin untuk menjaga rumahNya yang suci ini, karena mereka mengakui semua nabi-nabi dan rasulNya atas Nabi kita alaihi shalatu wa salam. Sebagaimana mereka (kaum muslimin) mengimani semua kitab yang diturunkan sebelum terjadi perubahan oleh mereka. Allah telah memberikan amanah tanggung jawab, pemeliharaan, dan penjagaan dari setiap penodaan dan perubahan kepada kaum muslimin. Maka ayat ini merupakan dokumen yang selalu dibaca setiap hari dan malamnya, yang megingatkan kaum muslimin akan tanggung jawabnya terhadap Masjid al-Aqsha dan sekitarnya.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-size: 10pt;"&gt;2.      Al-Aqsha adalah kiblat pertama bagi kaum muslimin, sebelum Allah memerintahkan mereka merubah arah kiblatnya ke Masjid al-Haram. Sebab yang paling kuat disyari’atkannya shalat menghadap Bait al-Maqdis adalah adanya berhala dan patung di Baitullah. Hingga suatu saat Allah memberikan idzin untuk menghadap ke Masjid al-Aqsha. Sebagaimana diriwayatkan tarikhnya dari Qotadah ia berkata : “ Dulu mereka dan Rasulalallah shalat mengahadap baet al-Maqdis sewaktu berada di Makkah sebelum Hijrah. Setelah hijrah Rasulallah shalat menghadap Bait al-Maqdis selama 16 bulan, kemudin Beliau shalat menghadap ka’bah (Baitullah al-Haram).&lt;/p&gt;&lt;p style="font-size: 10pt;"&gt;3.      Masjid al-Aqsha berada pada posisi ketiga dalam kedudukan dan keutamaannya di dalam Islam, setelah Masjid al-Haram di Makkah dan Masjid al-Nabawi di Madinah. Shalat di masjid tersebut pahalanya sama dengan 500 kali shalat di masjid biasa. Rasulalla bersabda : “Shalat di Masjid al-Haram sama dengan 100.000 shalat di amsjid lainya, dan shalat di Masjidku (masjid al-Nabawi) sama dengan 1000 shalat di masjid lainnya dan shalat di Masjid al-Aqsha sama dengan 500 shalat di Masjid lainnya (hadits Hasan riwayat al-Thabrani).&lt;/p&gt;&lt;p style="font-size: 10pt;"&gt;4.      Masjid al-Aqsha adalah salah satu masjid yang diperbolehkan niat khusus untuk melakukan ibadah di tempat itu, berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, Muslim, Ibnu majah dan Abu Dawud dari Abu Hurairah ra. Ia berkata, “ Telah bersabda Rasulallah SAW. “Tidak boleh mengkhususkan melakukan perjalan kecuali kepada tiga masjid. yaitu, Masjid al-Haram, Masjid al-Nabawi dan Masjid al-Aqsha”. Hadits ini menunjukan ketinggian Masjid al-Aqsha di dalam Islam. Hadits itu juga menekankan pentingnya kaum muslimin memperhatikan Masjid al-Aqsha serta menekankan tanggung jawab dalam membela dan menjaga masjid tersebut. Tidak boleh membiarkan atau melalaikan Masjid al-Aqsha dikuasai oleh musuh.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-size: 10pt;"&gt;5.      Dalam reorientasi masalah al-Aqsha, kita kembali menguak apa yang dilakukan Khalifah kedua, Umar Ibnu al-Khottob, yang telah melakukan perjalanan ke Palestina, ketika penduduk negeri itu mensyaratkan, bahwa yang menerima penyerahan Palestina harus Umar sendiri. Inilah satu-satunya negeri yang pada zaman Khalifah al-Rasysidin, penyerahan daerah penaklukannya diterima oleh seorang Khalifah secara langsung. (Filistin Dirasat Manhajiah fi al-Qodhiyah al-Filistiniyah/ DR. Muhsin Muhammad Shalih/hal.22). Umar Bin Khottob mengadakan perjanjian tertulis “al-Ahdah al-Umariyah” bahwa orang Nashrani telah mengamanahkan kepada Umar diri mereka, harta mereka, gereja mereka, keturunan mereka, orang-orang yang sakit diantara mereka, orang yang sembuhnya, dan semua kepercayaan di sana, untuk dijaga dan pelihara oleh pemerintahahan Islam (ibid hal.22)&lt;/p&gt;&lt;p style="font-size: 10pt;"&gt;6.      Komandan perang Shalahuddin al-Ayubi telah berjanji kepada dirinya, tidak akan tersenyum selama hidupnya sebelum membebaskan Bait al-Muqaddas dari kekuasaan tentara Salibis. Maka ia mempersiapkan niatnya itu pada tahun 583 H./4 Juli 1187. dan pada tanggal 27 Rajab tahun 573 H./2 Oktober 1187 Bait al-Maqdis dapat dibebaskan kembali dari penjajahan tentara Salibis, yang telah menjajahnya selama 88 tahun. Pemerintahan Islam telah berlaku di Palestina selama 1200 tahun, yaitu hingga tahun 1917. Masa terpanjang bagi suatu pemerintahan manapun di dunia ( ibid. hal. 25)&lt;/p&gt;&lt;p style="font-size: 10pt;"&gt;7.      Palestina adalah tempat dimana para shahabat Nabi, para tabi’in dan para ahli fiqh berdiam disana, diantara para shahabat adalah, Ubadah bin Shamit, Syadad bin Uwes, Usamah bin Zaid bin Haritsah, Dihyah al-Kalbi, Uwes bin Shamat. Diantara para tabi’in adalah, Raja bin Hayawiyah al-Kindi, salah seseorang keturunan Bisan (yang diisyaratkan oleh Sulaiman bin Abdul Malik sebagai orang yang loyal kepada kekhalifahan Umar bin Abdul Aziz) diantara para tabi’in lain adalah Ubadah bin Nasi al-Kindi, Malik bin Dinar, dan al-Auza’i. Diantara para fuqoha misalnya, Ibrahim bin Adham, Laits bin Sa’ad (ulama Mesir), Abu Bakar al-Thurthusi, Abu Bakar al-Jurjani, Ibnu Qudamah al-Muqoddasi. Yang termasuk keturunan Palestina misalnya, Musa bin Nushair al-Lakhmi sang penakluk &lt;st1:place&gt;Andalusia&lt;/st1:place&gt;. Ulama pertama yang ahli dalam ilmu kimia adalah Kholid bin Yazid al-Umawi (ibid. hal. 25-26).&lt;/p&gt;&lt;p style="font-size: 10pt;"&gt;Inilah tulisan yang sangat ringkas tentang kedudukan al-Aqsha di dalam Islam serta tanggung jawab kaum muslimin terhadapnya, dimasa lalu ataupun masa sekarang. &lt;/p&gt;&lt;p style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;br /&gt;Tulisan Abdurrahman Ali al-Banfalah&lt;/p&gt;&lt;p style="font-size: 10pt;"&gt;Harian berita al-Khalij al-Bahrain &lt;st1:date month="5" day="15" year="2005"&gt;15/5/2005&lt;/st1:date&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1674769897518819067-6724130206215664358?l=abuazi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuazi.blogspot.com/feeds/6724130206215664358/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1674769897518819067&amp;postID=6724130206215664358' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1674769897518819067/posts/default/6724130206215664358'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1674769897518819067/posts/default/6724130206215664358'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuazi.blogspot.com/2008/03/kedudukan-al-aqsha-dalam-islam.html' title='Kedudukan al-Aqsha Dalam Islam'/><author><name>TABUNGAN 'AMAL SHALIH (T'AS)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05674433416570835606</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1674769897518819067.post-6555319896124034896</id><published>2008-03-27T08:30:00.002+07:00</published><updated>2008-03-27T08:50:03.116+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Munakahat'/><title type='text'>Tata Cara Pernikahan Dalam Islam : MALAM PERTAMA DAN ADAB BERSENGGAMA</title><content type='html'>&lt;h3 style="font-family: trebuchet ms; text-align: center;"&gt;Tata Cara Pernikahan Dalam Islam : MALAM PERTAMA DAN ADAB BERSENGGAMA&lt;/h3&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;" class="post-detail"&gt;     &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; color: rgb(51, 51, 51);"&gt;4. Malam Pertama Dan Adab Bersenggama&lt;br /&gt;Saat pertama kali pengantin pria menemui isterinya setelah aqad nikah, dianjurkan melakukan beberapa hal, sebagai berikut:&lt;br /&gt;Pertama: Pengantin pria hendaknya meletakkan tangannya pada ubun-ubun isterinya seraya mendo’akan baginya. Rasulullah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;shallallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt; bersabda:&lt;br /&gt;“Apabila salah seorang dari kamu menikahi wanita atau membeli seorang budak maka peganglah ubun-ubunnya lalu bacalah ‘basmalah’ serta do’akanlah dengan do’a berkah seraya mengucapkan: ‘Ya Allah, aku memohon kebaikannya dan kebaikan tabiatnya yang ia bawa. Dan aku berlindung dari kejelekannya dan kejelekan tabiat yang ia bawa.’” [1]&lt;br /&gt;Kedua: Hendaknya ia mengerjakan shalat sunnah dua raka’at bersama isterinya.&lt;br /&gt;Syaikh al-Albani &lt;span style="font-size:78%;"&gt;rahimahullaah&lt;/span&gt; berkata: “Hal itu telah ada sandarannya dari ulama Salaf (Shahabat dan Tabi’in).&lt;br /&gt;1. Hadits dari Abu Sa’id maula (budak yang telah dimerdekakan) Abu Usaid.&lt;br /&gt;Ia berkata: “Aku menikah ketika aku masih seorang budak. Ketika itu aku mengundang beberapa orang Shahabat Nabi, di antaranya ‘Abdullah bin Mas’ud, Abu Dzarr dan Hudzaifah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;radhiyallaahu ‘anhum&lt;/span&gt;. Lalu tibalah waktu shalat, Abu Dzarr bergegas untuk mengimami shalat. Tetapi mereka berkata: ‘Kamulah (Abu Sa’id) yang berhak!’ Ia (Abu Dzarr) berkata: ‘Apakah benar demikian?’ ‘Benar!’ jawab mereka. Aku pun maju mengimami mereka shalat. Ketika itu aku masih seorang budak. Selanjutnya mereka mengajariku, ‘Jika isterimu nanti datang menemuimu, hendaklah kalian berdua shalat dua raka’at. Lalu mintalah kepada Allah kebaikan isterimu itu dan mintalah perlindungan kepada-Nya dari keburukannya. Selanjutnya terserah kamu berdua...!’”[2]&lt;br /&gt;2. Hadits dari Abu Waail.&lt;br /&gt;Ia berkata, “Seseorang datang kepada ‘Abdullah bin Mas’ud &lt;span style="font-size:78%;"&gt;radhiyallaahu ‘anhu&lt;/span&gt;, lalu ia berkata, ‘Aku menikah dengan seorang gadis, aku khawatir dia membenciku.’ ‘Abdullah bin Mas’ud berkata, ‘Sesungguhnya cinta berasal dari Allah, sedangkan kebencian berasal dari syaitan, untuk membenci apa-apa yang dihalalkan Allah. Jika isterimu datang kepadamu, maka perintahkanlah untuk melaksanakan shalat dua raka’at di belakangmu. Lalu ucapkanlah (berdo’alah):&lt;br /&gt;“Ya Allah, berikanlah keberkahan kepadaku dan isteriku, serta berkahilah mereka dengan sebab aku. Ya Allah, berikanlah rizki kepadaku lantaran mereka, dan berikanlah rizki kepada mereka lantaran aku. Ya Allah, satukanlah antara kami (berdua) dalam kebaikan dan pisahkanlah antara kami (berdua) dalam kebaikan.” [3]&lt;br /&gt;Ketiga: Bercumbu rayu dengan penuh kelembutan dan kemesraan. Misalnya dengan memberinya segelas air minum atau yang lainnya.&lt;br /&gt;Hal ini berdasarkan hadits Asma’ binti Yazid binti as-Sakan &lt;span style="font-size:78%;"&gt;radhiyallaahu ‘anha&lt;/span&gt;, ia berkata: “Saya merias ‘Aisyah untuk Rasulullah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;shallallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt;. Setelah itu saya datangi dan saya panggil beliau supaya menghadiahkan sesuatu kepada ‘Aisyah. Beliau pun datang lalu duduk di samping ‘Aisyah. Ketika itu Rasulullah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;shallallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt; disodori segelas susu. Setelah beliau minum, gelas itu beliau sodorkan kepada ‘Aisyah. Tetapi ‘Aisyah menundukkan kepalanya dan malu-malu.” ‘Asma binti Yazid berkata: “Aku menegur ‘Aisyah dan berkata kepadanya, ‘Ambillah gelas itu dari tangan Rasulullah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;shallallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt;!’ Akhirnya ‘Aisyah pun meraih gelas itu dan meminum isinya sedikit.” [4]&lt;br /&gt;Keempat: Berdo’a sebelum jima’ (bersenggama), yaitu ketika seorang suami hendak menggauli isterinya, hendaklah ia membaca do’a:&lt;br /&gt;“Dengan menyebut nama Allah, Ya Allah, jauhkanlah aku dari syaitan dan jauhkanlah syaitan dari anak yang akan Engkau karuniakan kepada kami.”&lt;br /&gt;Rasulullah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;shallallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt; bersabda: “Maka, apabila Allah menetapkan lahirnya seorang anak dari hubungan antara keduanya, niscaya syaitan tidak akan membahayakannya selama-lamanya.” [5]&lt;br /&gt;Kelima: Suami boleh menggauli isterinya dengan cara bagaimana pun yang disukainya asalkan pada kemaluannya.&lt;br /&gt;Allah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Ta’ala&lt;/span&gt; berfirman:&lt;br /&gt;"Artinya : Isteri-Isterimu adalah ladang bagimu, maka datangi-lah ladangmu itu kapan saja dengan cara yang kamu sukai. Dan utamakanlah (yang baik) untuk dirimu. Bertaqwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu (kelak) akan menemui-Nya. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang yang beriman.” [Al-Baqarah : 223]&lt;br /&gt;Ibnu ‘Abbas &lt;span style="font-size:78%;"&gt;radhiyallaahu ‘anhuma&lt;/span&gt; berkata, “Pernah suatu ketika ‘Umar bin al-Khaththab &lt;span style="font-size:78%;"&gt;radhiyallaahu ‘anhu&lt;/span&gt; datang kepada Rasulullah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;shallallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt;, lalu ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, celaka saya.’ Beliau bertanya, ‘Apa yang membuatmu celaka?’ ‘Umar menjawab, ‘Saya membalikkan pelana saya tadi malam.’ [6] Dan beliau &lt;span style="font-size:78%;"&gt;shallallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt; tidak memberikan komentar apa pun, hingga turunlah ayat kepada beliau:&lt;br /&gt;"Isteri-Isterimu adalah ladang bagimu, maka datangilah ladangmu itu kapan saja dengan cara yang kamu sukai...” [Al-Baqarah : 223]&lt;br /&gt;Lalu Rasulullah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;shallallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt; bersabda:&lt;br /&gt;"Setubuhilah isterimu dari arah depan atau dari arah belakang, tetapi hindarilah (jangan engkau menyetubuhinya) di dubur dan ketika sedang haidh". [7]&lt;br /&gt;Juga berdasarkan sabda Rasulullah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;shallallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt;:&lt;br /&gt;"Silahkan menggaulinya dari arah depan atau dari belakang asalkan pada kemaluannya".[8]&lt;br /&gt;Seorang Suami Dianjurkan Mencampuri Isterinya Kapan Waktu Saja&lt;br /&gt;• Apabila suami telah melepaskan hajat biologisnya, janganlah ia tergesa-gesa bangkit hingga isterinya melepaskan hajatnya juga. Sebab dengan cara seperti itu terbukti dapat melanggengkan keharmonisan dan kasih sayang antara keduanya. Apabila suami mampu dan ingin mengulangi jima’ sekali lagi, maka hendaknya ia berwudhu’ terlebih dahulu.&lt;br /&gt;Rasulullah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;shallallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt; bersabda:&lt;br /&gt;"Jika seseorang diantara kalian menggauli isterinya kemudian ingin mengulanginya lagi, maka hendaklah ia berwudhu’ terlebih dahulu.” [9]&lt;br /&gt;• Yang afdhal (lebih utama) adalah mandi terlebih dahulu. Hal ini berdasarkan hadits dari Abu Rafi' &lt;span style="font-size:78%;"&gt;radhiyallaahu ‘anhu&lt;/span&gt; bahwasanya Nabi &lt;span style="font-size:78%;"&gt;shallallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt; pernah menggilir isteri-isterinya dalam satu malam. Beliau mandi di rumah fulanah dan rumah fulanah. Abu Rafi' berkata, “Wahai Rasulullah, mengapa tidak dengan sekali mandi saja?” Beliau menjawab.&lt;br /&gt;"Ini lebih bersih, lebih baik dan lebih suci.” [10]&lt;br /&gt;• Seorang suami dibolehkan jima’ (mencampuri) isterinya kapan waktu saja yang ia kehendaki; pagi, siang, atau malam. Bahkan, apabila seorang suami melihat wanita yang mengagumkannya, hendaknya ia mendatangi isterinya. Hal ini berdasarkan riwayat bahwasanya Rasulullah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;shallallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt; melihat wanita yang mengagumkan beliau. Kemudian beliau mendatangi isterinya -yaitu Zainab &lt;span style="font-size:78%;"&gt;radhiyallaahu ‘anha&lt;/span&gt;- yang sedang membuat adonan roti. Lalu beliau melakukan hajatnya (berjima’ dengan isterinya). Kemudian beliau bersabda,&lt;br /&gt;"Sesungguhnya wanita itu menghadap dalam rupa syaitan dan membelakangi dalam rupa syaitan. [11] Maka, apabila seseorang dari kalian melihat seorang wanita (yang mengagumkan), hendaklah ia mendatangi isterinya. Karena yang demikian itu dapat menolak apa yang ada di dalam hatinya.” [12]&lt;br /&gt;Imam an-Nawawi &lt;span style="font-size:78%;"&gt;rahimahullaah&lt;/span&gt; berkata : “ Dianjurkan bagi siapa yang melihat wanita hingga syahwatnya tergerak agar segera mendatangi isterinya - atau budak perempuan yang dimilikinya -kemudian menggaulinya untuk meredakan syahwatnya juga agar jiwanya menjadi tenang.” [13]&lt;br /&gt;Akan tetapi, ketahuilah saudara yang budiman, bahwasanya menahan pandangan itu wajib hukumnya, karena hadits tersebut berkenaan dan berlaku untuk pandangan secara tiba-tiba.&lt;br /&gt;Allah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Ta’ala&lt;/span&gt; berfirman:&lt;br /&gt;"“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat” .[An-Nuur : 30]&lt;br /&gt;Dari Abu Buraidah, dari ayahnya &lt;span style="font-size:78%;"&gt;radhiyallaahu ‘anhu&lt;/span&gt;, ia berkata, “Rasulullah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;shallallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt; bersabda kepada ‘Ali.&lt;br /&gt;"Wahai ‘Ali, janganlah engkau mengikuti satu pandangan pandangan lainnya karena yang pertama untukmu dan yang kedua bukan untukmu”. [14]&lt;br /&gt;• Haram menyetubuhi isteri pada duburnya dan haram menyetubuhi isteri ketika ia sedang haidh/ nifas.&lt;br /&gt;Hal ini berdasarkan firman Allah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Ta’ala&lt;/span&gt;:&lt;br /&gt;"Artinya : Dan mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang haidh. Katakanlah, ‘Itu adalah sesuatu yang kotor.’ Karena itu jauhilah [15] isteri pada waktu haidh; dan janganlah kamu dekati sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, campurilah mereka sesuai dengan (ketentuan) yang diperintahkan Allah kepadamu. Sungguh, Allah menyukai orang yang bertaubat dan mensucikan diri.” [Al-Baqarah : 222]&lt;br /&gt;Juga sabda Rasulullah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;shallallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt;:&lt;br /&gt;"Barangsiapa yang menggauli isterinya yang sedang haidh, atau menggaulinya pada duburnya, atau mendatangi dukun, maka ia telah kafir terhadap ajaran yang telah diturunkan kepada Muhammad &lt;span style="font-size:78%;"&gt;shallallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt;.” [16]&lt;br /&gt;Juga sabda beliau &lt;span style="font-size:78%;"&gt;shallallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt;:&lt;br /&gt;"Dilaknat orang yang menyetubuhi isterinya pada duburnya.” [17]&lt;br /&gt;• Kaffarat bagi suami yang menggauli isterinya yang sedang haidh.&lt;br /&gt;Syaikh al-Albani &lt;span style="font-size:78%;"&gt;rahimahullaah&lt;/span&gt; berkata, “Barangsiapa yang dikalahkan oleh hawa nafsunya lalu menyetubuhi isterinya yang sedang haidh sebelum suci dari haidhnya, maka ia harus bershadaqah dengan setengah pound emas Inggris, kurang lebihnya atau seperempatnya. Hal ini berdasarkan hadits Ibnu ‘Abbas &lt;span style="font-size:78%;"&gt;radhiyallaahu ‘anhu&lt;/span&gt; dari Nabi &lt;span style="font-size:78%;"&gt;shallallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt; tentang orang yang menggauli isterinya yang sedang haidh. Lalu Nabi &lt;span style="font-size:78%;"&gt;shallallaahu ‘alaihi wa sallam &lt;/span&gt;bersabda.&lt;br /&gt;"Hendaklah ia bershadaqah dengan satu dinar atau setengah dinar.’”[18]&lt;br /&gt;• Apabila seorang suami ingin bercumbu dengan isterinya yang sedang haidh, ia boleh bercumbu dengannya selain pada kemaluannya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;shallallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;"Lakukanlah apa saja kecuali nikah (jima'/ bersetubuh).” [19]&lt;br /&gt;• Apabila suami atau isteri ingin makan atau tidur setelah jima’ (bercampur), hendaklah ia mencuci kemaluannya dan berwudhu' terlebih dahulu, serta mencuci kedua tangannya. Hal ini berdasarkan hadits dari ‘Aisyah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;radhiyallaahu ‘anha&lt;/span&gt; bahwasanya Rasulullah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;shallallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt; bersabda,&lt;br /&gt;“Apabila beliau hendak tidur dalam keadaan junub, maka beliau berwudhu' seperti wudhu' untuk shalat. Dan apabila beliau hendak makan atau minum dalam keadaan junub, maka beliau mencuci kedua tangannya kemudian beliau makan dan minum.” [20]&lt;br /&gt;Dari ‘Aisyah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;radhiyallaahu ‘anha&lt;/span&gt;, ia berkata,&lt;br /&gt;"Apabila Nabi &lt;span style="font-size:78%;"&gt;shallallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt; hendak tidur dalam keadaan junub, beliau mencuci kemaluannya dan berwudhu’ (seperti wudhu') untuk shalat.” [21]&lt;br /&gt;• Sebaiknya tidak bersenggama dalam keadaan sangat lapar atau dalam keadaan sangat kenyang, karena dapat membahayakan kesehatan.&lt;br /&gt;• Suami isteri dibolehkan mandi bersama dalam satu tempat, dan suami isteri dibolehkan saling melihat aurat masing-masing.&lt;br /&gt;Adapun riwayat dari ‘Aisyah yang mengatakan bahwa ‘Aisyah tidak pernah melihat aurat Rasulullah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;shallallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt; adalah riwayat yang bathil, karena di dalam sanadnya ada seorang pendusta. [22]&lt;br /&gt;• Haram hukumnya menyebarkan rahasia rumah tangga dan hubungan suami isteri.&lt;br /&gt;Setiap suami maupun isteri dilarang menyebarkan rahasia rumah tangga dan rahasia ranjang mereka. Hal ini dilarang oleh Rasulullah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;shallallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt;. Bahkan, orang yang menyebarkan rahasia hubungan suami isteri adalah orang yang paling jelek kedudukannya di sisi Allah.&lt;br /&gt;Rasulullah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;shallallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt; bersabda:&lt;br /&gt;"Sesungguhnya manusia yang paling jelek kedudukannya pada hari Kiamat adalah laki-laki yang bersenggama dengan isterinya dan wanita yang bersenggama dengan suaminya kemudian ia menyebarkan rahasia isterinya.” [23]&lt;br /&gt;Dalam hadits lain yang shahih, disebutkan bahwa Rasulullah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;shallallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt; bersabda, “Jangan kalian lakukan (menceritakan hubungan suami isteri). Perumpamaannya seperti syaitan laki-laki yang berjumpa dengan syaitan perempuan di jalan lalu ia menyetubuhinya (di tengah jalan) dilihat oleh orang banyak…” [24]&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin &lt;span style="font-size:78%;"&gt;rahimahullaah&lt;/span&gt; berkata, “Apa yang dilakukan sebagian wanita berupa membeberkan maslah rumah tangga dan kehidupan suami isteri kepada karib kerabat atau kawan adalah perkara yang diharamkan. Tidak halal seorang isteri menyebarkan rahasia rumah tangga atau keadaannya bersama suaminya kepada seseorang.&lt;br /&gt;Allah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Ta’ala&lt;/span&gt; berfirman:&lt;br /&gt;"Artinya : “Maka perempuan-perempuan yang shalih adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka).” [An-Nisaa' : 34]&lt;br /&gt;Nabi &lt;span style="font-size:78%;"&gt;shallallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt; mengabarkan bahwa manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada hari Kiamat adalah laki-laki yang bersenggama dengan isterinya dan wanita yang bersenggama dengan suaminya, kemudian ia menyebarkan rahasia pasangannya". [25]&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;[Disalin dari buku Bingkisan Istimewa Menuju Keluarga Sakinah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Putaka A-Taqwa Bogor - Jawa Barat, Cet Ke II Dzul Qa'dah 1427H/Desember 2006]&lt;br /&gt;__________&lt;br /&gt;Foote Note&lt;br /&gt;[1]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2160), Ibnu Majah (no. 1918), al-Hakim (II/185) dan ia menshahihkannya, juga al-Baihaqi (VII/148), dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallaahu ‘anhuma. Lihat Adabuz Zifaf (hal. 92-93)&lt;br /&gt;[2]. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf (X/159, no. 30230 dan ‘Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf (VI/191-192). Lihat Adabuz Zifaf fis Sunnah al-Muthahharah (hal. 94-97), cet. Darus Salam, th. 1423 H.&lt;br /&gt;[3]. Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf (VI/191, no. 10460, 10461).&lt;br /&gt;[4]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Ahmad (VI/438, 452, 453, 458). Lihat Adabuz Zifaf fis Sunnah al-Muthahharah (hal. 91-92), cet. Darus Salam, th. 1423 H.&lt;br /&gt;[5]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 141, 3271, 3283, 5165), Muslim (no. 1434), Abu Dawud (no. 2161), at-Tirmidzi (no. 1092), ad-Darimi (II/145), Ibnu Majah (no. 1919), an-Nasa-i dalam ‘Isyratun Nisaa' (no. 144, 145), Ahmad (I/216, 217, 220, 243, 283, 286) dan lainnya, dari ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhuma.&lt;br /&gt;[6]. Pelana adalah kata kiasan untuk isteri. Yang dimaksud ‘Umar bin al-Khaththab adalah menyetubuhi isteri pada kemaluannya tetapi dari arah belakang. Hal ini karena menurut kebiasaan, suami yang menyetubuhi isterinya berada di atas, yaitu menunggangi isterinya dari arah depan. Jadi, karena ‘Umar menunggangi isterinya dari arah belakang, maka dia menggunakan kiasan “membalik pelana”. (Lihat an-Nihayah fii Ghariibil Hadiits (II/209))&lt;br /&gt;[7]. Hadits hasan: Diriwayatkan oleh Ahmad (I/297), an-Nasa-i dalam ‘Isyratun Nisaa' (no. 91) dan dalam Tafsiir an-Nasa-i (I/256, no. 60), at-Tirmidzi (no. 2980), Ibnu Hibban (no. 1721-al-Mawarid) dan (no. 4190-Ta’liiqatul Hisaan ‘ala Shahiih Ibni Hibban), ath-Thabrani dalam Mu’jamul Kabir (no. 12317) dan al-Baihaqi (VII/198). At-Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan.” Hadits ini dishahihkan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fat-hul Baari (VIII/291).&lt;br /&gt;[8]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh ath-Thahawi dalam Syarah Ma’anil Aatsaar (III/41) dan al-Baihaqi (VII/195). Asalnya hadits ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari (no. 4528), Muslim (no. 1435) dan lainnya, dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallaahu ‘anhuma. Lihat al-Insyirah fii Adabin Nikah (hal. 48) oleh Abu Ishaq al-Huwaini.&lt;br /&gt;[9]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (308 (27)) dan Ahmad (III/28), dari Shahabat Abu Sa’id al-Khudri &lt;span style="font-size:78%;"&gt;radhiyallaahu ‘anhu&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;[10]. Hadits hasan: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 219), an-Nasa-i dalam Isyratun Nisaa' (no. 149), dan yang lainnya. Lihat Shahih Sunan Abi Dawud (no. 216) dan Adabuz Zifaf (hal. 107-108).&lt;br /&gt;[11]. Maksudnya isyarat dalam mengajak kepada hawa nafsu.&lt;br /&gt;[12]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 1403), at-Tirmidzi (no. 1158), Adu Dawud (no. 2151), al-Baihaqi (VII/90), Ahmad (III/330, 341, 348, 395) dan lafazh ini miliknya, dari Shahabat Jabir bin ‘Abdillah radhiyallaahu ‘anhuma. Lihat Silsilah ash-Shahiihah (I/470-471).&lt;br /&gt;[13]. Syarah Shahiih Muslim (IX/178).&lt;br /&gt;[14]. Hadits hasan: Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 2777) dan Abu Dawud (no. 2149).&lt;br /&gt;[15]. Jangan bercampur dengan isteri pada waktu haidh.&lt;br /&gt;[16]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 3904), at-Tirmidzi (no. 135), Ibnu Majah (no. 639), ad-Darimi (I/259), Ahmad (II/408, 476), al-Baihaqi (VII/198), an-Nasa-i dalam ‘Isyratun Nisaa' (no. 130, 131), dari Sahabat Abu Hurairah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;radhiyallaahu ‘anhu&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;[17]. Hadits hasan: Diriwayatkan oleh Ibnu Adi dari ‘Uqbah bin ‘Amr dan dikuatkan dengan hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2162) dan Ahmad (II/444 dan 479). Lihat Adaabuz Zifaf fis Sunnah al-Muthahharah (hal. 105).&lt;br /&gt;[18]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 264), an-Nasa-i (I/153), at-Tirmidzi (no. 136), Ibnu Majah (no. 640), Ahmad (I/172), dishahihkan oleh al-Hakim (I/172) dan disetujui oleh Imam adz-Dzahabi. Lihat Adabuz Zifaf (hal. 122)&lt;br /&gt;[19]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 302), Abu Dawud (no. 257), dari Shahabat Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu. Lihat Adabuz Zifaf (hal. 123).&lt;br /&gt;[20]. Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 222, 223), an-Nasa-i (I/139), Ibnu Majah (no. 584, 593) dan Ahmad (VI/102-103, dari ‘Aisyah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;radhiyallaahu ‘anha&lt;/span&gt;. Lihat Silsilah ash-Shahiihah (no. 390) dan Shahiihul Jaami’ (no. 4659).&lt;br /&gt;[21]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 288), Muslim (no. 306 (25)), Abu Dawud (no. 221), an-Nasa-i (I/140). Lihat Shahiihul Jaami’ (no. 4660).&lt;br /&gt;[22]. Lihat Adabuz Zifaf hal. 109.&lt;br /&gt;[23]. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah (no. 17732), Muslim (no. 1437), Abu Dawud (no. 4870), Ahmad (III/69) dan lainnya. Hadits ini ada kelemahannya karena dalam sanadnya ada seorang rawi yang lemah bernama ‘Umar bin Hamzah al-‘Amry. Rawi ini dilemahkan oleh Yahya bin Ma’in dan an-Nasa-i. Imam Ahmad berkata tentangnya, “Hadits-haditsnya munkar.” Lihat kitab Mizanul I’tidal (III/192), juga Adabuz Zifaf (hal. 142). Makna hadits ini semakna dengan hadits-hadits lain yang shahih yang melarang menceritakan rahasia hubungan suami isteri.&lt;br /&gt;[24]. Diriwayatkan oleh Ahmad (VI/456-457).&lt;br /&gt;[25]. Fataawaa al-Islaamiyyah (III/211-212).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Ditulis oleh : &lt;/span&gt;&lt;a style="font-family: trebuchet ms;" href="http://assalaf.blog.m3-access.com/posts/user_4456_Mr-Adi.html"&gt;Mr. Adi&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; pukul : &lt;/span&gt;&lt;strong style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;a href="http://assalaf.blog.m3-access.com/posts/38498_Tata-Cara-Pernikahan-Dalam-Islam-MALAM-PERTAMA-DAN-ADAB-BERSENGGAMA.html"&gt;16.56&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1674769897518819067-6555319896124034896?l=abuazi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuazi.blogspot.com/feeds/6555319896124034896/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1674769897518819067&amp;postID=6555319896124034896' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1674769897518819067/posts/default/6555319896124034896'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1674769897518819067/posts/default/6555319896124034896'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuazi.blogspot.com/2008/03/tata-cara-pernikahan-dalam-islam-malam.html' title='Tata Cara Pernikahan Dalam Islam : MALAM PERTAMA DAN ADAB BERSENGGAMA'/><author><name>TABUNGAN 'AMAL SHALIH (T'AS)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05674433416570835606</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1674769897518819067.post-3290785061306111186</id><published>2008-03-27T08:11:00.004+07:00</published><updated>2008-03-27T08:21:58.248+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Munakahat'/><title type='text'>Tata Cara Pernikahan Dalam Islam : WALIMAH</title><content type='html'>&lt;h3 style="font-family: trebuchet ms; text-align: center;"&gt;Tata Cara Pernikahan Dalam Islam : WALIMAH&lt;/h3&gt;    &lt;div style="font-family: trebuchet ms;" class="post-detail"&gt;     &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; color: rgb(51, 51, 51);"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; color: rgb(51, 51, 51);"&gt;3. Walimah&lt;br /&gt;Walimatul 'urus (pesta pernikahan) hukumnya wajib [1] dan diusahakan sesederhana mungkin.&lt;br /&gt;Rasulullah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;shallallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt; bersabda:&lt;br /&gt;”Selenggarakanlah walimah meskipun hanya dengan menyembelih seekor kambing” [2]&lt;br /&gt;• Rasulullah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;shallallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt; memperingatkan orang-orang yang mengadakan walimah agar tidak hanya mengundang orang-orang kaya saja, tetapi hendaknya diundang pula orang-orang miskin. Karena makanan yang dihidangkan untuk orang-orang kaya saja adalah sejelek-jelek hidangan.&lt;br /&gt;Nabi &lt;span style="font-size:78%;"&gt;shallallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt; bersabda:&lt;br /&gt;“Makanan paling buruk adalah makanan dalam walimah yang hanya mengundang orang-orang kaya saja untuk makan, sedangkan orang-orang miskin tidak diundang. Barangsiapa yang tidak menghadiri undangan walimah, maka ia durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya” [3]&lt;br /&gt;• Sebagai catatan penting, hendaknya yang diundang itu orang-orang shalih, baik kaya maupun miskin, sesuai sabda Nabi &lt;span style="font-size:78%;"&gt;shallallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt;:&lt;br /&gt;“Janganlah engkau bergaul melainkan dengan orang-orang mukmin dan jangan makan makananmu melainkan orang-orang yang bertaqwa” [4]&lt;br /&gt;• Orang yang diundang menghadiri walimah, maka dia wajib untuk memenuhi undangan tersebut.&lt;br /&gt;Rasulullah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;shallallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt; bersabda:&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;“Jika salah seorang dari kamu diundang menghadiri acara walimah, maka datangilah!” [5]&lt;br /&gt;• Memenuhi undangan walimah hukumnya wajib, meskipun orang yang diundang sedang berpuasa.&lt;br /&gt;Hal ini berdasarkan sabda Nabi &lt;span style="font-size:78%;"&gt;shallallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt;:&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;“Apabila seseorang dari kalian diundang makan, maka penuhilah undangan itu. Apabila ia tidak berpuasa, maka makanlah (hidangannya), tetapi jika ia sedang berpuasa, maka hendaklah ia mendo’akan (orang yang mengundangnya)” [6]&lt;br /&gt;• Dan apabila yang diundang memiliki alasan yang kuat atau karena perjalanan jauh sehingga menyulitkan atau sibuk, maka boleh baginya untuk tidak menghadiri undangan tersebut.[7]&lt;br /&gt;Hal ini berdasarkan riwayat dari ‘Atha' bahwa Ibnu ‘Abbas &lt;span style="font-size:78%;"&gt;radhiyallaahu ‘anhu&lt;/span&gt; pernah diundang acara walimah, sementara dia sendiri sibuk membereskan urusan pengairan. Dia berkata kepada orang-orang, “Datangilah undangan saudara kalian, sampaikanlah salamku kepadanya dan kabarkanlah bahwa aku sedang sibuk” [8]&lt;br /&gt;• Disunnahkan bagi yang diundang menghadiri walimah untuk melakukan hal-hal berikut:&lt;br /&gt;Pertama: Jika seseorang diundang walimah atau jamuan makan, maka dia tidak boleh mengajak orang lain yang tidak diundang oleh tuan rumah.&lt;br /&gt;Hal ini berdasarkan riwayat dari Abu Mas’ud al-Anshari, ia berkata, “&lt;/span&gt;Ada&lt;span style="font-size: 10pt; color: rgb(51, 51, 51);"&gt; seorang pria yang baru saja menetap di Madinah bernama Syu’aib, ia punya seorang anak penjual daging. Ia berkata kepada anaknya, ‘Buatlah makanan karena aku akan mengundang Rasulullah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;shallallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt;.’ Rasulullah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;shallallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt; datang bersama empat orang disertai seseorang yang tidak diundang. Nabi &lt;span style="font-size:78%;"&gt;shallallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt; bersabda, ‘Engkau mengundang aku bersama empat orang lainnya. Dan orang ini ikut bersama kami. Jika engkau izinkan biarlah ia ikut makan, jika tidak maka aku suruh pulang.’ Syu’aib menjawab, ‘Tentu, saya mengizinkannya’” [9]&lt;br /&gt;Kedua: Mendo’akan bagi shahibul hajat (tuan rumah) setelah makan.&lt;br /&gt;Do’a yang disunnahkan untuk diucapkan adalah:&lt;br /&gt;“Ya Allah, ampunilah mereka, sayangilah mereka dan berkahilah apa-apa yang Engkau karuniakan kepada mereka” [10]&lt;br /&gt;Dalam riwayat Muslim dengan lafazh:&lt;br /&gt;“Ya Allah, berkahilah apa-apa yang Engkau karuniakan kepada mereka, ampunilah mereka dan sayangilah mereka.” [11]&lt;br /&gt;Atau dengan lafazh:&lt;br /&gt;“Ya Allah, berikanlah makan kepada orang yang memberi makan kepadaku, dan berikanlah minum kepada orang yang memberi minum kepadaku” [12]&lt;br /&gt;Atau dengan lafazh:&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;“Telah berbuka di sisi kalian orang-orang yang berpuasa, dan telah menyantap makanan kalian orang-orang yang baik, dan para Malaikat telah mendo’akan kalian.” [13]&lt;br /&gt;Ketiga: Mendo’akan kedua mempelai.&lt;br /&gt;Do’a yang disunnahkan untuk diucapkan adalah:&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;“Semoga Allah memberkahimu dan memberkahi pernikahanmu, serta semoga Allah mempersatukan kalian berdua dalam kebaikan” [14]&lt;br /&gt;• Disunnahkan menabuh rebana pada hari dilaksanakannya pernikahan.&lt;/span&gt;Ada&lt;span style="font-size: 10pt; color: rgb(51, 51, 51);"&gt; dua faedah yang terkandung di dalamnya:&lt;br /&gt;1. Publikasi (mengumumkan) pernikahan.&lt;br /&gt;2. Menghibur kedua mempelai.&lt;br /&gt;Hal ini berdasarkan hadits dari Muhammad bin Hathib, bahwa Rasulullah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;shallallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt; bersabda:&lt;br /&gt;“Pembeda antara perkara halal dengan yang haram pada pesta pernikahan adalah rebana dan nyanyian (yang dimainkan oleh anak-anak kecil)” [15]&lt;br /&gt;Juga berdasarkan hadits dari ‘Aisyah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;radhiyallaahu ‘anha&lt;/span&gt;, ia pernah mengantar mempelai wanita ke tempat mempelai pria dari kalangan Anshar.&lt;br /&gt;Rasulullah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;shallallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt; berkata,&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;“Wahai ‘Aisyah, apakah ada hiburan yang menyertai kalian? Sebab, orang-orang Anshar suka kepada hiburan.” [16]&lt;br /&gt;Dalam riwayat yang lain, beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah kalian mengirimkan bersamanya seorang gadis (yang masih kecil -pen) untuk memukul rebana dan menyanyi?” ‘Aisyah bertanya, “Apa yang dia nyanyikan?” Beliau &lt;span style="font-size:78%;"&gt;shallallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt; menjawab, “Dia mengucapkan:&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;Kami datang kepada kalian, kami datang kepada kalian&lt;br /&gt;Hormatilah kami, maka kami hormati kalian&lt;br /&gt;Seandainya bukan karena emas merah&lt;br /&gt;Niscaya kampung kalian tidaklah mempesona&lt;br /&gt;Seandainya bukan gandum berwarna coklat&lt;br /&gt;Niscaya gadis kalian tidaklah menjadi gemuk.[17]&lt;br /&gt;Nabi &lt;span style="font-size:78%;"&gt;shallallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt; bersabda:&lt;br /&gt;"Umumkanlah (meriahkanlah) pernikahan.” [18]&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;[Disalin dari buku Bingkisan Istimewa Menuju Keluarga Sakinah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Putaka A-Taqwa Bogor - Jawa Barat, Cet Ke II Dzul Qa'dah 1427H/Desember 2006]&lt;br /&gt;__________&lt;br /&gt;Foote Note&lt;br /&gt;[1]. Ini adalah pendapat Imam asy-Syafi’i , Imam Malik dan Ibnu Hazm azh-Zhahiri. Berdasarkan perintah Nabi &lt;span style="font-size:78%;"&gt;‘alaihish shalaatu was salaam&lt;/span&gt; kepada Shahabat ‘Abdurrahman bin ‘Auf agar mengadakan walimah. Sedangkan Jumhur ulama berpendapat bahwa walimah hukumnya sunnah muakkadah. Wallaahu a’lam.&lt;br /&gt;[2]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 2049 dan 5155), Muslim (no. 1427), Abu Dawud (no. 2109), an-Nasa'i (VI/119-120), at-Tirmidzi (no. 1094), Ahmad (III/190, 271), ath-Thayalisi (no. 2242) dan lainnya, dari Shahabat Anas bin Malik&lt;span style="font-size:78%;"&gt; radhiyallaahu ‘anhu&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;[3]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 5177), Muslim (no. 1432), Abu Dawud (no. 3742), Ibnu Majah (no. 1913) dan al-Baihaqi (VII/262), dari Abu Hurairah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;radhiyallaahu ‘anhu&lt;/span&gt;. Lafazh ini milik Muslim.&lt;br /&gt;[4]. Hadits hasan: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 4832), at-Tir-midzi (no. 2395), al-Hakim (IV/128) dan Ahmad (III/38), dari Shahabat Abu Sa’id al-Khudri &lt;span style="font-size:78%;"&gt;radhiyallaahu ‘anhu&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;[5]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 5173), Muslim (no. 1429 (96)), Abu Dawud (no. 3736) dan at-Tirmidzi (no. 1098), Ibnu Majah (no. 1914), Ahmad (II/20, 22, 37, 101), al-Baihaqi (VII/ 262) dan al-Baghawi (IX/138), dari Ibnu ‘Umar &lt;span style="font-size:78%;"&gt;radhiyallaahu ‘anhuma&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;[6]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 1431 (106)), Ahmad (II/507), al-Baihaqi (VII/263) dan lafazh ini miliknya, dari Abu Hurairah.&lt;br /&gt;[7]. Al-Insyiraah fii Adaabin Nikaah (hal. 41-42).&lt;br /&gt;[8]. Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq dalam Mushannaf (no. 19664). Al-Hafizh berkata, “Sanadnya shahih.” (Fathul Baari IX/247).&lt;br /&gt;[9]. Hadits shahih: Diriwayatkan al-Bukhari (no. 2081, 2456, 5434, 5461), Muslim (no. 2036 (138)), Ahmad (IV/120, 121) dan al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (IX/145, no. 2320).&lt;br /&gt;[10]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Ahmad (IV/187-188), dari ‘Abdullah bin Busr &lt;span style="font-size:78%;"&gt;radhiyallaahu ‘anhu&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;[11]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 2042), at-Tirmidzi (no. 3576), Abu Dawud (no. 3729), dari ‘Abdullah bin Busr &lt;span style="font-size:78%;"&gt;radhiyallaahu ‘anhu&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;[12]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 2055), Ahmad (VI/2, 3, 4, 5), dari Sahabat al-Miqdad bin al-Aswad radhiyallaahu ‘anhu. Do’a tersebut diucapkan pula bila kita diundang makan atau makan di rumah orang lain ketika bertamu atau lainnya.&lt;br /&gt;[13]. Diriwayatkan oleh Ahmad (III/118, 138), Abu Dawud (no. 3854), al-Baihaqi (VII/287), an-Nasa'i dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah (no. 299) dan Ibnu Sunni (no. 482), dari Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu. Do’a ini diucapkan ketika seseorang berbuka puasa di rumah orang lain, juga ketika kita diundang makan. Lihat Adabuz Zifaf (hal. 171) cet. Darus Salam, th. 1423 H.&lt;br /&gt;[14]. Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2130), at-Tirmidzi (no. 1091), Ahmad (II/381), Ibnu Majah (no. 1905), al-Hakim (II/183) dan al-Baihaqi (VII/148), dari Sahabat Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu.&lt;br /&gt;[15]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh an-Nasa-i (VI/127-128), at-Tirmi-dzi (no. 1088), Ibnu Majah (no. 1896), Ahmad (III/418 dan IV/259), al-Hakim (II/183) dan ia berkata, “Sanadnya shahih.” Dan disepakati oleh adz-Dzahabi.&lt;br /&gt;[16]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 5162), al-Hakim (II/183-184), al-Baihaqi (VII/288) dan al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (no. 2267).&lt;br /&gt;[17]. Hadits hasan: Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (no. 1900), Ahmad (III/391), al-Baihaqi (VII/289), dari Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhuma.&lt;br /&gt;[18]. Hadits hasan: Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban (no. 1285 al-Mawaarid), Ahmad (IV/5), al-Hakim (II/183) dan al-Baihaqi (VII/288), dari ‘Abdullah bin Zubair radhiyallaahu ‘anhu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; color: rgb(51, 51, 51);"&gt;sumber: &lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/"&gt;www.almanhaj.or.id&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;/div&gt;    &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Ditulis oleh : &lt;/span&gt;&lt;a style="font-family: trebuchet ms;" href="http://assalaf.blog.m3-access.com/posts/user_4456_Mr-Adi.html"&gt;Mr. Adi&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; pukul : &lt;/span&gt;&lt;strong style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;a href="http://assalaf.blog.m3-access.com/posts/38437_Tata-Cara-Pernikahan-Dalam-Islam-WALIMAH.html"&gt;16.47&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1674769897518819067-3290785061306111186?l=abuazi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuazi.blogspot.com/feeds/3290785061306111186/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1674769897518819067&amp;postID=3290785061306111186' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1674769897518819067/posts/default/3290785061306111186'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1674769897518819067/posts/default/3290785061306111186'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuazi.blogspot.com/2008/03/tata-cara-pernikahan-dalam-islam_27.html' title='Tata Cara Pernikahan Dalam Islam : WALIMAH'/><author><name>TABUNGAN 'AMAL SHALIH (T'AS)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05674433416570835606</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1674769897518819067.post-7143448415916161218</id><published>2008-03-27T06:40:00.004+07:00</published><updated>2008-03-27T08:09:12.759+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Munakahat'/><title type='text'>Tata Cara Pernikahan Dalam Islam: AQAD NIKAH</title><content type='html'>&lt;h3 style="text-align: center; font-family: trebuchet ms;"&gt;Tata Cara Pernikahan Dalam Islam: AQAD NIKAH&lt;/h3&gt;    &lt;div  class="post-detail" style="font-family:trebuchet ms;"&gt;     &lt;span style="color: rgb(51, 51, 51);font-size:10;" &gt;&lt;/span&gt;2. Aqad Nikah&lt;br /&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51);font-size:10;" &gt;Dalam aqad nikah ada beberapa syarat, rukun dan kewajiban yang harus dipenuhi, yaitu adanya:&lt;br /&gt;1. Rasa suka sama suka dari kedua calon mempelai&lt;br /&gt;2. Izin dari wali&lt;br /&gt;3. Saksi-saksi (minimal dua saksi yang adil)&lt;br /&gt;4. Mahar&lt;br /&gt;5. Ijab Qabul&lt;br /&gt;• Wali&lt;br /&gt;Yang dikatakan wali adalah orang yang paling dekat dengan si wanita. Dan orang paling berhak untuk menikahkan wanita merdeka adalah ayahnya, lalu kakeknya, dan seterusnya ke atas. Boleh juga anaknya dan cucunya, kemudian saudara seayah seibu, kemudian saudara seayah, kemudian paman. [1]&lt;br /&gt;Ibnu Baththal &lt;span style="font-size:78%;"&gt;rahimahullaah&lt;/span&gt; berkata, “Mereka (para ulama) ikhtilaf tentang wali. Jumhur ulama di antaranya adalah Imam Malik, ats-Tsauri, al-Laits, Imam asy-Syafi’i, dan selainnya berkata, “Wali dalam pernikahan adalah ‘ashabah (dari pihak bapak), sedangkan paman dari saudara ibu, ayahnya ibu, dan saudara-saudara dari pihak ibu tidak memiliki hak wali.” [2]&lt;br /&gt;Disyaratkan adanya wali bagi wanita. Islam mensyaratkan adanya wali bagi wanita sebagai penghormatan bagi wanita, memuliakan dan menjaga masa depan mereka. Walinya lebih mengetahui daripada wanita tersebut. Jadi bagi wanita, wajib ada wali yang membimbing urusannya, mengurus aqad nikahnya. Tidak boleh bagi seorang wanita menikah tanpa wali, dan apabila ini terjadi maka tidak sah pernikahannya.&lt;br /&gt;Rasulullah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;shallallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt; bersabda:&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;“Siapa saja wanita yang menikah tanpa seizin walinya, maka nikahnya bathil (tidak sah), pernikahannya bathil, pernikahannya bathil. Jika seseorang menggaulinya, maka wanita itu berhak mendapatkan mahar dengan sebab menghalalkan kemaluannya. Jika mereka berselisih, maka sulthan (penguasa) adalah wali bagi wanita yang tidak mempunyai wali.” [3]&lt;br /&gt;Nabi &lt;span style="font-size:78%;"&gt;shallallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt; bersabda:&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;“Tidak sah nikah melainkan dengan wali.” [4]&lt;br /&gt;Juga sabda beliau &lt;span style="font-size:78%;"&gt;shallallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt;:&lt;br /&gt;“Tidak sah nikah kecuali dengan adanya wali dan dua saksi yang adil.” [5]&lt;br /&gt;Tentang wali ini berlaku bagi gadis maupun janda. Artinya, apabila seorang gadis atau janda menikah tanpa wali, maka nikahnya tidak sah.&lt;br /&gt;Tidak sahnya nikah tanpa wali tersebut berdasarkan hadits-hadits di atas yang shahih dan juga berdasarkan dalil dari Al-Qur’anul Karim.&lt;br /&gt;Allah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Ta’ala&lt;/span&gt; berfirman:&lt;br /&gt;"Dan apabila kamu menceraikan isteri-isteri (kamu), lalu sampai masa ‘iddahnya, maka jangan kamu (para wali) halangi mereka menikah (lagi) dengan calon suaminya, apabila telah terjalin kecocokan di antara mereka dengan cara yang baik. Itulah yang dinasihatkan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman kepada Allah dan hari Akhir. Itu lebih suci bagimu dan lebih bersih. Dan Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” [Al-Baqarah : 232]&lt;br /&gt;Ayat di atas memiliki asbaabun nuzul (sebab turunnya ayat), yaitu satu riwayat berikut ini. Tentang firman Allah: “Maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka,” al-Hasan al-Bashri &lt;span style="font-size:78%;"&gt;rahimahullaah&lt;/span&gt; berkata, Telah menceritakan kepadaku Ma’qil bin Yasar, sesungguhnya ayat ini turun berkenaan dengan dirinya. Ia berkata:&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;“Aku pernah menikahkan saudara perempuanku dengan seorang laki-laki, kemudian laki-laki itu menceraikannya. Sehingga ketika masa ‘iddahnya telah berlalu, laki-laki itu (mantan suami) datang untuk meminangnya kembali. Aku katakan kepadanya, ‘Aku telah menikahkan dan mengawinkanmu (dengannya) dan aku pun memuliakanmu, lalu engkau menceraikannya. Sekarang engkau datang untuk meminangnya?! Tidak! Demi Allah, dia tidak boleh kembali kepadamu selamanya! Sedangkan ia adalah laki-laki yang baik, dan wanita itu pun menghendaki rujuk (kembali) padanya. Maka Allah menurunkan ayat ini: ‘Maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka.’ Maka aku berkata, ‘Sekarang aku akan melakukannya (mewalikan dan menikahkannya) wahai Rasulullah.’” Kemudian Ma‘qil menikahkan saudara perempuannya kepada laki-laki itu.[6]&lt;br /&gt;Hadits Ma’qil bin Yasar ini adalah hadits yang shahih lagi mulia. Hadits ini merupakan sekuat-kuat hujjah dan dalil tentang disyaratkannya wali dalam akad nikah. Artinya, tidak sah nikah tanpa wali, baik gadis maupun janda. Dalam hadits ini, Ma’qil bin Yasar yang berkedudukan sebagai wali telah menghalangi pernikahan antara saudara perempuannya yang akan ruju’ dengan mantan suaminya, padahal keduanya sudah sama-sama ridha. Lalu Allah Ta’ala menurunkan ayat yang mulia ini (yaitu &lt;/span&gt;surat&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51);font-size:10;" &gt; al-Baqarah ayat 232) agar para wali jangan menghalangi pernikahan mereka. Jika wali bukan syarat, bisa saja keduanya menikah, baik dihalangi atau pun tidak. Kesimpulannya, wali sebagai syarat sahnya nikah.&lt;br /&gt;Al-Hafizh Ibnu Hajar &lt;span style="font-size:78%;"&gt;rahimahullaah&lt;/span&gt; berkata, “&lt;/span&gt;Para&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51);font-size:10;" &gt; ulama berselisih tentang disyaratkannya wali dalam pernikahan. Jumhur berpendapat demikian. Mereka berpendapat bahwa pada prinsipnya wanita tidak dapat menikahkan dirinya sendiri. Mereka berdalil dengan hadits-hadits yang telah disebutkan di atas tentang perwalian. Jika tidak, niscaya penolakannya (untuk menikahkan wanita yang berada di bawah perwaliannya) tidak ada artinya. Seandainya wanita tadi mempunyai hak menikahkan dirinya, niscaya ia tidak membutuhkan saudara laki-lakinya. Ibnu Mundzir menyebutkan bahwa tidak ada seorang Shahabat pun yang menyelisihi hal itu.” [7]&lt;br /&gt;Imam asy-Syafi’i &lt;span style="font-size:78%;"&gt;rahimahullaah&lt;/span&gt; berkata, “Siapa pun wanita yang menikah tanpa izin walinya, maka tidak ada nikah baginya (tidak sah). Karena Nabi &lt;span style="font-size:78%;"&gt;shallallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt; bersabda, ‘Maka nikahnya bathil (tidak sah).’”[8]&lt;br /&gt;Imam Ibnu Hazm &lt;span style="font-size:78%;"&gt;rahimahullaah&lt;/span&gt; berkata, “Tidak halal bagi wanita untuk menikah, baik janda maupun gadis, melainkan dengan izin walinya: ayahnya, saudara laki-lakinya, kakeknya, pamannya, atau anak laki-laki pamannya...” [9]&lt;br /&gt;Imam Ibnu Qudamah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;rahimahullaah&lt;/span&gt; berkata, “Nikah tidak sah kecuali dengan wali. Wanita tidak berhak menikahkan dirinya sendiri, tidak pula selain (wali)nya. Juga tidak boleh mewakilkan kepada selain walinya untuk menikahkannya. Jika ia melakukannya, maka nikahnya tidak sah. Menurut Abu Hanifah, wanita boleh melakukannya. Akan tetapi kita memiliki dalil bahwa Nabi &lt;span style="font-size:78%;"&gt;shallallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt; bersabda,&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;“Pernikahan tidak sah, melainkan dengan adanya wali.”&lt;br /&gt;• Keharusan Meminta Persetujuan Wanita Sebelum Pernikahan&lt;br /&gt;Apabila pernikahan tidak sah, kecuali dengan adanya wali, maka merupakan kewajiban juga meminta persetujuan dari wanita yang berada di bawah perwaliannya. Apabila wanita tersebut seorang janda, maka diminta persetujuannya (pendapatnya). Sedangkan jika wanita tersebut seorang gadis, maka diminta juga ijinnya dan diamnya merupakan tanda ia setuju.&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;radhiyallaahu ‘anhu&lt;/span&gt; bahwa Nabi &lt;span style="font-size:78%;"&gt;shallallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt; bersabda:&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;“Seorang janda tidak boleh dinikahkan kecuali setelah diminta perintahnya. Sedangkan seorang gadis tidak boleh dinikahkan kecuali setelah diminta ijinnya.” Para Shahabat berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah ijinnya?” Beliau menjawab, “Jika ia diam saja.” [11]&lt;br /&gt;Dari Ibnu ‘Abbas &lt;span style="font-size:78%;"&gt;radhiyallaahu ‘anhuma&lt;/span&gt; bahwasanya ada seorang gadis yang mendatangi Rasulullah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;shallallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt; dan mengadu bahwa ayahnya telah menikahkannya, sedangkan ia tidak ridha. Maka Rasulullah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;shallallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt; menyerahkan pilihan kepadanya (apakah ia ingin meneruskan pernikahannya, ataukah ia ingin membatalkannya). [12]&lt;br /&gt;• Mahar&lt;br /&gt;“Dan berikanlah mahar (maskawin) kepada perempuan yang kamu nikahi sebagai pemberian yang penuh kerelaan.” [An-Nisaa’ : 4]&lt;br /&gt;Mahar adalah sesuatu yang diberikan kepada isteri berupa harta atau selainnya dengan sebab pernikahan.&lt;br /&gt;Mahar (atau diistilahkan dengan mas kawin) adalah hak seorang wanita yang harus dibayar oleh laki-laki yang akan menikahinya. Mahar merupakan milik seorang isteri dan tidak boleh seorang pun mengambilnya, baik ayah maupun yang lainnya, kecuali dengan keridhaannya.&lt;br /&gt;Syari’at Islam yang mulia melarang bermahal-mahal dalam menentukan mahar, bahkan dianjurkan untuk meringankan mahar agar mempermudah proses pernikahan.&lt;br /&gt;Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Nabi &lt;span style="font-size:78%;"&gt;shallallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt; pernah bersabda:&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;“Di antara kebaikan wanita adalah mudah meminangnya, mudah maharnya dan mudah rahimnya.” [13]&lt;br /&gt;‘Urwah berkata, “Yaitu mudah rahimnya untuk melahirkan.”&lt;br /&gt;‘Uqbah bin ‘Amir &lt;span style="font-size:78%;"&gt;radhiyallaahu ‘anhu&lt;/span&gt; berkata, “Rasulullah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;shallallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt; bersabda:&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;‘Sebaik-baik pernikahan ialah yang paling mudah.’” [14]&lt;br /&gt;Seandainya seseorang tidak memiliki sesuatu untuk membayar mahar, maka ia boleh membayar mahar dengan mengajarkan ayat Al-Qur’an yang dihafalnya. [15]&lt;br /&gt;• Khutbah Nikah&lt;br /&gt;Menurut Sunnah, sebelum dilangsungkan akad nikah diadakan khutbah terlebih dahulu, yang dinamakan Khutbatun Nikah atau Khutbatul Hajat. [16] Adapun teks Khutbah Nikah adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;Segala puji hanya bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya, kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.&lt;br /&gt;Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad &lt;span style="font-size:78%;"&gt;shallallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt; adalah hamba dan Rasul-Nya.&lt;br /&gt;“Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” [Ali ‘Imran : 102]&lt;br /&gt;"Wahai manusia! Bertaqwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)nya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertaqwalah kepada Allah yang dengan Nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguh-nya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.” [An-Nisaa' : 1]&lt;br /&gt;"Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, nis-caya Allah akan memperbaiki amal-amalmu dan meng-ampuni dosa-dosamu. Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia menang dengan kemenangan yang besar.” [Al-Ahzaab : 70-71]&lt;br /&gt;Amma ba’du: [17]&lt;br /&gt;[Disalin dari buku Bingkisan Istimewa Menuju Keluarga Sakinah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Putaka A-Taqwa Bogor - Jawa Barat, Cet Ke II Dzul Qa'dah 1427H/Desember 2006]&lt;br /&gt;__________&lt;br /&gt;Foote Note&lt;br /&gt;[1]. Al-Mughni (IX/129-134), cet. Darul Hadits.&lt;br /&gt;[2]. Fathul Baari (IX/187).&lt;br /&gt;[3]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2083), at-Tirmidzi (no. 1102), Ibnu Majah (no. 1879), Ahmad (VI/47, 165), ad-Darimi (II/137), Ibnul Jarud (no. 700), Ibnu Hibban no. 1248-al-Mawaarid), al-Hakim (II/168) dan al-Baihaqi (VII/105) dan lainnya, dari ‘Aisyah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;radhiyallaahu ‘anha&lt;/span&gt;. Hadits ini dishahihkan Syaikh al-Albani dalam kitabnya Irwaa-ul Ghaliil (no. 1840), Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 1524) dan Shahiih Sunan at-Tirmidzi (no. 880).&lt;br /&gt;[4]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2085), at-Tirmidzi (no. 1101), Ibnu Majah (no. 1879), Ahmad (IV/394, 413), ad-Darimi (II/137), Ibnu Hibban (no. 1243 al-Mawaarid), al-Hakim (II/170, 171) dan al-Baihaqi (VII/107) dari Shahabat Abu Musa al-Asy’ari &lt;span style="font-size:78%;"&gt;radhiyallaahu ‘anhu&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;[5]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq (VI/196, no. 10473), ath-Thabrani dalam Mu’jamul Kabir (XVIII/142, no. 299) dan al-Baihaqi (VII/125), dari Shahabat ‘Imran bin Hushain. Hadits ini dishahihkan Syaikh al-Albani rahimahullaah dalam Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (no. 7557). Hadits-hadits tentang syarat sahnya nikah wajib adanya wali adalah hadits-hadits yang shahih. Tentang takhrijnya dapat dilihat dalam kitab Irwaa-ul Ghaliil fii Takhriij Ahaadiits Manaris Sabil (VI/235-251, 258-261, no. 1839, 1840, 1844, 1845, 1858, 1860).&lt;br /&gt;[6]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (5130), Abu Dawud (2089), at-Tirmidzi (2981), dan lainnya, dari Shahabat Ma’qil bin Yasar&lt;span style="font-size:78%;"&gt; radhiyallaahu ‘anhu&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;[7]. Fathul Baari (IX/187).&lt;br /&gt;[8]. Al-Umm (VI/35), cet. III/Darul Wafaa’, tahqiq Dr. Rif’at ‘Abdul Muththalib, th. 1425 H.&lt;br /&gt;[9]. l-Muhalla (IX/451).&lt;br /&gt;[10]. Dinukil secara ringkas dari kitab al-Mughni (IX/119), cet. Darul Hadits-Kairo, th. 1425 H, tahqiq Dr. Muhammad Syarafuddin dan Dr. As-Sayyid Muhammad as-Sayyid.&lt;br /&gt;[11]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 5136), Muslim (no. 1419), Abu Dawud (no. 2092), at-Tirmidzi (no. 1107), Ibnu Majah (no. 1871) dan an-Nasa-i (VI/86).&lt;br /&gt;[12]. Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2096), Ibnu Majah (no. 1875). Lihat Shahih Ibni Majah (no. 1520) dan al-Wajiiz (hal. 280-281).&lt;br /&gt;[13]. Hadits hasan: Diriwayatkan oleh Ahmad (VI/77, 91), Ibnu Hibban (no. 1256 al-Mawaarid) dan al-Hakim (II/181). Hadits ini dihasankan oleh Syaikh al-Albani &lt;span style="font-size:78%;"&gt;rahimahullaah&lt;/span&gt; dalam Irwaa-ul Ghaliil (VI/350).&lt;br /&gt;[14]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2117), Ibnu Hibban (no. 1262 al-Mawaarid) dan ath-Thabrani dalam Mu’jamul Ausath (I/221, no. 724), dari ‘Uqbah bin ‘Amir &lt;span style="font-size:78%;"&gt;radhiyallaahu ‘anhu&lt;/span&gt;. Dishahihkan Syaikh al-Albani &lt;span style="font-size:78%;"&gt;rahimahullaah&lt;/span&gt; dalam Shahiihul Jaami’ (no. 3300).&lt;br /&gt;[15]. Berdasarkan hadits yang diriwauyatkan oleh al-Bukhari (no. 5087) dan Muslim (no. 1425).&lt;br /&gt;[16]. Lihat kitab Khutbatul Haajah oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, cet. Maktabah al-Ma’arif, th. 1421 H, dan Syarah Khutbah Haajah oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, takhrij wa ta’liq Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, cet. Daarul Adh-ha, th. 1409 H.&lt;br /&gt;नबी &lt;span style="font-size:78%;"&gt;shallallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt; untuk mengawali setiap majelisnya. Beliau &lt;span style="font-size:78%;"&gt;shallallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt; juga mengajarkan khutbah ini kepada para Shahabatnya &lt;span style="font-size:78%;"&gt;radhiyallaahu ‘anhum&lt;/span&gt;. Khutbah ini diriwayatkan dari enam Shahabat Nabi &lt;span style="font-size:78%;"&gt;shallallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt;. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad (I/392-393), Abu Dawud (no. 1097 dan 2118), an-Nasa-i (III/104-105), at-Tirmidzi (no. 1105), Ibnu Majah (no. 1892), al-Hakim (II/182-183), ath-Thayalisi (no. 336), Abu Ya’la (no. 5211), ad-Darimi (II/142) dan al-Baihaqi (III/214 dan VII/146), dari Sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud &lt;span style="font-size:78%;"&gt;radhiyallaahu ‘anhu&lt;/span&gt;. Hadits ini shahih.&lt;br /&gt;Hadits ini ada beberapa syawahid (penguat) dari beberapa Shahabat, yaitu:&lt;br /&gt;1. Shahabat Abu Musa al-Asy’ari (Majma’uz Zawaa-id IV/288).&lt;br /&gt;2. Shahabat ‘Abdullah bin ‘Abbas (Muslim no. 868, al-Baihaqi III/214).&lt;br /&gt;3. Shahabat Jabir bin ‘Abdillah (Ahmad II/37, Muslim no. 867 dan al-Baihaqi III/214).&lt;br /&gt;4. Shahabat Nubaith bin Syarith (al-Baihaqi III/215).&lt;br /&gt;5. Ummul Mukminin ‘Aisyah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;radhiyallaahu ‘anha&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;Lihat Khutbatul Haajah Allatii Kaana Rasuulullaah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;shallallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt; Yu’allimuhaa Ash-haabahu, karya Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani &lt;span style="font-size:78%;"&gt;rahimahullaah&lt;/span&gt;, cet. IV/ al-Maktab al-Islami, th. 1400 H dan cet. I/ Maktabah al-Ma’arif, th. 1421 H.&lt;br /&gt;Di setiap khutbahnya, Rasulullah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;shallallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt; selalu memulai dengan memuji dan menyanjung Allah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Ta’ala&lt;/span&gt; serta ber-tasyahhud (mengucapkan dua kalimat syahadat) sebagaimana yang diriwayatkan oleh para Shahabat:&lt;br /&gt;1. Dari Asma’ binti Abu Bakar &lt;span style="font-size:78%;"&gt;radhiyallaahu ‘anha&lt;/span&gt;, ia berkata: “... Nabi &lt;span style="font-size:78%;"&gt;shallallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt; memuji Allah dan menyanjung-Nya, kemudian beliau bersabda: Amma ba’du....” (HR. Al-Bukhari, no. 86, 184 dan 922)&lt;br /&gt;2. ‘Amr bin Taghlib, dengan lafazh yang sama dengan hadits Asma’. (HR. Al-Bukhari, no. 923)&lt;br /&gt;3. ‘Aisyah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;radhiyallaahu ‘anha&lt;/span&gt; berkata: “...Tatkala selesai shalat Shubuh Nabi &lt;span style="font-size:78%;"&gt;shallallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt; menghadap kepada para Shahabat, beliau bertasyahhud (mengucapkan kalimat syahadat) kemudian bersabda: Amma ba’du...” (HR. Al-Bukhari, no. 924)&lt;br /&gt;4. Abu Humaid as-Sa’idi berkata: “Bahwasanya Rasulullah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;shallallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt; berdiri khutbah pada waktu petang sesudah shalat (‘Ashar), lalu beliau bertasyahhud dan menyanjung serta memuji Allah yang memang hanya Dia-lah yang berhak mendapatkan sanjungan dan pujian, kemudian bersabda: Amma ba’du...” (HR. Al-Bukhari no. 925).&lt;br /&gt;Nabi &lt;span style="font-size:78%;"&gt;shallallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt; bersabda:&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;“Setiap khutbah yang tidak dimulai dengan tasyahhud, maka khutbah itu seperti tangan yang berpenyakit lepra/kusta.” (HR. Abu Dawud no. 4841; Ahmad II/ 302, 343; Ibnu Hibban, no. 1994-al-Mawaarid; dan selainnya. Lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah no. 169).&lt;br /&gt;Menurut Syaikh al-Albani, yang dimaksud dengan tasyahhud di hadits ini adalah khutbatul haajah yang diajarkan oleh Rasulullah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;shallallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt; kepada para Shahabat &lt;span style="font-size:78%;"&gt;radhiyallaahu ‘anhum&lt;/span&gt;, yaitu: “Innalhamdalillaah...” (Hadits Ibnu Mas’ud).&lt;br /&gt;Kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;rahimahullaah&lt;/span&gt;: “Khutbah ini adalah Sunnah, dilakukan ketika mengajarkan Al-Qur-an, As-Sunnah, fiqih, menasihati orang dan semacamnya.... Sesungguhnya hadits Ibnu Mas’ud &lt;span style="font-size:78%;"&gt;radhiyallaahu ‘anhu&lt;/span&gt;, tidak mengkhususkan untuk khutbah nikah saja, tetapi khutbah ini pada setiap ada keperluan untuk berbicara kepada hamba-hamba Allah, sebagian kepada se-bagian yang lainnya...” (Majmuu’ Fataawaa Syaikhil Islaam Ibni Taimiyyah, XVIII/286-287)&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani &lt;span style="font-size:78%;"&gt;rahimahullaah&lt;/span&gt; berkata, “...Sesungguhnya khutbah ini dibaca sebagai pembuka setiap khutbah, apakah khutbah nikah, atau khutbah Jum’at, atau yang lainnya (seperti ceramah, mengajar dan yang lainnya-pent.), tidak khusus untuk khutbah nikah saja, sebagaimana disangka oleh sebagian orang...” (Khutbatul Hajah (hal. 36), cet. I/ Maktabah al-Ma’arif).&lt;br /&gt;Kemudian beliau melanjutkan: “Khutbatul haajah ini hukumnya sunnah bukan wajib, dan saya membawakan hal ini untuk menghidupkan Sunnah Nabi &lt;span style="font-size:78%;"&gt;shallallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt; yang ditinggalkan oleh kaum Muslimin dan tidak dipraktekkan oleh para khatib, penceramah, guru, pengajar dan selain mereka. Mereka harus berusaha untuk menghafalnya dan mempraktekkannya ketika memulai khutbah, ceramah, makalah, atau pun mengajar. Semoga Allah merealisasikan tujuan mereka.” (Khutbatul Haajah (hal. 40) cet. I/ Maktabah al-Ma’arif, dan an-Nashiihah (hal. 81-82) cet. I/ Daar Ibnu ‘Affan/th. 1420 H.)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;    &lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Ditulis oleh : &lt;/span&gt;&lt;a style="font-family: trebuchet ms;" href="http://assalaf.blog.m3-access.com/posts/user_4456_Mr-Adi.html"&gt;Mr. Adi&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; pukul : &lt;/span&gt;&lt;strong style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;a href="http://assalaf.blog.m3-access.com/posts/38436_Tata-Tata-Cara-Pernikahan-Dalam-Islam-AQAD-NIKAH.html"&gt;16.38&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1674769897518819067-7143448415916161218?l=abuazi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuazi.blogspot.com/feeds/7143448415916161218/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1674769897518819067&amp;postID=7143448415916161218' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1674769897518819067/posts/default/7143448415916161218'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1674769897518819067/posts/default/7143448415916161218'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuazi.blogspot.com/2008/03/tata-tata-cara-pernikahan-dalam-islam.html' title='Tata Cara Pernikahan Dalam Islam: AQAD NIKAH'/><author><name>TABUNGAN 'AMAL SHALIH (T'AS)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05674433416570835606</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1674769897518819067.post-7210306245906386035</id><published>2008-03-27T06:28:00.002+07:00</published><updated>2008-03-27T06:38:19.633+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Munakahat'/><title type='text'>Tata Cara Pernikahan Dalam Islam : Khitbah (Peminangan)</title><content type='html'>&lt;h3 style="text-align: center; font-family: trebuchet ms;"&gt;Tata Cara Pernikahan Dalam Islam : Khitbah (Peminangan)&lt;/h3&gt;    &lt;div style="font-family: trebuchet ms;" class="post-detail"&gt;     &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; color: rgb(51, 51, 51);"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; color: rgb(51, 51, 51);"&gt;Islam telah memberikan konsep yang jelas tentang tata cara pernikahan berlandaskan Al-Qur'an dan As-Sunnah yang shahih sesuai dengan pemahaman para Salafush Shalih, di antaranya adalah:&lt;br /&gt;1. Khitbah (Peminangan)&lt;br /&gt;Seorang laki-laki muslim yang akan menikahi seorang muslimah, hendaklah ia meminang terlebih dahulu karena dimungkinkan ia sedang dipinang oleh orang lain. Dalam hal ini Islam melarang seorang laki-laki muslim meminang wanita yang sedang dipinang oleh orang lain. Rasulullah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;shallallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt; bersabda:&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;“Nabi &lt;span style="font-size:78%;"&gt;shallallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt; melarang seseorang membeli barang yang sedang ditawar (untuk dibeli) oleh saudaranya, dan melarang seseorang meminang wanita yang telah dipinang sampai orang yang meminangnya itu meninggalkannya atau mengizinkannya.” [1]&lt;br /&gt;Disunnahkan melihat wajah wanita yang akan dipinang dan boleh melihat apa-apa yang dapat mendorongnya untuk menikahi wanita itu.&lt;br /&gt;Rasulullah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;shallallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt; bersabda:&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;“Apabila seseorang di antara kalian ingin meminang seorang wanita, jika ia bisa melihat apa-apa yang dapat mendorongnya untuk menikahinya maka lakukanlah!” [2]&lt;br /&gt;Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallaahu ‘anhu pernah meminang seorang wanita, maka Nabi &lt;span style="font-size:78%;"&gt;shallallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt; berkata kepadanya:&lt;br /&gt;“Lihatlah wanita tersebut, sebab hal itu lebih patut untuk melanggengkan (cinta kasih) antara kalian berdua.” [3]&lt;br /&gt;Imam at-Tirmidzi &lt;span style="font-size:78%;"&gt;rahimahullaah&lt;/span&gt; berkata, “Sebagian ahli ilmu berpendapat dengan hadits ini bahwa menurut mereka tidak mengapa melihat wanita yang dipinang selagi tidak melihat apa yang diharamkan darinya.”&lt;br /&gt;Tentang melihat wanita yang dipinang, telah terjadi ikhtilaf di kalangan para ulama, ikhtilafnya berkaitan tentang bagian mana saja yang boleh dilihat. &lt;/span&gt;Ada&lt;span style="font-size: 10pt; color: rgb(51, 51, 51);"&gt; yang berpendapat boleh melihat selain muka dan kedua telapak tangan, yaitu melihat rambut, betis dan lainnya, berdasarkan sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, “Melihat apa yang mendorongnya untuk menikahinya.” Akan tetapi yang disepakati oleh para ulama adalah melihat muka dan kedua tangannya. Wallaahu a’lam. [4]&lt;br /&gt;Ketika Laki-Laki Shalih Datang Untuk Meminang&lt;br /&gt;Apabila seorang laki-laki yang shalih dianjurkan untuk mencari wanita muslimah ideal -sebagaimana yang telah kami sebutkan-maka demikian pula dengan wali kaum wanita. Wali wanita pun berkewajiban mencari laki-laki shalih yang akan dinikahkan dengan anaknya. Dari Abu Hatim al-Muzani &lt;span style="font-size:78%;"&gt;radhiyallaahu ‘anhu&lt;/span&gt;, ia berkata, “Rasulullah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;shallallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt; bersabda,&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;“Jika datang kepada kalian seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia (dengan anak kalian). Jika tidak, maka akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang besar.’” [5]&lt;br /&gt;Boleh juga seorang wali menawarkan puteri atau saudara perempuannya kepada orang-orang yang shalih.&lt;br /&gt;Sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar, ia berkata, “Bahwasanya tatkala Hafshah binti ‘Umar ditinggal mati oleh suaminya yang bernama Khunais bin Hudzafah as-Sahmi, ia adalah salah seorang Shahabat Nabi yang meninggal di Madinah. ‘Umar bin al-Khaththab berkata, ‘Aku mendatangi ‘Utsman bin ‘Affan untuk menawarkan Hafshah, maka ia berkata, ‘Akan aku pertimbangkan dahulu.’ Setelah beberapa hari kemudian ‘Utsman mendatangiku dan berkata, ‘Aku telah memutuskan untuk tidak menikah saat ini.’’ ‘Umar melanjutkan, ‘Kemudian aku menemui Abu Bakar ash-Shiddiq dan berkata, ‘Jika engkau mau, aku akan nikahkan Hafshah binti ‘Umar denganmu.’ Akan tetapi Abu Bakar diam dan tidak berkomentar apa pun. Saat itu aku lebih kecewa terhadap Abu Bakar daripada kepada ‘Utsman.&lt;br /&gt;Maka berlalulah beberapa hari hingga Rasulullah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;shallallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt; meminangnya. Maka, aku nikahkan puteriku dengan Rasulullah. Kemudian Abu Bakar menemuiku dan berkata, ‘Apakah engkau marah kepadaku tatkala engkau menawarkan Hafshah, akan tetapi aku tidak berkomentar apa pun?’ ‘Umar menjawab, ‘Ya.’ Abu Bakar berkata, ‘Sesungguhnya tidak ada sesuatu yang menghalangiku untuk menerima tawaranmu, kecuali aku mengetahui bahwa Rasulullah telah menyebut-nyebutnya (Hafshah). Aku tidak ingin menyebarkan rahasia Rasulullah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;shallallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt;. Jika beliau meninggalkannya, niscaya aku akan menerima tawaranmu.’” [6]&lt;br /&gt;Shalat Istikharah&lt;br /&gt;Apabila seorang laki-laki telah nazhar (melihat) wanita yang dipinang serta wanita pun sudah melihat laki-laki yang meminangnya dan tekad telah bulat untuk menikah, maka hendaklah masing-masing dari keduanya untuk melakukan shalat istikharah dan berdo’a seusai shalat. Yaitu memohon kepada Allah agar memberi taufiq dan kecocokan, serta memohon kepada-Nya agar diberikan pilihan yang baik baginya. [7] Hal ini berdasarkan hadits dari Jabir bin ‘Abdillah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;radhiyallaahu ‘anhu&lt;/span&gt;, ia berkata, “Rasulullah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;shallallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt; mengajari kami shalat Istikharah untuk memutuskan segala sesuatu sebagaimana mengajari &lt;/span&gt;surat&lt;span style="font-size: 10pt; color: rgb(51, 51, 51);"&gt; Al-Qur'an.” Beliau &lt;span style="font-size:78%;"&gt;shallallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt; bersabda, “Apabila seseorang di antara kalian mempunyai rencana untuk mengerjakan sesuatu, hendaknya melakukan shalat sunnah (Istikharah) dua raka’at, kemudian membaca do’a:&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;“Ya Allah, sesungguhnya aku meminta pilihan yang tepat kepada-Mu dengan ilmu-Mu dan aku memohon kekuatan kepada-Mu (untuk mengatasi persoalanku) dengan ke-Mahakuasaan-Mu. Aku mohon kepada-Mu sesuatu dari anugerah-Mu yang Mahaagung, sungguh Engkau Mahakuasa sedang aku tidak kuasa, Engkau Maha Mengetahui sedang aku tidak mengetahui dan Engkaulah yang Maha Mengetahui yang ghaib. Ya Allah, apabila Engkau mengetahui bahwa urusan ini (orang yang mempunyai hajat hendaknya menyebut persoalannya) lebih baik dalam agamaku, penghidupanku, dan akibatnya terhadap diriku (atau Nabi &lt;span style="font-size:78%;"&gt;shallallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt; bersabda, ‘..di dunia atau akhirat) takdirkan (tetapkan)lah untukku, mudahkanlah jalannya, kemudian berilah berkah atasnya. Akan tetapi, apabila Engkau mengetahui bahwa persoalan ini membawa keburukan bagiku dalam agamaku, penghidupanku, dan akibatnya kepada diriku (atau Nabi &lt;span style="font-size:78%;"&gt;shallallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt; bersabda, ‘...di dunia atau akhirat’) maka singkirkanlah persoalan tersebut, dan jauhkanlah aku darinya, dan takdirkan (tetapkan)lah kebaikan untukku di mana saja kebaikan itu berada, kemudian berikanlah keridhaan-Mu kepadaku.’” [8]&lt;br /&gt;Dari Anas bin Malik &lt;span style="font-size:78%;"&gt;radhiyallaahu ‘anhu&lt;/span&gt;, ia berkata, “Tatkala masa ‘iddah Zainab binti Jahsy sudah selesai, Rasulullah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;shallallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt; berkata kepada Zaid, ‘Sampaikanlah kepadanya bahwa aku akan meminangnya.’ Zaid berkata, ‘Lalu aku pergi mendatangi Zainab lalu aku berkata, ‘Wahai Zainab, bergembiralah karena Rasulullah mengutusku bahwa beliau akan meminangmu.’’ Zainab berkata, ‘Aku tidak akan melakukan sesuatu hingga aku meminta pilihan yang baik kepada Allah.’ Lalu Zainab pergi ke masjidnya. [9] Lalu turunlah ayat Al-Qur'an [10] dan Rasulullah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;shallallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt; datang dan langsung masuk menemuinya.” [11]&lt;br /&gt;Imam an-Nasa’i &lt;span style="font-size:78%;"&gt;rahimahullaah&lt;/span&gt; memberikan bab terhadap hadits ini dengan judul Shalaatul Marhidza Khuthibat wastikhaaratuha Rabbaha (Seorang Wanita Shalat Istikharah ketika Dipinang).”&lt;br /&gt;Fawaaid (Faedah-Faedah) Yang Berkaitan Dengan Istikharah:&lt;br /&gt;1. Shalat Istikharah hukumnya sunnah.&lt;br /&gt;2. Do’a Istikharah dapat dilakukan setelah shalat Tahiyyatul Masjid, shalat sunnah Rawatib, shalat Dhuha, atau shalat malam.&lt;br /&gt;3. Shalat Istikharah dilakukan untuk meminta ditetapkannya pilihan kepada calon yang baik, bukan untuk memutuskan jadi atau tidaknya menikah. Karena, asal dari pernikahan adalah dianjurkan.&lt;br /&gt;4. Hendaknya ikhlas dan ittiba’ dalam berdo’a Istikharah.&lt;br /&gt;5. Tidak ada hadits yang shahih jika sudah shalat Istikharah akan ada mimpi, dan lainnya. [12]&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari buku Bingkisan Istimewa Menuju Keluarga Sakinah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Putaka A-Taqwa Bogor - Jawa Barat, Cet Ke II Dzul Qa'dah 1427H/Desember 2006]&lt;br /&gt;__________&lt;br /&gt;Foote Note&lt;br /&gt;[1]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 5142) dan Muslim (no. 1412), dari Shahabat Ibnu ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma. Lafazh ini milik al-Bukhari.&lt;br /&gt;[2]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Ahmad (III/334, 360), Abu Dawud (no. 2082) dan al-Hakim (II/165), dari Shahabat Jabir bin ‘Abdillah radhiyallaahu ‘anhuma.&lt;br /&gt;[3]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 1087), an-Nasa-i (VI/69-70), ad-Darimi (II/134) dan lainnya. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani &lt;span style="font-size:78%;"&gt;rahimahullaah&lt;/span&gt; dalam Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 1511).&lt;br /&gt;[4]. Lihat pembahasan masalah ini dalam Syarhus Sunnah (IX/17) oleh Imam al-Baghawi, Syarh Muslim (IX/210) oleh Imam an-Nawawi, Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah (I/97-208, no. 95-98) oleh Syaikh al-Albani, al-Mausuu’ah al-Fiqhiyyah al-Muyassarah (V/34-36) oleh Syaikh Husain bin ‘Audah al-‘Awayisyah dan Fiqhun Nazhar (hal. 82-89).&lt;br /&gt;[5]. Hadits hasan lighairihi: Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 1085). Lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 1022).&lt;br /&gt;[6]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 5122) dan an-Nasa-i (VI/77-78). Lihat Shahiih Sunan an-Nasa-i (no. 3047).&lt;br /&gt;[7]. Al-Insyiraah fii Aadabin Nikaah (hal. 22-23) oleh Syaikh Abu Ishaq al-Khuwaini, Jaami’ Ahkaamin Nisaa'(III/216) oleh Musthafa al-‘Adawi dan Adabul Khithbah waz Zifaaf fis Sunnah al-Muthahharah (hal. 21-22) oleh ‘Amr ‘Abdul Mun’im Salim.&lt;br /&gt;[8]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 1162), Abu Dawud (no. 1538), at-Tirmidzi (no. 480), an-Nasa-i (VI/80), Ibnu Majah (no. 1383), Ahmad (III/334), al-Baihaqi (III/52) dari Shahabat Jabir bin ‘Abdillah radhiyallaahu ‘anhuma.&lt;br /&gt;[9]. Yaitu mushalla tempat shalat di rumahnya.&lt;br /&gt;[10]. Yaitu surat al-Ahzaab ayat 37. Allah telah menikahkan &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt; dengan Zainab binti Jahsyi melalui ayat ini.&lt;br /&gt;[11]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 1428 (89)), an-Nasa-i (VI/79), dari Shahabat Anas radhiyallaahu ‘anhu.&lt;br /&gt;[12]. Jaami’ Ahkaamin Nisaa' (III/218-222).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-size:85%;" &gt;Ditulis oleh : &lt;a href="http://assalaf.blog.m3-access.com/posts/user_4456_Mr-Adi.html"&gt;Mr. Adi&lt;/a&gt; pukul : &lt;strong&gt;&lt;a href="http://assalaf.blog.m3-access.com/posts/38425_Tata-Cara-Pernikahan-Dalam-Islam-Khitbah-Peminangan.html"&gt;11.35&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1674769897518819067-7210306245906386035?l=abuazi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuazi.blogspot.com/feeds/7210306245906386035/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1674769897518819067&amp;postID=7210306245906386035' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1674769897518819067/posts/default/7210306245906386035'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1674769897518819067/posts/default/7210306245906386035'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuazi.blogspot.com/2008/03/tata-cara-pernikahan-dalam-islam.html' title='Tata Cara Pernikahan Dalam Islam : Khitbah (Peminangan)'/><author><name>TABUNGAN 'AMAL SHALIH (T'AS)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05674433416570835606</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1674769897518819067.post-5820979664610640477</id><published>2008-03-25T08:38:00.002+07:00</published><updated>2008-03-25T08:42:31.851+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Muslimah Sholihah'/><title type='text'>Kedudukan Wanita Dalam Islam (2)</title><content type='html'>&lt;h3 style="text-align: center;"&gt;Kedudukan Wanita Dalam Islam (2)&lt;/h3&gt;    &lt;div class="post-detail"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;9). Sesungguhnya kemampuan laki-laki untuk menurunkan keturunan (produktifitas) lebih besar daripada kemampuan wanita. Laki-laki dapat menurunkan anak hingga usia enam puluhan, bahkan kadang sampai pada usia seratus ia tetap masih segar dan mampu menurunkan anak.&lt;br /&gt;Sedangkan kemampuan wanita rata-rata berhenti sampai usia empat puluhan atau lebih sedikit. Maka, mencegah poligami adalah perbuatan menghalangi ummat dari mempunyai keturunan.&lt;br /&gt;10). Di dalam pernikahan dengan isteri kedua terdapat tenggang waktu bagi isteri pertama. Isteri mempunyai peluang waktu untuk sedikit beristirahat dari beban-beban tugas melayani suami, karena telah ada orang yang membantunya dan mengambil sebagian tugas melaksanakan beban melayani suami.&lt;br /&gt;Maka dari itu, ada sebagian wanita-wanita yang berakal, apabila telah memasuki usia lanjut dan kurang mampu memberikan yang terbaik untuk suaminya mereka memberi isyarat agar suaminya menikah lagi.&lt;br /&gt;11). Mencari pahala. Adakalanya seseorang menikah lagi dengan wanita miskin yang tidak mempunyai penanggung beban hidupnya, ia menikahinya dengan maksud untuk menyelamatkan kesucian dan memberikan perlindungan kepadanya, dengan harapan mendapat pahala dari Allah.&lt;br /&gt;12). Sesungguhnya yang memperbolehkan berpoligami itu adalah Allah yang sudah barang tentu lebih mengetahui mashlahat-mashlahat hamba-hamba-Nya lagi lebih belas kasih terhadap mereka daripada mereka terhadap diri sendiri.&lt;br /&gt;Dengan demikian jelaslah bagi kita hikmah Islam dan universalitas pandangannya di dalam memperbolehkan poligami dan sekaligus menjadi jelas pula kebodohan orang-orang yang mencela ajaran-ajaran Islam.&lt;br /&gt;Di antara penghargaan Islam kepada para wanita muslimah, bahwasanya Islam menetapkan bagian khusus bagi wanita dari harta warisan. Maka seorang ibu mendapat bagian tertentu, isteri, puteri, dan saudara perempuan pun masing-masing mendapat bagian tertentu, sebagaimana dijelaskan dalam kitab yang membahasnya.&lt;br /&gt;Adalah merupakan kesempurnaan keadilan bahwasanya Islam menetapkan bagian untuk wanita adalah separuh dari bagian laki-laki dari harta warisan. Barangkali ada sebagian orang-orang yang picik akalnya mengira bahwa pembagian tersebut merupakan kezhaliman (tidak adil), dengan mengatakan, “Bagaimana bagian anak laki-laki sama dengan bagian dua anak perempuan dari harta warisan? Kenapa bagian anak perempuan setengah dari bagian anak laki-laki?”&lt;br /&gt;Jawabnya adalah: Bahwa sesungguhnya yang memberikan ketetapan demikian itu adalah Allah Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui tentang maslahat-maslahat para hamba-Nya.&lt;br /&gt;Kemudian di mana letak kezhalimannya?! Sungguh, sistem (hukum) Islam itu integral dan saling berkaitan. Maka bukan bagian dari keadilan bila hanya mengambil satu sistem atau satu ketetapan hukum (tasyri’) lalu memandangnya dari satu sudut tanpa mengaitkannya dengan bagian lainnya, akan tetapi seharusnya melihatnya dari berbagai sudut sehingga gambaran menjadi jelas dan keputusan menjadi lurus.&lt;br /&gt;Hal yang menampakkan keadilan Islam di dalam masalah ini adalah bahwasanya Islam menjadikan nafkah isteri itu sebagai kewajiban suami dan demikian pula halnya mahar untuk isteri adalah kewajiban suami pula.&lt;br /&gt;Sebagai contoh, kalau kiranya ada seseorang meninggal dunia dan meninggalkan seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan. Maka anak laki-laki mendapat dua kali lipat bagian saudara perempuannya (2 banding 1), lalu masing-masing menikah. Pada saat menikah, anak laki-laki itu harus membayar mahar, menyediakan tempat tinggal, memberikan nafkah kepada isteri dan anak-anaknya sepanjang hayatnya.&lt;br /&gt;Sedangkan saudara perempuan akan mendapat mahar dari suaminya dan tidak dituntut untuk memberikan sedikit pun dari harta miliknya untuk diserahkan kepada suami, atau menafkahi urusan rumah tangganya, atau pun kepada anak-anaknya. Maka, dengan demikian saudara perempuan dapat meng-himpun bagian dari harta warisan dari ayahnya dengan mahar yang ia peroleh dari suami, dan bersamaan dengan itu ia tidak dituntut untuk menafkahi diri dan anak-anaknya.&lt;br /&gt;Jika demikian, tidaklah adil jika laki-laki mendapat bagian yang sama dengan anak perempuan.&lt;br /&gt;Inilah kedudukan, harkat dan martabat wanita dalam Islam; lalu di mana nilai dan derajat sistem-sistem buatan yang ada di muka bumi dibanding sistem-sistem Islam yang samawi lagi adil. Sistem-sistem buatan yang ada di muka bumi ini tidak memperhatikan harkat dan martabat kaum wanita, di mana seorang ayah melepaskan diri dari anak perempuannya ketika mencapai usia delapan belas tahun atau kurang, agar sang putri keluar dengan nasib tiada menentu mencari tempat tinggal dan sesuap nasi untuk memenuhi rasa laparnya, yang terkadang hal itu sampai mengorbankan dan menjual kehormatan diri dan kemuliaan akhlak.&lt;br /&gt;Bandingkanlah penghargaan Islam terhadap wanita yang telah menjadikannya sebagai manusia yang mulia dari pada sistem-sistem yang memandang wanita sebagai sumber kejahatan dan dosa, sistem yang telah merampas hak-haknya di dalam kepemilikan dan tanggung jawab dan menjadikan wanita hidup berlumur kehinaan dan kenistaan serta menganggapnya sebagai makhluk najis?! Dan mana bandingan penghargaan Islam kepada wanita daripada orang-orang yang menjadikan wanita sebagai barang dagangan yang memperjualbelikan jasadnya di dalam berbagai promosi bisnis dan iklan?!&lt;br /&gt;Mana bandingan penghargaan Islam kepada wanita daripada sistem-sistem yang menganggap perkawinan sebagai transaksi jual-beli di mana isteri berpindah supaya menjadi salah satu dari harta kekayaan suami? Hingga sebagian pertemuan mereka yang diselenggarakan untuk mengkaji hakikat dan ruh wanita, apakah ia termasuk manusia atau bukan?&lt;br /&gt;Demikianlah kita melihat bahwa wanita muslimah merasakan kebahagiaan di dunianya bersama keluarga, di bawah asuhan kedua orang tuanya, di bawah perlindungan suaminya dan balas budi anak-anaknya, apakah itu ketika ia di masa anak-anak, remaja atau di masa lanjut usia, dan di dalam kondisi fakir maupun kaya dan sehat maupun sakit.&lt;br /&gt;Kalau terdapat kejanggalan dalam hak-hak wanita yang terdapat di sebagian negeri kaum muslimin, atau dari sebagian orang-orang yang menisbatkan diri kepada Islam, maka semua itu terjadi karena keteledoran dan kebodohan mereka serta karena jauh dari penerapan ajaran Islam. Kesalahan dan dosa ditanggung oleh orang yang bersalah, sedangkan Islam bersih dan bebas dari tanggung jawab kesalahan tersebut.&lt;br /&gt;Penanggulangan kesalahan tersebut hanya dapat dilakukan dengan kembali kepada petunjuk ajaran Islam, supaya kesalahan dapat terbenahi.&lt;br /&gt;Inilah kedudukan, harkat dan martabat wanita di dalam Islam secara singkat; kesucian diri, perlindungan, kasih sayang, cinta dan perhatian serta berbagai macam nilai-nilai luhur lainnya.&lt;br /&gt;Adapun peradaban sekarang hampir tidak mengenal sedikit pun dari nilai-nilai luhur tersebut, ia hanya memandang wanita dengan pandangan materialis murni. Peradaban modern memandang bahwasanya hijab wanita dan kesucian dirinya sebagai ketertinggalan dan keterbelakangan, dan bahwasanya wanita harus menjadi boneka yang dapat dipermainkan oleh setiap laki-laki ‘mata keranjang’, dan itulah rahasia kebahagiaan menurut mereka.&lt;br /&gt;Mereka tidak menyadari bahwasanya tabarruj dan telanjangnya kaum wanita adalah sebab dari kesengsaraan dan siksaannya.&lt;br /&gt;Karena jika tidak, lalu apa hubungan kemajuan dan pengajaran dengan tabarruj, penampakan anggota-anggota badan wanita yang penuh dengan fitnah, porno, pamer kecantikan, buka dada, paha dan hal yang lebih dahsyat dari itu?!&lt;br /&gt;Apakah memakai pakaian transparan, tembus pandang dan pendek itu bagian dari alat-alat peraga pendidikan dan pengajaran??!&lt;br /&gt;Kemudian, kemuliaan yang mana ketika foto-foto wanita-wanita cantik ditampilkan dalam iklan-iklan, pornografi dan berbagai promosi??!&lt;br /&gt;Kenapa yang laris di kalangan mereka hanya wanita-wanita cantik saja? Lalu apabila kecantikan dan keindahannya itu sudah sirna mereka diabaikan dan dicampakkan bagaikan barang yang sudah kadaluwarsa!?&lt;br /&gt;Lalu apa bagian-bagian wanita yang kurang cantik dari peradaban modern ini?! Apa bagian untuk ibu yang lanjut usia, nenek dan wanita-wanita jompo?!&lt;br /&gt;Sesungguhnya bagian mereka yang paling baik (menurut peradaban modern) adalah ditempatkan di tempat-tempat penampungan dari panti-panti jompo di mana mereka di sana tidak dikunjungi dan tidak juga ditanya tentang keadaannya.&lt;br /&gt;Memang ada di antaranya yang mendapat gaji pensiunan atau yang serupa dengannya yang mereka habiskan hingga tutup usia, tetapi di sana tidak ada hubungan silaturahim, tidak ada kerabat dekat, tidak pula teman setia.&lt;br /&gt;Adapun wanita di dalam Islam, semakin lanjut usia mereka semakin dihormati, semakin besar pula hak mereka dan semakin berlomba-lomba anak-anak dan kerabat dekatnya untuk berbuat yang terbaik kepada mereka -sebagaimana dikemukakan di atas- karena mereka telah selesai melakukan tugasnya, dan yang tersisa adalah kewajiban anak-anak, cucu, keluarga dan masyarakat terhadap mereka.&lt;br /&gt;Sedangkan tuduhan dan anggapan bahwa hijab dan menjaga kesucian diri itu sebagai tanda ketertinggalan dan keterbelakangan adalah tuduhan dan anggapan bathil lagi palsu. Sesungguhnya tabarruj dan pamer kecantikan itulah sebenarnya kesengsaraan dan adzab, dan itulah keterbelakangan yang sebenarnya.&lt;br /&gt;Bila pembaca ingin dalilnya bahwa tabarruj dan pamer kecantikan adalah keterbelakangan, maka perhatikanlah dekadensi moral manusia yang tampak pada orang-orang hina bugil yang serba telanjang, mereka yang hidup di berbagai kenistaan yang mirip dengan keadaan hewan. Maka sesungguhnya mereka tidak berjalan menuju tangga-tangga kebudayaan dan peradaban kecuali sesudah mengenakan pakaian.&lt;br /&gt;Orang yang memperhatikan dan mengikuti kondisi mereka di dalam kemajuannya dapat melihat bahwa sesungguhnya setiap kali mereka meraih suatu kemajuan di dalam peradaban, semakin bertambah pula prosentase wanita-wanita telanjang, sebagaimana yang tampak bahwasanya peradaban barat sedang berada di jalan menuju kehancurannya, mundur ke belakang selangkah demi selangkah, hingga berakhir pada telanjang bulat, di kota-kota orang-orang telanjang semakin luas sesudah perang dunia pertama. Kemudian penyakit itu makin dan bertambah serius di tahun-tahun terakhir ini.&lt;br /&gt;Demikianlah menjadi lebih jelas bagi kita betapa keagungan kedudukan, harkat dan martabat wanita di dalam Islam adalah mulia dan terhormat.&lt;br /&gt;[Disalin dari buku Bingkisan Istimewa Menuju Keluarga Sakinah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Putaka A-Taqwa Bogor - Jawa Barat, Cet Ke II Dzul Qa'dah 1427H/Desember 2006]&lt;br /&gt;_________&lt;span style="font-size:78%;"&gt;_&lt;br /&gt;Foote Note&lt;br /&gt;[1]. Dinukil dari ath-Thariiq ilal Islaam oleh Muhammad bin Ibrahim al-Hamd, cet. I/Darul Wathan.&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;    &lt;/div&gt;    Ditulis oleh : &lt;a href="http://assalaf.blog.m3-access.com/posts/user_4456_Mr-Adi.html"&gt;Mr. Adi&lt;/a&gt; pukul : &lt;strong&gt;&lt;a href="http://assalaf.blog.m3-access.com/posts/47411_Kedudukan-Wanita-Dalam-Islam-2.html"&gt;09.09&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;,&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1674769897518819067-5820979664610640477?l=abuazi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuazi.blogspot.com/feeds/5820979664610640477/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1674769897518819067&amp;postID=5820979664610640477' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1674769897518819067/posts/default/5820979664610640477'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1674769897518819067/posts/default/5820979664610640477'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuazi.blogspot.com/2008/03/kedudukan-wanita-dalam-islam-2.html' title='Kedudukan Wanita Dalam Islam (2)'/><author><name>TABUNGAN 'AMAL SHALIH (T'AS)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05674433416570835606</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1674769897518819067.post-2790858131318479843</id><published>2008-03-25T08:23:00.004+07:00</published><updated>2008-03-25T08:37:22.622+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Muslimah Sholihah'/><title type='text'>Kedudukan Wanita Dalam Islam (1)</title><content type='html'>&lt;h3 style="text-align: center;"&gt;Kedudukan Wanita Dalam Islam (1)&lt;/h3&gt;    &lt;div style="text-align: justify;" class="post-detail"&gt;     &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;   Penulis membahas masalah ini, karena orang-orang yang tidak senang kepada Islam dan orang-orang bodoh menganggap bahwa Islam merendahkan martabat wanita. Hal ini berkaitan dengan dianjurkannya wanita berada di rumah, wajibnya mereka memakai jilbab, wajibnya mereka melayani suami, diterimanya persaksian dua orang wanita sedangkan laki-laki cukup seorang saja, hak waris wanita separuh dari hak laki-laki, atau ketidak-senangan mereka hanya disebabkan Islam membolehkan seorang laki-laki ta’addud (poligami/ beristeri lebih dari satu). Padahal dengan dibolehkannya poligami jutru mengangkat martabat wanita. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;    Bagaimana pun, seorang wanita yang bersuami lebih baik daripada wanita yang hidup sebagai perawan tua, hidup menjanda, atau bahkan bergelimang dengan dosa lagi menghinakan diri dengan hidup melacur. Bahkan, ada wanita yang jahat dan zhalim mengatakan kepada suaminya, “Lebih baik engkau berzina/melacur daripada aku dimadu.” Na’udzu billaahi min dzalik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;    Dalam Islam, seorang laki-laki jutru lebih baik dan mulia jika ia menikah lagi (berpoligami) daripada ia berzina/melacur. Karena zina adalah perbuatan keji dan sejelek-jelek jalan. Allah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Ta’ala&lt;/span&gt; berfirman:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;“Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.” [Al-Israa' : 32]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;  &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Sedangkan keberadaan pelacuran dan wanita tuna susila (pelacur) justru merendahkan dan melecehkan martabat wanita, juga sebagai bentuk penghinaan kepada wanita serta menjerumuskan mereka ke Neraka.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;  &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Di muka bumi ini tidak ada agama yang sangat memperhatikan dan mengangkat martabat kaum wanita selain Islam. Islam memuliakan wanita dari sejak ia dilahirkan hingga ia meninggal dunia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;  &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Islam benar-benar telah mengangkat harkat dan martabat kaum wanita dan memuliakannya dengan kemuliaan yang belum pernah dilakukan oleh agama lain. Wanita dalam Islam merupakan saudara kembar laki-laki; sebaik-baik mereka adalah yang terbaik bagi keluarganya. Wanita muslimah pada masa bayinya mempunyai hak disusui, mendapatkan perhatian dan sebaik-baik pendidikan dan pada waktu yang sama ia merupakan curahan kebahagiaan dan buah hati bagi kedua ibu dan bapaknya serta saudara laki-lakinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;  &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Apabila wanita telah memasuki usia remaja, ia dimuliakan dan dihormati. Walinya cemburu karenanya, ia meliputinya dengan penuh perhatian, maka ia tidak rela kalau ada tangan jahil menyentuhnya, atau rayuan-rayuan lidah busuk atau lirikan mata (pria) mengganggunya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;  &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Dan apabila ia menikah, maka hal itu dilaksanakan dengan kalimatullah dan perjanjian yang kokoh. Maka ia tinggal di rumah suami dengan pendamping setia dan kehormatan yang terpelihara, suami berkewajiban menghargai dan berbuat baik (ihsan) kepadanya dan tidak menyakiti fisik maupun perasaannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Apabila ia telah menjadi seorang ibu, maka (perintah) berbakti kepadanya dinyatakan berbarengan dengan hak Allah, kedurhakaan dan perlakuan buruk terhadapnya selalu diungkapkan berbarengan dengan kesyirikan kepada Allah dan perbuatan kerusakan di muka bumi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;  &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Apabila ia adalah sebagai saudara perempuan, maka dia adalah orang yang diperintahkan kepada saudaranya untuk dijalin hubungan silaturrahim, dimuliakan dan dilindungi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Apabila ia sebagai bibi, maka kedudukannya sederajat dengan ibu kandung di dalam mendapatkan perlakuan baik silaturrahim.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;    &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Apabila ia sebagai nenek atau lanjut usianya, maka kedudukan dan nilainya bertambah tinggi di mata anak-anak, cucu-cucunya dan seluruh kerabat dekatnya. Maka permintaannya hampir tidak pernah ditolak dan pendapatnya tidak diremehkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;   &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Apabila ia jauh dari orang lain, jauh dari kerabat atau pendampingnya maka dia memiliki hak-hak Islam yang umum, seperti menahan diri dari perbuatan buruk terhadapnya, menahan pandangan mata darinya dan lain-lain.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;  &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Masyarakat Islam masih tetap memelihara hak-hak tersebut dengan sebaik-baiknya sehingga wanita benar-benar memiliki nilai dan kedudukan yang tidak akan ditemukan di dalam masyarakat non muslim.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;  &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Lebih dari itu, wanita di dalam Islam memiliki hak kepemilikan, penyewaan, jual beli, dan segala bentuk transaksi, dan juga mempunyai hak untuk belajar dan mengajar selagi tidak bertentangan dengan agamanya. Bahkan di antara ilmu syar’i itu ada yang bersifat fardhu ‘ain -berdosa bila diabaikan- baik oleh laki-laki atau pun wanita.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;  &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Dia juga memiliki hak-hak yang sama dengan kaum laki-laki, kecuali beberapa hak dan hukum yang memang khusus bagi kaum wanita, atau beberapa hak dan hukum yang khusus bagi kaum laki-laki yang layak bagi masing-masing jenis sebagaimana dijelaskan secara rinci di dalam bahasan-bahasannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Di antara penghargaan Islam kepada wanita adalah bahwasanya Islam memerintahkan kepadanya hal-hal yang dapat memelihara, menjaga kehormatannya dan melindunginya dari lisan-lisan murahan, pandangan mata pengkhianat dan tangantangan jahat. Maka dari itu, Islam memerintahkan kepadanya berhijab dan menutup aurat, menghindari perbuatan tabarruj (berhias diri untuk umum), menjauh dari perbauran dengan laki-laki yang bukan mahramnya dan dari setiap hal yang dapat menyeret kepada fitnah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;  &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Termasuk penghargaan Islam kepada wanita adalah bahwasanya Islam memerintahkan kepada suami agar menafkahinya, mempergaulinya dengan baik, menghindari perbuatan zhalim dan tindakan menyakiti fisik atau perasaannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;   &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Bahkan termasuk dari keindahan ajaran Islam bahwasanya Islam memperbolehkan bagi kedua suami-isteri untuk berpisah (bercerai) bila tidak ada kesepakatan dan tidak dapat hidup bahagia bersamanya. Maka, suami boleh menceraikannya setelah gagal melakukan berbagai upaya ishlah (damai), dan di saat kehidupan keduanya menjadi bagaikan api Neraka yang tidak dapat dipertahankan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;   &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Dan Islam memperbolehkan isteri meninggalkan suaminya jika suami melakukan penganiayaan terhadap dirinya, memperlakukannya dengan buruk. Maka dalam keadaan seperti itu isteri boleh meninggalkannya dengan syarat membayar ganti rugi yang disepakati bersama suami, atau melakukan kesepakatan bersama atas hal tertentu untuk kemudian isteri bisa meninggalkannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Termasuk penghargaan Islam kepada wanita adalah bahwasanya laki-laki diperbolehkan berpoligami, yaitu nikah lebih dari satu isteri. Laki-laki boleh menikah dengan dua, tiga atau empat isteri dan tidak boleh lebih dari itu, dengan syarat berlaku adil dalam memberikan nafkah sandang, pangan, dan tempat tinggal di antara mereka; dan kalau suami cukup menikah dengan satu isteri saja, maka itu adalah haknya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;   &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Itu semua, sesungguhnya berpoligami itu mempunyai hikmah yang sangat besar dan banyak maslahatnya yang tidak diketahui oleh orang-orang yang menjelek-jelekkan Islam, sementara mereka bodoh tidak mengerti hikmah di balik pensyari’atan ajaran-ajarannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;  &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Di antara hal-hal yang mendukung hikmah di balik diperbolehkannya berpoligami adalah sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;  &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;1). Sesungguhnya Islam melarang perzinaan dan sangat keras dalam mengharamkannya, karena perzinaan dapat menimbulkan kerusakan-kerusakan fatal yang tidak terhitung jumlahnya, di antaranya adalah: kaburnya masalah keturunan (nasab), membunuh sifat malu, menodai dan menghapus kemuliaan dan kehormatan wanita; karena zina akan meliputinya dengan kehinaan yang tiada batasnya, bahkan kehinaan dan noda akan menimpa keluarga dan kerabat dekatnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;   &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Di antara bahaya zina adalah bahwasanya zina merupakan tindakan pelecehan terhadap janin yang diperoleh dari hasil perzinaan, karena ia akan hidup dengan nasab yang terputus.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;   &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Termasuk bahaya zina: berbagai penyakit mental dan jasmani yang timbul sebagai akibat dari perbuatan terkutuk itu, yang sulit ditanggulangi, bahkan kadang sampai mengancam jiwa pezina, seperti Sipilis, Gonorheo, Aids dan lain sebagainya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;   &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Ketika Islam mengharamkan zina dan dengan keras mengharamkannya, ia juga membuka lebar pintu yang sah (masyru’) dimana seseorang dapat merasakan ketentraman, kedamaian, dan keleluasaan, yaitu nikah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;   &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Jadi Islam mengajarkan nikah dan memperbolehkan poligami sebagaimana disinggung di atas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;   &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Tidak diragukan lagi bahwasanya melarang poligami adalah tindakan kezhaliman terhadap laki-laki dan wanita. Melarang poligami akan membuka lebar pintu perzinahan, karena kuantitas (jumlah) kaum wanita lebih besar daripada kuantitas kaum pria di setiap masa dan tempat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;  &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Hal itu akan lebih jelas lagi pada masa seringnya terjadi peperangan. Maka, membatasi laki-laki menikah dengan satu isteri dapat berakibat pada adanya jumlah besar dari kaum wanita yang hidup tanpa suami yang pada gilirannya akan menyebabkan kesulitan, kesempitan, dan ketidakpastian bagi mereka, bahkan kadang bisa menjerumuskan ke dalam lembah penjualan kehormatan dan kesucian diri, tersebarnya perzinahan dan kesia-siaan anak keturunan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;  &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;2). Sesungguhnya nikah itu bukan kenikmatan jasadi (fisik) semata, akan tetapi dibalik itu terdapat ketentraman dan kedamaian jiwa, di samping kenikmatan mempunyai anak. Dan anak di dalam Islam tidak seperti anak dalam sistem-sistem kehidupan buatan lainnya, karena kedua ibu bapaknya mempunyai hak atas anak. Apabila seorang wanita dikarunia beberapa anak, lalu ia dididik dengan sebaik-baiknya, maka mereka menjadi buah hati dan penghibur baginya. Maka pilihan mana yang terbaik bagi wanita; hidup di bawah lindungan suami yang melindungi, mendampingi dan memperhatikannya serta dikaruniai anak-anak yang apabila dididik dengan baik akan menjadi buah dan penghibur hati baginya, atau memilih hidup sebatang kara dengan nasib tiada menentu lagi terpontang-panting kesana-kemari?!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;   &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;3). Sesungguhnya pandangan Islam adalah pandangan yang adil lagi seimbang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Islam memandang kepada wanita secara keseluruhan dengan adil, dan pandangan yang adil itu mengatakan bahwa sesungguhnya memandang kepada wanita secara keseluruhan dengan mata keadilan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;   &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Bila begitu, lalu apa dosa wanita-wanita ‘awanis (membujang hingga lewat usia nikah) yang tidak punya suami? Kenapa tidak dilihat dengan mata yang penuh kasih sayang kepada wanita menjanda karena ditinggal mati suaminya, sedangkan ia masih pada usia produktif? Kenapa tidak melihat dan memperhatikan kepada wanita yang sangat banyak jumlahnya yang hidup tanpa suami?!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;  &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Yang mana yang lebih baik bagi wanita: Hidup dengan senang di bawah lindungan suami bersama wanita (isteri, madu) yang lain, sehingga dengan begitu ia merasakan kedamaian dan ketentraman jiwa, ia temukan orang yang memperhatikannya dan mendapat karunia anak karenanya, ataukah hidup seorang diri tanpa suami sama sekali??!!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;    &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Mana yang lebih baik bagi masyarakat: Adanya sebagian kaum pria yang berpoligami hingga masyarakat terhindar dari beban gadis-gadis tua, atau tidak seorang pun berpoligami sehingga mengakibatkan masyarakat berlumur dengan berbagai kehancuran dan kerusakan??!!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;    &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Mana yang lebih baik: Seseorang mempunyai dua, tiga atau empat isteri? Atau cukup dengan satu isteri saja dengan puluhan wanita simpanan di balik itu semua?!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;   &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;4). Berpoligami itu tidak wajib hukumnya. Maka dari itu banyak laki-laki muslim yang tidak melakukan poligami karena merasa puas dengan satu isteri, dan karena ia merasa tidak akan dapat berlaku adil (bila berpoligami). Oleh karena itu, ia tidak perlu berpoligami.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;   &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;5). Sesungguhnya tabi’at dan naluri kaum wanita itu sangat berbeda dengan tabi’at dan naluri kaum pria; hal itu bila dilihat dari sudut kesiapannya untuk digauli. Wanita tidak selalu siap untuk digauli pada setiap waktu, karena wanita harus melalui masa haidh hingga sampai sepuluh hari atau dua pekan pada setiap bulannya yang menjadi penghalang untuk digauli.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;    &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Pada masa nifas (setelah melahirkan) juga ada penghalang hingga biasanya mencapai 40 hari. Melakukan hubungan suami-isteri (hubungan intim) pada kedua masa tersebut dilarang secara syar’i, karena banyak mengandung resiko yang membahayakan yang sudah tidak diragukan lagi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;  &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Pada masa kehamilan, kesiapan wanita untuk dicampuri suaminya kadang melemah. Dan demikian selanjutnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;   &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Sedangkan kaum laki-laki kesiapannya selalu stabil sepanjang bulan dan tahun (waktu) dan ada sebagian laki-laki yang jika dihalanghalangi untuk berpoligami akan terjerumus ke dalam perzinahan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;   &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;6). Adakalanya sang isteri mandul tidak dapat menurunkan anak sehingga suami tidak dapat menikmati bagaimana punya anak. Daripada ia menceraikan isterinya lebih baik ia menikah lagi dengan wanita lain yang subur.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;   &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Mungkin ada yang bertanya: Apabila suami mandul sedangkan isteri normal, apakah isteri mempunyai hak untuk berpisah?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Jawabnya: Ya, ia berhak untuk itu jika menghendakinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;   &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;7). Adakalanya isteri mengidap penyakit tahunan, seperti lumpuh atau lainnya sehingga tidak mampu untuk melakukan tugas mendampingi suami. Maka, daripada menceraikannya, lebih baik tetap bersamanya dan menikah lagi dengan wanita yang lain.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;  &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;8). Adakalanya tingkah laku isteri buruk. Seperti berperangai jahat, berakhlak buruk (tidak bermoral) tidak menjaga hak-hak suaminya. Daripada menceraikannya lebih baik tetap bersamanya dan menikah dengan wanita yang lain lagi sebagai penghargaan kepada isteri pertama dan menjaga hak-hak keluarganya serta menjaga kemaslahatan anak-anak jika telah punya anak darinya.&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;/div&gt;    Ditulis oleh : &lt;a href="http://assalaf.blog.m3-access.com/posts/user_4456_Mr-Adi.html"&gt;Mr. Adi&lt;/a&gt; pukul : &lt;strong&gt;&lt;a href="http://assalaf.blog.m3-access.com/posts/47330_Kedudukan-Wanita-Dalam-Islam-1.html"&gt;11.40&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1674769897518819067-2790858131318479843?l=abuazi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuazi.blogspot.com/feeds/2790858131318479843/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1674769897518819067&amp;postID=2790858131318479843' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1674769897518819067/posts/default/2790858131318479843'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1674769897518819067/posts/default/2790858131318479843'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuazi.blogspot.com/2008/03/kedudukan-wanita-dalam-islam-1-penulis.html' title='Kedudukan Wanita Dalam Islam (1)'/><author><name>TABUNGAN 'AMAL SHALIH (T'AS)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05674433416570835606</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1674769897518819067.post-249155751736644666</id><published>2008-03-21T14:59:00.002+07:00</published><updated>2008-03-21T15:13:50.946+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Munakahat'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;table border="0" cellpadding="3" cellspacing="2" width="100%"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr style="font-family: trebuchet ms;" align="center"&gt;&lt;td class="judulnaskah"&gt;&lt;b&gt;Hak-Hak Istri dalam Poligami&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;         &lt;tr style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;td&gt;    &lt;table cellpading="0" align="center" cellspacing="0" width="90%"&gt;    &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;span class="smalltype"&gt;Poligami merupakan syariat Islam yang akan berlaku sepanjang zaman hingga hari akhir. Poligami diperbolehkan dengan syarat sang suami memiliki kemampuan untuk adil diantara para istri, sebagaimana pada ayat yang artinya:&lt;br /&gt;“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” &lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;    &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;   &lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;      &lt;tr style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;td&gt;&lt;div align="justify"&gt;Poligami merupakan syariat Islam yang akan berlaku sepanjang zaman hingga hari akhir. Poligami diperbolehkan dengan syarat sang suami memiliki kemampuan untuk adil diantara para istri, sebagaimana pada ayat yang artinya:&lt;br /&gt;“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.”&lt;br /&gt;Berlaku adil dalam bermuamalah dengan istri-istrinya, yaitu dengan memberikan kepada masing-masing istri hak-haknya. Adil disini lawan dari curang, yaitu memberikan kepada seseorang kekurangan hak yang dipunyainya dan mengambil dari yang lain kelebihan hak yang dimilikinya. Jadi adil dapat diartikan persamaan. Berdasarkan hal ini maka adil antar para istri adalah menyamakan hak yang ada pada para istri dalam perkara-perkara yang memungkinkan untuk disamakan di dalamnya.&lt;br /&gt;Adil adalah memberikan sesuatu kepada seseorang sesuai dengan haknya. &lt;br /&gt;Apa saja hak seorang istri di dalam poligami? &lt;br /&gt;Diantara hak setiap istri dalam poligami adalah sebagai berikut: &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;A. Memiliki rumah sendiri&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;Setiap istri memiliki hak untuk mempunyai rumah sendiri. Allah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Subhanahu wa Ta'ala&lt;/span&gt; berfirman dalam surat Al Ahzab ayat 33, yang artinya, “Menetaplah kalian (wahai istri-istri Nabi) di rumah-rumah kalian.” Dalam ayat ini Allah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;'Azza wa Jalla&lt;/span&gt; menyebutkan rumah Nabi &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Shallallahu 'Alaihi wa Sallam&lt;/span&gt; dalam bentuk jamak, sehingga dapat dipahami bahwa rumah beliau tidak hanya satu.&lt;br /&gt;Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari, Aisyah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Radhiyallahu 'Anha&lt;/span&gt; menceritakan bahwa ketika Nabi &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Shallallahu 'Alaihi wa Sallam&lt;/span&gt; sakit menjelang wafatnya, beliau &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Shallallahu 'Alaihi waSallam&lt;/span&gt; bertanya, “Dimana aku besok? Di rumah siapa?’ Beliau &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Shallallahu 'Alaihi waSallam&lt;/span&gt; menginginkan di tempat Aisyah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Radhiyallahu 'Anha&lt;/span&gt;, oleh karena itu istri-istri beliau mengizinkan beliau untuk dirawat di mana saja beliau menginginkannya, maka beliau dirawat di rumah Aisyah sampai beliau wafat di sisi Aisyah. Beliau &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Shallallahu 'Alaihi waSallam&lt;/span&gt; meninggal di hari giliran Aisyah. Allah mencabut ruh beliau dalam keadaan kepada beliau bersandar di dada Aisyah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Radhiyallahu 'Anha&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;Ibnu Qudamah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;rahimahullah&lt;/span&gt; menjelaskan dalam kitab Al Mughni bahwasanya tidak pantas seorang suami mengumpulkan dua orang istri dalam satu rumah tanpa ridha dari keduanya. Hal ini dikarenakan dapat menjadikan penyebab kecemburuan dan permusuhan di antara keduanya. Masing-masing istri dimungkinkan untuk mendengar desahan suami yang sedang menggauli istrinya, atau bahkan melihatnya. Namun jika para istri ridha apabila mereka dikumpulkan dalam satu rumah, maka tidaklah mereka. Bahkan jika keduanya ridha jika suami mereka tidur diantara kedua istrinya dalam satu selimut tidak mengapa. Namun seorang suami tidaklah boleh menggauli istri yang satu di hadapan istri yang lainnya meskipun ada keridhaan diantara keduanya.&lt;br /&gt;Tidak boleh mengumpulkan para istri dalam satu rumah kecuali dengan ridha mereka juga merupakan pendapat dari Imam Qurthubi di dalam tafsirnya dan Imam Nawawi dalam Al Majmu Syarh Muhadzdzab.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;B. Menyamakan para istri dalam masalah giliran&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;Setiap istri harus mendapat jatah giliran yang sama. Imam Muslim meriwayatkan hadits yang artinya Anas bin Malik menyatakan bahwa Nabi &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Shallallahu 'Alaihi waSallam&lt;/span&gt; memiliki 9 istri. Kebiasaan beliau &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Shallallahu 'Alaihi waSallam&lt;/span&gt; bila menggilir istri-istrinya, beliau mengunjungi semua istrinya dan baru behenti (berakhir) di rumah istri yang mendapat giliran saat itu.&lt;br /&gt;Ketika dalam bepergian, jika seorang suami akan mengajak salah seorang istrinya, maka dilakukan undian untuk menentukan siapa yang akan ikut serta dalam perjalanan. Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Aisyah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Radhiyallahu 'Anha&lt;/span&gt; menyatakan bahwa apabila Nabi &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Shallallahu 'Alaihi wa Sallam&lt;/span&gt; hendak safar, beliau mengundi di antara para istrinya, siapa yang akan beliau &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Shallallahu 'Alaihi wa Sallam&lt;/span&gt; sertakan dalam safarnya. Beliau &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Shallallahu 'Alaihi wa Sallam&lt;/span&gt; biasa menggilir setiap istrinya pada hari dan malamnya, kecuali Saudah bintu Zam’ah karena jatahnya telah diberikan kepada Aisyah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Radhiyallahu 'Anha&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;Imam Ibnul Qoyyim menjelaskan bahwa seorang suami diperbolehkan untuk masuk ke rumah semua istrinya pada hari giliran salah seorang dari mereka, namun suami tidak boleh menggauli istri yang bukan waktu gilirannya.&lt;br /&gt;Seorang istri yang sedang sakit maupun haid tetap mendapat jatah giliran sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Shallallahu 'Alaihi wa Sallam&lt;/span&gt; sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, bahwa Aisyah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Radhiyallahu 'Anha&lt;/span&gt; menyatakan bahwa jika Rasulullah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Shallallahu 'Alaihi wa Sallam&lt;/span&gt; ingin bermesraan dengan istrinya namun saat itu istri Rasulullah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Shallallahu 'Alaihi wa Sallam&lt;/span&gt; sedang haid, beliau memerintahkan untuk menutupi bagian sekitar kemaluannya.&lt;br /&gt;Syaikh Abdurrahman Nashir As Sa’dy &lt;span style="font-size:78%;"&gt;rahimahullah&lt;/span&gt;, ulama besar dari Saudi Arabia, pernah ditanya apakah seorang istri yang haid atau nifas berhak mendapat pembagian giliran atau tidak. Beliau &lt;span style="font-size:78%;"&gt;rahimahullah&lt;/span&gt; menyatakan bahwa pendapat yang benar adalah bagi istri yang haid berhak mendapat giliran dan bagi istri yang sedang nifas tidak berhak mendapat giliran. Karena itulah yang berlaku dalam adat kebiasaan dan kebanyakan wanita di saat nifas sangat senang bila tidak mendapat giliran dari suaminya.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;C. Tidak boleh keluar dari rumah istri yang mendapat giliran menuju rumah yang lain  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Seorang suami tidak boleh keluar untuk menuju rumah istri yang lain yang bukan gilirannya pada malam hari kecuali keadaan darurat. Larangan ini disimpulkan dari hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim yang menceritakan bahwa ketika Rasulullah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Shallallahu 'Alaihi wa Sallam&lt;/span&gt; di rumah Aisyah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Radhiyallahu 'Anha&lt;/span&gt;, tidak lama setelah beliau berbaring, beliau bangkit dan keluar rumah menuju kuburan Baqi sebagaimana diperintahkan oleh Jibril &lt;span style="font-size:78%;"&gt;alaihi wa sallam&lt;/span&gt;. Aisyah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Radhiyallahu 'Anha&lt;/span&gt; kemudian mengikuti beliau karena menduga bahwa Rasulullah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Shallallahu 'Alaihi wa Sallam&lt;/span&gt; akan pergi ke rumah istri yang lain. Ketika Rasulullah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Shallallahu 'Alaihi wa Sallam&lt;/span&gt; pulang dan mendapatkan Aisyah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Radhiyallahu 'Anha&lt;/span&gt; dalam keadaan terengah-engah, beliau &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Shallallahu 'Alaihi wa Sallam&lt;/span&gt; bertanya kepada Aisyah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Radhiyallahu 'Anha&lt;/span&gt;, “Apakah Engkau menyangka Allah dan Rasul-Nya akan berbuat tidak adil kepadamu?”&lt;br /&gt;Imam Ibnu Qudamah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Rahimahullah&lt;/span&gt; menyatakan tidak dibolehkannya masuk rumah istri yang lain di malam hari kecuali darurat, misalnya si istri sedang sakit. Jika suami menginap di rumah istri yang bukan gilirannya tersebut, maka dia harus mengganti hak istri yang gilirannya diambil malam itu. Apabila tidak menginap, maka tidak perlu menggantinya.&lt;br /&gt;Syaikh Abdurrahman Nashir As Sa’dy &lt;span style="font-size:78%;"&gt;rahimahullah&lt;/span&gt; pernah ditanya tentang hukum menginap di rumah salah satu dari istrinya yang tidak pada waktu gilirannya.&lt;br /&gt;Beliau &lt;span style="font-size:78%;"&gt;rahimahullah&lt;/span&gt; menjawab bahwa dalam hal tersebut dikembalikan kepada ‘urf, yaitu kebiasaan yang dianggap wajar oleh daerah setempat. Jika mendatangi salah satu istri tidak pada waktu gilirannya, baik waktu siang atau malam tidak dianggap suatu kezaliman dan ketidakadilan, maka hal tersebut tidak apa-apa. Dalam hal tersebut, urf sebagai penentu karena masalah tersebut tidak ada dalilnya.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;D. Batasan Malam Pertama Setelah Pernikahan  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Imam Bukhari meriwayatkan dari Anas &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Radhiyallahu 'Anhu&lt;/span&gt; bahwa termasuk sunnah bila seseorang menikah dengan gadis, suami menginap selama tujuh hari, jika menikah dengan janda, ia menginap selama tiga hari. Setelah itu barulah ia menggilir istri-istri yang lain.&lt;br /&gt;Dalam hadits riwayat Muslim disebutkan bahwa Ummu Salamah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Radhiyallahu 'Anha&lt;/span&gt; mengkhabarkan bahwa ketika Nabi &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Shallallahu 'Alaihi wa Sallam&lt;/span&gt; menikahinya, beliau menginap bersamanya selama tiga hari dan beliau bersabda kepada Ummu Salamah, “Hal ini aku lakukan bukan sebagai penghinaan kepada keluargamu. Bila memang engkau mau, aku akan menginap bersamamu selama tujuh hari, namun aku pun akan menggilir istri-istriku yang lain selama tujuh hari.”&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;E. Wajib menyamakan nafkah  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Setiap istri memiliki hak untuk mempunyai rumah sendiri-sendiri, hal ini berkonsekuensi bahwa mereka makan sendiri-sendiri, namun bila istri-istri tersebut ingin berkumpul untuk makan bersama dengan keridhaan mereka maka tidak apa-apa.&lt;br /&gt;Ibnu Taimiyah menyatakan bahwa bersikap adil dalam nafkah dan pakaian menurut pendapat yang kuat, merupakan suatu kewajiban bagi seorang suami.&lt;br /&gt;Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Anas bin Malik &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Radhiyallahu 'Anhu&lt;/span&gt; mengabarkan bahwa Ummu Sulaim mengutusnya menemui Rasulullah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Shallallahu 'Alaihi wa Sallam&lt;/span&gt; dengan membawa kurma sebagai hadiah untuk beliau &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Shallallahu 'Alaihi wa Sallam&lt;/span&gt;. Kemudian kurma tersebut untuk dibagi-bagikan kepada istri-istri beliau segenggam-segenggam.&lt;br /&gt;Bahkan ada keterangan yang dibawakan oleh Jarir bahwa ada seseorang yang berpoligami menyamakan nafkah untuk istri-istrinya sampai-sampai makanan atau gandum yang tidak bisa ditakar / ditimbang karena terlalu sedikit, beliau tetap membaginya tangan pertangan.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;F. Undian ketika safar&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;Bila seorang suami hendak melakukan safar dan tidak membawa semua istrinya, maka ia harus mengundi untuk menentukan siapa yang akan menyertainya dalam safar tersebut.&lt;br /&gt;Imam Bukhari &lt;span style="font-size:78%;"&gt;rahimahullah&lt;/span&gt; meriwayatkan bahwa kebiasaan Rasulullah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Shallallahu 'Alaihi wa Sallam&lt;/span&gt; bila hendak safar, beliau mengundi di antara para istrinya, siapa yang akan diajak dalam safar tersebut.&lt;br /&gt;Imam Ibnu Qudamah menyatakan bahwa seoarang yang safar dan membawa semua istrinya atau menginggalkan semua istrinya, maka tidak memerlukan undian.&lt;br /&gt;Jika suami membawa lebih dari satu istrinya, maka ia harus menyamakan giliran sebagaimana ia menyamakan diantara mereka ketika tidak dalam keadaan safar.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;G. Tidak wajib menyamakan cinta dan jima’ di antara para istri  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt; Seorang suami tidak dibebankan kewajiban untuk menyamakan cinta dan jima’ di antara para istrinya. Yang wajib bagi dia memberikan giliran kepada istri-istrinya secara adil.&lt;br /&gt;Ayat “Dan kamu sekali-kali tiadak dapat berlaku adil di antara isteri-isteri (mu), walaupun kamu sangat ingin demikian” ditafsirkan oleh Ibnu Katsir rahimahullah bahwa manusia tidak akan sanggup bersikap adil di antara istri-istri dari seluruh segi. Sekalipun pembagian malam demi malam dapat terjadi, akan tetapi tetap saja ada perbedaan dalam rasa cinta, syahwat, dan jima’.&lt;br /&gt;Ayat ini turun pada Aisyah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Radhiyallahu 'Anha&lt;/span&gt;. Nabi &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Shallallahu 'Alaihi wa Sallam&lt;/span&gt; sangat mencintainya melebihi istri-istri yang lain. Beliau &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Shallallahu 'Alaihi wa Sallam&lt;/span&gt; berkata, “Ya Allah inilah pembagianku yang aku mampu, maka janganlah engkaucela aku pada apa yang Engkau miliki dan tidak aku miliki, yaitu hati.”&lt;br /&gt;Muhammad bin Sirrin pernah menanyakan ayat tersebut kepada Ubaidah, dan dijawab bahwa maksud surat An Nisaa’ ayat 29 tersebut dalam masalah cinta dan bersetubuh. Abu Bakar bin Arabiy menyatakan bahwa adil dalam masalah cinta diluar kesanggupan seseorang. Cinta merupakan anugerah dari Allah dan berada dalam tangan-Nya, begitu juga dengan bersetubuh, terkadang bergairah dengan istri yang satu namun terkadang tidak. Hal ini diperbolehkan asal bukan disengaja, sebab berada diluar kemampuan seseorang.&lt;br /&gt;Ibnul Qoyyim &lt;span style="font-size:78%;"&gt;rahimahullah&lt;/span&gt; menyatakan bahwa tidak wajib bagi suami untuk menyamakan cinta diantara istri-istrinya, karena cinta merupakan perkara yang tidak dapat dikuasai. Aisyah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Radhiyallahu 'Anha&lt;/span&gt; merupakan istri yang paling dicintai Rasulullah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Shallallahu 'Alaihi wa Sallam&lt;/span&gt;. Dari sini dapat diambil pemahaman bahwa suami tidak wajib menyamakan para istri dalam masalah jima’ karena jima’ terjadi karena adanya cinta dan kecondongan. Dan perkara cinta berada di tangan Allah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Subhanahu wa Ta'ala&lt;/span&gt;, Zat yang membolak-balikkan hati. Jika seorang suami meninggalkan jima’ karena tidak adanya pendorong ke arah sana, maka suami tersebut dimaafkan. Menurut Imam Ibnu Qudamah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;rahimahullah&lt;/span&gt;, bila dimungkinkan untuk menyamakan dalam masalah jima, maka hal tersebut lebih baik, utama, dan lebih mendekati sikap adil.&lt;br /&gt;Penulis Fiqh Sunnah menyarankan; meskipun demikian, hendaknya seoarang suami memenuhi kebutuhan jima istrinya sesuai kadar kemampuannya.&lt;br /&gt;Imam al Jashshaash &lt;span style="font-size:78%;"&gt;rahimahullah&lt;/span&gt; dalam Ahkam Al Qur’an menyatakan bahwa, “Dijadikan sebagian hak istri adalah menyembunyikan perasaan lebih mencintai salah satu istri terhadap istri yang lain.”&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Saran&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;Seorang suami yang hendak melakukan poligami hendaknya melihat kemampuan pada dirinya sendiri, jangan sampai pahala yang dinginkan ketika melakukan poligami malah berbalik dengan dosa dan kerugian. Dalam sebuah hadits disebutkan (yang artinya) “Barangsiapa yang mempunyai dua istri, lalu ia lebih condong kepada salah satunya dibandingkan dengan yang lain, maka pada hari Kiamat akan datang dalam keadaan salah satu pundaknya lumpuh miring sebelah.” (&lt;span style="font-size:85%;"&gt;HR. Lima&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;Allahu A’lam; Semoga bermanfaat &lt;br /&gt;-------------------------------------------------------------------------------- &lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Referensi: ü Al-Sheikh, Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq, 2003, Tafsir Ibnu Katsir Jilid 2, Pustaka Imam asy-Syafi’i, Bogor ü Al-Wazan, Amin bin Yahya, 2004, “Fatwa-Fatwa tentang Wanita Jilid 2”, Darul Haq, Jakarta ü As Sa’dani , As Sayyid bin Abdul Aziz, 2004, “Istriku Menikahkanku”, Darul Falah, Jakarta ü As Salafiyah , Ummu Salamah, 1425 H, Persembahan Untukmu Duhai Muslimah, , Pustaka Haura, Jogjakarta ü Sabiq, Sayyid, tt, “Fikih Sunnah 6”, cet. Ke-15, PT Al Ma’arif, Bandung ü Tim Konsultan Majalah Nikah, 2004, “Nyerobot Bisa Bikin Repot, “ , Majalah Nikah Vol.3, No.9, Desember 2004, Sukoharjo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1674769897518819067-249155751736644666?l=abuazi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuazi.blogspot.com/feeds/249155751736644666/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1674769897518819067&amp;postID=249155751736644666' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1674769897518819067/posts/default/249155751736644666'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1674769897518819067/posts/default/249155751736644666'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuazi.blogspot.com/2008/03/hak-hak-istri-dalam-poligami-poligami.html' title=''/><author><name>TABUNGAN 'AMAL SHALIH (T'AS)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05674433416570835606</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1674769897518819067.post-8637738927251002272</id><published>2008-03-21T08:56:00.005+07:00</published><updated>2008-03-21T14:43:43.775+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ijtimaiyyah'/><title type='text'>Di Tengah iftiraqul Ummah (Perpecahan Umat)</title><content type='html'>&lt;table border="0" cellpadding="3" cellspacing="2" width="100%"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr style="font-family: trebuchet ms;" align="center"&gt;&lt;td class="judulnaskah"&gt;&lt;b&gt;Di Tengah Iftiraqul Ummah (Perpecahan  Umat)&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;    &lt;tr  style="font-family:trebuchet ms;"&gt; &lt;td&gt; &lt;table cellpading="0" align="center" cellspacing="0" width="90%"&gt; &lt;tbody&gt; &lt;tr&gt; &lt;td&gt;&lt;span class="smalltype"&gt;Mengapa umat Islam berpecah? Bukankah Islam agama yang haq? Bagaimana kita menyikapi perpecahan ummat? Apa yang harus kita lakukan? Berikut ulasannya&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;  &lt;tr  style="font-family:trebuchet ms;"&gt; &lt;td&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;i&gt;“Beruntunglah orang-orang asing yang mereka memperbaiki apa-apa yang telah dirusak oleh manusia sesudahku dari sunnahku.” (&lt;span style="font-size:85%;"&gt;HR At-Tirmidzi&lt;/span&gt;) &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Iftiraqul ummah adalah takdir Allah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Iftiraqul ummah (perpecahan umat) adalah sebuah takdir Allah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Subhanahu wa Ta’ala&lt;/span&gt; yang pasti terjadi. Sebagaimana telah disebutkan dalam beberapa hadits yang mutawatir:&lt;br /&gt;“Terpecah umat Yahudi menjadi tujuh puluh satu golongan, dan terpecah umat Nashrani menjadi tujuh puluh dua golongan, dan akan terpecah umat ini menjadi tujuh puluh tiga golongan.” (1)&lt;br /&gt;Bukti kebenaran akan hadits ini, telah mulai tampak ketika munculnya pemahaman sesat akidah Saba’iyah (&lt;span style="font-size:85%;"&gt;akidah Khawarij dan Syi’ah&lt;/span&gt;). Inilah hal pertama yang didengar kaum muslimin, dan didengar pula oleh para shahabat tentang akidah iftiraq dan benih-benih firqah di kalangan muslimin yang ditiupkan oleh para pemeluknya. Dan benih-benih iftiraq ini terus tumbuh dan berkembang hingga munculnya firqah-firqah Qadariyah, Jahmiyyah, Mu’tazilah, dan lain sebagainya. Dan sungguh, hal yang demikian ini terus menerus terjadi hingga masa sekarang. Hal ini semakin tampak nyata dengan lahirnya harakah-harakah dengan membawa fikrah masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mensikapi  iftiraqul ummah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Allah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Subhanahu wa Ta’ala&lt;/span&gt; yang telah mentakdirkan terjadinya iftiraqul ummah telah memberikan bimbingan agar umat tidak tenggelam dalam fitnah ini. Rasulullah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;shalallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt; telah bersabda:&lt;br /&gt;“ … Barangsiapa di antara kalian berumur panjang, niscaya akan melihat perselisihan yang banyak. Maka tetaplah kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah khulafaur rasyidin yang mendapat petunjuk. …”(2)&lt;br /&gt;1. Maka sikap kita yang pertama adalah tetap bepegangan pada sunnah Rasulullah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Sholallohu Alaihi Wassalam&lt;/span&gt; dan para khulafaur rasyidin yang mendapatkan petunjuk.&lt;br /&gt;Maka dalam memahami dien ini kita harus senantiasa meruju’ kepada apa yang telah disampaikan oleh Rasulullah S&lt;span style="font-size:78%;"&gt;holallohu Alaihi Wassalam&lt;/span&gt; dengan pemahaman para shahabat &lt;span style="font-size:78%;"&gt;radhiyallaahu ‘anhum ajma’in&lt;/span&gt;. Walaupun pemahaman itu berbeda dan ditentang oleh kebanyakan manusia, maka tetaplah berpegangan kepadanya. Sungguh Rasulullah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;shalallaahu ‘alaihi wasallam&lt;/span&gt; telah memberitakan bahwa Islam ini pada awal kedatangannya adalah asing dan pada suatu saat nanti akan kembali dianggap asing (d&lt;span style="font-size:85%;"&gt;iriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya: (145) dari Abu Hurairah&lt;/span&gt;), sebuah keadaan dimana orang-orang yang berpegang teguh dengan sunnah seakan menggenggam bara api, barangsiapa beramal pada hari-hari semacam ini maka pahalanya seperti pahala amalan 50 orang shahabat &lt;span style="font-size:78%;"&gt;radhiyallaahu ‘anhum ajma’in&lt;/span&gt;, sebagaimana telah disebutkan dalam hadits-hadits yang masyhur:&lt;br /&gt;“Akan suatu pada manusia suatu jaman, orang yang sabar (istiqamah) di atas agamanya pada jaman ini seperti memegang bara api.”(3)&lt;br /&gt;“Sesungguhnya di belakang kalian ada suatu hari, kesabaran di dalamnya seperti memegang bara api, orang yang beramal pada hari-hari semacam ini pahalanya seperti 50 orang yang beramal seperti amalnya kalian.”(4)&lt;br /&gt;Berkata Ath-Thibi tentang hadits ini: “Maknanya sebagaimana tidak mampunya seorang pemegang bara api untuk sabar karena menghanguskan tangannya seperti itu pula keadaan seorang yang beragama, pada hari itu, tidak mampu untuk tetap di atas agamanya karena banyaknya pelaku maksiat dan pelaku maksiat, tersebarnya kafasikan dan lemahnya iman.”&lt;br /&gt;Berkata pula Al Qari: “Yang jelas bahwa makna hadits adalah sebagaimana tidak mungkin bagi seseorang untuk memegang bara api kecuali dengan kesabaran yang besar dan menanggung banyak kesusahan. Demikian pula di jaman itu tidak akan tergambar dalam benak seseorang untuk menjaga agamanya dan cahaya imannya kecuali dengan kesabaran yang besar.”&lt;br /&gt;Akan tetapi, walaupun demikian keadaannya, Allah yang Maha Berkuasa atas segala-galanya tidak akan membiarkan umat ini musnah dari muka bumi. Rasulullah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;shalallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt; bersabda:&lt;br /&gt;“Senantiasa ada sekelompok dari umatku yang terang-terangan di atas kebenaran, tidak mencelakakan mereka orang yang mencemoohnya sampai datang urusan Allah dan mereka dalam keadaan demikian”(5)&lt;br /&gt;2. Hal kedua yang harus kita lakukan ketika fitnah ini terjadi adalah tinggalkan semua golongan (firqah) yang ada, sebagaimana diriwayatkan dari Hudzaifah:&lt;br /&gt;“Bahwasanya ketika manusia bertanya kepada Rasulullah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;shalallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt; tentang kebaikan, aku bertanya kepada beliau tentang kejelekan, karena khawatir akan menimpa diriku, maka aku berkata, “Wahai Rasulullah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;shalallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt; sesungguhnya kami dahulu dalam keadaan jahiliyah dan kejelekan, maka Allah datangkan kepada kami kebaikan, maka apakah setelah kebaikan ini ada kejelekan?” Beliau menjawab, “Ya”. Maka aku berkata, “Apakah setelah kejelekan itu ada kebaikan?” Beliau menjawab, “Ya, tapi padanya ada dakhan (kotoran)”. Aku berkata, “Apa dakhannya?”. Beliau menjawab, “Kaum yang mengerjakan sunnah bukan dengan sunnahku, dan memberi petunjuk bukan dengan petunjukku, engkau kenali mereka tapi engkau ingkari”. Maka aku berkata, “Apakah setelah kebaikan tersebut akan muncul kejelekan lagi?” Beliau menjawab, “Ya, adanya dai-dai yang berada di atas pintu jahannam, barangsiapa yang memenuhi panggilannya akan dilemparkan ke neraka jahannam”. Aku berkata, “Wahai Rasulullah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;shalallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt; terangkan ciri-ciri mereka”. Beliau berkata, “Mereka adalah suatu kaum yang kulitnya sama dengan kulit kita, bahasanya juga sama dengan bahasa kita”. Aku berkata, “Apa yang engkau perintahkan jika aku mengalami jaman seperti itu?” Beliau berkata, “Berpeganglah dengan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;jama'ah muslimin&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;imam mereka&lt;/span&gt;”. Aku bertanya, “&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bagaimana jika tidak ada jama’ah dan imam&lt;/span&gt;?” Beliau menjawab, “&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tinggalkan semua firqah&lt;/span&gt;, meskipun kamu harus menggigit akar pohon hingga kamu mati dan kamu dalam keadaan seperti itu .”(6)&lt;br /&gt;3.Hal ketiga adalah senantiasa menyeru manusia kepada al haqq, saling bertawashaw bil haqq wa tawashaw bish-shabr (saling menasihati dengan kebenaran dan saling menasihati dengan kesabaran). Inilah kewajiban yang tetap ada pada diri kaum muslimin kepada sesama mereka sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/span&gt;: Dan saling nasihat-menasihatilah engkau dengan kebenaran dan dengan kesabaran.’ (&lt;span style="font-size:85%;"&gt;QS Al ‘Ashr: 4&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;Dalam mensikapi perbedaan pemahaman yang ada, maka kewajiban ini tetap wajib diamalkan. Bukan seperti pendapat sebagian orang, “Kita bekerjasama terhadap apa-apa yang kita sepakati dan kita saling tasamuh (toleransi) terhadap perbedaan yang ada.” Perkataan ini benar jika perbedaan yang ada adalah hal-hal yang memang merupakan ikhtilaf tanawu’ yang bisa ditolerir, sedangkan untuk perkara yang telah menjadi ijma’ aimmah ahlus sunnah wal jama’ah dan kaum muslimin, maka tidak ada lagi kata tasamuh. Mereka harus diberi peringatan, ditegakkan hujjah kepada mereka (iqamatul hujjah) dan jika tetap tidak mau mengikuti pemahaman yang lurus, maka mereka wajib diberi sangsi dan umat harus ditahdzir akan kesesatan yang ada pada mereka serta bahayanya bergaul dengan mereka. Sebagaimana Abu Bakar Ash Shiddiq &lt;span style="font-size:78%;"&gt;radhiyallaahu ‘anhu&lt;/span&gt; telah memerangi orang-orang yang enggan membayar zakat.&lt;br /&gt;Sedangkan jika perbedaan pemahaman yang ada seputar masalah fiqih atau pun hal-hal yang lain sifatnya ijtihadiyah, maka wajib di antara muslimin untuk mempertemukan perbedaan itu dan berusaha semaksimal mungkin untuk mencari yang lebih dekat kepada al-haqq. Jika upaya ini tetap tidak bisa mempersatukan pemahaman yang ada, maka hendaknya masing-masing memahami menurut keyakinan masing-masing tanpa saling cela, saling caci, dan tetap saling menghormati. Sebagaimana yang telah banyak dipraktekkan pada shahabat. Sebagai contoh: ketika dalam penyerangan Bani Quraidhah. Sewaktu hendak berangkat Nabi &lt;span style="font-size:78%;"&gt;shalallaahu’alaihi wasallam&lt;/span&gt; berpesan agar para shahabat tidak shalat kecuali setelah tiba di tujuan. Tapi ternyata sebelum sampai di perkampungan Bani Quraidhah waktu shalat Ashar sudah tiba. Maka sebagian shahabat mengerjakan shalat di tengah perjalanan, dengan alasan Nabi &lt;span style="font-size:78%;"&gt;shalallaahu ‘alaihi wasallam&lt;/span&gt; tidak menyuruh mengakhirkan shalat. Yang lain memegangi ucapan Nabi &lt;span style="font-size:78%;"&gt;shalallaahu ‘alaihi wasallam&lt;/span&gt;, yakni tidak mengerjakan shalat hingga tiba di tujuan, walau sudah habis waktunya. Ketika yang demikian sampai kepada Nabi &lt;span style="font-size:78%;"&gt;shalallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt; maka beliau tidak mencela satu pun dari keduanya.(7)&lt;br /&gt;Demikian pula ketika Ibnu Mas’ud berbeda pendapat dengan Ubay bin Ka’ab tentang sahkah shalat dengan memakai satu baju? Maka ketika mendengar perdebatan mereka Umar keluar dengan marah dan berkata: “Dua orang dari Rasulullah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Sholallohu Alaihi Wassalam&lt;/span&gt; telah berselisih, yaitu di antara orang-orang yang memperhatikan Rasul dan mengambil dari Rasul. Ubay benar dan Ibnu Mas’ud tidak lalai. Akan tetapi aku tidak mau mendengar ada orang yang berselisih tentang hal itu setelah ini, kecuali aku mengerjakannya begini dan begitu.”(8)&lt;br /&gt;4.Hal keempat yang mesti kita lakukan di tengah iftiraqul ummah ini adalah tetap berupaya untuk menjaga persatuan di antara kaum muslimin. Walaupun iftiraqul ummah adalah sebuah kepastian dan bagaimana pun usaha kita untuk mencegahnya maka iftiraqul ummah ini tetap akan terjadi, akan tetapi hal ini tidaklah menafikan kewajiban kita untuk tetap berpegang teguh kepada tali Allah dan menjaga persatuan di kalangan umat Islam.&lt;br /&gt;Allah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Subhanahu wa Ta’ala&lt;/span&gt; memerintahkan: “Dan berpegang teguhlah kalian kepada tali Allah seluruhnya, dan hangan berpecah belah.” (QS Ali Imran: 103)&lt;br /&gt;Ibnu Katsir &lt;span style="font-size:78%;"&gt;rahimahullah&lt;/span&gt; berkata bahwa yang dimaksud dengan tali Allah adalah janji Allah. Dikatakan pula bahwa tali Allah ialah Al Qur’an. Sedangkan lafazh walaa tafarraquu (jangan berpecah belah) menunjukkan perintah untuk berjama’ah dan melarang perpecahan.(9)&lt;br /&gt;Dan perintah bersatu di sini bukanlah persatuan kelompok (firqah) tertentu yang kemudian saling membanggakan kelompoknya masing-masing. Dan menganggap yang di luar kelompoknya berarti bukan saudaranya dan lantas disikapi dengan sikap seperti orang kafir. Akan tetapi adalah kesatuan kaum muslimin yang berlandaskan aqidah dan manhaj ahlus sunnah wal jama’ah. &lt;span style="font-size:85%;"&gt;Wallaahu a’lam bish shawab&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;Penjelasan tentang haditsul iftiraq&lt;br /&gt;Terkait masalah haditsul iftiraq, dimana umat ini akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan yang mereka semua berada di dalam neraka, kecuali satu yang selamat yakni Al Jama’ah. Maka jumhur ulama mengatakan, bahwa masuknya mereka ke dalam neraka ini tidaklah kekal, akan tetapi hanya sementara. Jadi, bid’ah-bid’ah yang ada pada diri mereka tidaklah menyebabkan mereka keluar dari Islam, bid’ah itu tidak sampai menjatuhkan mereka dalam kekufuran (bid’ah mukaffirah) akan tetapi hanya sampai pada tingkatan fusuq (bid’ah muharramah). Maka mereka tetaplah muslimin, sehingga tetap ada kewajiban untuk berwala’ terhadap mereka dan ada pula kewajiban bara’ terhadap mereka sesuai dengan tingkat penyimpangan yang ada pada mereka.&lt;br /&gt;Panitia Tetap Al Buhuts Al Ilmiyah Wal Ifta yang terdiri dari: Syaikh Abdul Azis bin Abdullah bin Baz, Syaikh Abdurrazaq Al Afify, Syaikh Abdullah bin Ghadyan, dan Syaikh Abdullah bin Qu’ud memfatwakan mengenai harakah-harakah yang ada saat ini, “… secara umum, setiap jama’ah mempunyai kesalahan dan kebenaran. Anda boleh bergaul dengan jama’ah manapun selagi di sana ada kebenaran dan menghindari jama’ah yang banyak kesalahannya. Tetapi tetap harus saling memberi nasihat, saling tolong-menolong dalam kebaikan dan takwa.”(10)&lt;br /&gt;Maka para ulama menasihatkan kepada para ahlul ‘ilm untuk turut bersama mereka dan meluruskan mereka dari penyimpangan-penyimpangan yang ada. Sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Abdul Azis bin Abdullah bin Baz &lt;span style="font-size:78%;"&gt;rahimahullaah&lt;/span&gt;, “…Jika manusia memiliki ilmu dan pemahaman keluar bersama mereka untuk menyampaikan ilmu dan pengingkaran dan nasihat kepada kebaikan serta mengajari mereka sampai mereka itu meninggalkan madzhab bathilnya dan meyakini madzhab Ahlus Sunnah Wal Jama’ah maka diperbolehkan.”&lt;br /&gt;Dan sungguh, hanya Allahlah yang Maha Mengetahui siapakah di antara harakah-harakah yang ada yang paling dekat kepada kebenaran. Allah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Subhanahu wa Ta’ala&lt;/span&gt; berfirman:&lt;br /&gt;“Katakanlah: ‘Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (&lt;span style="font-size:85%;"&gt;QS Al Kahfi: 503-104&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;Dan demi Allah, tidak ada jaminan bagi siapa pun bahwa dialah yang berada pada kebenaran. Kewajiban kita adalah berupaya semaksimal mungkin agar selalu berada dalam shiraathal mustaqiim.&lt;br /&gt;Sebuah manhaj (metodologi) dalam memahani dien&lt;br /&gt;Dalam  meniti jalan ini, Allah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Subhanahu wa Ta’ala&lt;/span&gt; memberi bimbingan:&lt;br /&gt;“… yaitu  mereka yang mendengarkan perkataan yang baik, dan mengikuti yang terbaik  diantaranya.” (&lt;span style="font-size:85%;"&gt;QS Az Zumar:18&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;Maka mencari ilmu dari ahlul ilmi dari mana pun adalah sebuah kebaikan, karena hikmah itu adalah milik muslim yang hilang, maka ambillah ia dari mana pun engkau mendapatkannya. Rasulullah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;shalallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt; menasihatkan: “… Terimalah kebenaran itu apabila engkau mendengarkannya, karena atas kebenaran itu ada cahaya.” (11)&lt;br /&gt;Tolok ukur kita dalam menilai kebenaran, yang pertama adalah ada tidaknya dalil tentangnya karena Rasulullah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Sholallohu Alaihi Wassalam&lt;/span&gt; mengatakan: “Barang siapa melakukan suatu amal yang tidak ada contohnya dari kami, maka amalan itu tertolak.” (&lt;span style="font-size:85%;"&gt;HR Mutafaqun ‘alaih&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;Kemudian yang kedua, sesuaikah dengan pemahaman para salafush-shalih yang Rasulullah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;shalallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt; mengatakan tentang mereka: “Sebaik-baik generasi adalah generasiku, kemudian generasi orang-orang sesudahnya, dan kemudian orang-oyang yang sesudahnya.” (&lt;span style="font-size:85%;"&gt;HR Arba’ah&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;Allah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Tabaraka Wa Ta’ala&lt;/span&gt; pun mengatakan tentang pemahaman para shahabat &lt;span style="font-size:78%;"&gt;radhiyallaahu ‘anhum ajma’in&lt;/span&gt; dengan firman-Nya: “Maka jika mereka beriman kepada apa yang kalian telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan.” (&lt;span style="font-size:85%;"&gt;QS Al Baqarah: 137&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;Seandainya apa yang kita pahami sesuai dengan pemahaman mereka maka itulah al-haqq, maka siapa pun yang berada di atas pemahaman ini maka merekalah yang disebut al-firqatun najiyah, merekalah as-sawaadul a’zham, dan itulah al-jama’ah, sebagaimana dikatakan Nabi &lt;span style="font-size:78%;"&gt;shalallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt;: “Setiap yang mengikuti sunnahku dan para shahabatku.” ; “Kalian wajib berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah khulafaur rasyidin” (&lt;span style="font-size:85%;"&gt;HR Abu Daud dan Tirmidzi&lt;/span&gt;). Ibnu Mas’ud &lt;span style="font-size:78%;"&gt;radhiyallaahu ‘anhu&lt;/span&gt;: “Al Jama’ah itu ialah setiap yang sesuai dengan al-haqq walau engkau seorang diri.” Dalam riwayat yang lain dikatakan: “Al Jama’ah adalah siapa saja yang sesuai dengan ketaatan kepada Allah walaupun engkau sendirian.” Ibnu Khallal &lt;span style="font-size:78%;"&gt;rahimahullaah&lt;/span&gt; mengatakan: “&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Al Jama’ah&lt;/span&gt; ialah &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jama’atul Muslimin&lt;/span&gt;, yaitu para shahabat serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan ihsan sampai Hari Akhir. Mengikuti mereka adalah hidayah dan menyelisihi mereka adalah sesat.”&lt;br /&gt;Maka barangsiapa yang mengatakan bahwa yang demikian (yakni mengambil ‘ilmu dari beberapa harakah yang ada) maka dia seperti pemulung, sungguh, dia adalah orang yang ‘sangat mengenal’ diennya sehingga dia berani menyamakan dien-nya sebagai sampah dan betapa dia sangat memuliakan harakahnya, yakni dengan menyamakannya dengan keranjang sampah yang para pemulung dapat mengambil sampah daripadanya. &lt;span style="font-size:85%;"&gt;Allahu Ta’ala A’lamu Bish-shawab&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;Semoga Allah senantiasa membimbing umat ini agar selalu bersatu di atas bendera sunnah, dan berdiri di atas landasan aqidah ash-shahihah, serta menyeru manusia dengan manhaj sunnah dan di atas jalan nubuwwah. Ushikum wa nafsi bitaqwallaah. Laa haula walaa quwwata illaa billaah.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Foot note:&lt;br /&gt;1. Hadits ini masyhur, diriwayatkan oleh sejumlah banyak shahabat, dikeluarkan oleh imam-imam yang adil, yang hafal hadits seperti Imam Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, al-Hakim, Ibnu Hibban, Abu Ya’la al Muushili, Ibnu Abi Ashim, Ibnu Bathah, al-Ajiri, ad-Darimi dan al-Lalikai. Juga dishahihkan oleh sejumlah besar ahli ilmu, seperti At-Tirmidzi, Al-Hakim, Adz-Dzahabi, As-Suyuti, dan Asy-Syatibi.&lt;br /&gt;2. HR Nasa’I dan Tirmidzi: HASAN SHAHIH. Lihat Kitab Firqah Najiyah oleh  Syaikh Jamil Zainu.&lt;br /&gt;3. Dikeluarkan oleh At Tirmidzi: (2260) dan Ibnu  Baththah dalam Al Ibanah Al Kubra: (195) dari Anas radhiyallaahu ‘anhu..&lt;br /&gt;4.  Al Baghawi dalam Syarhus Sunnah: (XIV/344) dan dalam tafsir: (III/110) dengan  lafazh yang panjang.&lt;br /&gt;5. Dikeluarkan oleh Muslim dengan lafazh ini: (1920) dan Abu Dawud: (4252) dengan tambahan: “Tidak akan memadharatkan mereka orang-orang yang menyelisihinya.”, dan tambahan yang panjang di awalnya. Dikeluarkan pula oleh At Tirmidzi: (2229) secara ringkas dan dia fenshahihkannya, dan dikeluarkan oleh Ibnu Majah dalam Al Muqaddimah: (10) dengan lafazx yang panjang dan dikeluarkan oleh Imam Ahmad: (V/276) dengan lafazh yang panjang dan dalam (V/247) secara ringkas, dll.&lt;br /&gt;6. Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Shahih-nya, 3606, Muslim dalam Shahih-nya (1847), Imam Ahmad dengan panjang (V/386), 403 dan secara ringkas (V/391,396), dengan ringkas dengan lafazh-lafazh yang berbeda-beda (V/494), Abu Dawud As-Sijistani (3244), dengan lafazh berbeda (4246) dan An-Nasa’I dalam Al Kubra (V/17,18).&lt;br /&gt;7.  Lihat: Al Jami’ush Shahih Bukhari-Muslim.&lt;br /&gt;8. Ibnu ‘Abdi ‘l-Bar di dalam  Jami’u Bayani ‘l ‘Ilmi, 2/83-84&lt;br /&gt;9. Lihat: Tafsir Ibnu Katsir Juz 1.&lt;br /&gt;10. Lihat: Al jama’ah Menurut Ulama Salaf dan Khalaf oleh DR Abdur-Rahman bin Khalifah Asy-Syayaji. Terdapat dalam kaset Ta’qieb Samahatul ‘Allamah Abdul ‘Aziz bin Baz ‘ala Nadwah (ad-Du’at), lihat kitab An-Nashrul ‘Aaiz hal 173 oleh Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhali hafizhahullaah.&lt;br /&gt;11. Syaikh Al-‘Allamah Ay-Mujaddid Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah menyatakan tentang hadits ini: “Shahih, sanadnya mauquf (yakni ucapan Mu’adz).” Terdapat dalam Shahih Abi Dawud, jilid 3, hal 872, hadits ke 3855.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al faqiru ilallaah,&lt;br /&gt;Abu Syifa ( Zaenal A. Syukur )&lt;br /&gt;d.a.&lt;br /&gt;Zaenal A. S.&lt;br /&gt;1. Fakultas  Teknik Jurusan Teknfk Sipil (Angkatan ’98) UNS Jl Ir Sutami No 36 A Kentingan  Surakarta 97126&lt;br /&gt;2. Ma’had Abu Bakar Ash-Shiddiq ‘Aliy Universitas  Muhammadiyah Surakarta&lt;br /&gt;3. Kleco Rt 02/I Kadipiro Surakarta 57136&lt;br /&gt;4.  E-mail: zaenal_as@eramuslim.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ikhwah fillaah, segala koreksi atas kesalahan penulisan dan penyimpangan pemahaman yang ada mohon disampaikan kepada penulis. Jazaakumullaahu khairan katsiiran.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Kontributor : Abu Syifa,  22 Oktober 2005 ]&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1674769897518819067-8637738927251002272?l=abuazi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuazi.blogspot.com/feeds/8637738927251002272/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1674769897518819067&amp;postID=8637738927251002272' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1674769897518819067/posts/default/8637738927251002272'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1674769897518819067/posts/default/8637738927251002272'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuazi.blogspot.com/2008/03/blog-post_21.html' title='Di Tengah iftiraqul Ummah (Perpecahan Umat)'/><author><name>TABUNGAN 'AMAL SHALIH (T'AS)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05674433416570835606</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1674769897518819067.post-7683115499865546542</id><published>2008-03-21T07:34:00.001+07:00</published><updated>2008-03-21T07:41:14.067+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aqidah'/><title type='text'>Tipisnya Antara Ta’ashub Dan Dzhahirina ’Ala Al Haq</title><content type='html'>&lt;h3 style="text-align: center; font-family: trebuchet ms;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="ES-MX"&gt;Tipisnya Antara Ta’ashub Dan Dzhahirina ’Ala Al Haq&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;  &lt;p style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="" lang="ES-MX"&gt;” Pendapat syaikh Fulan adalah haq (benar) atau Kelompok kajian kami jauh dari kesalahan dan mendekati kebenaran, sebab …. ” Inilah yang seringkali kita temukan baik seseorang ataupun kelompok manusia yang sangat kuat dalam memegang suatu keyakinan atau sangat berkeyakinan bahwa pendapat syaikh Fulan atau golongannya adalah al haq (benar), dan yang lainnya adalah ”keliru, salah, bathil, ahli bid’ah, dhallu mudhillun dan lain sebagainya ”. Sehingga membuat kita sangat sulit dan bingung atau bahkan terkecoh untuk membedakan antara seseorang itu adalah muta’ashib (bersikap ta’ashub) atau seseorang itu berdiri tegak di atas Al-Haq. Karena tipisnya perbedaan antara ta’ashub dan Dhzahirina ’ala al Haq ini tiada berbeda dengan tipisnya antara as syirik dengan at tauhid, al haq dengan  al bathil, as sunnah dengan bid’ah, al jama’ah dengan al firqah dan lain sebagainya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 36pt; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="" lang="ES-MX"&gt;Agar terlepas dari kebingungan, karena memang tiada satupun ayat-ayat Allah&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style=";font-size:6;" lang="ES-MX" &gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Subhanahu wa Ta’ala&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="" lang="ES-MX"&gt; ataupun sunnah-sunnah Rasulullah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="" lang="ES-MX"&gt;Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="" lang="ES-MX"&gt; yang berisikan perintah ataupun anjuran untuk bingung sehingga terkecoh dalam hal memilih antara al haq ataupun sebaliknya al bathil marilah kita coba untuk kembali kepada Allah&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;em&gt;&lt;span style=";font-size:6;" lang="ES-MX" &gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Subhanahu wa Ta’ala&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="" lang="ES-MX"&gt; dan Rasulullah &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;em&gt;&lt;span style=";font-size:6;" lang="ES-MX" &gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;S&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;hallallaahu ‘Alaihi Wasallam&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="" lang="ES-MX"&gt; secara kaffah dengan menuntut al ‘ilmu ashli ad dien secara baik dan benar dengan keikhlashan dan keshabaran serta bersungguh-sungguh. &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="" lang="ES-MX"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style=""&gt;Kebalikan dari ta’ashub adalah kokoh di atas kebenaran dan berpegang teguh padanya. Kadang-kadang dalam kehidupan yang nyata, makna keduanya hampir sama, maka tidak bisa dibedakan kecuali dengan pandangan yang jeli dan teliti (al ‘ilmu-red). Kadang kala kita melihat sebagian orang memuji ta’ashub dan beranggapan bahwa ta’ashub itu menunjukkan kekuatan iman dan kekokohan aqidah. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sebaliknya kita lihat pula sebagian orang mencela orang-orang yang berpegang teguh pada al-haq dan menggelari mereka dengan gelar jumud dan ta’ashub. Yang benar, keduanya mempunyai perbedaan yang sangat jauh, baik asal-usul timbulnya, caranya dan hasilnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Adapun yang menimbulkan ta’ashub adalah &lt;em&gt;&lt;span style=""&gt;dha’fu an-nafs&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; (kelemahan jiwa/diri) dan kedangkalan akal. Sedangkan yang menimbulkan sikap berpegang kepada al-haq adalah kemantapan pendapat (&lt;em&gt;&lt;span style=""&gt;al-qana’ah bi ar-ra’yi&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;) dan jelasnya dalil.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tata cara orang-orang yang ta’ashub adalah membendung serta menghalang-halangi usaha-usaha mengetahui atau mendengarkan dalil atau membandingkan dalil yang digunakan oleh orang yang berbeda pendapat dengannya. Sedangkan tata cara orang yang berpegang teguh pada al-haq adalah &lt;em&gt;&lt;span style=""&gt;al-munaqasyah al-hurr&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; (kebebasan bertukar pikir) dan mendengarkan dalil dari orang yang menyelisihinya dengan lapang dada serta membantah lawan bicara dengan mengharapkan supaya orang yang berbeda pendapat dengannya mendapat petunjuk dan tidak menghendaki kekalahannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="" lang="ES-MX"&gt;Buah dari ta’ashub adalah perselisihan dan perpecahan serta saling membenci. Sedangkan buah dari berpegang teguh kepada kebenaran adalah kebersatuan di atas al-haq dan kembalinya orang-orang yang bersalah kepada al-haq.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="" lang="ES-MX"&gt;Penjelasan mengenai perbedaan yang besar antara istilah&lt;em&gt;&lt;span style=""&gt; ats-tsabit ‘ala al-haq wa al-mutamasik bihi&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; (orang yang kokoh di atas kebenaran dan berpegang teguh padanya) dengan al-muta’ashib (orang yang ta’ashub), bukanlah dimaksudkan untuk menilai orang per orang, tetapi hendaklah dengannya kita bisa mawas diri dan kemudian bertanya kepada diri sendiri apakah jalan kita sudah benar atau sesuai dengan syariat Islam yang sebenar-benarnya. Yaitu mengenal islam melalui dalil-dalilnya yang shohih atau kita mengaku berpegang teguh dalam jalan Islam tetapi pada kenyataannya berjalan di atas jalan oran-orang ahli bid’ah. Yakni dengan berta’ashub kepada seseorang tertentu (selain Rasululloh &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="" lang="ES-MX"&gt;Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="ES-MX"&gt;) atau kelompok tertentu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="" lang="ES-MX"&gt;Alloh &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="" lang="ES-MX"&gt;Subhanahu wa Ta’ala&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="ES-MX"&gt; berfirman, yang artinya: &lt;em&gt;&lt;span style=""&gt;“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selainnya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (dari padanya). &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;(QS: Al-A’raf: 3)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="" lang="ES-MX"&gt;Dan firman-Nya pula, yang artinya: &lt;em&gt;&lt;span style=""&gt;“Katakanlah: “Ta’atlah kepada Alloh dan ta’atlah kepada Rasul; dan jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban Rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu ta’at kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Alloh) dengan terang.”&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; (QS: An-Nuur: 54)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="" lang="ES-MX"&gt;Dalam ayat ini Alloh &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="" lang="ES-MX"&gt;Subhanahu wa Ta’ala&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="ES-MX"&gt; memberikan kesaksian pada orang-orang yang menaati Rasululloh &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="" lang="ES-MX"&gt;Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="ES-MX"&gt; bahwa Dia akan memberinya petunjuk. Sedang menurut kesesatan orang-orang muqallid/muta’ashib adalah bahwa orang-orang yang menaati Rasululloh &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="" lang="ES-MX"&gt;Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="ES-MX"&gt; bukanlah orang-orang yang diberi petunjuk, tetapi yang diberi petunjuk adalah orang-orang yang menyeleweng dari sabda-sabdanya dan membenci sunnah-sunnahnya dan berpaling kepada madzhab tertentu secara membabi buta atau pendapat golongan tertentu atau syaikh tertentu serta yang semacamnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="" lang="ES-MX"&gt;Alloh &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="" lang="ES-MX"&gt;Subhanahu wa Ta’ala&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="" lang="ES-MX"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="" lang="ES-MX"&gt;juga berfirman, yang artinya: &lt;em&gt;&lt;span style=""&gt;“Demikian Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) sebagian kisah umat yang telah lalu, dan sesungguhnya telah Kami berikan kepadamu dari sisi Kami suatu peringatan (al-qur’an). Barangsiapa berpaling darinya maka sesungguhnya ia akan memikul dosa yang besar di hari kiamat. Mereka kekal di dalam keadaan itu. Dan amat buruklah dosa itu sebagai beban bagi mereka di hari kiamat,”&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; (QS: Thaahaa: 99-101)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="" lang="ES-MX"&gt;Dan juga dalam firman-Nya, yang artinya: &lt;em&gt;&lt;span style=""&gt;“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. Berkatalah ia: “Ya Rabbku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat ?” Alloh &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="" lang="ES-MX"&gt;Subhanahu wa Ta’ala&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="" lang="ES-MX"&gt; berfirman: “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan. Dan demikianlah Kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya kepada ayat-ayat Rabbnya. Dan sesungguhnya adzab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal.”&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="" lang="ES-MX"&gt; (QS: Thaahaa: 124-127)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="" lang="ES-MX"&gt;Dan semoga Alloh &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="" lang="ES-MX"&gt;Subhanahu wa Ta’ala&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="ES-MX"&gt; merahmati al-Imam asy-Syafi’I yang telah mengatakan: “Kaum Muslimin telah bersepakat bahwa barangsiapa yang jelas baginya sunnah Rasululloh &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="" lang="ES-MX"&gt;Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="ES-MX"&gt; tidaklah boleh baginya meninggalkannya karena ucapan seseorang.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="" lang="ES-MX"&gt;Hal ini karena tidak seorangpun yang ma’shum sepeninggalnya Rasululloh &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="" lang="ES-MX"&gt;Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="ES-MX"&gt;. Semua seperti dikatakan Imam Malik &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="" lang="ES-MX"&gt;Rahimahulloh&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="ES-MX"&gt;: “Tidak seorangpun setelah Nabi &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="" lang="ES-MX"&gt;Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="ES-MX"&gt; kecuali dapat diambil dan ditinggalkan ucapannya, selain Nabi &lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style=";font-size:6;" lang="ES-MX" &gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;S&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;hallallaahu ‘Alaihi Wasallam&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="" lang="ES-MX"&gt;.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style=""&gt;Bahkan tidak boleh bagi Kaum Muslimin untuk bersikap tawaqquf (berdiam diri dari menerima atau menolak). Tetapi harus menerimanya dengan penuh penerimaan (terhadap apa yang telah jelas datangnya dari Rasululloh &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style=""&gt;Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;), hal mana tidak demikian itu terhadap yang lainnya. Karena Alloh &lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style=";font-size:6;" &gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Subhanahu wa Ta’ala&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style=""&gt;berfirman, yang artinya: &lt;em&gt;&lt;span style=""&gt;“…. Apa yang diberikan rasul kepadamu maka terimalah dia. &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah …” &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;(QS: Al Hasyr: 7)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;(Sumber Rujukan: Wujub Luzum al-Jama’ah dan Muqaddimah fi Asbab Ikhtilaf al-Muslimin wa Tafaruqihim)&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1674769897518819067-7683115499865546542?l=abuazi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuazi.blogspot.com/feeds/7683115499865546542/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1674769897518819067&amp;postID=7683115499865546542' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1674769897518819067/posts/default/7683115499865546542'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1674769897518819067/posts/default/7683115499865546542'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuazi.blogspot.com/2008/03/tipisnya-antara-taashub-dan-dzhahirina.html' title='Tipisnya Antara Ta’ashub Dan Dzhahirina ’Ala Al Haq'/><author><name>TABUNGAN 'AMAL SHALIH (T'AS)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05674433416570835606</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1674769897518819067.post-2788595655167789981</id><published>2008-03-21T06:45:00.003+07:00</published><updated>2008-03-24T20:41:25.573+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ijtimaiyyah'/><title type='text'>Mengenal Sekilas Tentang Ta’ashub</title><content type='html'>&lt;h3 style="text-align: center;" class="entrytitle" id="post-108"&gt;&lt;a href="http://arsipsiroh.wordpress.com/2007/03/08/mengenal-sekilas-tentang-ta%e2%80%99ashub/" rel="bookmark"&gt;       Mengenal Sekilas Tentang Ta’ashub&lt;/a&gt;&lt;/h3&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="datasimp"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="datasimp"&gt;   Ta’ashub bukanlah sebuah kenikmatan ataupun sebuah keagungan melainkan sebuah penyakit yang secara sadar atau tidak sadar mampu menginfeksi siapa saja. Penyakit ini termasuk penyakit yang berbahaya dan memiliki kemampuan untuk merusak tatanan syariat Islam. Karena itu, sudah sewajarnya kita mencoba mengenal, mempelajari, memahami, mengintropeksi diri dan menjauhi hal ini serta memohon perlindungan Alloh &lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;em&gt;Subhanahu wa Ta’ala&lt;/em&gt;&lt;/span&gt; agar kita selalu terlindungi darinya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;   Kata ta’ashub secara bahasa berasal dari kata Al-‘Ashabiyah yang berarti semangat golongan. Sedang kata Ta’ashaba berarti pengencangan pembalut, atau perkumpulan atau ikatan. Dan Ta’ashaba bi as-syai’ artinya radhiya bihi (rela terhadapnya).&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;    Adapun secara istilah, sebagaimana dikatakan dalam kitab Wujub Luzum al-Jama’ah, menukil ucapan Asy-Syaukani, adalah: “Apabila engkau menjadikan apa yang datang dari seseorang yang berupa pendapat atau apa yang diriwayatkannya berupa ijtihad sebagai hujjah bagimu dan bagi semua orang.” Atau apa yang dikatakan oleh yang lainnya: “(Yaitu) kebiasaan dari kebiasaan-kebiasaan orang-orang yang lemah dan celah dari celah-celah kebodohan. Dimana jika seseorang tertimpa olehnya, akan membutakan mata dan akan merampas akalnya. Maka orang ini tidak bisa melihat kebaikan kecuali apa yang baik menurutnya, tidak bisa melihat kebenaran kecuali yang sesuai dengan madzhabnya atau orang-orang yang berta’ashub padanya.”&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;  Dari pengertian di atas menunjukkan bahwa orang yang tertimpa ta’ashub golongan atau ta’ashub syakhshi (orang tertentu selain Nabi &lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;em&gt;Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;) akan tergelincir pada kesesatan dan enggan untuk mengikuti al-Haq/al-Huda. Sebagaimana Alloh &lt;em&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Subhanahu wa Ta’ala&lt;/span&gt; &lt;/em&gt;gambarkan dalam firman-Nya, yang artinya:&lt;em&gt; “Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatan pun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami telah menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka. (Rasul itu) berkata: Apakah kamu akan mengikuti juga sekalipun aku membawa untukmu agama yang lebih nyata memberi petunjuk dari pada apa yang kamu dapati dari bapak-bapakmu menganutnya ? Mereka menjawab: Sesungguhnya kami mengingkari agama yang kamu diutus untuk menyampaikannya.”&lt;/em&gt;(&lt;span style="font-size:85%;"&gt;QS: Az-Zukhruf: 23-24&lt;/span&gt;)&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;  As-Sa’di berkata dalam tafsirnya: “Ini adalah cara orang-orang musyrik yang sesat berargumentasi terhadap taqlidnya terhadap nenek moyang mereka yang sesat pula. Mereka tidak mempunyai maksud untuk mengikuti kebenaran dan petunjuk, tetapi yang mereka inginkan adalah ta’ashub (fanatisme), dan melestarikan kesesatan/kebathilan yang mereka anut selama ini.”&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;   Dalam ayat ini Alloh &lt;em&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Subhanahu wa Ta’ala&lt;/span&gt; &lt;/em&gt;menggambarkan bahwa ta’ashub benar-benar bisa membutakan mata dan merampas akal sehat sehingga barang siapa yang ada padanya penyakit ini maka dia tidak bisa lagi melihat kebenaran dan petunjuk.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sumber Rujukan: Wujub Luzum al-Jama’ah&lt;/span&gt;)&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1674769897518819067-2788595655167789981?l=abuazi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuazi.blogspot.com/feeds/2788595655167789981/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1674769897518819067&amp;postID=2788595655167789981' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1674769897518819067/posts/default/2788595655167789981'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1674769897518819067/posts/default/2788595655167789981'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuazi.blogspot.com/2008/03/mengenal-sekilas-tentang-taashub.html' title='Mengenal Sekilas Tentang Ta’ashub'/><author><name>TABUNGAN 'AMAL SHALIH (T'AS)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05674433416570835606</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1674769897518819067.post-725958292227127751</id><published>2008-03-20T20:22:00.001+07:00</published><updated>2008-03-20T20:25:13.126+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Munakahat'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;h2 style="text-align: center;" class="firstheading"&gt;&lt;a href="http://akhwat.web.id/muslimah-salafiyah/2008/03/10/taaruf-syari-solusi-pengganti-pacaran/" rel="bookmark" title="Permanent Link: Ta’âruf Syar’i: Solusi Pengganti Pacaran"&gt;Ta’âruf Syar’i: Solusi Pengganti Pacaran&lt;/a&gt;&lt;/h2&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;     &lt;em&gt;Penulis: Al-Ustâdz Abû ‘Abdillâh Mu&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;ammad Al-Makassarî&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="entry"&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Pertanyaan:&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;1. Apabila seorang muslim ingin menikah, bagaimana syariat mengatur cara mengenal seorang muslimah sementara pacaran terlarang dalam Islam?&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;2. Bagaimana hukum berkunjung ke rumah akhwat (wanita) yang hendak dinikahi dengan tujuan untuk saling mengenal karakter dan sifat masing-masing?&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;3. Bagaimana hukum seorang ikhwan (lelaki) mengungkapkan perasaannya (sayang atau cinta) kepada akhwat (wanita) calon istrinya?&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Di&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;jawab&lt;/strong&gt; oleh Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad Al-Makassari:&lt;/p&gt; &lt;p align="right"&gt;بِسْمِ اللهِ، الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Benar sekali pernyataan anda bahwa &lt;strong&gt;pacaran adalah haram dalam Islam&lt;/strong&gt;. Pacaran adalah budaya dan peradaban jahiliah yang dilestarikan oleh orang-orang kafir negeri Barat dan lainnya&lt;span id="more-306"&gt;&lt;/span&gt;, kemudian diikuti oleh sebagian umat Islam (kecuali orang-orang yang dijaga oleh Allah &lt;em&gt;Subhanahu wa Ta’ala&lt;/em&gt;), dengan dalih mengikuti perkembangan jaman dan sebagai cara untuk mencari dan memilih pasangan hidup. Syariat Islam yang agung ini datang dari Rabb semesta alam Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana, dengan tujuan untuk membimbing manusia meraih maslahat-maslahat kehidupan dan menjauhkan mereka dari mafsadah-mafsadah yang akan merusak dan menghancurkan kehidupan mereka sendiri.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;Ikhtilath&lt;/em&gt; (campur baur antara lelaki dan wanita yang bukan mahram), pergaulan bebas, dan pacaran adalah fitnah (cobaan) dan mafsadah bagi umat manusia secara umum, dan umat Islam secara khusus, maka perkara tersebut tidak bisa ditolerir. Bukankah kehancuran Bani Israil -bangsa yang terlaknat- berawal dari fitnah (godaan) wanita? Allah&lt;em&gt; Subhanahu wa Ta’ala&lt;/em&gt; berfirman:&lt;/p&gt; &lt;p align="right"&gt;لُعِنَ الَّذِيْنَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيْلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُدَ وَعِيْسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُوْنَ. كَانُوا لاَ يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوْهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُوْنَ&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;“Telah terlaknat orang-orang kafir dari kalangan Bani Israil melalui lisan Nabi Dawud dan Nabi ‘Isa bin Maryam. Hal itu dikarenakan mereka bermaksiat dan melampaui batas. Adalah mereka tidak saling melarang dari kemungkaran yang mereka lakukan. Sangatlah jelek apa yang mereka lakukan.”&lt;/em&gt; (&lt;strong&gt;Al-Ma`idah&lt;/strong&gt;: 79-78)&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Rasulullah &lt;em&gt;Shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; bersabda:&lt;/p&gt; &lt;p align="right"&gt;إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ، وَإِنَّ اللهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيْهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُوْنَ، فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ، فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيْلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;“Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau (indah memesona), dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kalian sebagai khalifah (penghuni) di atasnya, kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala memerhatikan amalan kalian. Maka berhati-hatilah kalian terhadap dunia dan wanita, karena sesungguhnya awal fitnah (kehancuran) Bani Israil dari kaum wanita.”&lt;/em&gt; (HR. Muslim, dari Abu Sa’id Al-Khudri &lt;em&gt;radhiyallahu ‘anhu&lt;/em&gt;)&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Rasulullah &lt;em&gt;Shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; juga memperingatkan umatnya untuk berhati-hati dari fitnah wanita, dengan sabda beliau:&lt;/p&gt; &lt;p align="right"&gt;مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلىَ الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;“Tidaklah aku meninggalkan fitnah sepeninggalku yang lebih berbahaya terhadap kaum lelaki dari fitnah (godaan) wanita.”&lt;/em&gt; (Muttafaqun ‘alaih, dari Usamah bin Zaid &lt;em&gt;radhiyallahu ‘anhuma&lt;/em&gt;)&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Maka, pacaran berarti menjerumuskan diri dalam fitnah yang menghancurkan dan menghinakan, padahal semestinya setiap orang memelihara dan menjauhkan diri darinya. Hal itu karena dalam pacaran terdapat berbagai kemungkaran dan pelanggaran syariat sebagai berikut:&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;1. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Ikhtilath&lt;/em&gt;, yaitu bercampur baur antara lelaki dan wanita yang bukan mahram&lt;/strong&gt;. Padahal Rasulullah &lt;em&gt;Shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; menjauhkan umatnya dari ikhtilath, sekalipun dalam pelaksanaan shalat. Kaum wanita yang hadir pada shalat berjamaah di Masjid Nabawi ditempatkan di bagian belakang masjid. Dan seusai shalat, Rasulullah &lt;em&gt;Shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; berdiam sejenak, tidak bergeser dari tempatnya agar kaum lelaki tetap di tempat dan tidak beranjak meninggalkan masjid, untuk memberi kesempatan jamaah wanita meninggalkan masjid terlebih dahulu sehingga tidak berpapasan dengan jamaah lelaki. Hal ini ditunjukkan oleh hadits Ummu Salamah &lt;em&gt;radhiyallahu ‘anha&lt;/em&gt; dalam &lt;strong&gt;Shahih Al-Bukhari&lt;/strong&gt;. Begitu pula pada hari Ied, kaum wanita disunnahkan untuk keluar ke &lt;em&gt;mushalla&lt;/em&gt; (tanah lapang) menghadiri shalat Ied, namun mereka ditempatkan di mushalla bagian belakang, jauh dari shaf kaum lelaki. Sehingga ketika Rasulullah &lt;em&gt;Shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; usai menyampaikan khutbah, beliau perlu mendatangi shaf mereka untuk memberikan khutbah khusus karena mereka tidak mendengar khutbah tersebut. Hal ini ditunjukkan oleh hadits Jabir &lt;em&gt;radhiyallahu ‘anhu&lt;/em&gt; dalam &lt;strong&gt;Shahih Muslim&lt;/strong&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Bahkan Rasulullah &lt;em&gt;Shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; bersabda:&lt;/p&gt; &lt;p align="right"&gt;خَيْرُ صُفُوْفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا وَشَرُّهَا آخِرِهَا، وَخَيْرُ صُفُوْفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;“Sebaik-baik shaf lelaki adalah shaf terdepan dan sejelek-jeleknya adalah shaf terakhir. Dan sebaik-baik shaf wanita adalah shaf terakhir, dan sejelek-jeleknya adalah shaf terdepan.”&lt;/em&gt; (HR. Muslim dari Abu Hurairah &lt;em&gt;radhiyallahu ‘anhu&lt;/em&gt;)&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin &lt;em&gt;rahimahullah&lt;/em&gt; berkata: “Hal itu dikarenakan dekatnya shaf terdepan wanita dari shaf terakhir lelaki sehingga merupakan shaf terjelek, dan jauhnya shaf terakhir wanita dari shaf terdepan lelaki sehingga merupakan shaf terbaik. Apabila pada ibadah shalat yang disyariatkan secara berjamaah, maka bagaimana kiranya jika di luar ibadah? Kita mengetahui bersama, dalam keadaan dan suasana ibadah tentunya seseorang lebih jauh dari perkara-perkara yang berhubungan dengan syahwat. Maka bagaimana sekiranya &lt;em&gt;ikhtilath&lt;/em&gt; itu terjadi di luar ibadah? Sedangkan &lt;strong&gt;setan bergerak dalam tubuh Bani Adam begitu cepatnya mengikuti peredaran darah&lt;/strong&gt;1. Bukankah sangat ditakutkan terjadinya fitnah dan kerusakan besar karenanya?” (Lihat &lt;strong&gt;Fatawa An-Nazhar wal Khalwah wal Ikhtilath&lt;/strong&gt;, hal. 45)&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;Subhanallah&lt;/em&gt;. Padahal wanita para shahabat keluar menghadiri shalat dalam keadaan berhijab syar’i dengan menutup seluruh tubuhnya -karena seluruh tubuh wanita adalah aurat- sesuai perintah Allah &lt;em&gt;Subhanahu wa Ta’ala&lt;/em&gt; dalam surat &lt;strong&gt;Al-Ahzab&lt;/strong&gt; ayat 59 dan &lt;strong&gt;An-Nur&lt;/strong&gt; ayat 31, tanpa melakukan &lt;em&gt;tabarruj&lt;/em&gt;2 karena Allah &lt;em&gt;Subhanahu wa Ta’ala&lt;/em&gt; melarang mereka melakukan hal itu dalam surat Al-Ahzab ayat 33, juga tanpa memakai wewangian berdasarkan larangan Rasulullah &lt;em&gt;Shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; dalam hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan Ahmad, Abu Dawud, dan yang lainnya3:&lt;/p&gt; &lt;p align="right"&gt;وَلْيَخْرُجْنَ وَهُنَّ تَفِلاَتٌ&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;“Hendaklah mereka keluar tanpa memakai wewangian.”&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Rasulullah &lt;em&gt;Shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; juga melarang siapa saja dari mereka yang berbau harum karena terkena &lt;em&gt;bakhur&lt;/em&gt;4 untuk untuk hadir shalat berjamaah sebagaimana dalam &lt;strong&gt;Shahih Muslim&lt;/strong&gt; dari Abu Hurairah &lt;em&gt;radhiyallahu ‘anhu&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Allah &lt;em&gt;Subhanahu wa Ta’ala&lt;/em&gt; berfirman dalam surat &lt;strong&gt;Al-Ahzab&lt;/strong&gt; ayat 53:&lt;/p&gt; &lt;p align="right"&gt;وَإِذَا سَأَلْتُمُوْهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوْهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوْبِكُمْ وَقُلُوْبِهِنَّ&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;“Dan jika kalian (para shahabat) meminta suatu hajat (kebutuhan) kepada mereka (istri-istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) maka mintalah dari balik hijab. Hal itu lebih bersih (suci) bagi kalbu kalian dan kalbu mereka.”&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Allah &lt;em&gt;Subhanahu wa Ta’ala&lt;/em&gt; memerintahkan mereka berinteraksi sesuai tuntutan hajat dari balik hijab dan tidak boleh masuk menemui mereka secara langsung. Asy-Syaikh Ibnu Baz &lt;em&gt;rahimahullah&lt;/em&gt; berkata: “Maka &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;tidak dibenarkan seseorang mengatakan bahwa lebih bersih dan lebih suci bagi para shahabat dan istri-istri Rasulullah &lt;em&gt;Shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;, sedangkan bagi generasi-generasi setelahnya tidaklah demikian. Tidak diragukan lagi bahwa generasi-generasi setelah shahabat justru lebih butuh terhadap hijab dibandingkan para shahabat, karena perbedaan yang sangat jauh antara mereka dalam hal kekuatan iman dan ilmu. Juga karena persaksian Rasulullah &lt;em&gt;Shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; terhadap para shahabat, baik lelaki maupun wanita, termasuk istri-istri Rasulullah &lt;em&gt;Shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; sendiri bahwa mereka adalah generasi terbaik setelah para nabi dan rasul&lt;/strong&gt;, sebagaimana diriwayatkan dalam &lt;strong&gt;Shahih Al-Bukhari&lt;/strong&gt; dan &lt;strong&gt;Shahih Muslim&lt;/strong&gt;. Demikian pula, dalil-dalil &lt;strong&gt;Al-Qur`an dan As-Sunnah menunjukkan berlakunya suatu hukum secara umum meliputi seluruh umat dan tidak boleh mengkhususkannya untuk pihak tertentu saja tanpa dalil&lt;/strong&gt;.” (Lihat &lt;strong&gt;Fatawa An-Nazhar&lt;/strong&gt;, hal. 11-10)&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Pada saat yang sama, &lt;em&gt;ikhtilath&lt;/em&gt; itu sendiri menjadi sebab yang menjerumuskan mereka untuk berpacaran, sebagaimana fakta yang kita saksikan berupa akibat &lt;em&gt;ikhtilath&lt;/em&gt; yang terjadi di sekolah, instansi-instansi pemerintah dan swasta, atau tempat-tempat yang lainnya. &lt;em&gt;Wa ilallahil musytaka&lt;/em&gt; (Dan hanya kepada Allah kita mengadu)&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;2. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Khalwat&lt;/em&gt;, yaitu berduaannya lelaki dan wanita tanpa mahram&lt;/strong&gt;. Padahal Rasululllah &lt;em&gt;Shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; bersabda:&lt;/p&gt; &lt;p align="right"&gt;إِيَّاكُمْ وَالدُّخُوْلَ عَلىَ النِّسَاءِ. فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ اْلأَنْصَارِ: أَفَرَأَيْتَ الْحَمْوَ؟ قَالَ: الْحَمْوُ الْمَوْتُ&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;“Hati-hatilah kalian dari masuk menemui wanita.”&lt;/em&gt; Seorang lelaki dari kalangan Anshar berkata: “Bagaimana pendapatmu dengan kerabat suami?”5 Maka Rasulullah &lt;em&gt;Shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; bersabda: &lt;em&gt;“Mereka adalah kebinasaan.”&lt;/em&gt; (Muttafaq ‘alaih, dari ‘Uqbah bin ‘Amir &lt;em&gt;radhiyallahu ‘anhu&lt;/em&gt;)&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Rasulullah &lt;em&gt;Shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; juga bersabda:&lt;/p&gt; &lt;p align="right"&gt;لاَ يَخْلُوَنَّ أَحَدُكُمْ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ مَعَ ذِي مَحْرَمٍ&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;“Jangan sekali-kali salah seorang kalian berkhalwat dengan wanita, kecuali bersama mahram.”&lt;/em&gt; (Muttafaq ‘alaih, dari Ibnu ‘Abbas &lt;em&gt;radhiyallahu ‘anhuma&lt;/em&gt;)&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Hal itu karena tidaklah terjadi khalwat kecuali setan bersama keduanya sebagai pihak ketiga, sebagaimana dalam hadits Jabir bin Abdillah &lt;em&gt;radhiyallahu ‘anhuma&lt;/em&gt;:&lt;/p&gt; &lt;p align="right"&gt;مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلاَ يَخْلُوَنَّ بِامْرَأَةٍ لَيْسَ مَعَهَا ذُوْ مَحْرَمٍ مِنْهَا فَإِنَّ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka jangan sekali-kali dia berkhalwat dengan seorang wanita tanpa disertai mahramnya, karena setan akan menyertai keduanya.”&lt;/em&gt; (HR. Ahmad)6&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;3. &lt;strong&gt;Berbagai bentuk perzinaan anggota tubuh&lt;/strong&gt; yang disebutkan oleh Rasulullah &lt;em&gt;Shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; dalam hadits Abu Hurairah &lt;em&gt;radhiyallahu ‘anhu&lt;/em&gt;:&lt;/p&gt; &lt;p align="right"&gt;كُتِبَ عَلىَ ابْنِ آدَمَ نَصِيْبُهُ مِنَ الزِّنَا مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ: الْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ، وَاْلأُذُنَانِ زِنَاهُمَا اْلاِسْتِمَاعُ، وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ، وَالْيَدُ زِنَاهُ الْبَطْشُ، وَالرِّجْلُ زِنَاهُ الْخُطَا، وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى، وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ أَوْ يُكَذِّبُهُ&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;“Telah ditulis bagi setiap Bani Adam bagiannya dari zina, pasti dia akan melakukannya, kedua mata zinanya adalah memandang, kedua telinga zinanya adalah mendengar, lidah(lisan) zinanya adalah berbicara, tangan zinanya adalah memegang, kaki zinanya adalah melangkah, sementara kalbu berkeinginan dan berangan-angan, maka kemaluan lah yang membenarkan atau mendustakan.”&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Hadits ini menunjukkan bahwa &lt;strong&gt;memandang wanita yang tidak halal untuk dipandang meskipun tanpa syahwat adalah zina mata7. Mendengar ucapan wanita (selain istri) dalam bentuk menikmati adalah zina telinga. Berbicara dengan wanita (selain istrinya) dalam bentuk menikmati atau menggoda dan merayunya adalah zina lisan. Menyentuh wanita yang tidak dihalalkan untuk disentuh baik dengan memegang atau yang lainnya adalah zina tangan. Mengayunkan langkah menuju wanita yang menarik hatinya atau menuju tempat perzinaan adalah zina kaki. Sementara kalbu berkeinginan dan mengangan-angankan wanita yang memikatnya, maka itulah zina kalbu. Kemudian boleh jadi kemaluannya mengikuti dengan melakukan perzinaan yang berarti kemaluannya telah membenarkan&lt;/strong&gt;; atau dia selamat dari zina kemaluan yang berarti kemaluannya telah mendustakan. (Lihat &lt;strong&gt;Syarh Riyadhis Shalihin&lt;/strong&gt; karya Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, pada syarah hadits no. 16 22)&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Padahal Allah &lt;em&gt;Subhanahu wa Ta’ala&lt;/em&gt; berfirman:&lt;/p&gt; &lt;p align="right"&gt;وَلاَ تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيْلاً&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;“Dan janganlah kalian mendekati perbuatan zina, sesungguhnya itu adalah perbuatan nista dan sejelek-jelek jalan.”&lt;/em&gt; (&lt;strong&gt;Al-Isra`&lt;/strong&gt;: 32)&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Rasulullah &lt;em&gt;Shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; juga bersabda:&lt;/p&gt; &lt;p align="right"&gt;لأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ أَحَدِكُمْ بِمِخْيَطٍ مِنْ حِدِيْدٍ خَيْرٌ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لاَ تَحِلُّ لَهُ&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;“Demi Allah, sungguh jika kepala salah seorang dari kalian ditusuk dengan jarum dari besi, maka itu lebih baik dari menyentuh wanita yang tidak halal baginya.”&lt;/em&gt; (HR. Ath-Thabarani dan Al-Baihaqi dari Ma’qil bin Yasar &lt;em&gt;radhiyallahu ‘anhu&lt;/em&gt;, dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam &lt;strong&gt;Ash-Shahihah&lt;/strong&gt; no. 226)&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Meskipun sentuhan itu hanya sebatas berjabat tangan maka tetap tidak boleh. Aisyah &lt;em&gt;radhiyallahu ‘anha&lt;/em&gt; berkata:&lt;/p&gt; &lt;p align="right"&gt;وَلاَ وَاللهِ مَا مَسَّتْ يَدُ رَسُوْلِ اللهِ يَدَ امْرَأَةٍ قَطُّ غَيْرَ أَنَّهُ يُبَايِعُهُنَّ بِالْكَلاَمِ&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;“Tidak. Demi Allah, tidak pernah sama sekali tangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyentuh tangan wanita (selain mahramnya), melainkan beliau membai’at mereka dengan ucapan (tanpa jabat tangan).”&lt;/em&gt; (HR. Muslim)&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Demikian pula dengan pandangan, Allah &lt;em&gt;Subhanahu wa Ta’ala&lt;/em&gt; telah berfirman dalam surat &lt;strong&gt;An-Nur&lt;/strong&gt; ayat 31-30:&lt;/p&gt; &lt;p align="right"&gt;قُلْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوْجَهُمْ - إِلَى قَوْلِهِ تَعَلَى - وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوْجَهُنَّ…&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;“Katakan (wahai Nabi) kepada kaum mukminin, hendaklah mereka menjaga pandangan serta kemaluan mereka (dari hal-hal yang diharamkan) -hingga firman-Nya- Dan katakan pula kepada kaum mukminat, hendaklah mereka menjaga pandangan serta kemaluan mereka (dari hal-hal yang diharamkan)….”&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Dalam Shahih Muslim dari Jabir bin Abdillah &lt;em&gt;radhiyallahu ‘anhuma&lt;/em&gt;, dia berkata:&lt;/p&gt; &lt;p align="right"&gt;سَأَلْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ نَظْرِ الْفَجْأَةِ؟ فَقَالَ: اصْرِفْ بَصَرَكَ&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;“Aku bertanya kepada Rasulullah &lt;em&gt;Shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; tentang pandangan yang tiba-tiba (tanpa sengaja)? Maka beliau bersabda: &lt;em&gt;‘Palingkan pandanganmu’.&lt;/em&gt;“&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Adapun suara dan ucapan wanita, pada asalnya bukanlah aurat yang terlarang. Namun tidak boleh bagi seorang wanita bersuara dan berbicara lebih dari tuntutan hajat (kebutuhan), dan tidak boleh melembutkan suara. Demikian juga dengan isi pembicaraan, tidak boleh berupa perkara-perkara yang membangkitkan syahwat dan mengundang fitnah. Karena bila demikian maka suara dan ucapannya menjadi aurat dan fitnah yang terlarang. Allah &lt;em&gt;Subhanahu wa Ta’ala&lt;/em&gt; berfirman:&lt;/p&gt; &lt;p align="right"&gt;فَلاَ تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلاً مَعْرُوْفًا&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;“Maka janganlah kalian (para istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam) berbicara dengan suara yang lembut, sehingga lelaki yang memiliki penyakit dalam kalbunya menjadi tergoda dan ucapkanlah perkataan yang ma’ruf (baik).”&lt;/em&gt; (&lt;strong&gt;Al-Ahzab&lt;/strong&gt;: 32)&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Adalah para wanita datang menemui Rasulullah &lt;em&gt;Shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; dan di sekitar beliau hadir para shahabatnya, lalu wanita itu berbicara kepada Rasulullah &lt;em&gt;Shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; menyampaikan kepentingannya dan para shahabat ikut mendengarkan. Tapi mereka tidak berbicara lebih dari tuntutan hajat dan tanpa melembutkan suara.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Dengan demikian jelaslah bahwa &lt;strong&gt;pacaran bukanlah alternatif yang ditolerir dalam Islam untuk mencari dan memilih pasangan hidup&lt;/strong&gt;. Menjadi jelas pula bahwa tidak boleh mengungkapkan perasaan sayang atau cinta kepada calon istri selama belum resmi menjadi istri. Baik ungkapan itu secara langsung atau lewat telepon, ataupun melalui surat. Karena &lt;strong&gt;saling mengungkapkan perasaan cinta dan sayang adalah hubungan asmara yang mengandung makna pacaran yang akan menyeret ke dalam fitnah&lt;/strong&gt;. Demikian pula halnya berkunjung ke rumah calon istri atau wanita yang ingin dilamar dan bergaul dengannya dalam rangka saling mengenal karakter dan sifat masing-masing, karena perbuatan seperti ini juga mengandung makna pacaran yang akan menyeret ke dalam fitnah. &lt;em&gt;Wallahul musta’an&lt;/em&gt; (Allah-lah tempat meminta pertolongan).&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Adapun &lt;strong&gt;cara yang ditunjukkan oleh syariat untuk mengenal wanita yang hendak dilamar adalah dengan mencari keterangan tentang yang bersangkutan melalui seseorang yang mengenalnya, baik tentang biografi (riwayat hidup), karakter, sifat, atau hal lainnya yang dibutuhkan untuk diketahui demi maslahat pernikahan. Bisa pula dengan cara meminta keterangan kepada wanita itu sendiri melalui perantaraan seseorang seperti istri teman atau yang lainnya. Dan pihak yang dimintai keterangan berkewajiban untuk menjawab seobyektif mungkin, meskipun harus membuka aib wanita tersebut karena ini bukan termasuk dalam kategori ghibah yang tercela. Hal ini termasuk dari enam perkara yang dikecualikan dari ghibah, meskipun menyebutkan aib seseorang. Demikian pula sebaliknya dengan pihak wanita yang berkepentingan untuk mengenal lelaki yang berhasrat untuk meminangnya, dapat menempuh cara yang sama.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Dalil yang menunjukkan hal ini adalah hadits Fathimah bintu Qais ketika dilamar oleh Mu’awiyah bin Abi Sufyan dan Abu Jahm, lalu dia minta nasehat kepada Rasulullah &lt;em&gt;Shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; maka beliau bersabda:&lt;/p&gt; &lt;p align="right"&gt;أَمَّا أَبُو جَهْمٍ فَلاَ يَضَعُ عَصَاهُ عَنْ عَاتِقِهِ، وَأَمَّا مُعَاوِيَةُ فَصُعْلُوْكٌ لاَ مَالَ لَهُ، انْكِحِي أُسَامَةَ بْنَ زَيْدٍ&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;“Adapun Abu Jahm, maka dia adalah lelaki yang tidak pernah meletakkan tongkatnya dari pundaknya8. Adapun Mu’awiyah, dia adalah lelaki miskin yang tidak memiliki harta. Menikahlah dengan Usamah bin Zaid.”&lt;/em&gt; (HR. Muslim)&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Para ulama juga menyatakan bolehnya berbicara secara langsung dengan calon istri yang dilamar sesuai dengan tuntunan hajat dan maslahat. Akan tetapi tentunya tanpa khalwat dan dari balik hijab. Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin dalam &lt;strong&gt;Asy-Syarhul Mumti’&lt;/strong&gt; (130-129/5 cetakan Darul Atsar) berkata: &lt;strong&gt;&lt;em&gt;“Bolehnya berbicara dengan calon istri yang dilamar wajib dibatasi dengan syarat tidak membangkitkan syahwat atau tanpa disertai dengan menikmati percakapan tersebut. Jika hal itu terjadi maka hukumnya haram, karena setiap orang wajib menghindar dan menjauh dari fitnah.”&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Perkara ini diistilahkan dengan ta’aruf. Adapun terkait dengan hal-hal yang lebih spesifik yaitu organ tubuh, maka cara yang diajarkan adalah dengan melakukan nazhor, yaitu melihat wanita yang hendak dilamar. Nazhor memiliki aturan-aturan dan persyaratan-persyaratan yang membutuhkan pembahasan khusus9.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;Wallahu a’lam.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Footnote:&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;1 Sebagaimana dalam hadits Hafshah &lt;em&gt;radhiyallahu ‘anha&lt;/em&gt; yang &lt;em&gt;muttafaq ‘alaih&lt;/em&gt;:&lt;/p&gt; &lt;p align="right"&gt;إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنِ ابْنِ آدَمَ مَجْرَى الدَّمِ&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;“Sesungguhnya setan itu beredar dalam tubuh Bani Âdam mengikuti peredaran darah.”&lt;/em&gt; (pen.)&lt;br /&gt;2 &lt;em&gt;Tabarruj&lt;/em&gt; adalah memamerkan perhiasan dan bagian-bagian tubuh yang indah dan menarik serta bagian tubuh lainnya yang mengundang syahwat lelaki, yang seharusnya ditutup. (Lihat &lt;strong&gt;Jilbâbul Mar’ah Al-Muslimah&lt;/strong&gt;, hal. 120)&lt;br /&gt;3 Dihasankan oleh Asy-Syaikh Muqbil dalam &lt;strong&gt;Ash-Shahihul Musnad&lt;/strong&gt; (2/309), dishahihkan oleh Al-Albani dengan &lt;em&gt;syawahid&lt;/em&gt; (penguat-penguat)-nya dalam &lt;strong&gt;Al-Irwa’&lt;/strong&gt; (2/293)&lt;br /&gt;4 &lt;em&gt;Bakhur&lt;/em&gt; yaitu pengharum ruangan berupa asap dari kayu tertentu yang harum dan dibakar.&lt;br /&gt;5 Seperti ipar, anak ipar, paman suami, sepupu suami, dan seterusnya yang tidak termasuk mahram. Yakni, apakah boleh bagi seseorang untuk membiarkan salah seorang kerabatnya yang bukan mahram untuk berkhalwat dengan istrinya?&lt;br /&gt;6 Sanadnya memiliki dua kelemahan: 1) Abdullah bin Lahi’ah, seorang perawi yang lemah, 2) Abû Zubair, seorang perawi yang mudallis dan dia meriwayatkan dengan &lt;em&gt;‘an’anah&lt;/em&gt; (tidak mempertegas bahwa dia mendengarnya dari syaikhnya). Namun hadits ini memiliki&lt;em&gt; syawahid&lt;/em&gt; (penguat-penguat) sehingga dihasankan oleh Al-Albânî dalam &lt;strong&gt;Al-Irwa’&lt;/strong&gt; (6/215-216).&lt;br /&gt;7 Dalam masalah seorang lelaki memandang wajah dan telapak tangan wanita dewasa yang bukan mahram, terjadi perbedaan pendapat. Ada yang berpendapat haram secara mutlak. Ada yang berpendapat boleh dengan syarat tidak dikhawatirkan fitnah (godaan) dan tidak bermaksud menikmati (&lt;strong&gt;An-Nazhor fi Hukmin Nazhor&lt;/strong&gt;, hal. 323). Selain itu juga ada pendapat yang lain. Lihat &lt;strong&gt;Ar-Raddul Mufhim&lt;/strong&gt; (hal. 115), karya Al-Albani. (ed)&lt;br /&gt;8 Ini adalah kiasan dan ada dua penafsiran yang masyhur tentang maknanya: 1) Banyak safar, 2) Banyak memukul wanita, dan ini yang lebih tepat berdasarkan riwayat Muslim yang lain dengan lafadz:&lt;/p&gt; &lt;p align="right"&gt;أَمَّا أَبُو جَهْمٍ فَرَجُلٌ ضَرَّابٌ  لِلنِّسَاءِ&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;“Adapun Abu Jahm, dia itu banyak memukul wanita.”&lt;/em&gt; (Lihat &lt;strong&gt;Syarhu Muslim lin Nawawî&lt;/strong&gt;, syarah hadits no. 1480)&lt;br /&gt;9 Kami telah membahasnya pada jawaban Problema Anda edisi lalu.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Sumber: &lt;strong&gt;Majalah Asy Syari’ah&lt;/strong&gt;, Vol.III/No.29/1428H/2007, Kategori: &lt;strong&gt;Problema Anda&lt;/strong&gt;, hal. 65-70. Dicopy dari http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=425 dengan penambahan footnote oleh http://akhwat.web.id.&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1674769897518819067-725958292227127751?l=abuazi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuazi.blogspot.com/feeds/725958292227127751/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1674769897518819067&amp;postID=725958292227127751' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1674769897518819067/posts/default/725958292227127751'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1674769897518819067/posts/default/725958292227127751'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuazi.blogspot.com/2008/03/taruf-syari-solusi-pengganti-pacaran.html' title=''/><author><name>TABUNGAN 'AMAL SHALIH (T'AS)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05674433416570835606</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1674769897518819067.post-1382221660348248534</id><published>2008-03-20T20:12:00.002+07:00</published><updated>2008-03-20T20:13:09.301+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Muslimah Sholihah'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;h2 style="text-align: center;" class="firstheading"&gt;&lt;a href="http://akhwat.web.id/muslimah-salafiyah/2007/12/12/hak-hak-wanita-yang-sempurna-dalam-islam-dan-hijab-yang-syar%e2%80%99i/" rel="bookmark" title="Permanent Link: Hak-Hak Wanita yang Sempurna dalam Islam dan Hijab yang Syar’i"&gt;Hak-Hak Wanita yang Sempurna dalam Islam dan Hijab yang Syar’i&lt;/a&gt;&lt;/h2&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Oleh : Asy Syaikh Hasyim bin Hamid ‘Ajil Ar Rifa’iy &lt;/div&gt;&lt;p&gt;Hak-hak ini semua tidak terdapat dalam faham yang menamakan dirinya “faham modern”, yang menyerukan ‘Emansipasi Wanita’ itu. (Bahkan sebaliknya) mereka mengatakan bahwa Islam menghilangkan hak-hak wanita dan memenjarakannya di dalam rumah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Apakah karena Islam tidak menjadikan wanita sebagai dagangan murah yang bisa dinikmati setiap pandangan mata dan pemuas nafsu mereka yang bejat itu?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Inikah kebebasan yang mereka kumandangkan? Dan inikah hak yang mereka tuntut?&lt;span id="more-45"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sesungguhnya Islam menempatkan wanita di tempat yang sesuai pada tiga bidang :&lt;/p&gt; &lt;p&gt;1. Bidang Kemanusiaan :&lt;br /&gt;Islam mengakui haknya sebagai manusia dengan sempurna sama dengan pria. Umat-umat yang lampau mengingkari permasalahan ini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;2. Bidang Sosial :&lt;br /&gt;Telah terbuka lebar bagi mereka (terpisah dari kaum pria, pent) di segala jenjang pendidikan, di antara mereka menempati jabatan-jabatan penting dan terhormat dalam masyarakat sesuai dengan tingkatan usianya, masa kanak-kanak sampai usia lanjut. Bahkan semakin bertambah usianya, semakin bertambah pula hak-hak mereka, usia kanak-kanak; kemudian sebagai seorang isteri, sampai menjadi seorang ibu yang menginjak lansia, yang lebih membutuhkan cinta, kasih dan penghormatan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;3. Bidang Hukum&lt;br /&gt;Islam memberikan pada wanita hak memiliki harta dengan sempurna dalam mempergunakannya tatkala sudah mencapai usia dewasa dan tidak ada seorang pun yang berkuasa atasnya baik ayah, suami, atau kepala keluarga.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hak-hak ini semua tidak terdapat dalam faham yang menamakan dirinya “faham modern”, yang menyerukan ‘Emansipasi Wanita’ itu. (Bahkan sebaliknya) mereka mengatakan bahwa Islam menghilangkan hak-hak wanita dan memenjarakannya di dalam rumah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Apakah karena Islam tidak menjadikan wanita sebagai dagangan murah yang bisa dinikmati setiap pandangan mata dan pemuas nafsu mereka yang bejat itu?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Inikah kebebasan yang mereka kumandangkan? Dan inikah hak yang mereka tuntut? Apakah mereka menginginkan kita mengeluarkan puteri-puteri dan isteri-isteri kita ke jalan raya dengan pakaian telanjang, bercampur baur dengan kaum pria? Lalu di mana rasa cemburu terhadap kehormatan dan harga diri kita?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Benarlah apa yang disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap mereka dan pendukung mereka, sebuah hadits yang diriwayatkan oleh imam Ahmad dan Imam Bukhari, dari Ibnu Mas’ud Radhiallahu ‘anhu:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;” إن ما أدرك الناس من كلام النبوة الأولى , إذا لم تستح فاصنع ما شئت ”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Sesungguhnya termasuk yang didapati manusia dari salah satu ucapan kenabian yang terdahulu adalah : jika kamu tidak mempunyai perasaan malu, maka berbuatlah semaumu”.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Demi Allah! Yang demikian itu berarti terjerumus ke dalam rayuan dan ajakan Salibis yang dengki dan Zionis yang jahat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tidaklah mereka itu, melainkan corong-corong yang berbunyi menurut perintah bos-nya dari Barat dan Timur, untuk menghancurkan kita dalam beragama Islam.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dan saya mengatakan dengan tegas, sesungguhnya mereka itu tidak menyerukan kebebasan dan hak-hak wanita, karena Allah Azza wa Jalla telah memberikan hak-hak mereka dengan sempurna, tetapi mereka - demi Allah - menyerukan kebebasan tubuh-tubuh wanita agar melanggar batas-batas akhlak yang utama dan adat istiadat yang baik, sehingga tersebarlah kerusakan dan kebejatan moral di muka bumi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Alangkah jauhnya angan-angan mereka, sementara di sana telah siap putera-putera yang telah bersumpah untuk menjadi tentara Allah yang jujur di jalan agama, untuk mengorbankan segala apa yang ada pada diri mereka.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;GUNAKAN HIJABMU WAHAI SAUDARIKU…..&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di bawah ini keterangan bagaimana hijab yang syar’i, yang telah diperintahkan oleh Allah Azza wa Jalla padamu. jangan biarkan hijab anda seperti apa yang mereka kehendaki, dengan alasan cinta dan kasih sayang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla menghendaki jilbab itu sebagai penutup tubuhmu dari pandangan matamata serigala, penjaga rasa malu, dan memelihara kehormatanmu. Karena itu, jangan anda campakkan rasa malu itu dengan menjauhi perintah-Nya, sebaliknya pegang teguhlah perintah itu, karena perasaan malu selalu membawa kepada kebaikan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari - Muslim dari “Imran bin Hushain Radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Tidaklah rasa malu itu ada, kecuali selalu mendatangkan kebaikan&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;“.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Demikian juga Imam Hakim dan yang lainnya mengeluarkan hadits dari Ibnu Umar Radhiallahu anhuma, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Perasaan malu dan iman itu selalu berdampingan, bila salah satunya hilang, hilanglah yang lainnya&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;“.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Maka peganglah dengan teguh perkara yang dapat membawa kebaikan dan mendekatkan diri anda kepada Allah Azza wa Jalla. Ketahuilah bahwa kehidupan di dunia ini adalah sementara, sedang kehidupan akhirat adalah kekal/selama-lamanya.jangan anda jual kenikmatan yang abadi itu dengan harta dunia yang sirna ini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah Subhanahu wa ta’ala, berfirman:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;وما الحياة الدنيا إلا لعب ولهو وللدار الآخرة خير للذين يتقون أفلا تعقلون&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan sendau gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahami-nya?&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;” (QS Al An’am : 32).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Berikut ini sifat hijab yang syar’i, saya mohon kepada Allah Azza wa Jalla agar memberikan pertolongan kepada anda untuk memegang teguh padanya, dan menjadikan anda termasuk orang-orang yang mendengarkan nasehat dan mengikuti jalan yang baik.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;1. Hijab itu hendaknya &lt;strong&gt;menutupi seluruh badan&lt;/strong&gt;, dari atas kepala, sampai di bawah mata kaki, kecuali bagian-bagian yang dikecualikan oleh syariat.&lt;br /&gt;2. Hendaknya jilbab itu &lt;strong&gt;luas dan longgar&lt;/strong&gt;, sehingga tidak nampak bentuk tubuh dan anggota-anggota badan.&lt;br /&gt;3. Kain jilbab itu harus &lt;strong&gt;tebal&lt;/strong&gt;, sehingga tidak menampakkan warna kulit atau yang lainnya.&lt;br /&gt;4. &lt;strong&gt;Tidak bersifat menghias tubuh&lt;/strong&gt; yang menarik pandangan pria, karena tujuan jilbab itu sendiri adalah untuk menutupi keindahan tubuh.&lt;br /&gt;5. &lt;strong&gt;Tidak menyerupai pakaian pria&lt;/strong&gt;.&lt;br /&gt;6. &lt;strong&gt;Tidak menyerupai pakaian wanita kafir&lt;/strong&gt;.&lt;br /&gt;7. &lt;strong&gt;Tidak menyolok &lt;/strong&gt;dan menarik pandangan orang.&lt;br /&gt;8. &lt;strong&gt;Tidak memakai pewangi&lt;/strong&gt; atau minyak wangi yang tercium baunya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Demikianlah syarat-syarat jilbab yang Syar’i, yang masing-masing ada dalilnya baik dari Al Qur’an maupun Sunnah, dan sengaja tidak saya cantumkan supaya tidak terlalu panjang pembahasannya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Untuk lebih jelasnya, saya sarankan anda membaca dengan teliti kitab “Hijabul Mar’atul Muslimah menurut Al Qur’an dan As Sunnah” yang ditulis oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, semoga Allah memanjangkan umur beliau, karena banyak manfaatnya bagi kaum muslimin. (Beliau rahimahullah sudah wafat, semoga ruhnya ditempatkan bersama para syuhada dan shalihin, amin, pent).&lt;/p&gt; Referensi: Buku “Membina Keharmonisan Berumah Tangga Menurut Al Qur’an dan Sunnah dan Bahaya Emansipasi Wanita” Hal. 23-28 Penerbit Cahaya Tauhid Press, Malang)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1674769897518819067-1382221660348248534?l=abuazi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuazi.blogspot.com/feeds/1382221660348248534/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1674769897518819067&amp;postID=1382221660348248534' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1674769897518819067/posts/default/1382221660348248534'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1674769897518819067/posts/default/1382221660348248534'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuazi.blogspot.com/2008/03/hak-hak-wanita-yang-sempurna-dalam_20.html' title=''/><author><name>TABUNGAN 'AMAL SHALIH (T'AS)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05674433416570835606</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1674769897518819067.post-443469428365099644</id><published>2008-03-20T19:57:00.001+07:00</published><updated>2008-03-20T19:59:33.814+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Muslimah Sholihah'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;h2 style="text-align: center;" class="firstheading"&gt;&lt;a href="http://akhwat.web.id/muslimah-salafiyah/2008/02/21/kasih-sayang-islam-kepada-kaum-perempuan/" rel="bookmark" title="Permanent Link: Kasih Sayang Islâm kepada Kaum Perempuan"&gt;Kasih Sayang Islâm kepada Kaum Perempuan&lt;/a&gt;&lt;/h2&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;em&gt;Penulis: Al-Ustâdz Abû `Abdillâh Mu&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;ammad Yahyâ&lt;/em&gt;&lt;/div&gt; &lt;p align="justify"&gt;Dahulu, kaum jahiliyah sangat merendahkan dan menghina kaum perempuan. Diantara perbuatan mereka adalah mengubur anak perempuan hidup-hidup. Allah telah mencela mereka karena perbuatan biadab tersebut, Allah berfirman:&lt;/p&gt; &lt;p align="right"&gt;يَتَوَارَى مِن الْقَوْمِ مِن سُوءِ مَا بُشِّرَ بِهِ أَيُمْسِكُهُ عَلَى هُونٍ أَمْ يَدُسُّهُ فِي التُّرَابِ (النحل: ٥٩)&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Artinya: &lt;em&gt;Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;An-Nahl&lt;/strong&gt;: 59.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Nabi &lt;em&gt;shallallahu `alaihi wasallam&lt;/em&gt; pernah shalat mengimami jamaah dengan menggendong Umamah putri Zainab bintu Rasulillah &lt;em&gt;shallallahu `alaihi wasallam&lt;/em&gt; untuk mengajari manusia bahwa perbuatan seperti ini dibolehkan di dalam shalat jika diperlukan dan untuk melunakan watak keras jahiliyah yang dibangun diatas kesombongan dan kecongkakan. Sebab bangsa Arab saat itu kasar terhadap anak wanita bahkan mereka menguburnya hidup-hidup.&lt;span id="more-242"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="right"&gt;عَنْ أَبِي قَتَادَةَ الأَنْصَارِيِّ : أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ كَانَ يُصَلِّي وَهُوَ حَامِلٌ أُمَامَةَ بِنْتَ زَيْنَبَ بِنْتِ رَسُوْلِ اللهِ ، وَلأَبِي العَاصِ بنِ الرَّبِيْعِ بنِ عَبْدِ شَمْسٍ, فَإِذَا سَجَدَ وَضَعَهَا، وَإِذَا قَامَ حَمَلَهَا([۱]&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Dari Abu Qatadah Al Anshari &lt;em&gt;radhiallahu ‘anhu&lt;/em&gt; bahwa Rasululah &lt;em&gt;shallallahu `alaihi wasallam&lt;/em&gt; pernah shalat sambil menggendong Umamah, putri Zainab bintu Rasulillah &lt;em&gt;shallallahu `alaihi wasallam&lt;/em&gt; dan Abul Ash bin Rabi’ bin Abdu Syams. Jika sujud, beliau meletakkannya dan jika berdiri, beliau menggendongnya.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Maka celaka dan celaka bagi orang yang menanggap bahwa syariat Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu `alaihi wasallam&lt;/em&gt; sewenang-wenang terhadap hak wanita, padahal diantara mereka ada yang mengaku muslim.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Seandainya masih ada orang yang memberikan pemahaman kepada mereka bahwa agama yang benar, adil dan menjaga kemaslahatan dan hak-hak individu adalah Islam. Dan apa yang mereka ucapkan, lihat dan dengar dari ajaran Timur dan Barat adalah berasal dari akal yang sakit, hati yang terbalik dan pandangan yang menyimpang. Tiada pengendalinya selain hawa nafsu dan setan.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Syaikhuna Ahmad bin Yahya An-Najmi &lt;em&gt;hafizhahullah&lt;/em&gt; berkata:&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Islam datang menabur ke dalam hati-hati pemeluknya dengan benih-benih cinta dan kasih sayang terhadap anak-anak perempuan serta menjanjikan kebaikan atas semua itu.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Ahmad dan Ibnu Majah telah meriwayatkan dari Uqbah bin Amir secara &lt;em&gt;marfu’&lt;/em&gt;:&lt;/p&gt; &lt;p align="right"&gt;((مَنْ كَانَ لَهُ ثَلاَثُ بَنَاتٍ فَصَبَرَ عَلَيْهِنَّ وَأَطْعَمَهُنَّ وَسَقَاهُنَّ وَكَسَاهُنَّ مِنْ جِدَتِهِ، كُنَّ لَهُ حِجَاباً مِنَ النَّارِ يَوْمَ القِيَامَةِ))(۲)&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Artinya: &lt;em&gt;“Barangsiapa memiliki tiga anak perempuan, kemudian bersabar terhadap mereka, memenuhi kebutuhan makan, minum, pakaian mereka dari jerih keringatnya, maka ketiganya akan menjadi tameng baginya dari api neraka.”&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Kemudian yang wajib bagi para wali adalah berakhlak dengan adab-adab Islam dan mendidik anak-anak perempuannya dengan adab Islam, agar mereka menjadi anggota masyarakat yang &lt;em&gt;shalihah&lt;/em&gt;. Pembinaan dan pendidikan ini tidak kurang kewajibannya dari kewajiban memberi nafkah, pakaian dan tempat tinggal yang menjadi kewajiban setiap wali terhadap yang menjadi tanggungjawabnya. Maksudnya, pembinaan tersebut harus berupa bekal ilmu agama.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Adapun mengejar gelar tinggi untuk mencapai karir dan tidak menikah dan (atau) enggan mendapatkan anak dan tidak melaksanakan pekerjaan rumah yang menjadi keharusannya untuk tetap di dalamnya -agar dia menjadi tempat berlabuh bagi suaminya dan menjadi pendidik anak-anaknya-, maka yang demikian ini tidak terpuji. Sebab dia telah meninggalkan tugas islami yang karenanya perempuan itu diciptakan.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Dalam hal ini terdapat beberapa peringatan.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Peringatan pertama:&lt;/strong&gt; Sesungguhnya yang demikian itu (termasuk) meninggalkan tugas dasar yang karenanya wanita itu diciptakan dan dipersiapkan. Yaitu menjadi tempat berlabuh sang suami yang menambatkan hati kepadanya dan dia menambatkan hati kepada sang suami. Allah &lt;em&gt;Ta’ala&lt;/em&gt; berfirman:&lt;/p&gt; &lt;p align="right"&gt;وَمِن آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِن أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجاً لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآياتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ (الروم :۲۱)&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Artinya: &lt;em&gt;Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untuk kalian isteri-isteri dari jenis kalian sendiri, supaya kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kalian rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;Ar-Rum&lt;/strong&gt;: 21.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Sesungguhnya ayat ini adalah bukti terbesar yang menunjukkan bahwa seorang lelaki tidak akan lurus keadaannya dan tidak merasakan indahnya kehidupan melainkan dengan kehidupan rumah tangga yang mulia, demikian pula wanita.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Peringatan kedua:&lt;/strong&gt; Enggan mendapatkan anak dan keturunan. Keturunan adalah anak-anak, dimana kehidupan rumah tangga tidak terasa indah melainkan dengan keberadaan mereka. Dan Nabi &lt;em&gt;shallallahu `alaihi wasallam&lt;/em&gt; telah bersabda:&lt;/p&gt; &lt;p align="right"&gt;((تَزَوَّجُوا الوَدُوْدَ الوَلُوْدَ, فَإِنِّي مُكَاثِرُ بِكُمُ الأُمَمَ))&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Artinya: &lt;em&gt;“Nikahilah wanita yang penyayang dan subur, sesungguhnya saya bangga dengan banyaknya jumlah kalian di hadapan umat-umat.”&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Perempuan, bagaimana-pun gelar yang dicapainya, sesungguhnya kehidupannya tidaklah indah kecuali dengan keberadaan anak-anak lelaki dan perempuan.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Saya pernah mendengar bahwa sesungguhnya ada seorang perempuan yang telah menempuh studinya dan berjenjang meraih berbagai gelar sampai dia meraih yang tertinggi. Dan ujung-ujungnya dia berkata: “Ambillah seluruh gelar saya ini dan berikanlah anak untuk saya agar saya bisa bermain-main dengan mereka.”&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Sesungguhnya Allah telah menciptakan para perempuan agar mereka menjadi ibu yang mendidik dan pengasuh yang handal. Apabila dia keluar dan meninggalkan tugas ini, niscaya dia akan menyesal setelah itu dan menginginkannya setelah hilang ditelan waktu dan berlalunya masa muda. &lt;em&gt;Fallaahul musta’aan&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Peringatan ketiga:&lt;/strong&gt; Meninggalkan rumah tanpa penjaga yang amanah dan pengatur yang bijak yang dapat mendatangkan kebaikan kepadanya dan keluarganya serta membentengi dari kerusakan.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Allahu &lt;em&gt;Subhanahu&lt;/em&gt; telah memerintahkan para perempuan untuk tetap tinggal di rumah-rumah. Dan seorang istri tidaklah menjadi tempat berlabuh bagi suaminya melainkan jika dia tetap tinggal di rumah, mendidik anak-anak, memelihara rumah mengatur segala urusan rumah dan mempersiapkan kebutuhan suami di dalamnya.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Peringatan keempat:&lt;/strong&gt; Bahwa yang demikian adalah bertentangan dengan fitrah dan kodrat yang telah ditetapkan oleh Allah kepada para wanita dengan hikmah yang diketahui-Nya. Secara fisik perempuan telah disiapkan untuk tinggal di rumah dan di dalam lingkungan rumah tangga. Jika dia mengeluarkan dirinya dari lingkungan ini, maka dia bermaksiat kepada Penciptanya dan durhaka kepada masyarakatnya.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Jadilah dia menyimpang dengan berpaling dari perintah yang karenanya dia diciptakan. Oleh sebab itu, terdapat di dalam hadits:&lt;/p&gt; &lt;p align="right"&gt;((لَعَنَ اللهُ المُتَرَجِّلاَتِ مِنَ النِّسَاءِ، وَالمُخَنِّثِيْنَ مِنَ الرِّجَالِ))&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Artinya:&lt;em&gt; “Allah melaknat kaum perempuan yang menyerupai lelaki dan kaum lelaki yang menyerupai perempuan.”&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Sebab masing-masing mereka telah keluar dari fitrah yang telah ditetapkan dan ingin menetapkan fitrahnya sendiri tanpa sesuai dengan yang telah Allah tetapkan kepadanya&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Terakhir, sesungguhnya barangsiapa yang menghalangi anak perempuannya dari pernikahan syar’i, maka dia telah berbuat kejahatan yang besar kepadanya dan menjerumuskannya ke dalam perbuatan keji serta mengharamkannya mendapatkan indahnya suami, rumah tangga dan anak-anak.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Dan tidaklah dia menanti melainkan kemurkaan dari Allah dan kerendahan di dunia atau di akherat atau kedua-duanya. &lt;em&gt;Wabillahit-taufiq&lt;/em&gt;. Selesai.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1674769897518819067-443469428365099644?l=abuazi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuazi.blogspot.com/feeds/443469428365099644/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1674769897518819067&amp;postID=443469428365099644' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1674769897518819067/posts/default/443469428365099644'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1674769897518819067/posts/default/443469428365099644'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuazi.blogspot.com/2008/03/kasih-sayang-islm-kepada-kaum-perempuan_20.html' title=''/><author><name>TABUNGAN 'AMAL SHALIH (T'AS)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05674433416570835606</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1674769897518819067.post-908596316185618246</id><published>2008-03-20T19:51:00.000+07:00</published><updated>2008-03-20T19:52:49.480+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Muslimah Sholihah'/><title type='text'>Ikhtilat dan Bahayanya</title><content type='html'>&lt;h2 class="firstheading"&gt;&lt;a href="http://akhwat.web.id/muslimah-salafiyah/2008/03/10/ikhtilath-dan-bahayanya/" rel="bookmark" title="Permanent Link: Ikhtilath dan Bahayanya"&gt;Ikhtilath dan Bahayanya&lt;/a&gt;&lt;/h2&gt;      &lt;div class="boxedin"&gt;         &lt;span class="posted"&gt;posted in &lt;a href="http://akhwat.web.id/muslimah-salafiyah/category/membantah-feminis/" title="View all posts in Membantah Feminis" rel="category tag"&gt;Membantah Feminis&lt;/a&gt;,  &lt;a href="http://akhwat.web.id/muslimah-salafiyah/category/muslimah/" title="View all posts in Muslimah" rel="category tag"&gt;Muslimah&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; |     &lt;/div&gt;          &lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;Oleh: Ummu Salamah bintu ‘Alî As-Salafiyyah&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Ajakan untuk mempekerjakan wanita di bidang yang khusus untuk laki-laki yang berkonsekuensi &lt;em&gt;ikhtilath&lt;/em&gt;1 merupakan ajakan yang sangat berbahaya, akan berdampak kejelekan, berbuah pahit dan berakibat mengerikan, sama saja apakah hal itu dilakukan secara terang-terangan ataupun tidak dengan alasan tuntutan zaman dan peradaban. Yang pokok dari semua itu, ajakan seperti ini bertentangan dengan nash-nash syar`i yang memerintahkan wanita untuk tetap tinggal di rumahnya dan menunaikan pekerjaan yang khusus baginya di rumahnya. Siapa yang ingin mengetahui lebih dekat kerusakan tak terhitung yang ditimbulkan oleh &lt;em&gt;ikhtilath&lt;/em&gt; maka silahkan ia melihat, dengan pandangan yang adil dari dirinya dan semata ingin kebenaran, kepada masyarakat yang telah jatuh dalam bala besar ini secara sukarela atau pun terpaksa. Engkau akan dapatkan di situ penyesalan atas apa yang menimpa individu dan masyarakat, dan penyesalan atas lepasnya wanita dari rumahnya dan tercerai berainya keluarga. Engkau akan dapatkan pengakuan ini lewat lisan kebanyakan penulis bahkan tercantum dalam mass media. &lt;em&gt;Ikhtilath&lt;/em&gt; ini tidak lain kecuali akan menghancurkan masyarakat dan merobohkan bangunannya.&lt;span id="more-307"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Banyak sekali dalil shahih yang jelas menunjukan &lt;strong&gt;haramnya &lt;em&gt;khalwat&lt;/em&gt; (bersepi-sepi) dengan wanita yang bukan mahram, haramnya memandang kepadanya dan haramnya semua perantara yang mengantarkan seseorang kepada perbuatan yang Allah haramkan&lt;/strong&gt;. Dalil-dalil itu semua menetapkan haramnya ikhtilath (”&lt;strong&gt;Al Hijab was Sufur&lt;/strong&gt;“, Syaikh Abdul Aziz bin Baz, hal. 21).&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Allah &lt;em&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/em&gt; berfirman:&lt;/p&gt; &lt;p align="right"&gt;﴿وَقَرْنَ فِيْ بُيُوْتِكُنَّ وَلا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الأُوْلَى وَأَقِمْنَ الصَّلاةَ وَءَاتِيْنَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللهَ وَرَسُوْلَهُ إِنَّمَا يُرِيْدُ اللهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وُيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيْرًا﴾ [الأحزاب: ٣٣]&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;“Dan tetaplah kalian tinggal di rumah-rumah kalian dan janganlah bertabarruj seperti tabarrujnya orang-orang jahiliyah yang terdahulu. Dirikan shalat, tunaikanlah zakat dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah hanyalah menginginkan untuk menghilangkan kotoran dosa dari kalian wahai ahlul bait (Rasulullah) dan mensucikan kalian dengan sesuci-sucinya.”&lt;/em&gt; (QS. &lt;strong&gt;Al Ahzab&lt;/strong&gt;: 33)&lt;/p&gt; &lt;p align="right"&gt;﴿قُلْ لِّلْمُؤْمِنِيْنَ يَغُضُّوْا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوْا فُرُوْجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللهَ خَبِيْرٌ بِمَا يَصْنَعُوْنَ، وَقُلْ لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوْجَهُنَّ وَلا يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوْبِهِنَّ﴾ [النور: ٣٠-٣١]&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;“Katakanlah kepada kaum mukminin, hendaklah mereka menundukkan pandangan mereka dan menjaga kemaluan mereka. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengkhabarkan terhadap apa yang mereka perbuat.” Dan katakanlah kepada wanita mukminah, hendaklah mereka menundukkan pandangan mereka dan menjaga kemaluan mereka serta tidak menampakkan perhiasan mereka kecuali apa yang biasa tampak darinya dan hendaklah mereka mengulurkan kerudung mereka di atas dada mereka.”&lt;/em&gt; (QS. &lt;strong&gt;An Nur&lt;/strong&gt;: 30-31)&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Allah memerintahkan Nabi-Nya &lt;em&gt;Shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; untuk menyampaikan kepada kaum mukminin dan mukminat agar mereka senantiasa menundukkan pandangan mata dan menjaga kemaluan dari berzina. Kemudian Allah &lt;em&gt;Subhanahu wa Ta’ala&lt;/em&gt; menerangkan perkara ini lebih suci bagi mereka. Dimaklumi bahwa &lt;strong&gt;memelihara kemaluan dari perbuatan keji hanyalah dapat ditempuh dengan menjauhi perantara-perantaranya. Sementara membebaskan pandangan mata, bercampurnya wanita dengan lelaki dan lelaki dengan wanita di lapangan kerja dan selainnya merupakan perantara terbesar jatuhnya seseorang kepada perbuatan keji.&lt;/strong&gt; Mustahil seseorang bisa menjalankan dua perkara yang dituntut darinya ini (menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan dari berzina) bila ia bekerja bersama wanita yang bukan mahramnya sebagai rekan atau sekutu dalam perkerjaan. Dengan demikian, terjunnya wanita di medan ini bersama laki-laki dan terjunnya laki-laki di medan ini bersama wanita termasuk perkara yang dengannya mustahil bisa menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan, dan mustahil akan tercapai kesucian dan kebersihan hati.” (”&lt;strong&gt;Al Hijab was Sufur fil Kitâb was Sunnah&lt;/strong&gt;“, hal. 24)&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Uqbah bin Amir &lt;em&gt;radhiyallahu ‘anhu&lt;/em&gt; bertutur dari Nabi &lt;em&gt;Shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;, beliau bersabda:&lt;/p&gt; &lt;p align="right"&gt;إِيَّاكُمْ وَالدُّخُوْلَ عَلىَ النِّسَاءِ، فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ: أَفَرَأَيْتَ الْحَمْوَ؟ قَالَ: الْحَمْوُ الْمَوْتُ.. (رواه البخاري ومسلم)&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;“Hati-hati kalian masuk ke tempat wanita.”&lt;/em&gt; Berkata seseorang dari kalangan Anshar, “Bagaimana pendapatmu dengan ipar?” &lt;em&gt;“Ipar itu kematian,”&lt;/em&gt; jawab beliau. (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Ibnu Abbas &lt;em&gt;radhiyallahu ‘anhuma&lt;/em&gt; mengkabarkan bahwa Nabi &lt;em&gt;Shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; bersabda:&lt;/p&gt; &lt;p align="right"&gt;لا يَخْلُوَنَّ أَحَدُكُمْ بِامْرَأَةٍ إِلا مَعَ ذِيْ مَحْرَمٍ (رواه البخاري ومسلم)&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;“Sekali-kali tidak boleh salah seorang dari kalian bersepi-sepi dengan seorang wanita kecuali bila wanita itu bersama mahramnya.”&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Berdirilah seseorang laki-laki seraya berkata: “Wahai Rasulullah, istriku akan keluar melaksanakan haji sementara aku telah tercatat untuk ikut perang ini dan itu. Rasulullah bersabda: &lt;em&gt;“Kembalilah dan berhajilah bersama istrimu.”&lt;/em&gt; (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Abdullah bin Amr bin Al Ash &lt;em&gt;radhiyallahu`anhuma&lt;/em&gt; mengisahkan bahwa beberapa orang laki-laki dari Bani Hasyim masuk ke rumah Asma bintu Umais. Lalu masuk pula Abu Bakr Ash Shiddiq, suaminya. Abu Bakr tidak senang dengan keberadaan mereka di dalam rumahnya. Lalu menceritakan kejadian tersebut kepada Rasulullah &lt;em&gt;Shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;, setelahnya ia berkata: “Aku tidak melihat kecuali kebaikan.” Bersabdalah Rasulullah &lt;em&gt;Shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;: &lt;em&gt;“Sungguh Allah mensucikannya (Asma bintu Umais) dari perbuatan keji.”&lt;/em&gt; Kemudian beliau berdiri di atas mimbar, seraya berkhutbah:&lt;/p&gt; &lt;p align="right"&gt;لا يَدْخُل رَجُلٌ بَعْدَ يَوْمِي هَذَا عَلَى مُغِيْبَةٍ إِلا وَمَعَهُ رَجُلٌ أَوِ اثَنَان. (رواه مسلم)&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;“Setelah hariku ini, tidak boleh seorang pun masuk ke rumah wanita yang suaminya sedang tidak ada (pergi) kecuali bila bersamanya ada seorang atau dua orang laki-laki.”&lt;/em&gt; (HR. Muslim)&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Di rumah Ummu Salamah &lt;em&gt;radhiyallahu ‘anha&lt;/em&gt;, istri Rasulullah &lt;em&gt;Shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;, ada seorang waria (banci). Lalu si banci ini berkata kepada saudaranya Ummu Salamah, Abdullah bin Abi Umayyah, “Bila besok Allah menangkan Thaif atas kalian, akan kutunjukkan kepadamu putrinya Ghailan, karena ia menghadap dengan empat dan membelakang dengan delapan (yakni montok).” Mendengar hal tersebut, Rasulullah &lt;em&gt;Shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; bersabda: &lt;em&gt;“Tidak boleh sama sekaliorang banci ini masuk ke tempat kalian lagi.”&lt;/em&gt; (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;/p&gt; &lt;p align="right"&gt;مَا تَرَكْتُ بَعْدِيْ فِتْنَةً هِيَ أَضَرُّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ (رواه البخاري ومسلم)&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;“Tidaklah aku tinggalkan setelahku fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada fitnahnya wanita.”&lt;/em&gt; (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Abu Sa’id Al Khudri &lt;em&gt;radhiyallahu ‘anhu&lt;/em&gt; berkata dari Nabi &lt;em&gt;Shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;:&lt;/p&gt; &lt;p align="right"&gt;إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ، وَإنَّ اللهَ مُسْتَخْلِفَكُمْ فِيْهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُوْنَ، فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَالتَّقُوا النِّسَاءَ، فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيْلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ (رواه مسلم)&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;“Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau. Dan Allah menjadikan kalian sebagai khalifah (pengatur) di atasnya, hingga Ia melihat bagaimana kalian beramal. Karena itu takutlah kalian kepada dunia dan berhati-hati terhadap wanita karena awal fitnah yang menimpa Bani Isra’il adalah pada wanitanya.”&lt;/em&gt; (HR. Muslim)&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Mengeluarkan wanita dari rumahnya yang merupakan istananya dalam kehidupan dunia ini berarti mengeluarkannya dari apa yang dikandung oleh fithrah dan tabiatnya yang Allah ciptakan.&lt;/strong&gt; Maka &lt;strong&gt;seruan mempekerjakan wanita di bidang yang khusus bagi lelaki adalah perkara yang berbahaya bagi masyarakat islam dan berkonsekuensi ikhtilath yang teranggap sebagai perantara terbesar kepada perbuatan zina yang mengoyak masyarakat dan merobohkan nilai dan akhlaknya.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Allah menciptakan wanita dengan susunan tubuh yang khusus yang sangat berbeda dengan lelaki. Allah siapkan wanita itu untuk menunaikan pekerjaan di dalam rumah dan pekerjaan yang dilakukan di antara kaum wanita. Makna dari hal ini adalah &lt;strong&gt;menerjunkan wanita di bidang yang khusus bagi lelaki teranggap sebagai perbuatan mengeluarkan wanita dari susunan penciptaannya dan tabiatnya&lt;/strong&gt;. Jelas ini &lt;strong&gt;merupakan pelanggaran yang besar terhadap wanita, memutuskan mental/jiwanya dan menghancurkan pribadinya.&lt;/strong&gt; Tidak berhenti sampai di situ bahkan anak-anak akan ikut merasakan dampak buruknya, karena mereka kehilangan pendidikan, kasih saying dan kelembutan. Ibu yang seharusnya menunaikan tugas ini telah terpisah darinya dan memisahkan diri secara utuh dari istananya, padahal tidak mungkin ia akan dapatkan kesenangan dan ketenangan kecuali di dalamnya. Kenyataan masyarakat yang berada dalam posisi ini merupakan bukti yang paling benar dari apa yang kami katakana ini.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Kami telah menyebutkan dalil-dalil syar’i yang menunjukkan haramnya &lt;em&gt;ikhtilath&lt;/em&gt; dan haramnya wanita bergabung dalam pekerjaan laki-laki. Sebenarnya hal ini telah mencukupi bagi pencari kebenaran. Akan tetapi melihat kenyataan adanya sebagian orang suka mengambil faedah dari ucapan orang-orang barat lebih dari mengambil faedah dari ucapan Allah dan ucapan ulama kaum muslimin, berikut ini kami nukilkan untuk mereka pernyataan yang mengandung pengakuan orang-orang barat dan timur tentang bahaya dan kerusakan ikhtilath. Mudah-mudahan mereka merasa cukup dengannya dan mengetahui bahwa apa yang dibawa oleh agama mereka yang agung berupa pelarangan ikhtilath merupakan sumber kemuliaan dan penjagaan terhadap wanita dari perantara-perantara yang akan membahayakan dan menyabik kehormatan mereka.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Berkata Ladi Koek, seorang penulis wanita berkebangsaan Inggris: “Ikhtilath itu disenangi oleh laki-laki. Karena itulah wanita berambisi untuk melakukan perkara yang menyelisihi fithrahnya ini. Semakin banyak ikhtilath, semakin banyak pula terlahir anak-anak zina. Ini merupakan bencana yang besar bagi wanita.”&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Ia berkata pula: “Ajarilah para wanita agar menjauh dari bercampur baur dengan lelaki dan kabarkan kepada mereka akibat tipu daya tersembunyi yang selalu mengintai.”&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Samuel Samailis, seorang lelaki Inggris, berkata: “Undang-undang yang mengharuskan wanita bekerja di pabrik-pabrik, sekalipun meningkatkan penghasilan bagi negara, namun akibatnya meruntuhkan bangunan kehidupan rumah tangga. Karena ia menghantam bangunan yang kokoh, mencerai beraikan sendi-sendi keluarga dan merobek-robek ikatan kemasyarakatan. Karena ia mengambil istri dari suaminya dan anak-anaknya dari kerabatnya. Jadilah hal ini tidak menghasilkan apa-apa kecuali sekedar melemahkan akhlak wanita, karena tugas wanita yang hakiki adalah mengurus pekerjaan rumah tangga, seperti merapikan tempat tinggalnya, mendidik anak-anaknya, mengatur keuangan rumah tangganya dan menunaikan kebutuhan-kebutuhan rumah. Akan tetapi pabrik-pabrik (tempat-tempat kerja di luar rumah) ini telah mengambilnya dari semua kewajiban di atas, sehingga rumah bukan lagi menjadi tempat-tempat tinggal, anak-anak tumbuh remaja tanpa pendidikan dan tersia-siakan, padamlah cinta antara suami istri dan keluarlah si wanita dari keberadaannya sebagai istri yang dikasihi sang suami menjadi partnernya dalam pekerjaan dan kepayahan/kesulitan kerja.”&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Seandainya kita mau menceritakan apa yang diucapkan oleh orang-orang barat yang mau bersikap adil tentang kemudharatan &lt;em&gt;ikhtilath&lt;/em&gt;, yang berbuah ikut sertanya wanita di bidang kerja laki-laki, niscaya terlalu panjang. Akan tetapi isyarat yang bermanfaat lebih mencukupi daripada pengungkapan yang panjang. (Diringkas dari “&lt;strong&gt;Al Hijab was Sufur&lt;/strong&gt;“, hal. 21)&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Footnote:&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;1Bercampur baur antara laki-laki dan perempuan tanpa adanya pemisah.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Sumber: &lt;strong&gt;الإنتصار لحقوق المؤمنات&lt;/strong&gt; karya Ummu Salamah As-Salafiyyah. Penerbit: Darul Atsar. Edisi Indonesia: &lt;strong&gt;Persembahan untukmu, Duhai Muslimah (Sebuah Pembelaan terhadap Hak-hak Wanita menurut Aturan Syari’at&lt;/strong&gt;; pasal &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Ikhtilath dan Bahayanya&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;, hal. 253-261. Penerjemah: Ummu Ishâq Zulfâ bintu Husein Al-Atsariyyah. Penerbit: Pustaka Al-Haura’ Yogyakarta, cet. ke-1. Dinukil untuk http://akhwat.web.id. Silakan mengcopy and memperbanyak dengan menyertakan sumbernya.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1674769897518819067-908596316185618246?l=abuazi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuazi.blogspot.com/feeds/908596316185618246/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1674769897518819067&amp;postID=908596316185618246' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1674769897518819067/posts/default/908596316185618246'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1674769897518819067/posts/default/908596316185618246'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuazi.blogspot.com/2008/03/ikhtilat-dan-bahayanya.html' title='Ikhtilat dan Bahayanya'/><author><name>TABUNGAN 'AMAL SHALIH (T'AS)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05674433416570835606</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1674769897518819067.post-1093014981367608363</id><published>2008-03-20T19:24:00.001+07:00</published><updated>2008-03-20T19:26:30.357+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ijtimaiyyah'/><title type='text'>KHILAFAH 'ALA MINHAJIN NUBUWWAH</title><content type='html'>&lt;h1 style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;KHILAFAH 'ALA MINHAJIN NUBUWWAH&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;1.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Landasan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;1.1.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt; Al Quran&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;a.   surat Al Anbiyaa : 107 ( Misi Islam rahmatan lil A’alamin)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;b.   surat Saba : 28 (Misi Islam rahmatan  bagi segenap manusia) &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;c.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;surat Ali Imran : 102 – 103 ( kewajiban menegakkan Islam secara berjama’ah)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;d.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;surat Asy Syuraa : 13 ( perintah menegakkan dien dan larangan berpecah belah)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;e.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;surat Al Mujadalah : 22 (Kedudukan hizbullah)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;f.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;surat Al Maidah : 54, 55, 56  (Kriteria Hizbullah)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;g.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;surat  An Nisaa : 59 ( Kewajiban ta’at pada Allah, RasulNya dan Ulil Amri kalangan ummat beriman )&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;h.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;surat   Ar Rum : 31( berfirqah firqah dalam dien termasuk musyrik) &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;i.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;surat An Nuur : 55 ( Allah menjanjikan berdominasinya fase kekhilafahan bagi yang beriman dan  amal sholeh )&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;j.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;surat At taubah : 111 ( Melaksanakan Islam, konsekwesinya harus bertransaksi dengan Allah dalam bentuk bae’at untuk menjual diri dan harta dalam jihad di jalan Allah yang akan ditukar dengan sorga Allah )&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;1.2.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt; Al Hadits&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;a.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Sabda Rasulullah SAW ketika akan mengutus  duta duta kepada para raja dan penguasa : :Sesungguhnya aku diutus untuk sekalian manusia dan rahmat bagi sekalian alam”&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;b.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt; “Wajib bagi kalian mengikuti pola (sunnah) ku dan pola (sunnah) Khulafaa Ar Rasyidin Al Mahdiyyin ( HR. Ahmad dari ‘Irbadl bin Sariyah, Musnad Ahmad juz IV, Sunan Abu dawud Juz IV : Kitabus Sunnah)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;c.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Al Khilafah di kalangan ummatku 30 th. ( HR. Abu Dawud da Tirmidziy , Jami’ush Shohieh, kitabul Fitan, bab : Maa Jaa-a fil khilafah)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;d.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Datangnya periode kekhilafahan berpola kepada sunnah kenabian ( Musnad Ahmad, juz IV, bab Al indzar wa tahdzir)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;e.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Lima perintah Allah kepada Nabi Muhammad &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Shallalaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt; : Bil jama’ah, bis sam’I,wat tha’ah, wal hijrah wal jihad fi sabiilillah ( HR. Ahmad, Musnad Ahmad , juz IV)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;f.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Perintah luzumul jama’ah ( HR. Al Bukhoriy, Muslim,Ibnu Majah, kitabul Fitan)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;g.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Ancaman meninggalkan system berjama’ah : mati jahiliyyah (Shohieh Bukhory dan Muslim, dari Ibnu Abbas bab amr bi luzumil jama’ah/kitabul Fitan )&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;1.3.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt; Atsar Shahabat&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Sahabat ‘Umar bin Khoththab : “Tidak terwujud  Islam kecuali dengan berjama’ah”.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;2.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Pengertian&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;2.1.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Secara bahasa&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Al Khilafah ‘ala minhajin Nubuwwah&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Khilafah : pergantian, estafet kelanjutan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Al Khilafah : pergantian dengan batasan tertentu&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;‘ala : berdasarkan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;minhaj : pola, methode, jejak&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Nubuwwah :  bersifat kenabian&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;2.2.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Secara istilah&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Al Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Periode atau system kepemimpinan pelanjut dari system kepemimpinan sesudah wafatnya Nabi Muhammad &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Shallalaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt; yang berpola mengikuti / atas dasar pola sunnah Nabi Muhammad &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;3.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Aplikasi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;3.1.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Dimasa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent3" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Nabi Muhammad &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;shallallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt; sebagaimana nabi nabi sebelumnya, membina ummatnya dengan mengikuti perintah Allah, yakni melaksanakan dan menegakkan  dienul Islam dalam system kesatuan yang  tidak terpecah belah (QS. Asy Syura: 13, hadits Nabi SAW: Lima perintah Allah kepada Nabi Muhammad &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;shallallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;: berjama’ah, mendengar, mentha’ati, hijrah dan jihad fi sabilillah). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Pola berjama’ah secara otomatis terwujud dengan adanya seseorang  yang dibae’at oleh ummat sebagai pimpinan untuk dita’ati dimanapun mereka berada sebagai satu kesatuan atas dasar ibadah kepada Allah dan sepanjang keta’atannya tidak menyalahi Allah subhanahu wa ta’ala. Keharusan ummat Islam melebur dalam kehidupan berjama’ah ini telah berlaku semenjak masih periode Makkah, Madinah dan seterusnya sebagaimana yang dilaksanakan oleh para kholifah Rasyidin yang  empat. Wasiat rasulullah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;shallallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt; kepada  sahabat Khudzaefah bin Yaman  merupakan pegangan bagi ummat  agar muslimin tetap konsisten dengan pola berjama’ah : “talzamu jama’atal muslimina  wa  imaamahum” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;3.2.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Dimasa Khulafaa Ar Rasyidin&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Di masa empat kholifah rasyidin  al mahdiyyin  (Abu Bakr Ash Shiddiq, ‘Umar bin Al Khoththob, Utsman bin Affan dan ‘Aly bin Abi Tholib ra)  pola kepemimpinan  Rasulullah  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 6pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;shallallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt; dilanjutkan dengan tidak merubah sedikitpun system yang telah dilaksanakan oleh Rasulullah&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 6pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt; shallallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;, yaitu  jama’ah, sekalipun kawasan kepemimpinan di masa itu sangat luas dan pembagian amanah sangat rinci seperti yang dirintis oleh kholifah  Abu Bakar dan Umar&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 6pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt; radhiallahu ‘anhuma&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;3.3.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Dimasa Mulkan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Di masa kekholifahan Aly bin Abi Tholib&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 6pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt; radhiallahu ‘anhu&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt; , ummat Islam mengalami ujian perpecahan. Klimaks  dari  perpecahan yang disulut oleh hasutan oknum Yahudi yang pura pura berbae’at kepada kholifah adalah prahara terbunuhnya kholifah Utsman &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 6pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;radhiallahu ‘anhu&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;Di Syam, Muawiyyah bin Abi Sufyan berhasil memanfaatkan situasi fitnah ini untuk menanamkan pengaruhnya di kalangan muslimin. Tuntutan  mengadili pembunuh Utsman, secara efektif digunakannya untuk menggalang kekuatan dalam menentang kholifah Aly&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 6pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt; radhiallahu ‘anhu&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt; yang berakhir dengan suatu peperangan (perang Shiffin) dan dilanjutkan dengan peristiwa Tahkim yang mema’zulkan Aly sebagai Kholifah. Dalam peristiwa ini sahabat Aly &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 6pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;radhiallahu ‘anhu&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt; terbunuh secara curang. Selanjutnya Muawiyyah mengumumkan diri sebagai raja pertama dalam Islam dengan menetapkan anak keturunannya sebagai “kholifah” pengggantinya kelak. Muawiyyah mengenyampingkan pola kenabian dan kekhilafahan yang diamalkan empat Kholifah pendahulunya. Pola yang diterapkan dalam memimpin ummat mirip pola kerajaan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Byzantium&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt;, sementara ia pun ridlo dengan sebutan raja. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;3.4.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;Sesudah fase Mulkan.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;Sejak terpimpin dalam system kerajaan, kondisi ummat Islam semakin merosot. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Perebutan kekuasaan dalam intra dan antar dinasti telah menimbulkan fitnah pembunuhan yang sangat mengerikan. Permusuhan yang tidak dibenarkan syariat berjalam secara turun temurun. Ummat Islam jatuh kembali ke zaman jahilliyah. Penggunaan gelar kholifah atau sulthan pun marak digunakan dinasti dinasti kecil yang berdiri sendiri sendiri.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Akhir perjalanan panjang pola kepemimpinan dibawah bentul dan pola kerajaan berakhir pada dinasti Turki Utsmani pada tahun 1924 M. Dalam suatu hadits Rasulullah menyebut fase ini sebagai fase Mulkan Adldlon dan mulkan jabbariyyah.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Rasulullah &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;juga menyatakan bahwa setelah dua fase tersebut di atas akan ada fase berikutnya yang disebut fase Khilafah  ‘ala minhajin Nubuwwah, dimana ummat Islam kembali pada pola kepemimpinan yang mengikuti jejak kenabian dan khulafaur rasyidin al mahdiyyin. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;4.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Proses kehadiran kembali Jama’ah Muslimin (Hizbullah)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Keruntuhan dinasti Turki Utsmani ditandai dengan diumumkannnya penghapusan symbol kekholifahan dikalangan muslimin oleh Mustapa Kemal Pasya ‘ Attaturk’ - salah seorang kader didikan Barat - pada 3 Maret 1924. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent3" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Sejak saat itu  kepemimpinan ummat yang bersifat sentral terhapus dari kehidupan muslimin. Kevakuman kepemimpinan ini menjadikan dunia Islam semakin tercabik-cabik dan disekat-sekat oleh kolonialisme Barat. Ummat Islam digiring kedalam bentuk kepemimpinan baru, nasionalisme modern yang kita kenal saat ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Usaha penyatuan muslimin setelah keruntuhan dinasti Utsmaniyyah ini, senantiasa diperjuangkan oleh para pemuka ummat di seluruh dunia. Beberapa kali konferensi Islam internasional diselenggarakan, namun usaha tersebut selalu berakhir pada kebuntuan.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Sebagaimana di dunia Islam lainnya, para pemuka ummat di Indonesia, termasuk Wali Al-Fattaah&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;(i)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt; melakukan usaha yang sama. Diantaranya pada bulan Desember 1924, atas prakarsa H. Oemar Said Tjokroaminoto, menyelenggarakan Kongres yang bersifat nasional bagi penyatuan ummat, yang kemudian melahirkan utusan muslimin Indonesia ke Kongres Islam se dunia yang direncanakan akan dilaksanakan di Mesir pada Maret 1925. Namun hal tersebut baru terealisir pada Juni 1926 di Mekkah,  karena adanya pengunduran waktu dan perubahan tempat kongres akibat terbunuhnya Sir Lee Tack di Cairo (19 November 1924). &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Kongres ini tidak berhasil melahirkan kata sepakat tentang format khilafah, karena sebagian besar utusan mendahulukan kepentingan nasional (politik) mereka sebagai basis perjuangan menegakkan syariat. Dalam hal ini pihak Saudi lebih menyetujui pembicaraan persoalan khilafah sebagai bukan persoalan politik, tetapi syariat Islam untuk mempersatukan ummat&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Kegagalan demi kegagalan untuk menyatukan ummat Islam, baik di tingkat nasional maupun internasional, telah membangkitkan semangat introspeksi para pemuka ummat terhadap asas fondasi gerak perjuangannya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;5.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Diamalkannya  kembali sistem khilafah  ‘ala minhajin nubuwwah&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Pergulatan perjuangan intensif Wali Al-Fattaah dalam menemukan jalan penyatuan ummat yang seutuhnya (kaffaah) dan berlandaskan Al-Qur`an dan As-Sunnah, telah menghantarkannya kepada kesimpulan, bahwa &lt;i&gt;“Apabila organisasi-organisasi Islam, baik yang berpolitik ataupun tidak, kembali kepada pimpinan Allah dan Rasul-Nya, Insya Allah mereka itu akan bersatu. Akan tetapi kalau perjuangan mereka itu hanya dengan mengutamakan pendapat sekalipun katanya ikhlas, juga tidak ikhlas, sehingga gelap gulita di kelilingi ummat, menyebabkan mereka mencari jalan-jalannya sendiri-sendiri, mencoba mencari pendapat-pendapat lain yang lebih baik. Oleh karenanya saya harap, marilah kita bersatu dengan berpegang pada tali Allah dan Rasul-Nya. Kalau hanya dengan pendapat saja, kita tidak akan mencapai persatuan itu.”&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Untuk mencapai derajat sebaik-baik ummat dan mewujudkan Islam yang rahmatan lil ‘alamin, Wali Al-Fattaah menyeru kepada Muslimin agar kembali sepenuhnya kepada Allah dan Rasul-Nya (Kitabullah wa sunnatu Rasulillah) dengan mengamalkan kembali kehidupan berjama’ah dengan satu imaamnya, sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 6pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;shallallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt; dan khulafaur rasyiddin al mahdiyyin, Abu Bakar ash-shiddiq, Umar bin Khaththab, Utsman bin 'Affan, dan 'Ali bin abi Thalib &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 6pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;radliallahu ‘anhum&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Dan sebagai muslim yang harus mempertanggung jawabkan seluruh aktifitasnya di dunia ini kepada Allah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 6pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;subhanahu wa ta'ala&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt; di akhirat kelak, dan setelah berupaya secara maksimal menemukan pengamal khilafah ‘ala minhajin nubuwwah sebagai wujud kongkrit talzamu jama’atal Muslimina wa imaamahum, maka dengan penuh rasa takut dan tawadlu, Wali Al-Fattaah menerima pembai’atannya sebagai Imaamul Muslimin. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Prosesi pembai’atan Wali Al-Fattaah oleh umat Islam yang meyakini saat itu , termasuk diantaranya seorang ahli hadits Syeikh Muhamad Ma’sum, dilaksanakan pada 10 Dzulhijjah 1372 H/20 Agustus 1953 M di Gedung Adhuc Staat, Menteng Raya, Jakarta (sekarang gedung Bappenas Republik Indonesia). Setelah Wali Al-Fattaah wafat (Banyumas, 27 Dzulqa’dah 1396 H/19 November 1976), maka dibai’atlah sebagai penggantinya Bapak Muhyiddin Hamidy pada tgl. 28 Dzulqa’dah 1396 H/20 November 1976 M).  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;                  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;(1)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;Wali Al Fattaah, tokoh muslim yang tidak terlalu asing di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; semasa perjuangan.Tahun 1928–1941 –an, beliau akktif dalam dunia kewartawanan dan partai politik. Selain memimpin dan mejadi redaktur beberapa &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;surat&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; kabar kenamaan pada masanya,  beliau juga  menjabat ketua umum Pengurus Besar Wartawan Muslim Indonesia (Warmusi) yang cukup berpengaruh di zaman itu. Di lapangan politik, beliau adalah Ketua Muda II Majlis Syura Muslimin &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; (Masyumi).&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;Tahun 60-an, di saat muslimin bergairah dengan mendirikan pertai partai politik untuk perjuangan Islam, beliau justru mengundurkan diri dari Masyumi yang ketika itu sebagai partai mayoritas. Latar belakangnya adalah  karena menyadari melalui kajian mendalam bertahun tahun sebelumnya mengenai hakekat perjuangan menegakkan syare’at Islam secara murni. Beliau  sampai pada kesimpulan bahwa Islam adalah suatu ajaran Allah yang  kaffah. Berasal dari wahyu Allah yang  tidak butuh lagi formulasi teori kenegaraan atau filsafat  apapun untuk mengatur system kepemimpinan ummatnya. Wujud kepemimpinan ummat dalam keadaan bagaimanapun adalah al jama’ah. Rasulullah , secara lengkap menyebut: Jama’ah Muslimin. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Bukan sistem kepartaian yang dapat ditelusuri secara histerologi siapa penggagas awalnya.   Keyakinan inilah yang beliau  sosialisasikan dan diskusikan terus. Thema da’wah beliau ini semakin mengkristal dan terkumpullah hari demi hari umat Islam ikut meyakini dan mengamalkan da’wah beliau ini. Pada th 1953 / 1372 beliau didaulat dan dibae’at menjadi Imaam. Beliau menempatkan kalimat Hizbullah (QS. Al Maidah 54,55,56 dan Al Mujadalah 22 ) sebagai identitas khusus untuk Jama’ah Muslimin yang dipimpinnnya, untuk menegaskan bahwa Jama’ah Muslimin yang pertama kali diamalkan kembali adalah yang ditetapi tgl 10 Dz.Hijjah 1372/20 Agustus 1953 itu. Sehingga dimasa mendatang bila timbul jama’ah muslimin – jama’ah  muslimin yang lain, ummat tidak menjadi bingung dalam mengambil sikap sesuai hadits Rasulullah: Bae’atlah pada Imaam jama’ah yang pertama dan yang selanjutnya (HR. Muslim, Kitabul Imarah II/32) Ketika beliau wafat kaum muslimin membae’at H. Muhyiddin Hamidy sebagai penggantinya hingga saat ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;6.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Jama’ah Muslimin &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Jama’ah Muslimin di masa rasulullah  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;shallallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;, dimulai semenjak beliau membina ummat di Makkah setelah diangkatnya beliau sebagai seorang Rasul. Dengan beberapa shahabat awal, Abu Bakr Ash Shiddiq, Aly bin Abi Tholib,  Hamzah, Bilal, Amar bin Yasir, Anas bin  Malik, zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Thalib, Fathimah binti Rasulullah, Hafsah binti Abu Bakr, dll – mereka mewujudkan  persaudaraan jama’ah muslimin  di bawah tekanan kafir Quraisy dan musyrikin Makkah. Namun jama’ah ini  tetap survive bahkan semakin berkembang hingga hijrah ke Madinah dan terus dapat melintasi cobaan dan hambatan da’wah di masa-masa berikutnya. Pola kepemimpinan beliau tidak berganti setelah hijrah ke Madinah, tetap sebagai jama’ah muslimin. Tidak sampai 30 tahun semenjak kewafatan beliau, Jama’ah Muslimin telah melintasi jazirah Arab hampir keseluruhannya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Jama’ah Muslimin ditangan kepemimpinan para kholifah rasyidah semakin menggetarkan dunia, semua imperium musuh bertumbangan dan rahmatnya kejayaan Islam semakin dirasakan masyarakat dunia. Hingga sampailah pola kepemimpinan  jama’ah  berganti menjadi pola dinasti kerajaan. Kejayaan dan kekayaan muslimin yang berlimpah ruah, serta peradaban keilmuan yang di miliki ummat Islam menjadi fitnah yang luar biasa di zaman dinasti Umawiyah dan Abbasyiyyah hingga Turki Utsmaniyyah. Muslimin menjadi berkeping keping dan tersekat sekat dalam  firqah firqah tanpa daya dan digagahi oleh musuh musuh Islam.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Gerakan Islam “Hizbullah” yang  berbentuk jama’ah, adalah satu gerakan  ummat Islam yang timbul atas kesadaran terhadap khiththah Rasulullah dalam menjalankan hidup dalam naungan Islam, yaitu kekhilafahan di bawah satu pimpinan, Imaamul muslimin, sebagaimana di masa  Nabi dan para sahabat Khulafa Ar Rasyidin.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Gerakan ini   pertama kali dimaklumatkan oleh Waly Al Fattaah di gedung Aduch Staat, jln. Taman Surapati 1, Menteng Jakarta (sekarang gedung BAPPENAS) pada 10 Dzul Hijjah 1372 /20 Agustus 1953. Merupakan  gerakan penegakan syare’at Islam secara kaaffah, setelah vakumnya kepemimpinan ummat Islam sedunia  dalam bentuk jama’ah dan imamah.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IT"&gt;Ruh ( visi dan misi ) gerakan ini adalah :&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="ES-MX"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="ES-MX"&gt;Hizbullah, berpedoman pada Al Quran dan Sunnah Rasulullah&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="ES-MX"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="ES-MX"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="ES-MX"&gt;Hizbullah berjuang kerena Allah, dengan Allah, untuk Allah, bersama sama segenap kaum muslimin menuju mardlatillah&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="ES-MX"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="ES-MX"&gt;Dalam menghadapi suasana yang semakin bergolak maka Hizbullah menetapkan langkah langkah asasi (strategis) sebagai berikut ;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="ES-MX"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="ES-MX"&gt;1.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="ES-MX"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="ES-MX"&gt;Pandangan, pendirian dan sikap hidup muslimin: yakin bahwa berpegang teguh dan ta’at melaksanakan pedoman Al Quran dan Sunnah Rasulullah adalah sunber segala kejyaan dan kebahagiaan.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="ES-MX"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="ES-MX"&gt;2.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="ES-MX"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="ES-MX"&gt;Ukhuwwah Islamiyah : Kesatuan bulat bagi seluruh muslimin yang tidak dapat dibagi bagi, dipisah pisahkan, apalagi diadu dombakan, sebagai perwujudan ukhuwwah Islamiyah , baik di dalam kemudahan  ataupun di dalam kesukaran dan  di dalam perjuangan.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="ES-MX"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="ES-MX"&gt;3.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="ES-MX"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="ES-MX"&gt;Kemasyarakatan : Berpihak pada kaum yang dlaif ( lemah, tertindas dan teraniaya) mempertegak keadilan.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="ES-MX"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;4.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;Sikap terhadap lain lain golongan : Tegak berdiri di dalam lingkungan kaum muslimin di tengah tengah antara lain lain golongan , memyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada kebajikan dan mencegah dari perbuatan munkar.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;5.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;Antara bangsa bangsa : Menolak tiap tiap fitnah penjajahan dan kedzaliman suatu bangsa atas bangsa  yang lain dan mengusahakan ta’aruf antar bangsa bangsa. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;        Semenjak ditetapinya perjuangan Islam dengan system jama’ah yang dipelopori Wali Al-Fattaah, telah dua kali diselenggarakan musyawarah antar ummat Islam se &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;  (Musyawarah Ahlul Halli wal Aqdi) yang hasilnya adalah sebagai berikut :&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;1.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt; Musyawarah Ahlul Halli wal Aqdi I&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;Tanggal 15-18 Jumadil Awwal 1376/ 18 – 21 Desember 1956, di jalan Menteng Raya 56.Tujuan musyawarah ini adalah : Meninjau apakah muslimin sekarang ini dalam keadaan yang telah sesuai dengan yang dipimpinkan Allah dan rasulNya atau belum.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;Dalam penelitian melalui musyawarah tsb. Menyimpulkan dan mengambil suatu keputusan : “Wajib adanya satu &lt;b&gt;&lt;i&gt;Jama’ah dan Imaamnya”&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;2.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt; Musyawarah Ahlul Halli wal Aqdi II&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent3" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;Tanggal 27 – 29 Rajab 1378 / 6-8 Februari 1959, di masjid Petojo Sabangan , &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt;. Tujuannya  adalah : Mengecek sampai dimana realisasi putusan Ahlul Halli wal Aqdi yang pertama dikerjakan oleh ummat Islam.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;Dalam evaluasi forum itu, tidak ada satu sambutanpun dari tokoh tokoh kalangan Islam, ulama atau zu’ama kecuali hanya dua orang saja.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;Keputusan Musyawarah Ahlul Halli wal Aqdi II memutuskan bahwa “&lt;b&gt;&lt;i&gt;Gerakan Islam Hizbullah adalah satu satunya  Jama’ah Muslimin di dunia”&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent3" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;Keputusan ini disiarkan ke luar negeri dalam bahsa Arab via RRI.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;3.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt; Musyawarah Alim Ulama dan Zu’ama &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;Tanggal 25-27 Jumadil Awwal 1394 / 15-17 Juni 1974, yang bertujuan untuk mendapatkan kesatuan bulat umat Islam dengan contoh rasulullah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 6pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;shallallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt; meuju ridla Allah Subhanahu wa ta’ala.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;Hadir dalam musyawarah itu, sebagaimana pada Musyawarah Ahlul Halli wal Aqdi I dan II, selain dari Jama’ah Muslimin (Hizbullah) sendiri, juga dihadiri tokoh tokoh muslim &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; terkemuka.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;Dalam akhir Musyawarah Alim Ulama dan Zuama itu, panitia perumus memutuskan sbb :&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;1.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;Menerima Jama’ah Muslimin ( Hizbullah ) sebagai satu satunya wadah bagi  seluruh muslimin dengan Imaamnya Wali Al Fattaah, seraya mentha’atinya karena Allah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 6pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;Subhanahu wa ta’ala&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt; selama beliau menta’ati Allah dan RasulNya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;2.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;Menda’wahkan Jama’ah Muslimin sebagai  tersebut pada nomor  1 kepada segenap ummat Islam, ( Ulama, Zu’ama, Organisasi organisasi  Islam) untuk menetapinya kerena Allah semata.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;3.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;Segala sesuatu yang timbul akibat  keputusan ini,  karena harus diselesaikan dengan dalil dalil qath’iy yakni Kitaballah dan Sunnah Rasul-Nya&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;7.   Program  kerja  Jama’ah Muslimin ( Hizbullah) untuk ummat&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Jama’ah Muslimin (Hizbullah)  dengan  bertambahnya  terus dari hari ke hari ummat yang  melaksanakan syare’at wajibnya berjama’ah  melaksanakan pembinaan dengan  menempatkan pembantu pembantu Imaam dalam kegiatan sehari hari menyantuni ummat. Mereka terdiri dari pembantu Imaam  di tingkat wilayah untuk penyantunan ummat dalam skala wilayah yang paling luas, yang didalamnya  meliputi wilayah keniyabahan, keriyasahan dan kemundziran, suatu kelompok ummat yang berjumlah paling sedikit, minimal 3 orang. Disamping itu ada pembantu Imaam untuk bertanggung jawab thd penyantunan ummat dibidang bidang tertentu, misalnya : Bidang Kuttab (Kesekretariatan di tingkat pusat, wilayah, niyabah sampai riyasah dan kemundziran), begitu pula pada setiap tingkatan untuk urusan Maliyah (keuangan), Ukhuwwah (pembinaan jalinan persaudaraan islam), Da’wah, Tarbiyah wa Ta’lim. Masing masing pembantu Imaam telah memiliki program kerja yang selalu dikontrol oleh Imaam dan ummatnya, baik yang bersifat internal maupun eksternal dalam suatu suasana dan forum kekeluargaan atau musyawarah yang diselenggarakan secara teratur.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;8.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Saran dan Nasehat&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Saran dan nasehat dari semua pihak sangat diharapkan  sepanjang berdasarkan al Quran dan Sunnah, Jama’ah Muslimin (Hizbullsh) siap diluruskan. Di dalam kehidupan berjama’ah tidak dikenal tingkatan hierarkhis atau status sosial. Imaam adalah  pengayom ummat, bukan penguasa ummat, kesejajaran ini tidak memberi peluang untuk setiap diri dalam Jama’ah Muslimin (Hizbullah) merasa gengsi menerima nasehat dari makmum selemah apapun status ekonomi dan sosialnya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;9.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Ikhtitam&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Hanya karena kasih sayang sesama makhluq Allah di muka bumi ini, Jama’ah Muslimin (Hizbullah) merasa berkewajiban menyeru setiap diri untuk dapat menerima panggilan Islam secara kaaffah dengan mengamalkan perintah Allah dan RasulNya yaitu : “tetaplah engkau dalam jama’ah dan imaamnya”. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1674769897518819067-1093014981367608363?l=abuazi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuazi.blogspot.com/feeds/1093014981367608363/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1674769897518819067&amp;postID=1093014981367608363' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1674769897518819067/posts/default/1093014981367608363'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1674769897518819067/posts/default/1093014981367608363'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuazi.blogspot.com/2008/03/khilafah-ala-minhajin-nubuwwah.html' title='KHILAFAH &apos;ALA MINHAJIN NUBUWWAH'/><author><name>TABUNGAN 'AMAL SHALIH (T'AS)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05674433416570835606</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1674769897518819067.post-8535600774989882152</id><published>2008-03-20T09:32:00.003+07:00</published><updated>2008-03-20T18:54:57.942+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ijtimaiyyah'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;h1 style="margin-bottom: 6pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;SEKILAS&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;TENTANG "HIZBULLAH" PADA JAMA’AH MUSLIMIN (HIZBULLAH)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;Beberapa anggapan dikalangan ikhwah fillah mengenai syubhat nama dan wadah berkumpulnya (berjama’ahnya) muslimin serta system kepemimpinan masyarakat islam, diantaranya : &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;Jama’ah Muslimin bukanlah sebuah nama untuk golongan tertentu, akan tetapi sifat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;Jama’ah Muslimin (Hizbullah) adalah bid’ah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify; text-indent: 17.85pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Untuk menjawab anggapan-anggapan tersebut diatas marilah kita persiapkan sikap shabar dan ikhlash dan sepenuhnya kita kembalikan kepada Allah dan Rasulullah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 6pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;shalallahu ‘alaihi wasallam&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ya’ni Al Qur-an dan As Sunnah Ash Shohihah (fa’alaikum bi&lt;b style=""&gt; as sunnatii &lt;/b&gt;wa &lt;b style=""&gt;sunnati al khulafau ar rasyidin al mahdiyyin&lt;/b&gt;). Semoga dengan cara ini Allah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 6pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;subhanahu wata’ala&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt; memberikan keridhaan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;serta maghfirahnya kepada kita sekalian. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Karena tiada yang lain yang kita harapkan melainkan Ridha serta Ampunan Nya, amin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 53.85pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Jama’ah Muslimin Bukanlah Sebuah Nama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Menurut sebagian kalangan muslimin bahwasanya nama itu tiada perlu dikarenakan yang penting adalah sifatnya. Sekalipun kalau tidak mau disebut bertentangan dengan apa yang mereka katakan terhadap nama-nama yang mereka buat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Symbol;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/maliyah/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image001.gif" alt="*" height="12" width="12" /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Jama’ah Muslimin adalah jama’ah yang diperintahkan oleh Allah dan dicontohkan oleh Rasulullah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 6pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;shalallahu ‘alaihi wasallam&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt; dan para shahabat ’amalkan untuk iltizam didalamnya. Firman Allah&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 6pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt; subhanahu wata’ala&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt; : Berpegang teguhlah kalian kepada tali Allah seraya &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;berjama'ah&lt;/span&gt; dan janganlah kamu sekalian berpecah-belah .... (&lt;span style="font-size:78%;"&gt;q.s. Ali Imran;103&lt;span style="font-size:100%;"&gt;)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;, Sabda Rasulullah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 6pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;shalallahu ‘alaihi wasallam&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt; : ” ..... Talzamu Jama’atal Muslimina wa imamahum .... &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;(&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;al hadits&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Symbol;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/maliyah/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image001.gif" alt="*" height="12" width="12" /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Jama’ah Muslimin adalah nama lain dari nama-nama yang disyari’atkan. antara lain: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;              &lt;/span&gt;* Al Jama’ah : ’alaikum bi &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;al Jama’ah&lt;/span&gt; wa iyyakum bi al furqoh. (&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;al hadits&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;                             &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;amarukum bi khamsin Allahu amarana bihinna : bi &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;al jama’ah&lt;/span&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;              &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="PT-BR"&gt;* Maa ana ’alaihi wa ashabih. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;(&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;al hadits&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="PT-BR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="PT-BR"&gt;&lt;span style=""&gt;              &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;* Thaifah al Manshuroh &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;(&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;al hadits&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;              &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;* Firqatu an Najiyah (al hadits)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;              &lt;/span&gt;* Mujaama’atu Ahlu al Haq wain qallu (&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;atsar shahabat ’Ali bin Abi Thalib&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;              &lt;/span&gt;* Ahlu as Sunnah wa al Jama’ah (&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;al hadits&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;                     * Sawadul A'dzham &lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;(&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;al hadits&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;                 * Hizbullah (&lt;span style="font-size:78%;"&gt;q.s. Al Maidah;56&lt;/span&gt;)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Symbol;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/maliyah/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image001.gif" alt="*" height="12" width="12" /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Jama’ah Muslimin adalah Jama’ahnya para Nabi dan Rasul. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Symbol;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/maliyah/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image001.gif" alt="*" height="12" width="12" /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Jama’ah Muslimin adalah sunnah Rasulullah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 6pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;shalallahu ‘alaihi wasallam&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt; dan juga sunnahnya para khulafau ar rasyidin al mahdiyyin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Symbol;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/maliyah/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image001.gif" alt="*" height="12" width="12" /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Jama’ah Muslimin adalah Al Jama’ah walau kaana wahdah (&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;masa tabi’in dan tabiat tabi’in atau masa Mulkan Adh dhan dan Jabariyah&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 53.55pt; text-align: justify; text-indent: -17.85pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Jama’ah Muslimin (Hizbullah) Adalah Bid’ah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;    Sekilas penjelasan tentang hubungan antara Jama’ah Muslimin dan Hizbullah, adalah Gerakan Islam “Hizbullah” berbentuk Jama’ah. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;Hizbullah bukanlah partai ataupun golongan bersifat politik, ormas, LSM ataupun harakah, yang biangnya berasal dari masyarakat Inggris, kemudian berkembang biak ke seluruh Amerika Serikat lalu menyusup ke negeri-negeri jajahan Barat, termasuk &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; pada masa pejajahan Hindia Belanda.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Untuk menghindari kesalahpahaman pengertiannya, penggunaan kata Hizbullah ini telah lama digunakan oleh sebagian kaum muslimin di dunia, khususnya Indonesia, terlebih khususnya kaum muslimin yang berada di pulau Jawa, sekaligus untuk mengetahui waktu dan perjuangan yang tepat dari Hizbullah. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;Bagi mereka yang belum memahami arti Hizbullah, dalam benaknya akan terbayang laskar atau tentara. Sebab, kata atau sebutan Hizbullah pernah dipergunakan sebagaimana laskar dalam perjuangan secara fisik melawan serdadu penjajah Belanda dan Inggris. Bahkan, pada akhir kekuasaan bala tentara pendudukan Jepang di &lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt; di samping pasukan-pasukan Pembela Tanah Air (PETA), ada juga kader-kader inti yang mendapat latihan di Cibarusa, &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Bogor&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt;, khusus bagi para pemuda Muslimin, yang diberi nama Hizbullah. Seorang di antara pelatihnya, kalau kami tidak khilaf, adalah Mr. Kasman Singodimedjo dari PETA. Karena itulah, pengertian Hizbullah selalu dibayangkan sebagai laskar atau tentara. (ditukilkan dari perkataan imaamul muslimin Syeikh Wali Al Fatah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 6pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;rahimahullah&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;Hizbullah pada Akhir Masa Kolonial Belanda&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;Pada Perang Dunia I (1914-1918), Belanda lebih suka untuk tidak terlibat dalam kancah peperangan dan bersikap netral. Namun, dalam Perang Dunia II (1939 –1945), negeri ini ikut terlibat walaupun mereka lebih suka bersikap netral. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;Pada perang dunia II, strategi Jerman di bawah pimpinan kaum Nazi, Hitler, mempergunakan taktik perang kilat. Secara mendadak pasukan Jerman menyerbu teritorial kerajaan Belanda, kemudian meneruskan ke wilayah Belgia secara cepat, kemudian wilayah perang Perancis, dan bila mungkin, menyeberangi Selat Kanal untuk menyerbu wilayah Inggris.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;Karena tidak siap berperang, lagi pula kalau dibanding dengan lawannya, negeri Belanda hanyalah merupakan satu negeri yang kerdil saja, dalam waktu &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;lima&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; hari saja, Belanda menyerah kalah. Kerajaan Belanda tidak lagi terdapat di daratan Eropa. Pemerintahnya lari ke sahabat kentalnya, yaitu Inggris. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Kapal perang dan kapal dagangnya yang dapat diselamatkan, dilarikan ke perairan-perairan tetangganya. Selama berkecamuknya Perang Dunia ke-II, tenaga lautan Belanda itu berada di bawah komando Inggris. Wilayah Belanda  yang tertinggal hanya di negeri-negeri jajahannya, yaitu Hindia Belanda, Indonesia sekarang, dan Suriname.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Dalam situasi seperti itu ditambah bayangan menggelembungnya suasana perang di lautan Pasifik, karena Angkatan Darat Jepang telah berada di daratan Cina menuju Selatan, pemerintah Hindia Belanda semakin gelisah, cemas, dan diliputi banyak penyesalan. Mereka merasa sesak napas, tidak terkecuali orang-orang yang berada di Indonesia sebagai tanah jajahannya, bila Hindia Belanda terseret dalam kancah peperangan, dapatkah Hindia Belanda dipertahankan? Politik kolonial Belanda yang sangat kolot dan benar-benar reaksioner tidak memungkinkan mereka untuk merasa aman dan tenteram lahir dan batin, apalagi menghadapi perang dunia secara langsung. Selain itu, pribadi Belanda yang berkulit hitam maupun berkulit putih, tidak dibangun untuk menghadapi musuh luar negeri, melainkan hanyalah menumpas perlawanan penduduk belaka, sekiranya itu terjadi.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Jadi, Belanda sama sekali tidak memiliki kekuatan dan kemampuan untuk berhadapan dengan kekuatan bala tentara Jepang. Belanda dalam situasi sangat kritis. Rakyat Indonesia sendiri, yang sekian lama hidup dalam penindasan serta pemerasan Belanda, tidak dapat diandalkan untuk membantu mereka.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Patut dicatat, bahwa setiap pemerintahan yang tidak pandai dan tidak memperhatikan nasib rakyat banyak, tidak mencerminkan ketulusan hati nurani, apalagi jika beritikad buruk dengan tindakan zhalim, kejam, kekerasan, dan menindas, lebih buruk lagi jika rakyat dianggap sebagai musuh, maka lambat atau cepat akan ditinggalkan oleh rakyatnya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Karena itu menjelang runtuhnya kekuasaan kolonial Belanda di Indonesia, pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan perintah untuk membekukan segala perjuangan rakyat, terutama dalam bidang politik, termasuk larangan mengadakan rapat-rapat atau pertemuan. Saat-saat akhir sejarah kolonial Belanda itulah, pengertian Hizbullah untuk pertama kalinya kami dengar, namun baru diberikan maknanya secara ringkas, yaitu &lt;i&gt;kaum yang berpihak kepada Allah&lt;/i&gt;. Kami mengimani dan sekuat tenaga untuk mengamalkan maksud-maksudnya. (Hizbullah adalah kaum yang berpihak kepada Allah, termaktub dalam Al-Qur`an, surat Al-Mujadalah ayat 22 dan Al-Maidah ayat 56).&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Kami mendengar kata Hizbullah dari Syeikh Muhammad Ma’sum, ahli hadits di Yogyakarta, dalam suatu silaturrahmi di kediaman Ustadz Abdul Gaffar, yang ketika itu menjabat Direktur Madrasah Mu’alimin Wal Fajri di Karangkajen, Yogyakarta.  Selain ketiga orang tersebut (Wali Al-Fattaah, Muhammad Ma’sum dan Abdul Gaffar/pen), ada pula ikhwan lainnya, di antaranya ustadz Suhadi, ayah dr. R.H. Su’dan dan Muhammad Ma’sum seorang awam biasa yang sangat gigih berjuang untuk Islam. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Sekiranya pertemuan tersebut diketahui oleh pihak kepolisian Belanda, kemudian digerebeg karena dianggap melanggar peraturan (Belanda) yang melarang rapat atau pertemuan, walaupun pengajian yang termasuk tugas dien, kami sudah memiliki jawabannya, bahwa kami adalah Hizbullah, kaum yang berpihak kepada ALLAH &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 6pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;subhanahu wa ta'ala&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;. Pada waktu itu pengertian yang lebih luas atas kata Hizbullah belum diberikan, demikian juga tentang dalil-dalilnya. Akan tetapi, &lt;i&gt;alhamdulillahi rabbil ‘alamin&lt;/i&gt;, ketika kolonialisme Belanda mengakhiri sejarahnya di Indonesia, Hizbullah tidak mendapat kesulitan apa pun. Peraturan larangan mengadakan pertemuan-pertemuan oleh pihak Belanda tetap ada, tetapi karena Allah dan pertolongan-Nya, Hizbullah secara rutin mampu mengadakan pertemuan yang sifat serta isinya pengajian-pengajian.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Itulah pokok perkenalan kita untuk pertama kalinya dengan kata Hizbullah, yang selanjutnya, Insya Allah kita termasuk pula di dalamnya. &lt;i&gt;Masya Allah, la haula wa la quwwata illa billah!&lt;/i&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h2 style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Hizbullah pada Zaman Jepang   &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Perkenalan kedua kali dengan kata Hizbullah terjadi pada saat-saat akhir masa pembentukan bala tentara kerajaan Jepang yang bernama Hizbullah. Bala tentara ini mendapat latihan kemiliteran di Cibarusa Bogor. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Kata Hizbullah pertama kalinya diusulkan kepada pemerintah pendudukan bala tentara Jepang di Jawa yang berkedudukan di Jakarta, &lt;i&gt;gunsei kanbu&lt;/i&gt;. Pada saat itu, Hizbullah diusulkan sebagai nama pasukan beranggotakan para pemuda muslimin yang  hendak dibentuk. Tujuannya adalah setelah runtuhnya kekuasaan kerajaan Jepang dalam Perang Dunia II, dalam menghadapi negara-negara sekutu, khususnya Amerika Serikat, kaum muslimin hendaknya tidak tinggal diam, bahkan bila mungkin memelopori untuk mengangkat senjata. Pada saat itu mulai terbayang usaha meneruskan perjuangan kemerdekaan Indonesia. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Delegasi yang dikirim oleh Hizbullah untuk memajukan konsepsi serta gagasannya kepada &lt;i&gt;gunsei kanbu&lt;/i&gt; ialah kami sendiri disertai Ustadz Sulaiman Masulili atau Penawi Tengah, yang kini masih berada di tengah-tengah kita dan  tinggal di Jakarta.&lt;/span&gt;&lt;a name="_ftnref1"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://www.jamaahmuslimin.com/sejarah/sejarah9.asp#_ftn1" title=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;*&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Pada waktu itu kami tidak mengungkapkan maksud dibentuknya Hizbullah, sebab, bila maksud sepenting itu telah tercium oleh pihak Jepang, dapat diperkirakan, bahwa usulan itu bukan hanya ditolak, bahkan tidak mustahil kami akan dijebloskan ke dalam penjara. Hal ini karena rezim fasisme Jepang yang sangat agresif itu sedang kalap karena terjepit oleh pihak musuhnya, terutama pihak Amerika Serikat sehingga kami akan dianggap meremehkan kekuatan mereka. Di samping itu, mereka merasa khawatir bila kami akan meneruskan perjuangan kemerdekaan bagi nusa dan bangsa Indonesia yang umumnya terdiri dari kaum muslimin. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Alhamdulillah, selama pendudukan bala tentara Kerajaan Jepang di Indonesia, kami dalam keadaan aman dan usulan kami pun disetujui. ini terbukti dengan adanya latihan-latihan kader inti di Cibarusa, Bogor. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h1 style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Hizbullah pada Masa Kemerdekaan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Perkenalan ketiga dengan kata Hizbullah terjadi beberapa bulan sesudah proklamasi kemerdekan Indonesia, yakni dengan adanya hasil keputusan Muktamar Umat Islam di Aula Mu’alimin Karangkajen, Yogyakarta. Ketika itu diputuskan untuk membentuk organisasi Masyumi pada tanggal 7 November 1945 M, yang kemudian beralih menjadi partai politik. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Kata Hizbullah dipergunakan sebagai nama laskar Masyumi, yang terdiri para pemuda muslimin, yang berniat mengusir fitnah penjajahan dengan mengangkat senjata secara fisik. Di samping itu, ada pula laskar lain dari berbagai golongan yang menggunakan nama Hizbullah. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Kata Hizbullah sebagai nama laskar yang berjuang secara fisik terus berjalan, hingga terjadinya penyatuan semua laskar yang ada, dengan dibentuknya tentara resmi dari Republik Indonesia dalam rangka mewujudkan satu ketentaraan saja. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Hizbullah, Kaum yang Berpihak kepada ALLAH.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Setelah mengenal kata Hizbullah dengan makna, pertama sebagai suatu &lt;i&gt;“kaum yang berpihak kepada Allah &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 6pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;subhanahu wa ta'ala&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;. Kedua, sebagai &lt;i&gt;“kader inti ketentaraan “&lt;/i&gt; yang mendapat latihan Jepang di Cibarusa, Bogor. Ketiga, sebagai nama laskar dari pemuda-pemuda Muslimin yang berjuang secara fisik pada masa revolusi kemerdekaan Indonesia. Kini tibalah saatnya untuk mengenal kalimat Hizbullah, yang sejak 10 Dzulhijjah 1372 H. (20 Agustus 1953 M.) hingga sekarang ini berada dalam suatu gerakan Islam dengan nama dan makna yang satu, yaitu &lt;i&gt;suatu kaum yang berpihak kepada Allah&lt;/i&gt; sebagaimana disebutkan dalam kitab suci Al-Qur`an,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="margin: 0cm 21.25pt 0.0001pt; text-align: justify; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ(54)إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ(55)وَمَنْ يَتَوَلَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا فَإِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْغَالِبُونَ(56)&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText3" style="margin: 0cm 21.25pt 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;“Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu murtad dari dien-Nya, maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Dia ridlai mereka dan mereka pun ridla kepada-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap mukminin dan keras tegas terhadap kafirin. Mereka bersungguh-sungguh di jalan Allah dan tidak takut terhadap celaan manusia yang mencela, demikian itu ialah nikmat Allah, yang Dia berikan kepada siapa yang Dia kehendaki, karena Allah itu Mahaluas pemberian-Nya lagi Mahamengetahui. “Sesungguhnya  pimpinan kamu adalah Allah, Rasul-Nya dan mukminin yang menegakkan shalat dan mengeluarkan zakat dan mereka ruku, tunduk kepada perintah Allah. “Dan barang siapa menjadikan Allah dan Rasul-Nya dan orang-orang beriman sebagai pimpinan, maka sesungguhnya itulah Hizbullah  - Kaum yang berpihak kepada Allah - Hizbullah itulah yang jaya.’’ (QS. Al-Maidah: 54–56) &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-size: 11pt;" lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Selanjutnya kata &lt;i&gt;Hizbullah &lt;/i&gt;juga disebutkan dalam surat Al-Mujadalah, ayat 21-21: &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="margin: 0cm 21.25pt 0.0001pt; text-align: justify; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;كَتَبَ اللَّهُ لَأَغْلِبَنَّ أَنَا وَرُسُلِي إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ(21)لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا ءَابَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُولَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;هُمُ الْمُفْلِحُونَ(22)&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 21.25pt 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;“Allah telah menetapkan, sesungguhnya kejayaan itu bagi-Ku dan Rasul-rasul-Ku. Sesungguhnya Allah itu Mahakuat lagi Mahaperkasa. Tidak engkau dapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian itu saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya sekalipun mereka itu adalah bapak-bapak mereka atau anak-anak mereka, atau saudara-saudara mereka, atau keluarga mereka. Mereka (orang yang beriman) itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan iman ke dalam hati mereka, dan Allah menguatkan mereka dengan ruh daripada-Nya, dan memasukkan mereka itu ke dalam Jannah, yang mengalir air sungai di bawahnya. Mereka kekal di dalamnya. Allah ridla kepada mereka dan mereka ridla kepada-Nya. Mereka itulah Hizbullah –kaum yang berpihak kepada Allah. Ketahuilah bahwasanya Hizbullah itulah yang mendapat kebahagiaan.” &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;(QS. Al-Mujadalah: 21–22)  &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-size: 11pt;" lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Adapun kebalikan Hizbullah disebutkan dalam surat Al-Mujadalah ayat 19 - 20:&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="margin: 0cm 21.25pt 0.0001pt 14.2pt; text-align: justify; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ فَأَنْسَاهُمْ ذِكْرَ اللَّهِ أُولَئِكَ حِزْبُ الشَّيْطَانِ أَلَا إِنَّ حِزْبَ الشَّيْطَانِ هُمُ الْخَاسِرُون&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;َ(19)&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;إِنَّ الَّذِينَ يُحَادُّونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ فِي الْأَذَلِّينَ(20)&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 21.25pt 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;“Setan telah berkuasa atas mereka, lalu ia jadikan mereka lupa mengingat Allah, mereka itu adalah Hizbusysyaithan. Ketahuilah sesungguhnya Hizbusysyaithan itulah orang-orang yang merugi. Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, mereka dalam golongan orang-orang yang sangat hina.” &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;(QS. Al-Mujadalah: 19 – 20)&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-size: 11pt;" lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Semua dalil di atas telah menjelaskan arti atau makna Hizbullah dengan gamblang. Hizbullah bukanlah suatu laskar, bukan pula suatu partai politik atau perserikatan dan perkumpulan biasa, juga bukan semacam dewan-dewanan yang lahir dari karya pikir manusia. Hizbullah adalah suatu kaum atau umat yang berpihak,  tunduk, patuh kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah Al-Jama’ah, sebagaimana yang dimaksudkan oleh Rasulullah &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 6pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;shallallahu 'alaihi wa sallam&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;. Mereka itulah Jama'ah Muslimin, &lt;i&gt;Insya Allah. Allahumma Amin&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Prinsip Aqidah Ash Shohihah HIZBULLAH&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Mereka adalah yang bersaksi bahwa Allah adalah Rabb dan Ilah yang patut diibadahi, Dia Maha Esa dengan semua kesempurnaan-Nya. Mereka beribadah dan mengikhlaskan dien hanya kepada-Nya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Yang mengatakan bahwa sesungguhnya Allah adalah Sang Pencipta, Yang Mengadakan, Yang Membentuk, Yang Memberi Rizki, Yang Maha Memberi dan Maha Menahan (rizki). Dia mengurusi semua urusan. Dia adalah Ilah yang diibadahi, Yang diesakan dan yang menjadi tujuan. Dialah Al-Awwalu (yang pertama), tiada lagi sesuatupun sebelum-Nya. Dialah Al-Akhiru (yang akhir) tiada sesuatupun setelah-Nya. Dialah Yang Maha Tinggi, tiada lagi yang di atas-Nya dan Dialah Al-Batin (yang tersembunyi) yang tiada sesuatupun yang lebih tersembunyi dari pada Dia. Dialah Yang Maha Tinggi, dengan semua arti dan makna yang terkandung didalamnya. Maha Tinggi dalam Dzat-Nya, Taqdir-Nya dan dalam kekuasaan-Nya. Dialah yang bersemayam di atas 'Arsy. Dia bersemayam sesuai dengan keagungan, kemulyaan dan ketinggian-Nya yang mutlak. Ilmu-Nya meliputi segala yang tampak dan yang tersembunyi, yang tinggi dan yang rendah tentang hamba-Nya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="PT-BR"&gt;Dia mengetahui semua keadaan hamba. Dia Maha dekat lagi Mujib (Mengabulkan do'a).&lt;br /&gt;Sesungguhnya Dzat-Nya tidak butuh kepada makhluq sedangkan semua makhluq membutuhkan-Nya setiap saat. Dia Maha Lemah-lembut dan Penyayang kepada hamba, yang tiada nikmat dien, dunia dan terhindar dari siksa kecuali dari-Nya. Dialah pemberi nikmat. Sebagian dari nikmat-Nya, ketika sepertiga malam Dia turun ke langit dunia untuk melihat hajat hamba-Nya. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Dia berfirman: Tidaklah hamba-Ku meminta kecuali hanya kepada-Ku. Barangsiapa yang berdo'a kepada-Ku niscaya Aku kabulkan, barangsiapa yang meminta pasti Aku beri, barangsiapa meminta ampun pasti Aku ampuni, (yang demikian itu sampai terbit fajar). Dia turun menurut kehendak-Nya dan melakukan apa yang Dia Kehendaki. Tiada sesuatupun yang menyamai-Nya. Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Hizbullah meyakini bahwa Allah adalah Al-Haakim' yang di dalam syariat-Nya terdapat hikmah yang sempurna. Tiada ciptaan yang sia-sia. Tidaklah Dia membuat syareat (aturan) kecuali untuk kemaslahatan makhluq. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Dialah At-Tawwab Yang Maha Menerima taubat hamba dan mengampuni kesalahan mereka. Dia Yang Maha Memberi ampunan dari dosa-dosa hamba-Nya yang bertaubat, meminta ampun dan kembali kepada-Nya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Dialah Asy-Syakur, Dia membalas amalan hamba meskipun amalan itu sedikit dan dia menambah karunia-Nya kepada hamba yang bersyukur. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Hizbullah mensifati Allah dengan apa yang Dia sifat-kan pada diri-Nya sendiri dan yang disifatkan oleh rasul. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Sifat dzatiyah seperti yang Maha Hidup lagi Sempurna yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat, Maha Sempurna Qudrah-Nya, Maha Agung lagi Maha Besar, yang Maha Mulia lagi Terpuji-yang segala puji mutlak hanya milik-Nya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Dan diantara sifat-sifat fi'liyah-Nya, yang berkaitan dengan kehendak dan kekuasaan-Nya, seperti sifat Rahmah (kasih sayang), Ridha, benci dan sifat kalam (berbicara). Dia berbicara dengan apa yang Dia kehendaki dan dengan cara yang Dia kehendaki. Ucapan-Nya takkan pernah habis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Sesungguhnya Dia senantiasa dan terus bersifat, karena Dia mengerjakan yang Dia inginkan dan berbicara dengan apa yang Dia kehendaki. Dia memutuskan perkara hamba-Nya dengan hukum yang ditentukan-Nya, baik berupa hukum syar'i maupun berupa balasan. Dialah Al-Hakiim yang menghakimi, dan Dialah Al-Maalik yang menguasai. Selain Dia adalah dihakimi dan di kuasai. Hamba tidak akan bisa keluar dari hukum dan kekuasaan-Nya.&lt;br /&gt;Hizbullah beriman kepada apa yang dikabarkan Al-Qur'an dan Hadits mutawatir yaitu: Bahwasannya mereka akan melihat wajah Rabbnya dengan pandangan yang jelas. Dan kenikmatan memandang-Nya adalah sebesar-besar kenikmatan dan keberhasilan mendapat ridha-Nya adalah sebesar-besar kenikmatan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Hizbullah meyakini bahwanya iman itu mencakup keyakinan hati dan amalan hati, amalan anggota badan dan ucapan lisan. Barangsiapa yang bisa mewujudkannya maka ia menjadi mukmin sejati yang berhak mendapat balasan dan selamat dari siksa. Barangsiapa yang menguranginya maka imannya berkurang menurut kadar pengurangannya. Oleh karena itu iman bertambah dengan ketaatan dan amalan baik dan akan berkurang dengan maksiat dan amalan buruk. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Hizbullah memiliki karakter dasar ya’ni selalu berusaha dan bersungguh-sungguh dalam hal yang bermanfaat baik urusan dien maupun dunia dengan meminta tolong kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Semua gerak-gerik mereka selalu dikerjakan dengan ikhlas dan mengikuti petunjuk rasul serta memberi nasehat kepada ummat dengan petunjuk rasul.&lt;br /&gt;Hizbullah bersaksi bahwa Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba dan utusan-Nya. Allah mengutusnya dengan petunjuk dan dien yang hak agar dien ini menang diantara dien-dien yang lain. Beliau adalah manusia yang (lebih berhak dihormati) oleh kaum muslimin daripada diri mereka sendiri, dan beliau adalah penutup para nabi. Beliau diutus untuk menyampaikan kabar gembira dan memberi peringatan kepada jin dan manusia. Sebagai penyeru (untuk bertauhid) kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan pembawa lampu yang terang dengan izin-Nya. Beliau diutus untuk kemaslahatan dien dan dunia, agar hamba beribadah kepada-Nya dan meminta rizki hanya kepada-Nya jua. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Hizbullah mengetahui bahwa beliau adalah orang yang paling berilmu, paling jujur, paling banyak memberi nasehat dan paling agung ucapannya diantara manusia. Sehingga mereka mengagungkan dan mencintainya. Mereka lebih mendahulukan cintanya kepada beliau daripada kepada semua makhluk. Mereka berdien dengan mengikuti dan yakin akan syafa’at beliau , baik pokok maupun cabangnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Hizbullah lebih mendahulukan ucapan dan petunjuk beliau daripada ucapan dan petunjuk orang lain. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="ES-MX"&gt;Dan lebih mendahulukan ’ilmu daripada perkataan dan perbuatan secara ’adil.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="ES-MX"&gt;Hizbullah meyakini bahwasannya Allah mengumpulkan sifat-sifat utama dan kepribadian yang sempurna pada diri beliau, yang tidak pernah diberikan kepada yang lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="ES-MX"&gt;Kedudukan beliau paling tinggi dan paling agung diantara makhluq, serta paling sempurna fadilahnya diantara mereka. Tiada satu kebaikanpun yang tidak ditunjukkan kepada ummatnya, dan tiada satu keburukanpun kecuali telah beliau peringatkan agar menjauhinya.&lt;br /&gt;Hizbullah Mengimani kepada semua kitab yang diturunkan Allah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 6pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="ES-MX"&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="ES-MX"&gt; kepada semua rasul yang diutus. Mereka tidak membedakan salah satu diantara para nabi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="ES-MX"&gt;Hizbullah beriman kepada semua taqdir. Tidaklah semua amal yang baik dan yang buruk kecuali Ilmu Allah meliputinya dan Qalam-Nya mencatat. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Semua berlaku di atas kehendak-Nya, dan semua terikat dengan hikmah-Nya. Dia juga menciptakan (memberi) kehendak dan kemampuan kepada hamba yang dengannya mereka berbicara dan bekerja menurut kehendak mereka. Allah tidak memaksa hamba terhadap suatu hal tapi disuruh memilihnya. Bagi seorang Hizbullah lebih memilih dan mencintai keimanan, mendahulukan dan melebihkan kecintaannya kepada Allah, Rasul dan Jihad fie sabilillah serta dijadikannya sebagai perhiasan di dalam hatinya dan benci terhadap kekufuran, kefasikan, dan kedurhakaan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="ES-MX"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Dan landasan pokok Hizbullah adalah mereka berdien dengan (taat kepada) nasehat Allah, kitab-Nya, para Nabi dan Rasul, khalifah setelah Rasulullah (Khulafau ar Rasyidin), mulkan (sulton) yg memimpin umat dengan ’adil, Imaam jama’ah Muslimin dan kepada semua kaum Muslimin. Mereka selalu memerintahkan yang ma'ruf dan melarang yang mungkar sesuai dengan yang diwajibkan dalam syariat. Mengajak supaya berbuat baik kepada orang tua dan menyambung silaturahim, berbuat baik kepada tetangga, memelihara anak yatim, memberi makan fakir miskin, tha’at dan baik kepada&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ulil amri, para bithanahnya dan kepada semua yang mempunyai hak sekalipun kafir selama tidak memusuhi, mengusir atau memerangi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Menyeru kepada akhlaq yang mulia, kepada kebaikan dan melarang akhlak yang jelek lagi hina. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Hizbullah yakin bahwa orang mukmin yang paling sempurna iman dan keyakinannya adalah yang paling baik akhlak dan amalnya, paling jujur perkataannya, yang lebih cenderung pada kebaikan, keutamaan serta menjauhkan diri dari setiap kejelekan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Memerintahkan untuk menegakkan syariat-syariat dien dengan apa yang datang dari rasul tentang sifat dan kesempurnaannya serta melarang merusakkan dan merobohkan dien. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Hizbullah memandang bahwa jihad fi sabilillah tetap wajib bersama pemimpin yang baik maupun yang fajir. Jihad adalah puncak ketinggian Islam. Jihad dengan ilmu dan hujah, jihad dengan senjata merupakan fardhlu bagi setiap muslim dengan segala kemampuannya guna membela dan menegakkan liilla likalimatillah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Mereka selalu menghimbau agar kaum muslimin satu kata dan berusaha untuk saling mendekatkan hati, bersaudara dengan persaudaraan hakiki serta saling berkasih sayang dengan kaum muslimin. Mereka melarang perpecahan, benci, permusuhan dan segala sarananya. Tegas terhadap Kuffar (asyiddau ’alal kuffar) dengan pemahaman yang selamat (baik dan benar). Melarang menganiaya manusia baik darah, harta, maupun kehormatan mereka serta hak-hak mereka, memerintah berbuat adil dan jujur dalam hubungan mu'amalah dengan sesama, serta menganjurkan untuk senantiasa berbuat baik dan mencari keutamaan dalam mu'amalah itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Untuk mengetahui bagaimana roh Hizbullah yang pertama kali diperkenalkan di gedung Adhuc Staat, Jalan Taman Surapati nomor 1. Menteng Raya Jakarta (sekarang gedung Bappenas), pada hari raya Iedul Adha, 10 Dzulhijjah 1372 H. (20 Agustus 1953 M), berikut ini dicantumkan ringkasnya:&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="ES-MX"&gt;Hizbullah berpedoman pada Al-Qur`an dan Sunnatu Rasulillah. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Hizbullah berjuang karena Allah, dengan Allah, untuk Allah, bersama-sama segenap kaum muslimin menuju &lt;i&gt;mardlatillah&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Dalam menghadapi suasana yang makin bergolak, Hizbullah menetapkan langkah-langkah asasi (strategis) sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Pandangan, pendirian, dan sikap hidup muslim: Yakin, bahwa berpegang teguh dan taat melaksanakan pedoman Al-Qur`an dan Sunnatu Rasulillah adalah sumber segala kejayaan dan kebahagiaan.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Ukhuwah islamiyyah: Kesatuan bulat bagi seluruh muslimin yang tidak dapat dibagi-bagi, dipisah-pisahkan, apalagi diadudombakan, sebagai perwujudan ukhuwah islamiyah, baik dalam kemudahan atau dalam kesukaran dan perjuangan.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Kemasyarakatan: Berpihak pada kaum dlaif (lemah, tertindas, teraniaya), menegakkan keadilan.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Sikap terhadap lain-lain golongan: Tegak berdiri dalam lingkungan kaum muslimin di tengah-tengah antar golongan, menyeru kepada kebaikan, menyuruh  kepada kebajikan dan mencegah perbuatan munkar.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Antara bangsa-bangsa: Menolak setiap fitnah penjajahan dan kezhaliman suatu bangsa atas &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1674769897518819067-8535600774989882152?l=abuazi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuazi.blogspot.com/feeds/8535600774989882152/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1674769897518819067&amp;postID=8535600774989882152' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1674769897518819067/posts/default/8535600774989882152'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1674769897518819067/posts/default/8535600774989882152'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuazi.blogspot.com/2008/03/jawaban-atas-syubhat-tentang-jamaah.html' title=''/><author><name>TABUNGAN 'AMAL SHALIH (T'AS)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05674433416570835606</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1674769897518819067.post-793924179848904147</id><published>2008-03-20T07:12:00.003+07:00</published><updated>2008-03-20T07:17:19.809+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Munakahat'/><title type='text'>Islam Menganjurkan Umat Islam Banyak Anak</title><content type='html'>&lt;div class="entry"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;      &lt;/div&gt;&lt;div class="snap_preview"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Islam Menganjurkan Umat Islam Banyak Anak&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt; Oleh: Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;img src="http://tbn0.google.com/images?q=tbn%3AZrCM1sbxng6zmM%3Ahttp%3A%2F%2Fqitori.files.wordpress.com%2F2007%2F08%2Fimajinasi.jpg&amp;amp;w=144&amp;amp;h=97" alt="anak" align="left" height="97" hspace="3" vspace="3" width="144" /&gt;Dalam masalah ini telah datang dalil-dalil yang menunjukkan bahwa Islam sangat menganjurkan umatnya untuk mempunyai anak bahkan mempunyai anak banyak sebagai mana akan datang keterangannya di fasal ke tiga. Di antara dalil-dalil tersebut ialah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.&lt;span id="more-177"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Artinya : …dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untuk kamu (yaitu anak)” [Al-Baqarah : 187]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Abu Hurairah, Ibnu Abbas dan Anas bin Malik dan lain-lain Imam dari kaum Tabi’in menafsirkan ayat di atas dengan anak (Tafsir Ibnu Jarir dan Tafsir Ibnu Katsir di dalam menafsirkan ayat di atas)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Maksudnya : Bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kita untuk mencari anak dengan jalan bercampur (jima’) suami istri apa yang Allah telah tentukan untuk kamu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Cukuplah ayat di atas sebagai dalil yang tegas dan terang bahwa Islam memerintahkan mempunyai anak dengan jalan nikah dan bercampur suami-istri. Dan sekaligus merupakan larangan dan celaan terhadap mereka yang tidak mau mempunyai anak padahal ada jalan untuk memperolehnya dengan qadar Allah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dan sabda Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Artinya : Nikahilah perempuan yang pecinta (yakni yang mencintai suaminya) dan yang dapat mempunyai anak banyak, karena sesungguhnya aku akan berbangga dengan sebab (banyaknya) kamu di hadapan umat-umat (yang terdahulu)” [Shahih Riwayat Abu Dawud, Nasa’i, Ibnu Hibban dan Hakim dari jalan Ma’qil bin Yasar]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Artinya : Nikahilah perempuan yang penyayang dan dapat mempunyai anak banyak karena sesungguhnya aku akan berbangga dengan sebab banyaknya kamu dihadapan para Nabi nanti pada hari kiamat” [Shahih Riwayat Ahmad, Ibnu Hibban dan Sa’id bin Manshur dari jalan Anas bin Malik]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kelengkapan takhrij dua hadits di atas terdapat di kitab besar kami Riyadlul Jannah (no. 172 dan 173).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;ISLAM MENGANJURKAN UMATNYA UNTUK MEMPUNYAI BANAK ANAK&lt;br /&gt;Diantara dalil-dalilnya ialah duah hadits yang telah lalu di fasal 1 dari hadits Ma’qil bin Yasar dan hadts Anas bin Malik kemudian hadits yang sangat terkenal di bawah ini yaitu do’a Nabi yang mulia Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Anas bin Malik.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Artinya : Ya Allah! Banyakanlah hartanya dan (banyakanlah) anaknya dan berkahilah apa yang engkau telah berikan kepadanya” [Hadits shahih riwayat Bukhari (7/152, 154, 161, 162 dan Muslim 2/128]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalam riwayat yang lain yang juga dikeluarkan oleh Imam Bukhari di kitabnya yang lain di luar kitab Shahih-nya yaitu di kitabnya Adabul Mufrad (no. 653), Nabi yang mulia Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendo’akannya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Artinya : Ya Allah ! Banyakanlah hartanya dan anaknya, dan panjangkanlah umurnya dan ampunkanlah ia” [Derajad hadits ini Hasan]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dari hadits yang mulia ini kita mengetahui bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mencintai umatnya mempunyai banyak anak. Dengan demikian, maka Islam menganjurkan umatnya mempunyai banyak anak dengan maksud dan tujuan yang suci mengikuti ‘Syari’at Rabbul ‘Alamin di antaranya yang terpenting adalah memperbanyak umat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana beliau tegaskan (lihat haditsnya di fasal pertama). Keadaan yang demikian membuat orang-orang kuffar ketakutan dan cemas akan banyaknya kaum muslimin. Akhirnya merekapun menakut-nakuti kaum muslimin dam membuat berbagai macam program dalam rangka membatasi kelahiran di negeri-negeri Islam yang pemimpinnya dan para pejabatnya jauh dari nur Islam. Ambil misal, di negeri kita ini –negeri Islam- di masa orde baru rezim Soeharto mencekoki kaum muslimin dengan berbagai macam program KB (Keluarga Berencana) membatasi kelahiran.&lt;br /&gt;“Cukup anak dua saja!”&lt;br /&gt;“Laki-laki perempuan sama saja!?”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Inilah salah satu dari sekian banyak kebodohan Soeharto yang akibatnya dia rasakan sendiri rakyat hidup miskin akibat krisis moneter yang berkepanjangan. Katanya KB itu menjanjikan hidup sejahtera dan sentosa dan lain-lain dari janji-janji muluk. Apa kata orang-orang kuffar kepada kaum muslimin, “Kalau kami mempunyai banyak anak niscaya kamu akan jatuh miskin dan bangkrut karena akan kerepotan dalam mengurusnya dan banyak keluar biaya dan lain-lain kesusahan. Lebih dari itu bumi akan sesak dan perbendaharaannya akan habis dan punah? Dimana kita akan bertempat tinggal dan apa yang akan kita makan!?”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kita jawab&lt;br /&gt;Pertama : Adapun tidak mau mempunyai anak karena miskin atau takut miskin dan yang berhubungan dengannya dari masalah-masalah pengurusan dan biaya telah kami jawab di fasal kedu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kedua : Adapun keyakinan tentang melonjaknya jumlah penduduk yang akan membuat bumi ini sesak dan habis perbendaharaannya adalah keyakinan yang batil dan sesat menyesatkan. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Artinya : Dan bagi kamu di bumi tempat menetap dan rizki sampai waktu yang telah ditentukan (yakn hari kiamat)” [Al-Baqarah : 36]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Artinya : Dialah Allah yang menciptakan untuk kamu segala sesuatu di bumi ini semuanya’ [Al-Baqarah : 29]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Artinya : Allah berfirman : Di bumi kamu hidup dan di bumi kamu mati dan dari bumi itu (juga) kamu akan dibangkitkan” [Al-A’raaf : 25]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Artinya : Bukankah Kami telah menjadikan bumi (tempat) berkumpul (yang cukup). Untuk orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati”[Al-Mursalat : 25-26]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dari ayat-ayat di atas kita mengetahui&lt;br /&gt;Pertama : Bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan bumi tempat tinggal bagi manusia dan tempat yang cukup untuk mereka bagi yang hidup dan yang mati.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kedua : Allah Subhanahu wa Ta’ala telah sediakan di bumi ini untuk manusia perbendaharaan yang cukup yang tidak akan punah dan habis.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;KEUTAMAAN MEMPUNYAI ANAK BANYAK&lt;br /&gt;Artinya : Dari Abu Huarirah, ia berkata : telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Sesungguhnya ada seseorang [1] yang diangkat (ditinggikan) derajadnya di jannah (surga)”. Lalu ia bertanya (terheran-heran), “Bagaimana aku bisa mendapat ini (yakni derajad yang tinggi di surga)?”. Dikatakan kepadanya, “(Ini) disebabkan istighfar (permohonan ampun) dari anakmu (kepada Allah) untukmu”.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Artinya : Dari Abu Hurairah : Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Apabila manusia itu telah mati maka terputuslah dari semua amalnya kecuali tiga perkara.&lt;br /&gt;1). Shadaqah jariyah&lt;br /&gt;2). Atau ilmu yang diambil manfaatnya&lt;br /&gt;3). Anak shalih yang mendo’akannya”&lt;br /&gt;[Riwayat Muslim dan lain-lain]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Inilah puncak tertinggi dari keutamaan-keutamaan mempunyai anak, yaitu anak yang shalih yang bermanfaat bagi orang tua di dunia dan di akhirat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dari hadits ini pun kita mengetahui bahwa tujuan mulia dari mempunyai anak –menurut syari’at Islam- ialah menjadikan anak-anak tersebut menjadi anak-anak yang shalih, anak-anak yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan anak-anak yang berbuat baik kepada kedua orang tuanya (birrul walidain). Bukan anak-anak yang durhaka apalagi yang kufur dan lain-lain yang dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya. Peran orang tua dalam hal ini sangat penting sekali dan menentukan. Perhatikanlah sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di bawah ini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Artinya dari Abu Hurairah, Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Setiap manusia dilahirkan ibunya atas dasar fitrah [2]. Dan kedua orang tuanyalah yang sesudah itu yang menjadikannya sebagai Yahudi dan Nashara dan Majusi. Maka apabila kedua orang tuanya muslim, maka jadilah dia anak muslim..” [Riwayat Muslim dan lain-lain]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[Disalin dari kitab Menanti Buah Hati Dan Hadiah Untuk Yang Dinanti, Penulis Abdul Hakim bin Amir Abdat, Penerbit Darul Qolam Jakarta, Cetakan I – Th 1423H/2002M]&lt;br /&gt;__________&lt;br /&gt;Foote Note&lt;br /&gt;[1]. Lafadz-lafadz ini tidak menunjukkan hanya satu orang saja. Akan tetapi setiap orang tua yang di-istighfarkan oleh anaknya. Kalau dia termasuk ahli jannah maka derajatnya di surga akan diangkat seperti hadits di atas, dan kalau dia termasuk orang yang berdosa dan calon penghuni neraka maka dosa-dosanya akan berkurang atau hapus kalau Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki.&lt;br /&gt;[2]. Menurut Imam Nawawi di Syarh Muslim bahwa pendapat yang lebih shahih fitrah itu maknanya Islam&lt;/p&gt; &lt;/div&gt;         &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1674769897518819067-793924179848904147?l=abuazi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuazi.blogspot.com/feeds/793924179848904147/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1674769897518819067&amp;postID=793924179848904147' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1674769897518819067/posts/default/793924179848904147'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1674769897518819067/posts/default/793924179848904147'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuazi.blogspot.com/2008/03/islam-menganjurkan-umat-islam-banyak.html' title='Islam Menganjurkan Umat Islam Banyak Anak'/><author><name>TABUNGAN 'AMAL SHALIH (T'AS)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05674433416570835606</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1674769897518819067.post-229950589875286038</id><published>2008-03-18T08:33:00.003+07:00</published><updated>2008-03-18T08:44:24.079+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Muslimah Sholihah'/><title type='text'>WASIAT RASULULLAH Shaallahu 'alaihi wasalam KEPADA AISYAH</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;WASIAT RASULULLOH &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Shalallahu 'alaihi wasalam&lt;/span&gt; KEPADA AISYAH&lt;/div&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;'Aisyah r.'a meriwayatkan : Rasulullah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Shalallahu 'alaihi wasalam&lt;/span&gt; bersabda      :&lt;br /&gt;  &lt;i&gt;"Hai Aisyah, aku berwasiat kepada engkau. Hendaklah engkau senantiasa mengingat      wasiatku ini. Sesungguhnya engkau akan senantiasa di dalam kebajikan selama      engkau mengingat wasiatku ini..." &lt;/i&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p align="justify"&gt;Intisari wasiat Rasulullah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Shalallahu 'alaihi wasalam&lt;/span&gt; tersebut dirumuskan seperti      berikut: Hai, Aisyah, peliharalah diri engkau. Ketahuilah bahwa sebagian besar      daripada kaum engkau (kaum wanita) adalah menjadi kayu api di dalam neraka.    &lt;/p&gt;   &lt;p align="justify"&gt;Diantara sebab-sebabnya ialah mereka itu : &lt;/p&gt;  &lt;ul&gt;&lt;li&gt;      &lt;div align="justify"&gt;Tidak dapat menahan sabar dalam menghadapi kesakitan (kesusahan),        tidak sabar apabila ditimpa musibah &lt;/div&gt;   &lt;/li&gt;&lt;li&gt;      &lt;div align="justify"&gt; tidak memuji Allah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Taala&lt;/span&gt; atas kemurahan-Nya, apabila dikaruniakan        nikmat dan rahmat tidak bersyukur. &lt;/div&gt;   &lt;/li&gt;&lt;li&gt;      &lt;div align="justify"&gt;mengkufurkan nikmat; menganggap nikmat bukan dari Allah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Taala&lt;/span&gt;      &lt;/div&gt;   &lt;/li&gt;&lt;li&gt;      &lt;div align="justify"&gt;membanyakkan kata-kata yang sia-sia, banyak bicara yang        tidak bermanfaat. &lt;/div&gt;   &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;div align="justify"&gt;    &lt;p&gt;Wahai, Aisyah, ketahuilah : &lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;ul&gt;&lt;li&gt;      &lt;div align="justify"&gt;bahwa wanita yang mengingkari kebajikan (kebaikan) yang        diberikan oleh suaminya maka amalannya akan digugurkan oleh Allah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Taala&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;   &lt;/li&gt;&lt;li&gt;      &lt;div align="justify"&gt;bahwa wanita yang menyakiti hati suaminya dengan lidahnya,        maka pada hari kiamat, Allah menjadikan lidahnya tujuh puluh hasta dan dibelitkan        di tengkuknya. &lt;/div&gt;   &lt;/li&gt;&lt;li&gt;      &lt;div align="justify"&gt;bahwa isteri yang memandang jahat (menuduh atau menaruh        sangkaan buruk terhadap suaminya), Allah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Taala &lt;/span&gt;akan menghapuskan muka dan tubuhnya        pada hari kiamat. &lt;/div&gt;   &lt;/li&gt;&lt;li&gt;      &lt;div align="justify"&gt;bahwa isteri yang tidak memenuhi kemauan suaminya di tempat        tidur atau menyusahkan urusan ini atau mengkhianati suaminya, akan dibangkitkan        Allah &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Taala&lt;/span&gt; pada hari kiamat dengan muka yang hitam, matanya kelabu, ubun-ubunnya        terikat kepada dua kakinya di dalam neraka. &lt;/div&gt;   &lt;/li&gt;&lt;li&gt;      &lt;div align="justify"&gt;bahwa wanita yang mengerjakan sembahyang dan berdoa untuk        dirinya tetapi tidak untuk suaminya, akan dipukul mukanya dengan sembahyangnya.      &lt;/div&gt;   &lt;/li&gt;&lt;li&gt;      &lt;div align="justify"&gt;bahwa wanita yang dikenakan musibah keatasnya lalu dia        menampar-nampar mukanya atau merobek-robek pakaiannya, dia akan dimasukkan        ke dalam neraka bersama dengan Isteri nabi Nuh dan isteri nabi Luth dan        tiada harapan mendapat kebajikan syafaat dari siapa pun; &lt;/div&gt;   &lt;/li&gt;&lt;li&gt;      &lt;div align="justify"&gt;bahwa wanita yang berzina akan dicambuk dihadapan semua        makhluk didepan neraka pada hari kiamat, tiap-tiap perbuatan zina dengan delapan puluh cambuk dari api. &lt;/div&gt;   &lt;/li&gt;&lt;li&gt;      &lt;div align="justify"&gt;bahwa isteri yang mengandung ( hamil ) baginya pahala seperti        berpuasa pada siang harinya dan mengerjakan qiamul-lail pada malamnya serta        pahala berjuang fi sabilillah. &lt;/div&gt;   &lt;/li&gt;&lt;li&gt;      &lt;div align="justify"&gt;bahwa isteri yang bersalin ( melahirkan ), bagi tiap-tiap        kesakitan yang dideritainya diberi pahala memerdekakan seorang budak. Demikian        juga pahalanya setiap kali menyusukan anaknya. &lt;/div&gt;   &lt;/li&gt;&lt;li&gt;      &lt;div align="justify"&gt;bahwa wanita apabila bersuami dan bersabar dari menyakiti        suaminya, maka diumpamakan dengan titik-titik darah dalam perjuangan fisabilillah.        &lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1674769897518819067-229950589875286038?l=abuazi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuazi.blogspot.com/feeds/229950589875286038/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1674769897518819067&amp;postID=229950589875286038' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1674769897518819067/posts/default/229950589875286038'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1674769897518819067/posts/default/229950589875286038'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuazi.blogspot.com/2008/03/blog-post_18.html' title='WASIAT RASULULLAH Shaallahu &apos;alaihi wasalam KEPADA AISYAH'/><author><name>TABUNGAN 'AMAL SHALIH (T'AS)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05674433416570835606</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1674769897518819067.post-3081308829370537444</id><published>2008-03-18T08:16:00.001+07:00</published><updated>2008-03-18T08:18:43.111+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Munakahat'/><title type='text'>POLIGAMI DALAM PANDANGAN SYARI'AH</title><content type='html'>&lt;span class="articletitle"&gt;Poligami Dalam Pandangan Syariah&lt;/span&gt;&lt;!-- begin of topic --&gt;                                                              &lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;img src="http://kerenbeken.com/home/homearticleimg.asp?pic=../db/images/heart.gif" class="imgarticle" alt="" border="0" hspace="10" vspace="4" /&gt;&lt;/p&gt;&lt;span class="articletext"&gt;1. Tuduhan Terhadap Islam&lt;br /&gt;Para orientalis, pendeta agama masehi, kelompok sekuleris dan kalangan anti Islam pada hari ini sedang gencar mengkampanyekan gerakan anti poligami.&lt;br /&gt;Kampanye mereka itu mulai dari yang bersifat sindiran, pernyataan sinis sampai kepada yang langsung mencaci maki, baik syariat Islam sebagai sebuah sistem hidup maupun pribadi Rasulullah SAW.&lt;br /&gt;Kambing hitam yang selalu disudutkan tidak lain adalah syariat Islam. Menurut mereka, syariat Islam itu tidak sesuai dengan jiwa keadilan, mendorong laki-laki mengumbar syahwat, juga tidak berpihak kepada wanita yang selalu berada dalam posisi terzhalimi. Sampai-sampai dengan sengaja mereka membuat tayangan sinetron yang menggambarkan betapa hancurnya sebuah rumah tangga yang melakukan poligami.&lt;br /&gt;Lebih jauh lagi, mereka juga menuduh bahwa Rasulullah SAW adalah budak nafsu, karena menikah dengan 12 orang wanita.. Sehingga mereka menuduh bahwa nabi itu kerjanya tukang kawin dan main perempuan. Nauzu billahi min zalik.&lt;br /&gt;Dalam catatan sirah nabawiyah, Rasulullah SAW tercatat pernah menikahi 12 orang wanita.Yaitu :&lt;br /&gt;1. Khodijah binti Khuwailid RA, ia dinikahi oleh Rasulullah SAW di Mekkah ketika usia beliau 25 tahun dan Khodijah 40 tahun. 2. Saudah binti Zamah RA, dinikahi oleh Rasulullah SAW pada bulan Syawwal tahun kesepuluh dari kenabian beberapa hari setelah wafatnya Khodijah. Ia adalah seorang janda yang ditinggal mati oleh suaminya yang bernama As-Sakron bin Amr.&lt;br /&gt;3. Aisyah binti Abu Bakar RA, dinikahi oleh Rasulullah SAW bulan Syawal tahun kesebelas dari kenabian, Dengan menikahi&lt;br /&gt;4. Hafsoh binti Umar bin Al-Khotob RA, beliau ditinggal mati oleh suaminya Khunais bin Hudzafah As-Sahmi, kemudian dinikahi oleh Rasulullah SAW pada tahun ketiga Hijriyah. Beliau menikahinya untuk menghormati bapaknya Umar bin Al-Khotob.&lt;br /&gt;5. Zainab binti Khuzaimah RA, dari Bani Hilal bin Amir bin Shoshoah dan dikenal sebagai Ummul Masakin karena ia sangat menyayangi mereka. Sebelumnya ia bersuamikan Abdulloh bin Jahsy akan tetapi suaminya syahid di Uhud, kemudian Rasulullah SAW menikahinya pada tahun keempat Hijriyyah6. Alasan beliau menikahinya adalah untuk menghormati Ummu Salamah dan memelihara anak-anak yatim tersebut.&lt;br /&gt;7. Zainab binti Jahsyi bin Royab RA, dari Bani Asad bin Khuzaimah dan merupakan puteri bibi Rasulullah SAW. Sebelumnya ia menikahi dengan Zaid bin Harits kemudian diceraikan oleh suaminya tersebut. Ia dinikahi oleh 
